Sore

Sore.
Sender : Jo
Sent : 23-Mar-2004, 16:22:38

Haiiiii...Sore juga… ^^
Sender : Tia
Sent : 23-Mar-2004, 16:23:03

Sadarkah elu kl langit ini biru?
Sender : Jo
Sent : 23-Mar-2004, 16:23:56

He? Mksdny ap jo?
Sender : Tia
Sent : 23-Mar-2004, 16:24:42

Sadarkah elu kl angin ini sejuk?
Sender : Jo
Sent : 23-Mar-2004, 16:25:15

Jo? Elu gpp kn?
Sender : Tia
Sent : 23-Mar-2004, 16:25:54

Sadarkah elu kl burung-burung senang beterbangan sore ini?
Sender : Jo
Sent : 23-Mar-2004, 16:27:21

Gw ga ngerti jo. Mksdny ap? Lu lagi dmn?
Sender : Tia
Sent : 23-Mar-2004, 16:28:09

Sadarkah elu? Mthri sore hr ini indah skali.
Sender : Jo
Sent : 23-Mar-2004, 16:28:47

Jo? Aku datang ke tmptmu skrg d.
Sender : Tia
Sent : 23-Mar-2004, 16:29:32

Di ujung genteng ini, semuanya tampak indah. Tapi sebentar lagi semua akan berakhir.
Sender : Jo
Sent : 23-Mar-2004, 16:30:05

Jo? Tunggu jo! Jangan ngapa2in! Gw dtng skrg!
Sender : Tia
Sent : 23-Mar-2004, 16:30:39

////////////////////////////////

“Mau ke mana toh, kok buru-buru, neng?”
“Mau ke tempat kos si Jo, mbok,” jawab Tia.

(‘Jo…. Apa yang akan kamu lakukan? Apa yang terjadi padamu? Sebegitu terpuruknyakah keadaanmu saat ini? Tidak…. Jo, jangan dulu. Kamu belum boleh pergi….’)

Kakinya bergerak cepat di jalanan menuju ke rumah kos di gang sebelah tempat Jo, sahabat karibnya, tinggal. Mereka telah bersahabat selama 5 tahun lebih : Jo yang miskin dan hanya mampu menyewa kamar kecil di loteng dan Tia yang anak orang kaya dan tinggal di rumah besar.

Mereka berdua selalu dapat akrab dan saling membantu. Keduanya sudah seperti kakak beradik. Namun memang beberapa hari ini Jo tidak mengontak Tia. Tia pikir itu karena kesibukan Jo di sekolah yang memang lebih tinggi satu tingkat darinya. Dan SMS dari Jo tadi sungguh berbeda dari kebiasaannya. Tidak terbayangkan rasa khawatir yang melingkupi hati Tia saat ini.

Sampai di depan rumah kos itu, Tia melihat Jo….. di atas atap, 3 lantai tingginya. Ia berdiri di pinggiran dan tepat di bawahnya, pagar besi yang tinggi dan runcing seakan menunggu mangsanya. Jo tidak menggubris teriakan Tia dari bawah.

Tia segera membuka pintu gerbang rumah kos yang tidak terkunci dan berlari kea rah tangga. Kakinya sakit sekali menaiki tangga sekaligus dua. Tapi ia harus cepat samapi ke atas dan mencegah Jo…. mencegah Jo….

Akhirnya ia sampai di atas genteng juga. Angin sore berhembus sejuk. Matahari bersinar terang dari barat, seolah-olah terbuat dari emas yang sangat berkilau. Burung-burung berkicau di sekeliling langit. Tia melihat Jo.

“Jo! Gua udah di sini!”

PIPIIIP!! PIPIIIP!!

///////////

Indah kan?
Sender : Jo
Sent : 23-Mar-2004, 16:51:33

////////////

Tia melangkah perlahan-lahan menuju ujung genteng. Jo masih berdiri dalam diam.

“Jo, lu lagi ngapain?”
“…..”

Keduanya diam untuk beberapa saat.

“Hai Tia.”
“Jo, lu udah bikin gua serem tau. Kaget banget gua. Gua kirain lu kenapa-kenapa….”
“Sori.”
“Anyway, lu ngapain di sini?”
“Liat matahari terbenam.”
“Emang kenapa? Bukannya tiap hari matahari terbenam?”
“Bagus…”
“Tapi kenapa harus di atas genteng?”
“Di mana lagi?”
“Yaaa….”
“Di atas genteng ini adem. Rasanya sepi. Rumah ini kan agak tinggi. Jadi rasanya seperti liat matahari terbenam dari atas gunung.”

Keduanya kembali terdiam. Jo duduk. Tia juga. Matahari sudah semakin rendah di langit.

“Tia, sori yah gua udah bikin lu khawatir.”
“…. Jadi elu enggak kenapa-kenapa?”
“Engga kenapa-kenapa. Tapi meskipun gua ada masalah, sekarang gua tahu di mana gua bisa ngelupain semuanya.”
“Maksud lu?”
“Ngeliat ini semua – matahari terbenam, kicauan burung, angin sepoi-sepoi, suara anak-anak kecil bermain di lapangan sana – merasakan ini semua bikin hati gua tenang.”

Dan mereka duduk berdua di sana sambil memandang matahari terbenam. Tia tidak mengganggu Jo dan tetap duduk bersamanya. Ia tahu Jo menyukai semua ini. Hanya dirinya yang mampu menghargai semua ini, suatu hal sesederhana ini. Dan ia sendiri dapat merasakan kedamaian yang menenangkan. Ia pun lupa akan semua masalah-masalahnya. Jo benar. Ia sendiri juga dapat menghargai hal ini.

Matahari terus terbenam, memancarkan sinarnya yang megah dan menghiasi sore.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Ratih
Ratih at Sore (14 years 43 weeks ago)
90

...yang terjadi tiap hari emang seringkali luput dari rasa syukur kita ya? Dalem... Gw suka gaya loe

Writer picsou
picsou at Sore (14 years 44 weeks ago)
90

idenya asik... gokilililililil...

abis sms trus apalagi nih? wakaka... kapan serial sepedaanny dikeluarin?

Writer yugi_yakuza
yugi_yakuza at Sore (14 years 44 weeks ago)
80

di kiraain teh si Jo mau bunuh diri,,
eeeee....ternyata dan ternyata_
:p

sumpah,manis bgd bro,,
moment kyak gtu paling pas klo b'2 ma orang yang Qt sayang..
wuuihh..indah buener deh...
^.~

Nice broo...

Writer Littleayas
Littleayas at Sore (14 years 44 weeks ago)
80

kirain si jo knapa2..
nice story weha ^^

Writer za_hara
za_hara at Sore (14 years 44 weeks ago)
80

Manis euy, gue suka ^_^, tapi zuzur, menurut kesan gue, sepertinya cerpen ini akan indah kalau disajikan murni dalam bentuk SMS, atau setidaknya 90%-nya.

Dari situ nggak perlu pindah dulu ke konsep narasi karena dari konsep SMS juga sudah terbangun chemistry antar tokohnya. berikutnya tinggal lo bikin "eksekusi" cerita saja dengan konsep SMS juga dan sedikit narasi.

ini hanya menurut kecenderungan gue lho. pada prinsipnya, begini pun tetap bagus. Lagipula setiap penulis kan memang punya kecenderungan masing2, tul gak? ^_^

keep writting!

Writer arien arda
arien arda at Sore (14 years 44 weeks ago)
80

so sweet...
so sweet like a sugar..

keep writing

Writer meier
meier at Sore (14 years 44 weeks ago)
70

keren.tapi pikiran gua ga sama dengan pikiran Tia, jadi kayaknya maksud lo kurang kesampaian.(kalo gua ga salah duga maksud lo)