The Conquest

10 January 1852,

Hodeff Von Ghaar memandang jauh ke cakrawala, sejauh apapun dia melihat, hanya garis horison yang terlihat. Letih, penat, mual, bosan seluruh perasaan menyatakan ketidak nyamanan-nya berada di atas kapal “Agustine”. Walaupun kapal Agustine memang salah satu dari kapal tercanggih yang dibuat oleh VOC pada masa itu. Struktur yang kokoh mampu menerjang badai apapun, ukiran-ukiran dengan relief dedaunan pada dek kapal yang di buat tidak terlalu mewah tetapi menandakan bahwa kapal itu berkelas.

Kini Agustine sedang merantau jauh dari rumahnya, membawa 100 orang awak dan 20 orang budak untuk menjalankan Agustine. Agustine memang tidak terlalu besar, tetapi dia memang kapal terpilih untuk misi penting yang di emban oleh Kapten Hodeff Von Ghaar. Kelincahan kapal mungil tersebut, membuat kebanggaan tersendiri bagi kapten yang terpilih untuk memimpinnya.

Malam ini laut hening, airnya diam tiada beriak, dengan lantunan ombak yang seakan membuai Agustine untuk tertidur, langit pun cerah dengan kemilau bulan purnamanya. Ya.. Agustine dan para awak kapal sedang menikmati suasana malam yang tenang, terlihat beberapa awak kapal sedang bercengkrama menikmati lantunan musik yang di nyanyikan oleh seorang prajurit dengan harmonikanya. Sambil bersenda gurau membicarakan para istri, anak dan kekasih yang mereka tinggalkan, walaupun mereka semua tahu bahwa lelucon yang mereka lemparkan sebetulnya adalah bentuk rasa rindu pada kampung halaman mereka.

Para budak pun dapat bersantai sambil menikmati makanan mereka yang sedikit dan tidak memuaskan itu. Tetapi para budak memang tidak banyak menuntut, cukuplah diberi makan dua kali sehari dan baju yang dapat menutupi sampai lutut, terpenuhi sudah segala keinginannya. Tidak pernah terpikir sekalipun oleh seorang budak untuk dapat duduk di kursi empuk sambil menikmati iringan musik klasik sambil menghisap sepotong cerutu.

Hodeff mengintip dan mengawasi mereka dari anjungan, pandangan suram memenuhi raut muka sang Kapten, seindah apapun rembulan pada malam itu, tetap tidak dapat menyegarkan air muka Kapten Hodeff. Dibalik seluruh ketenangan ini, Hodeff merasakan kegelisahan yang luar biasa, instingnya sebagai Kapten, merasakan akan adanya bahaya besar yang akan menimpa dirinya dan Agustine. Perasaan yang Hodeff rasakan tidak dapat ia jabarkan ke siapapun, bahkan tidak kepada Trant. Kini dia hanya dapat memutar pikirannya agar dapat melakukan sesuatu atau satu hal saja! Yang dapat menghindarkannya dari bencana yang ia rasakan ini.

Tetapi Hodeff telah letih, memimpin kapal selama tiga minggu bukanlah perkerjaan yang mudah, Hodeff telah terlalu lelah malam ini, dia hanya ingin segera masuk ke dalam ranjangnya dan menikmati bantal bulu angsanya. Dari anjungan, Hodeff pun berlalu menuju kamar tidurnya sambil bergumam,

“cukup untuk hari ini… seluruh ketenangan malam membuatku risau dan tidak dapat berpikir jernih, aku harap tiada badai datang setelah nikmatnya ombak lembut ini, tapi akankah bisa aku terlelap dalam kegelisahan ini?”

Trant hanya dapat melihat dengan simpati kepada kaptennya yang sedang bersedih seakan menanggung beban yang berat sekali. Trant dapat melihat, raut muka Hodeff yang seakan bertambah usia paling tidak 15 tahun lebih tua dari usianya, kantong matanya menghitam dan kelopak matanya sayu dan lemah. Telah lebih dari 5 tahun Trant berada disisi Hodeff, baginya Hodeff adalah sosok ideal seorang pemimpin. Seorang kapten yang selalu memperhatikan kebutuhan anak buahnya, seorang kapten yang amat tegas dan cepat dalam mengambil keputusan, seseorang yang telah menempuh kerasnya perjuangan dalam peperangan.

Akan tetapi malam ini, Trant hanya dapat melihat Hodeff sebagai orang di umur pertengahannya yang bimbang akan pilihan dan pendapat. Sungguh sedih melihatnya seperti ini, ia hanya dapat berharap bahwa kaptennya dapat tertidur lelap malam ini dan melupakan sejenak bebannya agar dapat kembali menjadi kapten untuk Agustine yang gagah berani.

Trant pun berlalu keluar dari anjungan menuju dek untuk bergabung dengan para awak kapal, menikmati lembutnya malam hari ini.

Bersambung..

Read previous post:  
Read next post:  
Writer codenameKEY
codenameKEY at The Conquest (13 years 47 weeks ago)
90

Lanjutin yah ceritanya...
Tapi tolong sekalian baca karya gw: Salamender's Diary...

Writer Rebo Paijo
Rebo Paijo at The Conquest (14 years 43 weeks ago)
80

ingin tahu kelanjutannya

Writer pianoloco
pianoloco at The Conquest (14 years 43 weeks ago)

makasih banyak buat masukan-masukannya, ini memang agak terburu-burusih , udah kaya kejar tayang aja hihi, tapi makasih yaa.. gw belajar banyak nih

Writer megaloman2002
megaloman2002 at The Conquest (14 years 43 weeks ago)
70

Tutur katanya udah asik om! tinggal di selami dikit lagi aja. Petualangan nih , keren! kelanjutannya jangan lama-lama boss!!!

Writer meier
meier at The Conquest (14 years 43 weeks ago)
60

pianoloco, untuk awal tulisan ini sudah bagus,cm seperti kt vivaldi motongnya kurang ok,walau buat g pribadi masih bisa diterima.Akankah jadi Titanic 2?hehehe...g tunggu kelanjutannya, dengan harapan nantinya kita disuguhkan petualangan/cerita dahsyat ya!

Writer k4melita
k4melita at The Conquest (14 years 43 weeks ago)
50

Aku tertolong dengan komentator terdahulu. Bener juga kata mereka tergesa-gesa.

Writer FrenZy
FrenZy at The Conquest (14 years 43 weeks ago)
60

Entah kenapa in most of my comments aku meminta tambahan deskripsi untuk melengkapi emosi supaya lebih tertangkap di mata dan hati pembaca. Idenya bagus, aku suka cerita masa lampau, tapi sepertinya butuh sedikit deskripsi lagi ttg karakter dan suasana supaya hidup :)

Writer Kurniawan Candra Luhurjati
Kurniawan Candr... at The Conquest (14 years 43 weeks ago)
70

asik mas, seru nemen

Writer wafie
wafie at The Conquest (14 years 43 weeks ago)
60

Kalau si v1vald1 mengatakan tulisan kamu ini masih kurang greget, itu benar adanya. Karena dari tulisan yang kamu posting ini, sedikitpun tidak aku temukan makna yang terkandung di dalamnya, apa karena dilatar belakangi cerita yang bersambung. Aku tidak tahu, tapi aku merasa itu.
Terus juga, kamu dalam menulis cerita ini terlalu tergesa-gesa, sehingga nampaklah kedataran cerita itu.
Tapi, untuk diksinya sudah lumayan OK tuh! Keep writing aja yach!!! :)
Salam...

Writer v1vald1
v1vald1 at The Conquest (14 years 43 weeks ago)
60

Mungkin ini awal dari tulisan untuk novel terbaru Painoloco. Atau bukan pun, tetap gw akan komen spt ini:
Tulisan kamu bagus, idenya juga berbeda, tetapi kamu kurang ahli memotong ceritanya. Meski pun mau kamu buat bersambung, diharapkan tiap posting kamu itu punya nilai greget sendiri. Greget yang buat orang penasaran untuk baca kelanjutan cerita kamu. Greget yang membuat orang bertanya2 ada apa di balik ini. Di tulisan skrg, kamu masih bercerita hal yang datar. Hanya ada deskripsi panjang tentang situasi. Harusnya kamu teruskan dulu ceritanya sampai pada klimaks di akhir. Baru kamu stop pembaca dengan geliat keingintahuan besar.
--
Dan meski saat ini gw tetap akan baca kelanjutannya, dan kalo pun ada yang mau baca kelanjutannya, rasa penasaran itu lebih karena kamu posting tulisan di kemudian.com (di mana para member sangat akrab, yang berlomba baca posting baru dan ngasih komen) plus karena ide tulisan kamu (yang berbau sejarah) juga masih jarang di sini.
--
btw sori kalo gw kasih poin kurang besar, soalnya tulisan ini masih bersambung; dan belum ada apa2 yang bisa gw nikmati di posting perdana ini.