Seminggu Setelah Nana Putus Cinta

Senin.

“Gue putus, Son.”

Tanda bahaya. Sonya berbalik dari mesin fotokopi dan menghadap Nana.

“Sama Akhsan?”

Nana mengangguk. Ada senyum konyol di wajahnya. “Sama siapa lagi. Ya, sama Akhsan. Kemarin.”

“Tunggu sebentar, yak. Gue motokopi dulu, ngasih ini ke anak-anak, tar balik lagi lo cerita.”

“Ga pa-pa kok, Son. Lo di kelas aja ngajar.” Kata Nana.

Sonya sudah membayangkan baju kerjanya dibasahi airmata anak itu. Coba tadi bawa serbet. Nana ini kan manjanya minta ampun. Curhatnya bakal panjang lebar, dan Sonya akan dipaksa memakai kemampuan hemisphere otak kanannya yang cuma empat puluh persen itu untuk—MENDENGAR.

“Gue nggak apa-apa,” Nana berkata lagi. “See?” Ia mengangkat tangan, memperlihatkan “diri”nya dengan norak. “I’m fine.”

Itu katanya. Isi diluar tanggung jawab percetakan.

Hari-hari berikut ini pasti akan sulit sekali.

***

Selasa.

Belum, dia belum menangis. Masih tidak memperlihatkan airmata setitik pun (padahal Sonya benar-benar bawa serbet dari rumah). Masih tersenyum. Sonya membelokkan mobil, menyusuri kompleks kampus Universitas Atmajaya. Nana bercerita.

“Dia sekarang jalan ama si Sylvi, adik temennya itu.”

“Cepet banget sih dapet gantinya. Dasar cowok gemini. Si Wahyu kan gemini juga, Na, dia juga gampang deket ama cewek-cewek. Tau tuh kenapa tahan aja tu orang ma gue.”

“Mungkin Sylvi nggak banyak tuntutan kayak gue. Lagian emang sulit buat kita bertahan—we speak completely different languages. Dia IPA, gue IPS. Makanya gue pernah tanya lo, gimana orang IPA pacaran.”

“IPA, IPS—lo kata masuk UMPTN....”

“Otak kiri ama otak kanan maksud gue....”

“Ya, emang beda sih. Lo terbiasa ama bunga-coklat-bunga-coklat-bunga-coklat tiap hari sama pacar-pacar lo sebelum Akhsan. Gue ama Wahyu, lo liat aja, seminggu belum tentu ketemuan.”

“Ya, gitu deh. Ni lo ngajar di UII?”

“Nggak.”

“Ngopi, yuk.” Nana melihat keluar jendela. “Gila tu cewek bawa duren dua.”

“Kiri kanan?”

“Kiri.”

Sonya terkikik. Nana menoleh padanya.

“Lo ngetawain gue ya?”

Sonya terus tertawa.

“Sialan. Lo pasti nanya durennya di kiri kanan apa—gue ngira lo nanya durennya di kiri apa kanan, tau.”

“Lo loadingnya lama banget sih, Na. Eror lagi.”

“Eh, ni serbet buat apaan, Son?”

***

Rabu.

Memang dia tidak menangis. Tapi—nggak capek apa ngebahas soal Akhsan mulu! Dia dengan cueknya terus mengoceh selama Sonya sibuk menulis transparansi untuk kelas bahasa Inggrisnya.

“Padahal gue tau sejak awal—dia tuh pacarnya udah banyak....” katanya. Sonya berjuang keras untuk berkonsentrasi. Past Continuous, Past Tense, Past Continuous, Past Tense, Past—“Coba, Son, dia pernah kasih liat gue foto cewek-ceweknya itu. Gue ceweknya yang ke berapa coba? Yang ke dua puluh enam!”

“Busyet. Digombalin abis lo ama si narsis itu.”

“Trus dikeluarinnya foto-foto itu dari rak, ‘ini lho mereka’, katanya. Bayangin, Son, ‘ini lho mereka’, trus caranya foto-foto itu jatoh di atas tempat tidur...ya ampun, kata gue.”

Sonya menyalin I (BREAK) A GLASS LAST NIGHT. I (DO) SOME WASHING WHEN IT (SLIP) OUT OF MY HAND dari buku ke atas transparansi, dan terus—MENDENGAR.

“Menurut gue dia cuma suka—well, just playing with his mind, maybe.” Kalo nggak dikasih komen anak ini bisa ngambek.

“Tau deh....”

“Udah beres.” Sonya merapikan mejanya, lega bisa sedikit “terbebas” dari curhat panjang Nana. “Pergi yuk.”

Mereka keluar dari ruang guru lembaga kursus bahasa Inggris itu, dan melewati meja resepsionis. Pintu kaca depan dalam posisi tertutup seperti biasa. Tapi salah satunya ditempeli kertas berisi tulisan: PINTU INI RUSAK. GUNAKAN PINTU DI SEBELAHNYA-->

“Pintu di sebelahnya” itu bertulis “push”. Sonya menempelkan tangan di sana, tapi Nana lebih dulu meraih handelnya dan MENARIK si pintu. Sonya tersentak waktu pintu kaca itu mundur dan menghantam mukanya.

“OUCH!!”

“Lo kenapa, Son?” (Sialnya anak ini pake nanya!)

“Ini bacanya DORONG, Nana, DORONG. Bukan TARIIIKK....”

Nana tertawa dengan begonya. “Sori. Soriii. Gue ga baca. Soriii....”

“Lo kok bisa jadi guru bahasa Inggris, sih.”

Sonya merengut memandang semua orang di ruang resepsionis yang terpingkal-pingkal melihat mereka.

***

Kamis.

Oke, mungkin serbet ini sudah tidak diperlukan lagi.

“Lo serius mo ikut kelas gue?”

“Iya.”

“Tapi ini Teknik Elektro, Na.”

“Ya ga pa-pa. Kelas bahasa Inggris kan? Kelas gelombang mikro aja gue mo ikut, kok.”

“Masalahnya tampang lo tuh terlalu cewek buat jadi anak teknik. You’ll be too NOTICEABLE!”

“BODO AMAT!”

“Ya udah. Oke. Amat aja udah pinter, kok.” Bukannya menyerah begitu saja, tapi kalau ditinggal sendirian anak ini bisa bunuh diri. Kalau dia bunuh diri, Sonya yang pertama kali ditanyai polisi dan dituduh semua orang.

“Tapi awas lo macam-macam di kelas gue!” warning Sonya keras.

Nana menciut. “Iya, iya....”

Benar saja. Semua mahasiswa memandangnya sambil berbisik-bisik sewaktu Nana memasuki kelas. Nana cantik, masih 23 tahun, dan berada di antara sejumlah anak cowok dan segelintir anak cewek yang tak terlalu peduli pada penampilan. Karena ini universitas Islam jadi ia berjilbab. Dia memang terlihat lebih manis dengan jilbab itu.

“Temennya ibu ya?” tanya mahasiswa kepada Sonya.

“Ya. Kenapa? Mo kenalan? Sana.”

Nana mendeliknya.

“Okeh!” Sonya membentangkan transparansi dan menyalakan OHP. “Past Continuous Tense versus Past Tense.” Mereka membahas duabelas nomor, dan semua berjalan lancar. Nana duduk di sudut kelas, di deretan paling depan, membaca. Para mahasiswa memperhatikan dengan baik.

Sampai mereka membahas nomor tigabelas.

“Well, thirteen. I—break—a glass last night. I—do—some washing when it—slip—out of my—MIND?”

Begitulah yang tertulis di layar OHP. Para mahasiswa menatap Sonya (yang berusaha menahan malu) dan layar bergantian, berusaha mencerna apa yang sedang terjadi.

Sonya menatap Nana, “Did you say something when I—“

Nana sudah terpingkal-pingkal di tempat duduknya.

Sonya mengumpat dalam hati. Dia yang putus cinta kok gue yang ketiban sial?

***

Jumat.

Mungkin bukan sindrom menangis, pikir Sonya, tapi stabilitasnyalah yang “terganggu”. Tapi, selebih itu, Nana termasuk—tough—mengingat betapa manjanya dia dan betapa Akhsan pernah tergila-gila padanya beberapa waktu yang lalu.

KopiKopi coffee shop. Sonya punya seorang teman yang bekerja disini. Namanya Sebastian—dia cakep. Teman-teman suka sekali padanya. Saat ini Sonya, Kiki, Chintya dan Zety berkumpul di satu meja. Mereka memang mau ngecengin Sebastian, tapi Sonya punya misi sendiri mengajak mereka kesini.

Nana sedang ke toilet.

“Gue udah dua minggu ga ketemuan ama Wahyu,” kata Nana kepada teman-teman. “Ada kek yang mau nampung Nana besok? Tolong dong....”

“Dia nangis-nangis ya?” tanya Zety. “Duh, kalo Nana udah nangis gue nggak sanggup, Son....”

“Nggak—nggak, dia nggak nangis! Sumpah!” Cuma agak kurang stabil—tapi kalau ini diceritakan semua pasti mundur. “Ajakin aja shopping, apa nonton....”

Kiki baru akan mengatakan sesuatu, tapi ia kembali menarik tubuhnya. “Dia datang,” bisiknya.

“Eh, lo inget bunyi hukum kekekalan energi nggak?” kata Sonya sekenanya. Kiki, Chintya, dan Zety saling pandang, garuk-garuk kepala, dan menunduk.

“Lagi cerita apa sih?” tanya Nana.

Kiki dengan spontan dan jenius menjawab. “Guru IPA gue waktu SMP pernah bilang, kalo kita pegang sesuatu yang panas, trus ujung jari kan berasa panas, sebaiknya pegang ujung kuping. Pasti rasanya dingin, deh.”

“Eh, masa? Tar gue coba, ah,” kata Chintya.

Kopi datang, dibawa dengan nampan kecil oleh—ni dia orangnya—si cakep Sebastian, teman SMA Sonya yang jadi superviser di tempat ini.

“Wah, makasih, Ian....” nampan itu langsung dijamah oleh semua tangan sebelum ia mencapai meja.

“Eh, awas, masih panas,” kata Sebastian. “Pegang kupingnya.”

Sonya meraih gagang cangkir (tahu kan gagang cangkir sering juga disebut “kuping”), seperti yang dilakukan Chintya, Kiki, dan Zety. Tapi, Nana—dengan pikiran entah kemana—memegangi ujung kupingnya dengan satu tangan, dan gagang cangkir dengan tangan yang lain.

Kiki tersedak, sebelum ia dan semua yang ada di meja itu tertawa terbahak-bahak. Nana, dengan bodohnya memandang teman-temannya penuh tanda tanya. Sonya menutupi wajah, ingin rasanya berkata pada semua orang, “Bukan, bukan teman gue, kok....”

“Ngetawain apa sih?” tanya Nana polos. Butuh beberapa saat sebelum akhirnya dia menyadari—the joke was on me.

Tiba-tiba dia menangis.

Kiki, Zety dan Chintya langsung diam.

“Duh, Na, soriii...,” Sonya mengulurkan tangan memeluknya. “Kita—nggak bermaksud ngetawain lo, kok....”

“Iya, Na. Sori, sori.” Zety ikut-ikutan.

Nana terus mengangis. “Akhsan jahat, but I keep running to him...gue emang bego, kok. Hiks....”

Sonya mulai turut sedih—Nana akhirnya menangis. Pasti sebenarnya dia ingin menangis. Itulah yang berusaha ditahannya selama beberapa hari ini. Ketiga temannya yang lain saling pandang tanpa tahu harus berbuat apa. Tapi, sebelum Sonya terpikir untuk menelepon dan memaki-maki Akhsan si narsis itu, Sebastian mendekat, dan mengulurkan saputangan kepada Nana.

Kedua orang itu lalu saling tatap lama dengan norak seperti di film-film India. Kiki, Chintya dan Zety merengut.

Sonya tersenyum. Senangnya. Sabtu-minggu besok akhirnya aman.

***

(buat Sonya: met ultah,Son!)

Read previous post:  
Read next post:  
Writer miaa
miaa at Seminggu Setelah Nana Putus Cinta (13 years 9 weeks ago)
50

ceritanya bagus bgt,gw suka pas adegan buka pintu,hahahaha sama "pegang kuping".huakakaka..,seru.....,lucu,haru and dalem..,

Writer gina
gina at Seminggu Setelah Nana Putus Cinta (13 years 10 weeks ago)
60

I'm speechless... bagus!

Writer sherlyne_dee
sherlyne_dee at Seminggu Setelah Nana Putus Cinta (13 years 17 weeks ago)
70

MEnarik.
Diawali sad story, diakhiri happy ending...

Writer ervina280784
ervina280784 at Seminggu Setelah Nana Putus Cinta (13 years 19 weeks ago)
80

Bagus banget.. ngalir.lancar.. keren deh..

Writer Harsya
Harsya at Seminggu Setelah Nana Putus Cinta (13 years 20 weeks ago)
80

Bikin buku....!!!!

Writer Pavlov
Pavlov at Seminggu Setelah Nana Putus Cinta (13 years 20 weeks ago)
90

Lagi! Lagi dan Lagi!
Ini tulisan yang membuat aku iri, bisa-bisanya nulis rangkaian dialog yang ga kagok, bisa-bisanya nulis tokoh2 yang punya jiwa, punya karakter. Joke-joke yang ga basi dan sangat kini. Seger dah!

Writer meier
meier at Seminggu Setelah Nana Putus Cinta (13 years 20 weeks ago)
70

it's ok, bagus...

Writer mannthea
mannthea at Seminggu Setelah Nana Putus Cinta (13 years 20 weeks ago)
80

Kalau Mail dari OB baca ini cerpen, dia bakal bilang, "WOW!" Sama seperti dia bilang itu tiap liat cewe cakep, hehe...

Keren W1tch! Lucu!

Writer Ratih
Ratih at Seminggu Setelah Nana Putus Cinta (13 years 20 weeks ago)
90

W1TCH, gila! Cerita elo asik banget, menghibur tapi dalem. You have the soul of wit. Dilatih n diasah terus ya? Keren!!!

Writer nightcrawler
nightcrawler at Seminggu Setelah Nana Putus Cinta (13 years 20 weeks ago)
70

Good! Gw suka. Untaian kata-katanya cemerlang.

Writer niska
niska at Seminggu Setelah Nana Putus Cinta (13 years 21 weeks ago)
90

baguss.. enak dibacanya.. ringan

Writer FrenZy
FrenZy at Seminggu Setelah Nana Putus Cinta (13 years 21 weeks ago)
70

Heheheh mnurutku ceritanya ringan dan cukup menarik kok.. tapi mgkn agak kepanjangan :) btw witch kerjain pink or blacknya duluan ya hehehe i know its supposed to be my turn.

Writer v1vald1
v1vald1 at Seminggu Setelah Nana Putus Cinta (13 years 21 weeks ago)
80

Huehehe. Setuju ama Neko, ini cerpen bagus. Kalo lah kemarin2, witch gak kepancing nyambung tulisan Frenzy, dah sejak awal kualitas tulisan dia kebaca. Ini masih senada dengan komen gw di ATTILA 1-2; kata2 yang ngalir banget, hampir tanpa cacat!
--
Paling gw suka, adegan kesalahan dorong pintu "PUSH" gak sengaja "kebaca" TARIK (gw juga suka gitu)--> and u know what? Ini salah satu khas cewek; karena otak mereka yang memang kadang lalai memahami "ruang" dan hal2 "semacam" ini (push/pull) --> kamu co kan? Jadi gw acungi jempol buat kejelian kamu mengangkat sisi "cewek" spt ini.

Writer splinters
splinters at Seminggu Setelah Nana Putus Cinta (13 years 21 weeks ago)
70

hehehehe lucu kok ceritanya, sangat ringan, dan diceritakan dengan bahasa tutur sehari-hari, tetapi tetap berusaha memperhatikan kaidah berbahasa yang baik dan benar. tetap menulis! :)

Writer -riNa-
-riNa- at Seminggu Setelah Nana Putus Cinta (13 years 21 weeks ago)
70

enak bacanya, ngalir. ceritanya simple. UII? Jogja banget ya...

100

Tambahan dari komen pertama:
Selain Pink and Black, gw selalu menantikan tulisan2 witch. Salah satu penulis kemudian.com yang terbaik menurut gw selain Nuke, Splinters (my most favorite writer), dll yang tak bisa disebutkan di sini. Makanya, teruslah menulis... gw sakaw tulisan eloooo...
--------------
Kok gw pertama... Ini yang baca nggak pada ngasih komen? Cerpen bagus gini kok dianggurin!