Doakah?(Rw: Sepotong Doa Buat Dana)

Sore kuning membuat kilatan emas di tangan Supardi lebih anggun. Kilau di sana membuat guratan-guratan cahaya tampak lebih unik. Sayangnya emas itu ditaruh di dalam gelas, disatukan dengan keris seukuran jari orang dewasa sebagai makanannya. Tidak ada keterangan logis dari benda mati memakan benda mati.

Aku hanya diam memandangi batangan emas itu.

"Gimana kuliahmu?" Tanya Supardi, ayahku.

"Lancar." Aku menjawab sesingkat mungkin.
Kemudian ia terkekeh, "Dana… Dana, kamu selalu begitu. Ditanya kuliah malah jawab kelancaran bolosmu. Gimana, toh?

Tawaku merekah. Aku tidak merasa ucapannya seperti sebuah sindiran. Sebab aku tidak pernah mengerti hal-hal seperti itu. Senang, sedih, benci, sesak. Bagiku semuanya hanya lintasan sekilas belaka.

Kemudian ayahku mengambil topeng kayu dari tembok yang biasa jadi hiasan rumah, "Coba tutupi mukamu dengan ini."

Bukan pertama kalinya aku disuruh melakukan hal-hal aneh oleh ayah. Biasanya ia menjelaskan semua setelah perintahnya dipatuhi. Ia menyebut keterangannya yang kadang mengherankan itu dengan sebutan hikmah. Sebab baginya hikmah selalu datang belakangan.

Aku segera menutup wajahku dengan topeng.
"Coba senyum."

Senyum? Tanpa disuruh dua kali, aku tersenyum.

"Kesal."

Kupasang mimik kesal.

"Ok, julurkan lidahmu."

Untuk kali ini aku tidak patuh.

"Ha… ha… ha…," tawa ayah meledak tiba-
tiba.

Kalau bukan karena terbiasa, mungkin aku sudah jatuh terjungkal karena kaget.

Tapi karena sikap itu sudah kukenal belasan tahun, terkejut sepertinya tidak tepat untukku.

"Dana, kau tahu? Perasaan manusia itu sungguh unik."

Aku mencibir, "Tentu saja unik. Kamu berdiri diantara manusia yang miskin perasaan, dan bahkan tak memilikinya."

Supardi terbahak, "Kamu benar. Yang paling bisa menggerakkan perasaan manusia adalah orang tanpa perasaan."

Segelas kopi hangat diantarkan ibu ke hadapanku. Ayah tidak biasa minum di saat senggang. Baginya hidup yang singkat ini tidak boleh dilewatkan dengan minuman yang tidak mengusir dahaga jiwa.

"Kamu pasti tahu Hitler bukan? Dia adalah contoh manusia tanpa perasaan yang mampu menggerakan jutaan perasaan manusia, Stalin, Goaring, Musholini, dan masih banyak yang lainnya."

Kusesap kopi buatan ibu, "Caranya?"
Ayahku bangkit dari tempat duduk, mengangkat keris dalam gelas, "Pernah dengar cerita kuda dan raja?"

Gelengan kepalaku membuat tawa ayah terdengar lebih kencang. Tubuh kurus yang dibalut baju ala abangan tempo dulu itu terguncang. Tidak ada hal yang lebih menghibur ayah kecuali melihat orang terheran-heran.

"Dulu, di hutan jawa ada seekor kuda yang tidak bisa ditandingi oleh hewan manapun dalam urusan kecepatan. Seluruh hutan sudah dikalahkannya. Ia bangga dan bersombong. Suatu ketika, ia bertemu dengan Kancil yang menjadi ahli taktik paling terkenal di sana. Ketika kuda bertanya tentang lawan yang sepadan pada kancil, sang kancil menertawakan kuda. Dari kancil ia tahu akan lawan yang jauh lebih hebat darinya, manusia. Kemudian ia menyuruh kancil untuk mempertemukannya dengan manusia. Ketika dipertemukan dengan manusia, manusia itu tidak menunjukkan identitas yang sebenarnya. Manusia hanya diam dan menaiki pundak kuda sebelum kemudian ia menunjuk matahari.Isyarat manusia dipahami kuda sebagai arahan yang harus dipatuhi untuk melawan manusia. Kuda berlari kencang, mengejar matahari. Selama beberapa hari, kuda dan manusia memasuki sebuah kota. Ada sambutan meriah di sana. Sang kuda dalam keadaan lemah ketika penduduk di sana bersorak meneriakkan, 'Hidup sang raja!"

Kuda masih belum mengerti bahwa dirinya sekarang menjadi budak baru dalam dunia yang baru. Hingga saat ini."

Kopi di gelasku tinggal setengah, "Itu hanya dongeng. Tapi terima kasih ya, aku mendapatkan hal baru."

Wajah ayah sumringah, "Baru… seperti."

"Emosi dan perasaan bukan tandingan akal."

Supardi mengacungkan jempolnya padaku. Dielusnya keris kecil itu perlahan.

Aku mengambil kamera di kamar sebelum pergi dari rumah. Ibu hanya tersenyum menatapi kepergianku. Ayah? Ia tentu kembali ke galerinya yang penuh lukisan, menciptakan hal baru untuk dunia yang baru.

# # #

EQ? Huh, siapa bilang EQ lebih hebat dari IQ? Aku menggerutu kesal setelah mendengar paparan tentang tinjauan potensi manusia dalam neghantar kepada kesuksesan. Kalau bukan karena kecantikan pemakalah, mungkin aku sudah meninggalkan ruang kuliah karena bosan.
Hari ini presentasi.

"Eh, gimana tadi?" Seseorang menepuk pundakku dari belakang.
Aku menoleh malas. Andre. Teman satu jurusanku.

"Jasmin itu perfect banget lho. Sudah cantik, pinter lagi." Andre selalu begitu. Ia akan mengungkapkan semua yang dia lihat dengan bahasa positif. Dia tidak pernah mengungkapkan pengalamannya dengan kekecewaan.

"Sejak kapan EQ menjadi lebih hebat dibanding IQ?"

Mendengar pertanyaanku, Andre diam sesaat. Ia berfikir untuk jawaban paling tepat. Tapi aku justru mendengar jawaban tajam bukan dari dia, melainkan dari seseorang yang berdiri di belakangnya.

"Sejak hal itu terbukti. Hai, kenalkan. Aku Jasmin." Wanita yang baru saja memaparkan isi makalahnya tadi.

Tangan Jasmin terulur padaku, mengajak berjabat tangan.

Andre kalangkabut. Mukanya saat ini seperti kepiting rebus. Jelas ia sangat malu. Dengan tingkah sedikit aneh, ia segera mengambil posisi di sebelahku cepat.

"Jasmin? Aku Perdana. Panggil Dana saja." Aku menyambut uluran tangannya pasti.

Gadis di depanku tampak lebih angkuh dariku. Ia seolah menggenggam kebenaran sejati yang tidak terusik.

"Tentang makalah kamu… kalau aku dosen, aku akan kasih nilai E. Sementara nama, aku akan memanggil kamu dengan arti Indonesia, Melati. Maaf, bukan Jasmin.
Aku kurang suka dengan barat."

Raut muka Jasmin yang memucat jelas menampilkan gambaran kesal yang luar biasa. Tapi ia menutupinya dengan senyum yang dipaksakan. Aku tahu itu karena pengalaman bertahun-tahun bersama ayah, pengalaman menghayati emosi manusia.

Andre menyikut lenganku pelan. Dari mimik wajahnya, ia memberiku isyarat untuk segera meminta maaf. Ia menyesal mendengar ucapanku tadi. Namun, aku cuek. Untuk apa meminta maaf dari kesalahan yang tidak kubuat.

"Begitukah?" Akhirnya Jasmin tertawa.
"Ya. Satu hal lagi. Aku tidak sedang bercanda atau basa-basi."

Andre menepuk jidatnya cepat. Kaget.
"Oh iya Mel, sampai kapanpun, EQ tidak akan pernah mengalahkan IQ. Sebab dunia diliputi IQ." Kuungkapkan unek-unek di kepala cepat.

Kemudian aku segera meninggalkan tempat itu.

# # #

Sekarang aku tahu kenapa emosi manusia terutama wanita begitu menarik. Sebab ia bisa mendatangkan banyak kejutan. Salah satunya adalah Melati. Ya gadis itu.
Gadis berindeks prestasi 4.00 dalam mata kuliah namun bodoh dalam soal kehidupan.

Kepercayaannya pada emosi di atas segalanya. Logika baginya hanyalah jalan untuk menyelaraskan emosi. Melati adalah gadis karyaku yang paling unik. Nama sebenarnya adalah Jasmin. Tapi entah kenapa, ia memperbolehkanku memanggilnya dengan Melati.

Padahal perkenalanku dengannya dimulai dengan ketegangan hebat yang mungkin juga menjadi kenangan terburuk untuk Andre dalam sejarah persahabatanku dengannya. Aku menghina karyanya dengan terang-terangan. Aku mencemooh namanya.

Singkatnya, Melati adalah lakon kuda dalam dongeng ayah yang sebenarnya. Ia tidak pernah sadar dengan posisinya saat ini yang jauh lebih buruk dari budak sekalipun. Ia hanya mengucapkan ribuan kata cinta, sayang, honey sementara aku asyik mempelajari emosinya yang unik tanpa mempedulikan perasaan itu sendiri.

Melati sebenarnya gadis paling baik yang pernah kutemui kalau bukan aneh. Mungkin itu yang membuatku mudah untuk memulai hubungan yang oleh mereka disebut asmara. Aku mencobanya dengan kata-kata terburuk.

"Aku mencintaimu, aku yakin itu." Suaraku sebenarnya sudah tertelan gemuruh ombak.

Tapi Melati justru menyuruhku untuk mengulanginya dua bahkan sepuluh kali. Aku menurut. Kemudian ia tampak senang dan bahagia. Sejak saat itu ia lupa bahwa Perdana adalah makhluk yang tidak pernah mengimani rasa. Ia atheis dalam perasaan.

Ia mengira kalau aku kalah oleh buaian emosinya, atau mungkin yang lain. Yang jelas, saat ini Jasmin benar-benar ada dalam genggaman tanganku. Erat dan tak mungkin lepas begitu saja.

Aku menjalin hubungan asmara dengannya cukup lama. Pernah suatu ketika ia mengadukan kehamilannya padaku. Aku pura-pura tida tahu dan mencari alas an seburuk mungkin untuk keadaan yang lebih buruk. Ia kesal. Tapi kekesalannya tidak merubah hidupku sedikitpun.

Lagi-lagi gadis itu menjadi bodoh ketika aku meminta maaf setelah kehamilannya hancur. Ia memberiku maaf. Tapi sepertinya kenaifan Melati berubah menjadi ketegaran yang sedikit mengoyak hidupku.

Ah, Perdana tetaplah Perdana. Sebuah awal yang tidak didahului emosi intuk fenomena apapun.

# # #

"Ibu tahu kalau Dana adalah anak pertama yang tidak selalu mendapatkan mainan yang diinginkan. Tapi Melati itu bukan mainan. Ia gadis tulus." Ujar ibuku suatu ketika saat kembali berkunjung ke rumah.

Ucapan itu terdengar sangat perih. Enatah kenapa… tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang menyempit dalam hati. Kopi yang disuguhkan ibu seperti mencekat pernafasanku. Rasa tenang yang selalu ada hilang entah kemana.

Ibu adalah sosok yang kukenal sebagai manusia tanpa kata. Bahkan aku mengira kalau ibu itu bisu hingga umurku mencapai belasan tahun. Tapi sekarang… kalimat itu… ukh.

"Sudahlah… jangan campuri urusan orang." Aku segera beranjak.

Brak! Meja dihadapanku dipukul oleh ibu.

"Duduk! Aku belum selesai bicara! Terserah kamu anggap dirimu apa! Tapi kamu anakku! Aku ibumu bukan temanmu Dana! Dengarkan kalau ibu sedang bicara"
Aku tersenyum sinis, "Kamu ibuku? Huh, aku tidak pernah meminta itu! Aku tidak pernah meminta untuk jadi anakmu."

Kemudian tempat ini kutinggalkan cepat. Kutinggalkan ibu ditempatnya tanpa kata. Durhaka. Ya, mungkin aku anak durhaka.

Aku tidak pernah peduli. Sebab kalimat itu sangat menyakitkan. Perih.

Kunjungan mingguanku ke rumah rusak oleh orang luar yang tidak pernah kuperhitungkan keberadaannya. Melati! Ya, gadis itu. Aku akan membalasnya jutaaan kali lipat. Padahal aku sudah mengakhiri hubungan dengannya beberapa bulan lalu. Aku sudah tidak peduli dengannya. Sebab aku sudah mendapatkan tiga wanita lain untuk dijadikan sumber pengamatan.

Saat meninggalkan rumah, aku segera menelpon Andre. Satu-satunya kontak yang bisa menghubungi gadis sialan itu.

# # #

"Kejam! Kau pikir ini untuk KEBAIKAN?!" Andre memaki setelah menghajar wajahku sekali.

Darah segar mengalir dari bibir sebelah kanan, "Kau tidak mengerti! Kamu tidak pernah paham betapa kejujuranku adalah kepentingan utama di dunia ini."

"Iya! Tapi pertemuan itu hanya akan memperlebar luka yang kau tinggalkan padanya."

"Memperlebar? Apa kau bisa buktikan itu?!" Aku mendesak sebelum kemudian mengusap darah di bibir.

Kalimat itu adalah alasan terkuat untuk membuat Andre menyerah. Ia adalah sosok yang paling tahu tentang aku. Tentang keadaanku yang kosong dari emosi. Setidaknya dibanding yang lain.

"Baik, aku setuju." Kemudian ia meninggalkan ruangan ini. Ruang pasien berkelas VVIP.

Pertengkaran tadi bersumber dari keinginanku untuk memanggil Melati dan membalas apa yang sudah ia perbuat karena emosinya, membuat ibuku membentak. Alasan sebenarnya memang itu. Tapi aku tidak mengungkapkannya di depan Andre. Sebab itu akan mengacaukan rencana balas dendamku.

Cukup lama aku menunggu Melati datang. Sambil menunggu, aku main game General edisi terbaru di laptop. Selalu menang dan tak pernah kalah sekalipun. Ketika kantuk datang, tiba-tiba Andre mengkabari kedatangan Melati.

Aku memasang selang impus ketangan segera. Rasa kantuk memperlancar acting sakitku

Ketika masuk, melati segera mengampiriku. Air matanya menitik. Tanganku digenggamnya erat.

"Mel.."

"Udahlah, gak usah ngomong yang dulu lagi. Aku udah ngelupain yang dulu-dulu. Aku Udah maafin kamu. Sekarang aku mau kamu cepet sembuh dan aku akan dampingi kamu sampai sembuh."

"Mel, tolong dengerin aku dulu. Mel, dulu aku pernah bilang kalau aku mencintaimu. aku bohong Mel. Nggak pernah sedikitpun aku mencintaimu." lalu aku tersenyum kecil. Menang.

Wajah Melati sedikit memucat seperti biasanya. Tapi ia tidak mengumpat. Melati justru menggengam tanganku erat dan membisikkan kalimat indah, "Dana, semoga kamu betah di neraka sana."

Aku menatap langit-langit. Neraka? Sorry Melati, jarakku dengan tempat itu masih terlampau jauh

Cairo, 17 August 2007

Read previous post:  
182
points
(1011 words) posted by windymarcello 15 years 13 weeks ago
82.7273
Tags: Cerita | cinta | doa | mati | rumah sakit | sekarat
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

menurutku yg nulis ini adalah orang jenius. sdh pernah coba dikirim ke koran/majalah apa? sptnya mungkin dimuat, tapi hrs ada editing lagi oleh penulisnya. salut!

Writer chau
chau at Doakah?(Rw: Sepotong Doa Buat Dana) (15 years 6 weeks ago)
90

chau rasa baca riwayat hidup
psikolog yang psycho ;p
boleh juga tuh ketemu dana,,

_lihai memainkan psikologis tokoh ceritanya,nice!!_

Writer bl09on
bl09on at Doakah?(Rw: Sepotong Doa Buat Dana) (15 years 6 weeks ago)
90

kolaborasi..... kedip mata kiri ah...

70

Ceritanya bagus...dapat membuat gw emosi...keep writing ja dech :)

Writer bluer
bluer at Doakah?(Rw: Sepotong Doa Buat Dana) (15 years 6 weeks ago)
90

huahahaha.. Ae, keren. sumprit.

apa ya? menurutku kamu berhasil mempengaruhi pembaca dengan membenci dana.

nice-nice... kompleks...

90

azura...makasih banget uda mau bikin cerita ini dari sudut pandang seorang laki-laki. alur dan ide ceritanya sama sekali ga kebayang sama aku. cerita ini begitu kompleks....
kapan2 kita kolaborasi lagi yah....;)

80

...mmmm... ok^^

80

karakterisasi yang ok. ^^ eniweiii, ada sedikit typos ^^ better you check one more time

70

justru tokoh aku lah yang jadi lakon kuda dalam dongeng ayahnya :)

Writer azura7
azura7 at Doakah?(Rw: Sepotong Doa Buat Dana) (15 years 6 weeks ago)

mencoba menjadi orang kejam....

Windymarcello: Boleh! aku selalu suka mencoba hal baru

Forthrose: Gitu yaa. makasih

Dikadiman: Aku juga kesel banget sama Dana! Ih serem banget kalo orang kayak begitu ada...