Mug Hitam Alan

Susu putih yang tawar itu mengisi tiga perempat bagian mug hitam. Alan tidak suka mug-nya terisi penuh, bahkan inginnya hanya setengah, sebenarnya.

“Habis?” mama bertanya.

“Ya,” Alan menyahut dengan sisa-sisa susu di ujung mulut. Mama lekas mengambil tisyu dan membersihkannya.

“Mama...” hindar Alan. “Alan udah gede,” diraihnya tisyu itu, dilapnya sendiri ke mulutnya.

Aku membuang muka. Terakhir kuingat mama memperlakukanku seperti itu saat usiaku masih sepuluh tahun. Tapi aku tak lantas cemburu.

“Besok kuliah jam berapa, Lan?” tanya papa.

“Hm... jam satu-an, Pa.”

“Ya udah, nanti sekitar jam sebelas papa break makan siang, pulang dulu buat nganter kamu kuliah.”

“Jam sebelas ya, Pa? Jangan kecepetan! Papa kan suka gitu.”

Sekali lagi aku membuang muka. Aku mencoba mengingat kapan papa bilang seperti itu padaku; tidak pernah. Aku sampai berpanas-panasan naik angkot setiap jadwal sekolah siang. Tapi sekali lagi aku tak lantas cemburu.

* * *

Mug hitam itu terisi setengah air bening yang dingin. Menemani Alan yang asyik mengedit foto-foto dirinya dengan artis idolanya. Aku menelan tawa saat melihat dia ‘memaksa’ menyandingkan fotonya dengan gambar Dian Sastro. Lebih-lebih saat menggantikan kepala Superman dengan foto wajahnya sendiri. Aku pikir, foto wajahnya lebih pantas ditempatkan pada tubuh Aming.

“Nih,” aku meletakkan sepiring kudapan kecil di meja sebelah meja komputernya. Sebelum pergi, aku berhasil mengambil beberapa, “Gue minta ya?! Abis, mama pelit, gak mau ngebagi gue. Baiknya cuma sama elo doang.”

“Eh, tolong ambilin gue minum dong!” tahan Alan sambil menyerahkan mug hitamnya yang sudah kosong karena isinya baru saja berpindah ke perutnya. “Setengah aja ya!”

“Tapi gue boleh minta duit gak?” kataku mengajukan syarat. “Goceng aja kok.” Alan menarik kembali mug hitamnya, lalu berdiri, hendak mengambil minumnya sendiri. Huh, dasar pelit! “Ya udah deh, gue minjem. MINJEM. Nanti gue ganti.” Kataku sambil meraih mug hitamnya.

“Kebiasaan lo!” gerutu Alan sambil mengambil dompet di tasnya. “Bener ya MINJEM! Balikin lo entar!”

“Sip! Kapan sih gue gak bayar utang-utang gue?!” kataku yang setelah menerima selembar lima ribu darinya langsung mengambil aksi seribu langkah. “Thanks ya, Kakakku sayang.”

* * *

Sudah seminggu lebih, mug hitam itu tertelungkup di lemari dapur. Mug hitam bergambar Monokurobo yang awalnya mama beli untukku itu nampaknya sedang memendam kerinduan akan sentuhan tuannya, tuan satu-satunya yang selalu setia padanya. Alan bahkan tidak pernah terlihat minum dengan gelas atau mug lain.

Awalnya aku sendiri bingung. Aku pikir, hanya kebetulan saja Alan selalu minum dengan mug hitam itu. Sehabis makan, saat sedang duduk santai, minum susu malam, dan minum berbagai vitamin.

“Irene, kalau mau minum, jangan pakai mug hitam itu!” suatu hari papa memperingatkan. “Itu khusus buat kakak kamu.”

Ha? Ada apa sebenarnya antara Alan dengan mug hitam itu?

Hingga akhirnya aku mencuri dengar pembicaraan mama dan papa, “Papa akan lebih rajin lagi bekerja supaya bisa mendapatkan uang yang lebih banyak. Kalau perlu, papa kerja sampingan apa ke’. Biar kita nggak kekurangan biaya untuk pengobatan Alan.”

“Ya, mama juga rela menjual perhiasan dan benda-benda berharga lainnya kalau memang perlu. Tapi, untuk biaya berobat bulan depan mama sudah siapkan. Masih ada dari sisa tabungan di bank.”

Alan sakit parah? Mama dan papa sampai bicara seperti itu. Lalu, apa hubungannya dengan mug hitam yang tidak boleh kusentuh?

Ketika malam aku terbangun karena kebelet pipis, aku mendengar seseorang sedang batuk-batuk di kamar mandi. Batuk yang parah hingga terdengar seperti orang sedang muntah-muntah. Ternyata itu Alan. Dan aku menemukan bercak darah berceceran di lantai. Sepertinya sisa-sisa darah yang tak sempat Alan bersihkan.

“Ma, Alan sakit paru-paru ya?” tanyaku akhirnya pada mama yang siang itu sedang memasakkan bubur untuk Alan. “Irene kok nggak dikasih tahu? Irene kan udah gede. Udah kelas dua SMA.”

“Ya syukurlah kalau kamu sudah tahu. Biar kamu nggak jealous-jealous lagi sama kakak kamu.”

“Jadi bener, Ma, Alan sakit paru-paru? Parah banget ya?”

“Psst, jangan keras-keras! Kakakmu paling nggak suka penyakitnya dibahas. Apalagi sampai dibeberkan ke semua orang.” Mama sangat menjaga perasaan Alan. Tidak seperti padaku, mama bahkan tak segan mencelaku dengan kata-kata yang ‘menohok’. Tapi sudahlah, aku tidak perlu lagi cemburu. “Sekarang kamu sudah tahu. Jadi mama harap kamu bisa mengerti keadaan kita sekarang. Mesti banyak berhemat untuk pengobatan Alan.”

Alan... Alan... ada-ada saja kamu. Berbagai penyakit sepertinya pernah kamu coba. Aku masih ingat, waktu Alan kelas satu SMP, selama dua bulan dia terbaring di rumah karena tyfus. Lalu, waktu kelas tiga SMP, mesti operasi gigi gingsulnya yang mulai merobek kulit mulut dalamnya. Belum lagi kalau terserang flu bisa sampai mingguan, hingga sempat dicurigai sebagai suspect flu burung. Dan waktu akhir-akhir kelas 3 SMA, sempat seminggu terbaring di rumah sakit gara-gara DBD. Untung otaknya lebih cemerlang dariku. Biarpun baru sembuh, hasi UN-nya tidak mengecewakan. Dan dia juga bisa kuliah di tempat yang dia inginkan. Dan lagi-lagi penyakit itu tak henti mengekorinya. Paru-parunya terganggu! Bagiku cukup menyeramkan. Apalagi Alan sudah muntah-muntah darah.

Dan parahnya, semakin hari Alan semakin sering memuntahkan darah. Padahal, pengobatannya tidak pernah absen. Setiap bulan dia kontrol ke rumah sakit. Di rumah pun, kami semua sangat memanjakannya dengan asupan gizi yang memadai dan pelayanan intensif lainnya. Hingga akhirnya aku tahu, Alan menderita kanker paru-paru.

* * *

Mug hitam itu masih dalam keadaan tertelungkup di lemari dapur. Seminggu. Dua minggu. Hingga berbulan-bulan lamanya. Tidak ada lagi yang menggunakannya. Tuannya telah pergi untuk selama-lamanya karena kanker paru-paru yang dideritanya.

Aku masuk ke kamar Alan, menyalakan komputernya. Tidak lagi bisa tertawa saat melihat foto dirinya yang kelihatan masih ‘memaksa’ bersanding dengan gambar Dian Sastro di sebelahnya. Tidak juga hendak mengejeknya yang tetap tidak pantas berbadan sekekar Superman. Selembar lima ribu yang terakhir kupinjam darinya hendak kukembalikan pada dompetnya yang masih tersimpan di dalam tas.

Alan, bukan cuma mug hitam itu yang akan merindukanmu. Tapi juga aku, seorang adik yang tidak pernah memanggilmu dengan sebutan ‘Kakak’, bahkan hingga saat kepergianmu. Tapi itu juga kemauanmu; tidak mau dipanggil ‘Kakak’. Karena kamu pernah bilang bahwa kamu ingin selamanya menjadi kanak-kanak, tidak mau menjadi tua. Dan keinginanmu tercapai dengan cara yang kurang menyenangkan. Tapi bagaimanapun ini sudah menjadi takdir bagimu. Dan perlu kamu tahu, sampai kapanpun kamu adalah satu-satunya kakak terbaik untukku.

Tapi izinkan aku tetap memanggilmu ‘Alan’, bahkan pada mug hitam-mu ini.* * *

[Kamis, 19 Juli 2007 21:30:06]

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer vieajah
vieajah at Mug Hitam Alan (13 years 44 weeks ago)
70

menyentuh endingnya ajah dun..??

Writer creativeway13th
creativeway13th at Mug Hitam Alan (14 years 11 weeks ago)
100

no comment!!

Writer unak unik
unak unik at Mug Hitam Alan (14 years 12 weeks ago)
70

dun.. yg kali ini kurang dun deh... kok buru2 seh dun nulisnya brasa kepotong2 dan di ffw kalo bahasa dvdnya hihihi.. gak kemana2 kok kita smua dun,..

Writer brown
brown at Mug Hitam Alan (14 years 13 weeks ago)
70

kenapa malam ini cerita2 yg kubaca banyak yg bertemakan 'kesedihan'?

tapi tdk sampai membuatku menangis. sepertinya bagus jg kalau bagian kisah2 yg dialami Alan dan Irene bersama ditambahi. kisah pertikaian antara alan dan irene mungkin?

just a thought....

Writer sefry_chairil
sefry_chairil at Mug Hitam Alan (14 years 13 weeks ago)
100

keren juga

Writer -riNa-
-riNa- at Mug Hitam Alan (14 years 13 weeks ago)
90

waktu kemaren lusa, sempet buka cerita ini, tapi nggak sempet baca. akhirnya...bisa baca juga ampe abis.

Bagus! Nyaris bikin aku mewek, pas juga ada backsound lagunya Chrisye. Ah...jadi tambah sedih!

Writer nirozero
nirozero at Mug Hitam Alan (14 years 13 weeks ago)
80

Touchi nih Dun! Keren. Walau gampang ketebak nggak usah dipeduliin deh. Soalnya dulu aku pernah bikin cerita yang ketebak kaya' gini. Tapi, nyatanya keren juga. hhihi

n_n

Writer fortherose
fortherose at Mug Hitam Alan (14 years 14 weeks ago)
80

...nyentuh, dun, walau (seperti komen2 dibawah^^) memang agak klise dan mudah tertebak.

^_^

Writer gheta
gheta at Mug Hitam Alan (14 years 14 weeks ago)
80

kemasannya halus.walaupun idenya klisekata renge) cerpennya enak banget di baca

Writer Armila_astofa
Armila_astofa at Mug Hitam Alan (14 years 14 weeks ago)
60

Akhir2 ini aku malas baca.Tapi setelah baca cerpennya dadun aku tertarik.Ceritanya menyentuh dan bikin sedih.
Dadun idenya ada aja.
BTW dari tadi nyariin fs-nya dadun nggak ketemu2.

Writer KD
KD at Mug Hitam Alan (14 years 14 weeks ago)
100

jadi kepengin nulis lagi

Writer renge2024
renge2024 at Mug Hitam Alan (14 years 14 weeks ago)
70

so so DECH.Agak KLISE sich

Writer meier
meier at Mug Hitam Alan (14 years 14 weeks ago)
80

weks....its good

Writer chau
chau at Mug Hitam Alan (14 years 14 weeks ago)
90

ending ketebak sangat mudah
di permulaan

tapi,,sumpah deh...
agak2 gimana gitu
baca ni cerita
*_*

Writer azura7
azura7 at Mug Hitam Alan (14 years 14 weeks ago)
90

mayan

Writer Chatarou
Chatarou at Mug Hitam Alan (14 years 14 weeks ago)
90

menyentuh, dan ada kata-kata yang membuat akhir cerita ada makna, walau garis besarnya sudah bisa ditebak...

tetap ingin menjadi kanak-kanak yang dicapai dengan cara yang kurang menyenangkan.

ditunggu lagi karyanya..

Writer arien arda
arien arda at Mug Hitam Alan (14 years 14 weeks ago)
80

hmm... sedih...

hik..hik..hik..

keep writing

Writer Ratih
Ratih at Mug Hitam Alan (14 years 14 weeks ago)
100

Sore-sore gini bikin orang nangis...

Writer miss worm
miss worm at Mug Hitam Alan (14 years 14 weeks ago)
70

..kinda rushed dun... di pertengahan sepertinya terlalu penuh... mug hitam juga terasa ngga terlalu tinggi eksistensinya. padahal sih sejauh yang saya baca bagus ^^ entah miss di mana

feel nya mungkin yang saya kelewat

Writer on3th1ng
on3th1ng at Mug Hitam Alan (14 years 14 weeks ago)
90

keren dun..meskipun endingnya udah bisa ketebak..tapi sip lah..