Kursi Ajaib

“Ini toh kursi ajaib Bapak?”
Mas Sokat, suamiku, mengangguk pelan sambil masih memperhatikan kursi bambu yang kini menghias ruang tengah rumah ini.
“Itu kan hanya kursi bambu?” tanyaku masih penasaran dengan kursi yang terbuat dari bambu itu. Apanya yang ajaib?
Mulanya suamiku enggan untuk menceritakan perihal kursi bambu itu. Tapi karena hampir setiap malam selalu kudesak, bahkan setiap ada kesempatan yang tepat aku selalu melontarkan pertanyaan itu, akhirnya ia mau juga menuturkan kisahnya.
“Bagi Bapak kursi bambu itu tidak hanya sekadar tempat bersantai, sudah merupakan bagian dari dirinya. Kursi itu sepertinya memiliki daya magis yang aneh bagi Bapak.”
“Daya magis?”
“Ya. Kursi itu sangat disayang oleh Bapak. Tidak ada yang berani menggeser posisinya apalagi coba-coba untuk duduk, bisa-bisa disembur oleh umpatan Bapak yang suaranya menggelegar itu.
Pernah suatu ketika Bi Surti, pembantu rumah kami yang baru lima bulan bekerja, tak sengaja menumpahkan kuah sayur dan kebetulan Bapak mengetahui hal itu, langsung saja ia mengumpat. Bi Surti habis di caci maki dan mau dipecat Bapak. Untung saja ada Ibu yang membela Bi Surti, kalau tidak kasihan benar nasibnya.”
Aku memandang wajah suamiku. Ia terlihat sangat serius saat menuturkan kisah kursi bambu itu.
“Kursi itu menjadikan Bapak aneh, seolah-olah membuatnya menjadi orang lain. Setiap duduk di kursi itu Bapak tidak pernah tersenyum dan juga tidak ada yang berani mengajaknya bicara. Tidak hanya itu, Bapak terlihat sering marah-marah. Bahkan kami anak-anaknya harus tahu diri untuk tidak mendekat, karena takut jika tiba-tiba ia meluapkan emosinya kepada kami.”
“Mas pernah duduk di kursi itu?” Aku sengaja bertanya demikian. Sebab sejak pertama kali kursi ini menjadi bagian dari rumah ini tidak sekalipun aku melihat Mas Sokat duduk di atas kursi bambu itu.
“Ndak pernah.”
“Adik-adik Mas yang lain?”
“Sejak pertama kali Bapak beli dari penjual keliling, kami tidak pernah sekalipun ada yang berani duduk di atasnya. Bahkan semenjak Bapak meninggal kursi ini hanya menjadi barang rongsokan penghuni gudang.”
Sekali lagi aku memperhatikan wajah suamiku itu. Di sudut keningnya aku melihat ada butiran keringat yang meluncur, padahal udara di dalam rumah berpendingin ini tidaklah panas. Juga, dadanya terlihat naik turun. Mungkin ia trauma dengan kursi itu, bathinku menduga.
Dulu kupikir dari pada membeli kursi baru, dan teringat dengan cerita Mas Sokat tentang ada sebuah kursi bambu yang tersimpan di gudang rumah orangtuanya, maka aku memutuskan lebih baik untuk memanfaatkan barang yang ada. Dan saat bertandang ke rumah Ibu mertua aku langsung menyarankan suamiku untuk membawa kursi itu ke rumah.
Ternyata setelah kursi itu ada, suamiku terlihat aneh dan terkesan ia tidak menyenangi keberadaannya. Malahan belakangan iji sikap Mas Sokat seperti memusuhi kursi bambu yang warnanya sudah kusam itu. Ah, aku jadi menyesal menyuruhnya membawa kursi itu ke rumah.
“Anehnya kursi itu hanya mempengaruhi Bapak. Paklik Jono, Paklik Miskun, dan Pakdhe Nyoto sekalipun tidak berubah bila duduk di atas kursi bambu itu,” kata suamiku menjelaskan sambil menyebut nama adik beradik dari Bapak itu.
“Mungkin itu bawaan darah tinggi Bapak kali, Mas?” kataku kemudian.
Suamiku tidak segera menjawab ia malah mendekati kursi bambu itu. Kemudian tangannya mengusap pelan pegangan kursi, seperti mencoba merasakan kekuatan magis yang tadi dikatakannya.
“Entahlah,” lirihnya pelan beberapa saat kemudian, “kursi ajaib ini menyebabkan Bapak tampil laksana mandor kebun yang lebih gagah dan satria dengan cambuk di tangannya. Membuat Ibu takluk karena selalu dibentak-bentak Bapak.”
Aku merapat, memeluk lengan suamiku itu. “Sudahlah Mas, toh Bapak sudah almarhum. Tidak baik membicarakan keburukan orang yang sudah meninggal,” bujukku pelan.
“Makanya kami anak-anaknya enggan untuk sekalipun duduk di kursi ini, takut ketularan.” Suamiku menghela nafas panjang.
Entah apa yang dirasakan oleh suamiku tentang kursi ini. Yang jelas saat aku coba merasakan duduk di kursi bambu itu tidak ada satu keanehan pun yang terjadi padaku. Malah sebaliknya, yang kurasakan adalah nikmatnya duduk bersandar di kursi bambu itu.
“Mas minumnya,” tawarku sambil menyediakan tempat duduk di kursi itu kepada suamiku di suatu sore.Suamiku menerima gelas pemberianku, tapi tidak untuk duduk di kursi ajaib itu.
Bukan aku namanya jika tidak bisa membujuk Mas Sokat duduk di kursi ajaib itu. Kesempatan itu datang. Saat anak pertamaku, Bayu, sedang bermain di atas kursi itu aku langsung mencari suamiku, “Mas, tolong Bayu ditemenin main,” pintaku kepadanya yang sedang asyik membaca koran di beranda depan.
Mulanya kukira ia akan duduk bersama anak kesayangan kami itu, tapi nyatanya selama lima menit suamiku malah duduk di lantai bawah kursi sementara Bayu tetap di tempatnya. Pun untuk lima belas menit dan satu jam setelah itu. Suamiku tidak sekalipun mencoba untuk merasakan kenyamanan seperti saat aku duduk di atasnya. Kursi itu memang ajaib, gumanku.
“Mas, coba sekali-kali duduk di kursi bambu itu,” bujukku kepadanya saat tengah malam di kamar tidur kami, sebulan setelah kursi ajaib itu ada.
Mata suamiku menatap tajam ke arahku.
“Aku yakin kok kalau Mas Sokat duduk di kursi bambu itu Mas tidak akan seperti Bapak, itu kalau saja cerita magis tentang kursi bambu itu ada,” kataku buru-buru sebelum suamiku itu melancarkan protesnya.
Suamiku diam sesaat, lalu, “Rasanya memang begitu, tapi aku kok punya perasaan aneh setiap kali memandang kursi itu,” jawabnya.
“Mungkin itu hanya perasaan Mas saja,” rayuku lagi sambil menghadiahinya ciuman kecil di pipi kanan.
Mas Sokat tersenyum, “Besok deh aku coba,” kata suamiku akhirnya.
Aku senang mendengar jawaban itu. Setidaknya usahaku untuk menghilangkan trauma atau perasaan enggan di hati Mas Sokat terhadap kursi bambu itu menunjukkan titik terang. Dan titik itu semakin terang adanya kala esok hari Mas Sokat memberikan satu kabar gembira.
“Dik, ternyata kursi ajaib Bapak memang enak. Aku suka duduk di atasnya,” ujar suamiku dengan nada bicara yang terdengar senang.
“Kan, tidak percayaan sih,” ledekku turut senang.
Ternyata itu bukanlah satu-satunya dan terakhir kali Mas Sokat mengutarakan rasa nyamannya duduk di atas kursi. Setiap mau pergi kerja, pulang dari kantor atau saat santai di rumah suamiku itu selalu saja duduk di kursi ajaib itu. Bermalas-malasan dan terkadang sampai terlelap.
Wajahnya tampak sumringah, terlebih lagi saat suamiku mencoba duduk laksana seorang Sultan dengan tangan kanan bertolak pinggang dan tangan kiri ditaruh dipegangan kursi ia jauh lebih berwibawa. Auranya terlihat bak seorang pemimpin. Aku sampai geli melihatnya.
Tapi tidak di suatu malam.
“Dik, buatkan Mas nasi goreng,” pekik kecil mas Sokat. Ternyata menjelang pukul 00.30 wib itu suamiku belum lagi tidur dan sedang asyik membaca buku di atas kursi ajaib itu.
Dengan badan capek dan mata masih menyimpan kantuk aku bangkit. Membuatkan nasi goreng sesuai dengan permintaannya. Biar bagaimanapun aku turut senang dengan kebiasannya duduk di kursi ajaib itu, hiburku.
Rupanya aku harus menelan ludah. Permintaan itu adalah baru permulaan, setiap duduk di atas kursi ajaib itu, tak peduli siang dan malam, Mas Sokat sudah mulai pandai memerintah ini itu kepadanya. Bahkan kadang terdengar sepele, mengambil koran yang letaknya hanya dua meter dari kursi ajaib itu misalnya.
“Narti………. Ini kursi kok ada debunya,” pekik melengking Mas Sokat mengagetkanku yang sedang mencoba menidurkan Arrysa, anak kedua kami yang baru lahir tiga bulan lalu.
“Ada apa sih Mas?” tanyaku sambil berusaha menenangkan tangis Arrysa yang kaget dengan teriakan tadi.
“Ini!” Telunjuk Mas Sokat terarah kepadaku. “Kamu nggak bersihin kursi ini ya?” tanyanya sedikit membentak.
“Loh, kan tadi pagi sudah,” kataku membela diri.
“Buktinya masih kotor begini,” sergah suamiku lagi.
“Ya mungkin saja terkena debu dari jalanan, kan jendela depan terbuka,” kataku pelan.
“Kalau tahu gitu kenapa tidak kamu tutup?” Wajah suamiku menegang. Matanya bulat-bulat menatap ke arahku. “Cepat ambil lap!” lanjutnya memerintah.
Aku hanya bisa mengunci mulut. Mengambil kain dan membersihkan kursi bambu itu. Duh!
Suamiku berubah. Apalagi sejak aku mengnadung anak ketiga, tingkah laku Mas Sokat jauh dari biasanya. Berbeda dari pertama kali mereka bertemu dan saat tahun-tahun pertama kami menikah. Perangai suamiku kini keras, suka membentak dan memerintah seenaknya saja.
Sedangkan aku? Aku hanya bisa diam. Di bentak setiap hari pun aku hanya bisa bungkam. Aneh, sungguh aneh. Sekalipun aku tidak bisa memberikan perlawanan terhadap perlakuannya itu, bahkan saat untuk pertama kalinya Mas Sokat menampar pipiku aku hanya bisa diam sambil sesegukan menahan tangis.
Semua itu dilakukannya sambil duduk di kursi ajaib itu.
Apakah ini kekuatan magis kursi ajaib itu? Apakah benar cerita suamiku itu dulu kalau ia takut tertular kekuatan kursi ajaib yang juga merubah sikap Bapak? Sehebat itukah kursi ajaib itu merubah tatapan lembut suaminya?
Ah, aku tidak mau berpikir sejauh itu. Aku masih saja yakin kalau kursi itu hanyalah kursi biasa yang terbuat dari bambu. Tidak ada kekuatan magis apapun di sana.
“Narti… kamu ini guoblok ya, buat kopi kok gulanya tak terasa?!” pekik itu membahana lagi.
Ya Allah! Aku masih tetap tidak percaya kalau kursi itulah penyebabnya.s
“Nartii………!!”

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Argh
Argh at Kursi Ajaib (13 years 27 weeks ago)
50

cerita n alurnya da bagus..
tinggal benerin tanda berhenti dan posisi paragrafnya .. ok :)

Writer fortherose
fortherose at Kursi Ajaib (13 years 27 weeks ago)
80

...tapi perlu penyempurnaan spasi

^_^

Writer bl09on
bl09on at Kursi Ajaib (13 years 27 weeks ago)
80

but nice

Writer KD
KD at Kursi Ajaib (13 years 27 weeks ago)
100

idea

Writer azura7
azura7 at Kursi Ajaib (13 years 27 weeks ago)
90

ok ok
tolong kasih spasi yo