Dan kau tahu itu...

Pesta cocktail @Blackpearl-Martini Bar,
1 Agustus 2007, 09.00 pm

Suasana Blackpearl, club-bar baru di bilangan jalan arteri permata hijau itu, hangat dan mulai penuh dengan para eksekutif muda dengan pakaian kerjanya, yang langsung sedari kantor melaju ke sana untuk menghadiri private bday party seorang Crystal. Crystal adalah PR dari perusahaan tempat aku bekerja 5 bulan terakhir ini. Layaknya seorang PR, aku tidak heran kenalannya banyak sekali. Selain pegawai-pegawai di kantorku, masih banyak orang-orang lain yang tidak kukenal, mulai dari bos direksi sampai artis-artis yang baru jadi, semuanya nampak mengenal Crystal dengan baik.

Aku duduk di bar seorang diri sejak jam 8 malam tadi, menyesap Martini-Blackpearl, andalan bar disini sambil menikmati alunan musik akustik yang disajikan hingga jam 10 malam, sebelum berganti dengan suasana klub malam khas Jakarta yang hingar bingar dengan musik ajep-ajepnya. Teman-temanku yang lain asik ngobrol di pojok ruangan, kupikir aku lebih baik menikmati dulu musik akustik ini, sembari men-scanning orang-orang yang baru datang dari pintu masuk di dekatku, siapa tahu ada yang pria-pria lucu yang potensial untuk kuajak kenalan hihihi..

Kuperhatikan satu per satu tamu yang datang, kadang mereka datang berkelompok, berpasangan, satu dua orang cukup percaya diri untuk datang seorang diri. Kemudian, masuklah pria itu…Kamu..

Lucu ya, bagaimana pengaruh seseorang dengan karisma berlebih, bisa seketika menyesakkan suasana. Seolah dunia berputar dalam gerakan yang lebih lambat dari biasanya hanya untuk menyediakan lebih banyak waktu menikmati setiap nafas kehadirannya.

Refleks aku langsung menegakkan badanku, menyilangkan kaki kananku ke atas kaki satunya, meluruskan kerutan-kerutan tipis di rok balonku. Aku pura-pura asyik menyesap minuman di tanganku, karena ku tahu dalam hitungan detik, matamu yang sedang menyusuri seisi ruangan itu akan bertumbuk pada sosokku.

Ya, benar seperti dugaanku, dalam sepersekian detik yang berarti, tatapanmu berhenti, matamu mengarah lurus padaku, aku tau. Dan kau juga tahu itu…

Aku tersenyum, manis tapi tidak menggoda. Aku berjaga-jaga agar jangan se-milimeter-pun gelas di tanganku terangkat. Agar kau tahu, aku tidak sedang mengundangmu bergabung. Dan kau tahu itu, kau tersenyum sopan. Seseorang memanggilmu, merusak senyummu untukku, kau berbalik arah memunggungiku. Seorang wanita.

Genggaman tangan di gelasku mengendor, tanpa sadar daguku merosot kalah. Tapi mata ini masih tak bisa lepas, memandangi sosokmu kini dari belakang. Tahukah kamu? Kurasa kamu tak tahu—ataukah kamu tahu? Karena –kalau bukan halusinasiku—punggungmu itu sesaat ragu untuk beranjak dari pandangan mataku.

Selepas hancurnya sepersekian detik tadi bersamamu, tiba-tiba memandangi pintu masuk tidak lagi jadi hal yang menarik. Ingin sekali aku melangkah ke arah kau pergi, seolah-olah ada magnet di auramu. Tapi akalku masih cukup waras untuk memerintah setiap saraf yang mengalir di kakiku, mengarahkannya ke sisi yang berlawanan.

Di sudut ruangan aku bergabung dengan teman-teman kantorku yang asyik bercanda seru. Lawakan-lawakan gila dan segelas Cosmopolitan yang sempat kupesan sebelum beranjak dari bar tadi mulai melimbungkan sebagian jiwaku. Kulayani saja rayuan gombal Indira, pegawai IT yang bermulut manis itu, lumayanlah mengobati kekecewaanku ditinggalkan tadi. Sementara Casey, Mona, dan Roy sibuk mengomporiku supaya tidak kena rayuan maut Indira. Haha aku sih menikmati saja menjadi pusat perhatian mereka.

Hiruk pikuk terhenti saat yang punya pesta mendatangi sofa kami menggandeng seorang wanita yang usianya lebih muda dari kami –oh tidak dua orang rupanya, dan seorang lelaki...Kamu.

Haduhh kenapa mesti diajak kesini, hatiku mulai resah kembali. Aku menggeser posisi dudukku yang setengah bersandar pada Indira, supaya kau tidak berpikiran macam-macam. Crystal mengenalkan pada kami, “Kei, kenalin nih adikku Anne, dan ini Dannis.

Pria bernama Dannis itu terlihat sekali pura-pura tak terkejut melihatku, pura-pura tak mengenali. Tiba-tiba kok aku jadi mual.

“Dannis nih dari Amerika, tadinya mau jadi warga Negara sana, tiba-tiba kepincut adikku ini, langsung dilamar dong, tancap gas mendahului kakaknya ini hahahha” selorohan Crystal sudah tak bisa kudengar.

Begitu aku mau mengulurkan tangan dan menyebutkan nama “Keira“, rasa mualku tak tertahankan lagi. Sudah tak peduli rasa malu ataupun jijik aku muntah di tengah-tengah semua orang.

Crystal panik ingin membantu, Indira terlihat jijik, Casey dan Mona ribut berkata aku kebanyakan minum.

Bukan, bukan itu... Dannis Waluyo, pria tampan lulusan Universitas California, yang tiba-tiba dua tahun lalu minta putus hubungan denganku setelah dua setengah tahun pacaran, dengan alasan akan menetap di sana, tidak akan kembali lagi ke Indonesia, tidak akan kembali lagi kepadaku. Hhh..lalu sekarang kamu datang, pulang untuk selamanya, untuk menikah dan tinggal di sini??? Bagaimana mungkin aku tidak muntah mendengarnya.... Dan Kau tahu itu.

Dan Kau tahu itu.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer not_yet_an_angel
not_yet_an_angel at Dan kau tahu itu... (15 years 8 weeks ago)

haha thx komennya..first try niy...
lucu y gmn seorang mantan masi bisa bikin hati berdesir2 hoho..

to frenzy..iya bener bgt komennya:), begitu dibaca lagi aga2 putus2 dan tll cepet di awalnya hehhe thx2, i'll try to fix it :)

Writer -riNa-
-riNa- at Dan kau tahu itu... (15 years 8 weeks ago)
80

bukan bingung gara2 jalan ceritanya, tapi bingung harus kasih komen apa. Gw emang bukan pemberi komen yang baik dan benar. Tapi gw enjoy banget baca ini.

Writer bluer
bluer at Dan kau tahu itu... (15 years 8 weeks ago)
80

awalnya memang biasa, tapi endingnya menggetarkan.

hee, dennis itu memang gak tau sopan.
waks...

Writer FrenZy
FrenZy at Dan kau tahu itu... (15 years 8 weeks ago)
80

akhirnya bagus.

di awal, jalan ceritanya agak terputus-putus dan kurang smooth. tapi alurnya, permainan kata-katanya, bagus kok :)

Writer arien arda
arien arda at Dan kau tahu itu... (15 years 8 weeks ago)
80

nice story..
ternyata mantannya

keep writing