Lelaki di Ruang Tamu

Aku hanya seorang gadis biasa, terlalu biasa. Tidak pernah mengenal kata istimewa, kecuali sebuah penghargaan terbesarku untuk seorang Mama yang luar biasa. Perempuan perpanjangan tangan Tuhan yang penuh kasih sayang, yang segenap jiwa dan raganya ia persembahkan hanya untukku seorang.

Warna-warni hidup ini menjadi gairah tersendiri; percikan yang terkadang menguatkan, melemahkan, atau diantara rasa keduanya. Sepenuh hati aku menyadarinya. Cukup memberiku alasan bahwa hidup bukan untuk disesali, atau bahkan ditangisi, tapi untuk dihadapi.

Dan hidup adalah tentang seberapa besar rasa syukur kita akan nikmat Tuhan.

Karena manusia terlalu papa akan segala keadaan; menantikan siang di kala malam, menunggu hujan di kemarau panjang, bahkan selalu berkekurangan di tengah segala kecukupan.

Tapi buatku dan Mama, tidak ada yang kurang dengan apa yang telah diberikan Tuhan. Hidup ini sendiri adalah bingkisan terindah sepanjang masa. Dan bagiku, keberadaan seorang Mama sudah lebih dari cukup, menyempurnakan hidup.

Meskipun dinding-dinding di rumah ini hanya berhiaskan foto-foto sepasang perempuan dengan mata berbinar dan bibir menyeringai. Meskipun baju-baju di lemari pakaian hanya milik dua orang perempuan yang berselisih usia dua puluh-tahunan. Meskipun satu-satunya makhluk berkelamin lelaki yang menghuni rumah ini hanyalah si Putih, seekor kucing kampung berbulu putih yang begitu kami sayangi.

Tidak ada yang kurang dengan tidak pernah mengenal sosok seorang lelaki; Papa yang pergi meninggalkan kami tanpa permisi, yang kemudian hilang ditelan jaman tanpa kabar yang pasti.

Bertahun-tahun, dua perempuan ini tinggal di rumah mungil ini. Sarapan pagi berdua, makan siang dan makan malam berdua, dan tidur di kamar sendiri-sendiri-kadang berdua, saling menemani.

Sampai suatu hari ada seorang Lelaki di ruang tamu. Itulah kamu.

Sulit kupercaya, akhirnya rumah ini kedatangan seorang lelaki juga. Katakanlah aku terlalu berlebihan, mengingat selama ini memang ada beberapa orang lelaki yang berkunjung: teman-teman kuliahku, Pak RT dan beberapa petugas yang melakukan pendataan atau meminta sumbangan, dan lelaki-lelaki lain yang tidak lebih sekedar bertamu.

Tapi mereka bukan kamu. Sekalipun mereka pernah duduk di ruang tamu, bagiku mereka bukanlah ‘Lelaki di ruang tamu’-ku.

Waktu kecil, aku pernah berhayal tentang seorang pangeran. Persis seperti yang kutemukan di buku-buku dongeng dan film kartun klasik. Memposisikan diriku seberuntung Cinderella dalam ketidakberuntungannya di awal cerita. Sayangnya aku tidak punya sepatu kaca. Dan lebih sayangnya lagi, tidak adil rasanya bagiku untuk tetap tenggelam dalam segala mimpi, sementara Mama sibuk seorang diri mencari penghidupan untuk kami. Penghidupan untuk hidup yang sebenarnya.

Mama memang tidak pernah melarangku pacaran. Aku sendirilah yang berusaha membentengi hati dari setiap lelaki. Lebih-lebih karena aku terlalu takut bermimpi. Semakin hari, aku semakin tersadarkan akan satu hal: mana ada lelaki yang mau pada seorang gadis tanpa ayah sepertiku-kalaupun ada, beranikah mereka lebih memilihku daripada orang tuanya yang (pasti) merintangi hubungan kami?

Maka aku benar-benar takut jatuh hati pada kamu, tepat sejak kamu mulai berani datang ke rumah dan duduk berlama-lama di ruang tamu.

Entah kenapa, kamu nampak berbeda dalam keseragaman sikap lelaki yang pernah kutemui. Maksudku; perhatian kamu, kebaikan kamu dan cara kamu memperlakukanku memang tidak jauh berbeda dengan mereka. Hanya saja, terkadang ada hal-hal yang membuatku tidak habis pikir, membuatku justru merasa berbeda-bahkan spesial, hingga akhirnya membuat kamu menjadi spesial di mataku.

Apa karena kamu satu-satunya Lelaki di ruang tamu yang bisa menghadirkan aura baru-aura lelaki-di rumah ini?

Kini aku benar-benar telah jatuh hati pada kamu, Lelaki di ruang tamu. Kamu mampu membuatku merasa sedikit lebih istimewa dari sekedar predikat gadis biasa. Dan warna-warni di hidupku semakin beraneka, penuh corak dan makna.

Terimakasih telah memberiku percikan berbeda: cinta.

Dan aku tak pernah berhenti bersyukur pada Tuhan atas segala yang telah Dia berikan. Meski kini aku mulai takut kehilangan-sesuatu yang aku yakin pernah Mama rasakan ketika berhubungan dengan Papa.***

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer naveezh@yahoo.co.id
naveezh@yahoo.co.id at Lelaki di Ruang Tamu (13 years 15 weeks ago)
50

pertama lht jdulnya aku dah tertarik. tapi setelah dibaca kyaknya dalam cerita ini da sedikt yang kurang, konflik about lelaki kyaknya belum benar2 ditonjolin, overall, cakep bgt ko....

Writer agi3cute
agi3cute at Lelaki di Ruang Tamu (13 years 15 weeks ago)
70

waduh...so sweet tp koq g da happy endingna kek,nikah kek atau apalah geto...

Writer not_yet_an_angel
not_yet_an_angel at Lelaki di Ruang Tamu (13 years 21 weeks ago)
90

keren... "lelaki di ruang tamu" sebutan ini utk seorang pacar haha...bner bgt..

"Lelaki di ruang tamu yang bisa menghadirkan aura baru-aura lelaki-di rumah ini"

top!

Writer acu_saree
acu_saree at Lelaki di Ruang Tamu (13 years 24 weeks ago)
80

hmmm... bener ga sih kamu masukin unsur 'cewe X cewe' di story ini? soalnya mulai kebaca dari kalimat ini >>> Meskipun dinding-dinding di rumah ini hanya berhiaskan foto-foto sepasang perempuan

aku suka ceritanya, Dun ^.^

Writer mBiL2AeCK
mBiL2AeCK at Lelaki di Ruang Tamu (13 years 26 weeks ago)
60

dun...

ceritain sapa?? binun gw :-??

tp rangkaian kata lu emg top dah :)

Writer creativeway13th
creativeway13th at Lelaki di Ruang Tamu (13 years 26 weeks ago)
80

ide yang bagus, cara penyampaian yang bagus..
tapi gue ngerasa ada yang kurang.. apa yah..^^

Writer my bro
my bro at Lelaki di Ruang Tamu (13 years 26 weeks ago)
80

Judul yang lo tulis membuat pikiran gw berpikir kesana kemari.

satu kata bro buat karya lo KEREN ^_^

Writer loushevaon7
loushevaon7 at Lelaki di Ruang Tamu (13 years 26 weeks ago)
80

yap, apik.

Writer nirozero
nirozero at Lelaki di Ruang Tamu (13 years 27 weeks ago)
80

Sebuah nuansa yang diangkat dari realitas dan kesederhanaan. Aku suka.

n_n

Writer miss worm
miss worm at Lelaki di Ruang Tamu (13 years 27 weeks ago)
80

...terus berkarya, dun

Writer bluer
bluer at Lelaki di Ruang Tamu (13 years 28 weeks ago)
50

hee.. gak perlu hiperbola dun. bahasa mu yang sederhana ini terbaca dengan indah kok.

iya.. awalnya binun, siapa laki-laki itu?? heee

Writer dikadiman
dikadiman at Lelaki di Ruang Tamu (13 years 28 weeks ago)
80

iya, fortherose bener, btw awalnya kukira si lelaki di ruang tamu itu punya ibunya, eh tahu-tahu punya anaknya :)

Writer fortherose
fortherose at Lelaki di Ruang Tamu (13 years 28 weeks ago)
80

...menurutku kamu berhasil 'menerjemahkan' bahasa curhat menjadi sesuatu yang indah^^
bravo, dadun!^^

Writer jey_trio
jey_trio at Lelaki di Ruang Tamu (13 years 28 weeks ago)
80

cerita biasa tapi jadi menarik yah... alurnya enak dibaca.

Writer chau
chau at Lelaki di Ruang Tamu (13 years 28 weeks ago)
80

begini klo jadi tempat sampah
begitu overload,,curhatan di sastrakan ;p
tapi ni,msh chau rasa datar
tulas-tulis truuussss

Writer sefry_chairil
sefry_chairil at Lelaki di Ruang Tamu (13 years 28 weeks ago)
70

...Papa...^^,,
ide yang meluncur mengagumkan..
membuat cerita jadi bagus. :)

Keep writing!

---------------
----
More about Sefryana Khairil and her books, klik here:
Sefryana Khairil Official Website
or read and give your comments..
Sefry's Stories on K.com

Writer ericbdg
ericbdg at Lelaki di Ruang Tamu (13 years 28 weeks ago)
80

Menarik nih, endingnya engga ditutup dengan "happily ever after" tapi dengan agak kuatir, akankah mengulang sejarah ibunya...
Kerasa manusiawi, engga sinetron. Nice.

Writer arien arda
arien arda at Lelaki di Ruang Tamu (13 years 28 weeks ago)
80

nice story..

ide yang menarik , sesautu yang biasa tapi menjadi tidak biasa..

good..

keep writing