Jangan Nengok ke Belakang!

Kupastikan malam itu tidak terlalu larut. Hand phone-ku bilang, baru jam dua puluh dua lewat dua puluh sembilan.

Argh, sial! El dan Biyan mengajakku nonton film horor sehabis kita makan-makan—perayaan kecil atas keberhasilan El menaklukan hati Ira, rekan sekantornya yang rupawan.

“Selingkuh Dalam Kubur, Mbak. Tiga.” El mengeluarkan selembar seratus ribuan dari dompetnya, kemudian memberikannya pada petugas loket.

Anjrit! Sungutku dalam hati. Menurut pengakuan beberapa teman wanitaku yang sudah menontonnya, film itu luar biasa menyeramkan; hantunya seperti sungguhan—memang yang sungguhan itu seperti apa ya?

Seorang mahasiswa pengangguran yang bergaul dengan orang-orang kantoran yang cukup berpenghasilan, sekilas nampak seperti hanya sekedar mencari keuntungan. Tapi yang terjadi, seringnya malah bak kerbau yang dicocok hidung: aku hanya bisa mengekor saja, masuk ke teater 4 untuk menonton film yang aku sudah wanti-wanti untuk tidak menontonnya.

Keliru kalau aku disebut penakut. Aku hanya suka susah tidur saja setelah menonton film horor, terutama horor buatan Indonesia. Waktu kecil dulu, aku bahkan sampai tidak bisa tidur selama seminggu berturut-turut hanya gara-gara menonton film yang—entah apa judulnya, pokoknya yang dibintangi Suzzana. Kesan yang berbeda dengan saat kutonton film horor Hollywood yang tegang tanpa “menakutkan”. Dan mungkin karena satu hal, hantu-hantu dalam horor Indonesia—entah kenapa—terasa begitu dekat, begitu akrab dengan kehidupan kita sehari-hari.

Sepuluh menit pertama, layar di depan masih ditaburi adegan-adegan standar. Sayup-sayup terdengar El dan Biyan sibuk mengomentari scene demi scene di dalamnya.

“Opening yang payah!” oceh Biyan. “Film horor kok kayak percintaan?!”

“Iya yah, padahal bisa lebih nendang tuh kalo teaser-nya dibuat penuh kejutan dan menegangkan. Apa karena bawaan judul kali ya?” El menyahutinya dengan kata yang bertubi-tubi. “Selingkuh Dalam Kubur. Haha, judul yang aneh!”

Pssst... tiba-tiba terdengar desis seseorang di belakang kami. El dan Biyan terdiam. Sementara aku mulai merinding. Tidak berani melihat ke belakang. Seingatku, saat tadi kami masuk, gedung teater 4 ini tidak terlalu banyak didatangi penonton. Duduknya pun masing-masing merenggang dan berjauhan. Banyak bangku kosong berselangan.

Tapi... desisan tadi rasanya begitu dekat. Tepat beberapa sentimeter di belakang kami.

Argh, aku hanya berhalusinasi! Batinku mencoba menetralisir.

Lima menit kemudian, kembali terdengar suara-suara parau El dan Biyan.

“Errr... jalan ceritanya udah ketebak. Abis ini, pasti si ceweknya mati dan jadi hantu. Kirain ini film horor kayak gimana gitu. Judulnya aja yang bikin gue penasaran. Buat gue, teteplah Jelangkung pertama jagoannya kalo soal horor.”

“Elo sih, El! Ngapain sih kita mesti nonton film beginian? Gak ada gregetnya sama sekali! Sejak kapan sih Indonesia punya stok horor yang berkualitas? O iya, gue baru inget kalo film Indonesia tuh emang gak punya pakem sendiri.”

“Iya,” aku turut nimbrung. “Ngerayain jadian lo sama Ira bukannya seneng-seneng, malah nyasar di bioskop horor gini! Kita keluar aja yuk!”

“Ala... bilang aja lo takut!” kata El sambil menoyor kepalaku. “Masih mending-lah kita nonton film horor, dari pada nonton yang romantis-romantis. Kebayang; tiga orang cowok masuk gedung bioskop buat nonton film percintaan. Apa kata dunia?!”

“Dan elo, Bi,” El yang duduk di tengah, kini giliran berbicara pada Biyan. “Gue tanya; kita tuh hidup di negara mana sih? Sok banget sih lo gak ngehargai karya negeri sendiri. Kalo elo ngerasa mampu bikin film yang berkualitas, ya buktiin, jangan cuma bisa ngomong doang! Ngeritik juga ada kode etiknya.”

PSSST... desis itu semakin nyaring. Lebih dekat. Lebih merangsang bulu-bulu romaku menegang. Jantungku semakin tak karuan. Semakin erat pula mata ini terpejam—terutama saat hantu-hantu itu mulai “bergentayangan” di layar bioskop. Argh, aku mau PULANG!

Tapi kemudian hening. Hanya suara-suara cast di film itu yang terdengar dari sound system yang menggema. Dan dingin terasa lebih menyelimuti.

El? Biyan? Kalian di mana? Pekikku saat membuka mata dan mendapati mereka berdua tak lagi berada di tempatnya. Sementara ruangan semakin gelap, lebih-lebih di film sedang ada adegan malam yang pekat. Pula senyap. Hanya suara-suara angin dan hewan-hewan malam yang membuatku semakin merinding.

Aku masih berusaha mencari keberadaan kedua temanku itu. Antara sulit dan takut. Orang-orang itu semuanya nampak sama: hitam dan menyeramkan. Siapa tahu salah satu dari mereka bukan benar-benar berasal dari golongan manusia—semisal makhluk lelembut. Aku semakin ciut.

Aku menoleh ke kanan, semampunya menelusuri orang-orang yang duduk satu barisan. Nihil, mereka tak kutemukan. Kemudian aku menoleh ke arah ki...

ANJRIT! Aku hampir menjerit dan terlonjak kaget. El menyeringai, memamerkan mimik genderuwo—bakat terpendamnya. Sialan! Ternyata aku dikerjai! Bisa-bisanya mereka pindah duduk di sebelah kiriku yang memang kosong.

Hmmmmfh... El dan Biyan menahan tawa setengah mati. Untung aku berhasil menjitak kepala mereka meski belum puas kesalku terlampiaskan.

PSSSSSSTTT... desis itu terdengar lagi!

Aku meringis. Tidak hanya bulu kudukku saja yang berdiri, hampir seluruh bulu—rambut di tubuhku berdiri seperti saat sebuah mistar plastik mendekat sehabis digosok-gosokkan.

“ANJRIT!!!” tiba-tiba El terpekik.

“Kenape lo?” tanyaku bersamaan dengan Biyan.

“Ah, gila! Lo jangan nengok ke belakang deh pokoknya!”

“Emangnya kenapa?” tanya Biyan yang kalau El tidak menahan kepalanya, dia bisa langsung tahu apa yang ada di belakang, yang membuat El cukup terguncang. Otomatis aku semakin takut. Tubuhku yang mulai menggigil semakin merapat ke tubuh El.

“Apaan sih? Gue penasaran!” Biyan ngeyel. Dia memang selalu tertantang dengan segala hal yang—terutama dilarang.

AAAAARGH...!!! jerit seisi penonton bioskop yang terkejut dengan kehadiran sosok seram di layar. Aku hanya menutup mata, berusaha menolak pemadangan seram itu, sembari sedikit memikirkan apa yang dilihat Biyan di belakang.

* * *

“Ah, sialan lo berdua! Gue kirain apaan. Setan.” Rutukku saat film usai, dan kami dalam perjalanan menuju parkiran.

“Hahaha... makanya jadi cowok tuh jangan cemen! Gitu aja takut!” ejek El sambil mengacak-acak rambutku. “Pantesan aja gak ada cewek yang mau sama lo!”

“Rugi kan lo! Gak bisa liat apa yang tadi gue liat di belakang. Uh, itu tuh adegan ciuman paling gokil yang pernah gue liat!” tutur Biyan dengan jumawanya. “Dahsyat!”

“Abisnya si El nih yang bikin gue makin parno. Ngeliat orang ciuman kayak ngeliat setan aja. Apa lagi pake bilang, JANGAN NENGOK KE BELAKANG lagi! Gue jadi inget kata-kata nenek gue yang tinggal di kampung. Katanya, kalo di tempat gelap tuh kita jangan nengok ke belakang! Salah-salah ada penampakan!”

“Hari gini masih percaya mitos aja lo! Rugi lagi percaya sama hal begituan! Terbukti kan?” El mencoba meyakinkan.

Hm... bener juga ya?! Ah, coba aku tidak terlalu percaya. Pasti tadi aku berhasil melihat adegan ciuman yang dibilang dahsyat itu. Penyesalan memang selalu datang belakangan, penyesalan karena tidak berani nengok ke belakang.

Tiba-tiba bahuku terasa ditepuk seseorang. Sementara kulihat El dan Biyan berjalan di depan. Tidak! Aku tidak perlu takut lagi buat nengok ke belakang. Siapa tahu, seseorang yang menepuk bahuku adalah perempuan cantik. Ya, ‘Jangan Nengok ke Belakang’ itu cuma mitos orang kampung. Bukan untuk orang kota sepertiku.

Aku pun coba menengok ke belakang. Dan ternyata... di belakangku...???!!! ?*:&^%#$;@~”!!!* * *

|Rabu, 11 Juli 2007 20:34:43|

Read previous post:  
55
points
(1877 words) posted by dadun 14 years 28 weeks ago
68.75
Tags: Cerita | kehidupan | agak horor | Cinta | drama keluarga
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Phoenix101
Phoenix101 at Jangan Nengok ke Belakang! (9 years 22 weeks ago)

Oowwhhh ... anjritnya kebanyakan... @.@

Writer stilldaydreaming
stilldaydreaming at Jangan Nengok ke Belakang! (10 years 38 weeks ago)
100

Wahahahahaha,,xD
Keren kak :D
Unsur horornya dapet tapi ada juga komedinya.
Judul filmnya kocak banget sih, Selingkuh dalam Kubur, =))
Narasinya bagus, dan dialog2nya pun aku suka.
Huwaaah, harus banyak belajar saya.hehe.
Itu..endingnya, pasti ketemu..l-le-lelembut ya, Dx

Writer bl09on
bl09on at Jangan Nengok ke Belakang! (14 years 3 weeks ago)
80

ALA DADUN

Writer evikaye
evikaye at Jangan Nengok ke Belakang! (14 years 4 weeks ago)
90

elu kayak kakak gw ajah. paling gak demen nonton pelem hantu indonesia. huahahahaha....

Writer nirozero
nirozero at Jangan Nengok ke Belakang! (14 years 5 weeks ago)
80

Hehehe....

Kukirain horor apaan. Ternyata malah lawak... T_T gw kecewa nih! Padahal mau cari resensi horor. Malah ketemu duduls. Heee....

Writer Chatarou
Chatarou at Jangan Nengok ke Belakang! (14 years 15 weeks ago)
90

seru banget Mas..
kalau ada dua latar belakang sudut pandang salam satu sekuens...ya jagi begitu yah..
jadi... nyesel dong ngga lihak ke belakang...he...he...

Writer ananda
ananda at Jangan Nengok ke Belakang! (14 years 15 weeks ago)
70

kurang nampoll ... huehuehue

Writer noir
noir at Jangan Nengok ke Belakang! (14 years 15 weeks ago)
60

Tapi kepanjangan....mending di cut pas bagian ciuman nya aja hehehehe...

Writer Mbinkz
Mbinkz at Jangan Nengok ke Belakang! (14 years 15 weeks ago)
70

Hmm..ceritanya baguslah tapi kurang didramatisir lagi biar agak kerasa sereeeeeeemnya hwewhe..tapi asyiklah..key!!!!

Writer -riNa-
-riNa- at Jangan Nengok ke Belakang! (14 years 15 weeks ago)
80

lucu! bisa bikin aq senyum2. tapi, btw...lagi nonton di bioskop kok berisik banget sih. ngobrol mulu.

Writer KD
KD at Jangan Nengok ke Belakang! (14 years 15 weeks ago)
100

hehehehe

Writer fortherose
fortherose at Jangan Nengok ke Belakang! (14 years 15 weeks ago)
80

...film horornya, dangdutz deh^^ xD