Dodol Duren (bagian kedua)

Dodol Duren

Sebuah cerita fantasi

Bagian dua.

“Kau tahu, tak sopan duduk di atas kepala seseorang”

Suara itu bergaung di antara pepohonan. Aku berusaha mengira-ngira dari mana suara tadi datang, tapi tak berhasil.

Awalnya kukira aku akan mati karena kaget. Memangnya siapa yang tidak terkejut setengah mati saat ada suara yang tak jelas asalnya menyapa di tengah hutan yang sepi dan gelap? Aku menyentuhkan sebelah tanganku di dadaku yang berdegup kencang, sementara tanganku yang lain menopang tubuh yang terduduk lemas di batu yang lembab dan berlumut itu. Saat aku menenangkan jantungku yang tak karuan, pikiran jernih mulai meresapi kepalaku.

Ada orang lain di sini! Berarti aku tidak terdampar di tengah tempat antah berantah ini sendirian. Ada orang yang mungkin bisa menjawab pertanyaan yang memenuhi kepalaku sekarang! Aku menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan. Berharap ada seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik pepohonan dan meminta maaf karena telah mengejutkanku.

Selama beberapa detik yang terasa bagaikan puluhan tahun, aku menunggu. Tapi jangankan manusia, bahkan tak ada hewan yang menampakkan diri. Hanya suara serangga yang terdengar menjadi latar belakang hutan. Sampai terdengar suara lain.

“Ya ampun. Sesudah ratusan tahun aku tidak bertemu manusia, aku malah bertemu dengan manusia yang bego.”

Aku berdiri. Dengan gemetar, perlahan aku memutar tubuhku dan melihat ke arah batu yang sedari tadi aku duduki.

“Ya, di bawah sini, manusia.”

Selangkah demi selangkah, aku mengelilingi batu berlumut itu. Dan di sisi sebaliknya, aku melihat sesosok raut muka yang tepahat di batu itu. Wajah itu terpahat tanpa ekspresi di batu besar itu, mengingatkanku pada wajah di stupa batu yang pernah kulihat sewaktu aku berkunjung ke salah satu candi di suatu tempat.

Aku perlahan menyentuh wajah batu itu. Keras dan dingin, seperti batu seharusnya terasa.

“Halo,” katanya, wajah batunya bergerak gerak dengan lancar.

Kakiku mendadak saja terasa lemas. Aku jatuh terduduk di rerumputan yang basah oleh embun. Tangan yang menopang tubuh terasa dingin dan tiba-tiba saja, kenyataan menghantamku seperti palu besar yang berat. Aku menengadahkan kepalaku.

“Aku mengerti.” Kataku sambil menatap potongan langit yang terlihat melalui celah-celah kanopi pepohonan. “Aku terkena stroke saat makan dodol duren keparat itu dan kini aku sedang sekarat. Ini yang disebut dengan halusinasi saat otak kekurangan oksigen pada near death experience…”

Wajah di batu itu hanya menatapku sambil melongo, sebelum mulut batunya bergerak lagi. “Ya ampun. Sesudah ratusan tahun aku tidak bertemu manusia, aku malah bertemu dengan manusia yang bego DAN sinting.”

Dia memutar bola mata abu-abunya ke atas dan bergumam. “Kalau aku dikencingi lagi oleh rusa keparat itu hari ini, hari ini akan benar menjadi hari terburuk dalam sejarah hidupku.”

Entah kenapa, kalau kau menyadari bahwa kemungkinan besar kau sudah mati dan semua hal di sekelilingmu hanya halusinasi, kau akan menjadi lebih tenang. Bagaikan zen. Meskipun kau melihat wajah dari batu yang bergumam sendiri di hadapanmu.

Aku bangkit dan membersihkan celanaku, kemudian berjongkok di depan wajah batu itu.

“Setidaknya kau tidak histeris seperti manusia yang terakhir bertemu denganku. Dia memukuliku dengan batu, tahu? Retakannya masih tersisa di atas kepalaku. Dan oh, kau belum mati ngomong-ngomong.”

“Kau pernah bertemu manusia lain?” tanyaku. Yah, kalau sudah begini, sekalian saja ikut arus.

“Sepertinya. Meskipun sebenarnya bagiku semua manusia sama bentuknya. Kaki dua di bawah badan, dua tangan di sisi. Hidung satu di tengah wajah dan dua mata di atasnya. Coba kalau kau punya tiga mata atau tanganmu ada di depan badan, mungkin aku akan bisa lebih membedakan kalian.”

“Dan aku belum mati?”

“Ya. Huh, tak pernah ada yang mendengarkanku. Seakan aku hanya batu yang tergeletak di pinggir jalan saja. Meskipun aku memang batu yang tergeletak di pinggir jalan.” Suaranya terdengar dalam dan bergetar dan 'kebatu-batuan.' Agak tak sesuai dengan gaya bicaranya, sebenarnya. Kau biasa berharap akan mendengar semacam kebijaksanaan kuno yang terlupakan dari suara seperti itu.

“Jadi… kalau aku belum mati… dimana ini?” tanyaku.

“Kamu di sini.”

“Y…ya? Dan dimana itu di sini?”

“Di sini ya di sini.”

Hening beberapa saat.

“Sudahlah, sia-sia saja berbicara denganmu sepertinya.” Kata wajah di batu itu. Hei, seharusnya aku yang bicara begitu, tahu?

“Kau dari dunia itu kan? Pergilah ke kastil di sana dan biarkan aku menikmati kedamaianku lagi.”

"Dunia itu?"

"Dunia itu."

“Kastil di mana?”

“Di sana.”

Hening lagi beberapa saat .

Aku tak mengerti sedikitpun omongannya. Tapi wajah batunya tiba-tiba diam dan tak berkata apa-apa lagi, jadi kukira itu isyarat bagiku untuk meninggalkannya. Dan kini semuanya lebih jelas.

Aku belum mati.

Aku sedang berhalusinasi karena obat bius.

Pasti wanita itu memasukkan sesuatu kedalam dodol durennya. Dari gejala yang kualami, sepertinya LSD. Tapi kecil kemungkinan warung dodol di kota kecil seperti ini punya obat seperti itu. Lebih mungkin sejenis jamur, dari buku yang kubaca, banyak jamur yang bisa menimbulkan halusinasi.

Yah, atau memang jamurnya tumbuh secara alami karena dodolnya nggak laku-laku.

Apapun yang terjadi, sepertinya untuk sementara waktu aku tak akan kembali ke “dunia itu” untuk sementara, kalau mengambil istilah batu aneh tadi. Kalau benar ini halusinasi karena obat bius atau jamur, aku bisa saja duduk di sini untuk beberapa saat sampai efeknya hilang. Tapi sudah susah-susah berhalusinasi, mungkin sebaiknya aku mencari halusinasi yang lebih menarik.

Dan tentu saja, masih ada kemungkinan aku memang sedang sekarat.

Wajah batu itu hanya bilang kalau sebaiknya aku pergi ke suatu kastil “di sana.” Tapi dia tidak bilang kemana aku harus pergi. Jadi aku menggelengkan kepala, dan melangkahkan kakiku secara acak. Lagipula, entah ini karena stroke atau obat bius, tempat ini tetap saja tidak nyata, dan aku pasti sampai di tempat tujuanku kemanapun aku melangkah.

Tentu saja, kesalahan hipotesis itu baru kuketahui beberapa jam kemudian. Setelah aku berputar-putar tak tentu arah di antara pepohonan selama waktu yang terasa bagaikan selamanya. Aku menyandarkan diri ke salah satu pohon dan mengelap keringatku. Langit sudah mulai merah. Di dunia antah berantah ini langit saat senja tetap merah. Aku menaruh saputangan yang kupetik dari salah satu pohon ke sakuku dan menghela nafas. Di sekitarku, beberapa pohon yang berbuah lampu natal mulai menyala berkelap kelip.

Ya, entah kenapa aku tidak merasa aneh lagi kalau salah satu pohon di hutan ini menghasilkan saputangan. Atau ada pohon yang berbuah lampu kelap-kelip. Biasa disebut kepasrahan.

Aku menatap batang pohon yang kusandari, dan berpikir selama beberapa saat. Kemudian aku mulai menjeduk-jedukkan kepalaku ke pohon itu. Dari kepalaku yang berdenyut tak karuan bisa kusimpulkan kalau ini bukan mimpi.

Atau ini memang mimpi?

Bertanya apa aku sedang mimpi membuktikan kalau aku MEMANG sedang mimpi, sebab aku tak mungkin menanyakan itu di dunia nyata. Setiap aku berpikir “ini pasti mimpi” pada akhirnya aku selalu bangun dan sadar bahwa tadi memang mimpi.

Tapi tentu saja orang TIDAK MUNGKIN tahu dengan pasti apa dia sedang bermimpi atau tidak sampai saat dia bangun. Bahkan saat orang bangun pun dia masih mungkin bangun lagi dan sadar bahwa sebelumnya dia hanya bermimpi bangun.

Filosofi membuat kepalaku yang benjol jadi nyut-nyutan, jadi aku berhenti berpikir dan terus berjalan. Kalau aku terus tersesat di hutan ini sampai malam, aku bisa benar-benar kehilangan arah sama sekali.

Aku perlu satu patokan jalan. Tapi semua pohon di hutan ini nampak benar-benar sama. Yah, kecuali beberapa pohon berdaun sikat gigi atau kembang sepatu yang aku yakin memang berbunga SEPATU tadi. Dan sedari tadi aku sudah memberi tanda pada beberapa pohon. Tapi aku belum menemukan salah satu tanda yang kugoreskan. Meski begitu aku tidak bisa yakin kalau aku tidak berputar-putar dalam spiral setan tanpa arah.

Saat aku mulai putus asa, sayup-sayup terdengar suara. Di sela-sela suara desir angin, erikan serangga, dan percakapan tak jelas dalam kepalaku, ada suara seseorang minta tolong. Suara itu terdengar bagaikan musik malaikat di kepalaku. Biarlah itu batu aneh lain, aku bisa tanya jalan yang lebih jelas. Aku mengabaikan suara hatiku bahwa kalau suara itu minta tolong, berarti dia juga dalam kesulitan sepertiku, dan ada kemungkinan dia tidak bisa membantu. Tapi terserahlah, aku hanya senang mendengar suara lain di hutan ini.

Dan yang kulihat adalah seekor kucing berteriak-teriak minta tolong di dahan sebuah pohon. Kucing berbulu putih dengan bercak-bercak hitam.

“Apa yang…”

Kucing itu melihatku dan menghela nafas lega. “Hei, manusia yang di sana. Bisa tolong aku turun?”

Memangnya apa yang akan kau lakukan? Aku hanya melongo.

Kucing itu tampak berpikir sejenak sebelum menampakkan wajah mengerti. “Ah ya. Maaf, kau pasti heran bagaimana seekor sapi bisa sampai berada di atas pohon seperti ini. Kau lihat, tadi aku sedang lelah dan ingin beristirahat. Jadi aku naik ke atas pohon ini untuk tidur siang. Tapi sesampai di atas sini, aku baru ingat kalau sapi tidak begitu jago dalam hal panjat memanjat pohon, terutama bagian turunnya. Jadi aku terjebak di sini sampai sore.”

“Tapi kau kucing bukan sapi,” kataku, melupakan pertanyaan-pertanyaan yang lebih penting seperti “bagaimana kucing sepertimu bisa bicara?” atau “Apa aku masih waras?”

“Aku sapi.” Katanya menutup perdebatan. Dan aku tidak bertanya-tanya lagi.

to be continued

-----

link to:

Dodol Duren: bagian Pertama

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer starof hope
starof hope at Dodol Duren (bagian kedua) (14 years 40 weeks ago)
100

justru kalo enggak sesuai dari yang dipikirkan malah SERU
dan menegangkan

Writer precious_geek
precious_geek at Dodol Duren (bagian kedua) (15 years 29 weeks ago)
70

huih... cerita dongeng yah?? a la barat dengan bumbu lokal... rasanya kayak makan rujak eskrim kali yah... diterusin duunk udah kepalang penasaran nii...

Writer june18
june18 at Dodol Duren (bagian kedua) (15 years 31 weeks ago)
50

keren ne...jd keinget alice in wonderland...ato dongeng2 laen kaya gitu...tapi rasa lokal...

mana sambungannya...

Writer v1vald1
v1vald1 at Dodol Duren (bagian kedua) (15 years 32 weeks ago)
90

Tehnik kamu lebih mantap di cerita ini ketimbang posting pertama. Situasi yang kamu kembangkan di episode ini, memang lebih mudah buat kamu, karena dongeng2 senada banyak yang bisa menambah khazanah imajinasi kamu (di awal cerita; kamu agak kesulitan membawanya ke alam "indonesia" dengan dodol durennya); tapi terlepas dari orisinil atau tidak; aku yakin imajinasi kamu akan terus berkembang; dan akan menampilkan kejutan2 baru sampe akhir cerita. Karena itu; aku sarankan gak usah terburu2 menyelesaikan cerita ini. Buat aja jadi novel sampai habis. Dan jadikan kami bener2 terperangah dgn dunia imaginer menggelegarmu. Ditunggu.

Writer yoshe
yoshe at Dodol Duren (bagian kedua) (15 years 32 weeks ago)
80

iya, cerita kamu itu bagus banget. ngga terlalu anak2 juga ngga terlalu dewasa. Tapi, kayak yang Fenzy tanya-in, disebelah mana ya hubungan petualangan Faris sama dodol duren? Yah, ditunggu yang bagian selanjutnya. Moga2 kejawab!

Writer KD
KD at Dodol Duren (bagian kedua) (15 years 32 weeks ago)
100

setuju dengan FL (Frenzy Layla); aku gak begitu tau dunia kepenulisan Indonesia sih. Tapi kalau Faris ini memang belum go public; tinggal menunggu waktu aja bagi Indonesia menyambut kemunculan penulis jenius.

Writer Valen
Valen at Dodol Duren (bagian kedua) (15 years 32 weeks ago)
80

“Aku sapi.” Katanya menutup perdebatan. Dan aku tidak bertanya-tanya lagi.

Ha ha ha...lucu!

Writer pianoloco
pianoloco at Dodol Duren (bagian kedua) (15 years 32 weeks ago)
90

haha ngebaca ini ngebikin gue senyum2 sendiri deh, asik bahasanya ringan dan enak terus khayalannya berkembang terus sampai2 jadi makin penasaran ini ngarahnya kemana. kereennn

Writer FrenZy
FrenZy at Dodol Duren (bagian kedua) (15 years 32 weeks ago)
60

aku lumayan suka membaca karyamu, namun cerita dodol duren ga terasa ada kaitannya dengan cerita fantasinya (mgkn nanti ada kaitannya ya, cm lom skrg?). Selain itu, cerita ini mirip dengan Alice in Wonderland, dan kata-kata, "Tak sopan duduk di kepala seseorang" rasanya I've heard it somewhere before.. so I think you need more originality, karena sulit membuat cerita fantasi yang menggugah orang :) well keep it up though!

Writer neko no oujisama
neko no oujisama at Dodol Duren (bagian kedua) (15 years 32 weeks ago)
80

SUKA!

Writer Harsya
Harsya at Dodol Duren (bagian kedua) (15 years 32 weeks ago)
70

Kok jadi bikin bingung nih cerita, kaya makin jauh dr yg pertama, saya harap kejutan yg lebih di Nomor 3

Writer Faris
Faris at Dodol Duren (bagian kedua) (15 years 32 weeks ago)

Hahaha, thanks berat. Gw jadi geer nih. Inspirasinya, selain dari pengarang-pengarang yang gw sebut di atas ya... dari seringnya melamun.

Writer D. N. Mannuragie
D. N. Mannuragie at Dodol Duren (bagian kedua) (15 years 32 weeks ago)
90

TOP BGT!! Hebat.. gw suka banget ama nih cerita. Unik banget! Kok bisa sih dapet ide cerita kayak gini?? Keren abizz..Sumpah!! Tapi gw belum baca bagian satu...