Merah di ujung Meranti ( 1 )

Seorang anak laki-laki berlari dengan terburu-buru, semua yang menghadang ia terjang.

"Le, sing ati-ati..!" teriak seroang bapak tua yang tidak sengaja tersenggol.

"Nyuwun ngapunten pak.." teriak anak lelaki itu tanpa menoleh lagi dan terus berlari.

Dengan nafas yang tersengal-sengal ia pun berhenti di depan sebuah rumah mungil di pinggiran desa.

"Mbok Dhe Turmini..!!" teriak anak lelaki itu sambil mengetuk pintu rumah.

"Mbok Dhe..!"

Dengan tergopoh-gopoh seorang wanita tua yang berusia sekitar 50 tahunan itu membuka pintu rumahnya.

"Ealah.. kok teriak-teriak , toh Le? Ada apa? Apa kamu ngeliat genduruwo lagi?" tanya wanita tua itu sambil tersenyum.

"Mboten kok Mbok Dhe mboten woten genduruwo", jawab anak lelaki itu.

"Terus, kamu kesini ada apa kok terburu-buru seperti dikejar demit?" tanya Mbok Dhe Turmini.

"Saya sedang mencari mbakyu Disti, Mbok Dhe. Apa mbakyu Disti ada disini, mbok dhe?"

"Ana, Le. Mbakyu Disti ada di dalam. Ana apa tha, Le? Sajake kok penting. Sek ya, Mbok Dhe celuk dhisik", kata Mbok Dhe Turmini sambil masuk ke dalam rumah.

Anak lelaki itu duduk di teras rumah mbok Dhe turmini dan berusaha mengatur nafasnya. Tak beberapa lama Mbok Dhe Turmini keluar diikuti oleh seorang gadis berkulit kuning langsat, rambutnya hitam pekat dan digelung.

"Ko, ada apa?" tanya Adisti penasaran melihat anak lelaki itu datang mencarinya.

"Mbakyu Disti harus ikut Koko pulang sekarang. Ayo cepetan dah ndak ada waktu lagi mbak..!” jelas Koko sambil menarik tangan Adisti.

"Ada apa sih, Ko?" desak Adisti.

"Wis tha mbak, mulih. Gawat pokoke...! Ayo mbak sebelum terlambat..!" jelas Koko membuat Adisti panik.

“Mbok Dhe, Disti pulang dulu ya”, kata Adisti pamitan.

“Iya, sing ati-ati”, sahut Mbok Dhe Turmini.

Adisti mengikuti Koko yang sudah lari duluan. Dengan wajah cemas Adisti berlari mengejar waktu. Berharap tidak terjadi apa-apa dengan Ibu dan bapaknya.

Ya gusti, lindungi Bapak dan Ibuku. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan mereka kata Adisti berdoa. Dengan nafas yang memburu Adisti mencoba bertahan, berlari melewati jalanan yang tak begitu ramai terus melewati pasar, alun-alun dan rumah Bupati yang megah.

“Ayo, mbak. Cepetan..!” teriak Koko yang ada beberapa ratus meter di depannya.

“Ini sudah cepat, Ko!” sahut Adisti yang terengah-engah.

Koko berlari berbelok ke kanan mencoba mencari jalan pintas dan Adisti terus mengikuti. Menerobos bulak-bulak kecil dan tanggul, rumah Adisti berada di sebelah timur dari desa Meranti. Desa Meranti masih berada dalam daerah kekuasan Adipati Senapanji yang terkenal adil dan bijaksana.

Akhirnya dari kejauhan terlihat sebuah rumah yang kecil tapi asri. Adisti makin mempercepat larinya. Dia melihat beberapa orang dengan berpakaian pengawal sedang menjaga rumahnya. Dada Adisti bergemuruh, seribu pertanyaan melintas dipikirannya dan rasa cemas begitu menghantuinya saat ini.

Sampai di depan halaman rumahnya Adisti dan Koko berhenti, kedua pengawal yang menjaga di depan menyilangkan tombaknya tanda bahwa Adisti dan Koko tidak diperbolehkan masuk ke dalam area rumahnya. Adisti dan Koko berusaha untuk masuk tapi tidak bisa kedua pengawal itu lebih kuat dari mereka berdua

“Ko, sebenarnya ada apa sih? Kenapa Bupati Wirakeleng datang kerumah?” tanya Adisti kepada Koko sambil berbisik.

“Koko ndhak tahu mbak”, jawab Koko sambil terus memandang ke dalam.

“Ko, perasaan mbak makin ndhak enak. Semoga...”

“Aduh..!”

“Pakeeee...!”

Seorang lelaki tua terjerambab di halaman dan diikuti seorang wanita tua yang menangis sambil mencoba membantu suaminya bangkit.
Adisti terperanjat...

“Bapakkkkkkkkkkk..!!!!!” teriak Adisti histeris melihat bapaknya tersungkur di halaman.

****

bersambung

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer yugi_yakuza
yugi_yakuza at Merah di ujung Meranti ( 1 ) (14 years 12 weeks ago)
90

baca ceritanya enak and enjoy mba,,
penasaran niy, mau dilanjut aahhh..
^_^

adhe cuma bisa koment duank lhooo.
:-p

Writer athadarmawan
athadarmawan at Merah di ujung Meranti ( 1 ) (14 years 12 weeks ago)
90

mbak rien slalu bikin cerita yg menarik nih..
seneng bacanya^^

Writer cibo
cibo at Merah di ujung Meranti ( 1 ) (14 years 12 weeks ago)
70

..cerite jaman dulu nih romannye. kolosal yeh, gile makin leboy aje dah si Njub nulisnye, mong ngomong si Ju' gimane kabarnye yeh..??

Writer miss worm
miss worm at Merah di ujung Meranti ( 1 ) (14 years 12 weeks ago)
Writer sefry_chairil
sefry_chairil at Merah di ujung Meranti ( 1 ) (14 years 12 weeks ago)
80

sama ceritanya,,
aku bc yg kedua dl ya, mbak..^^

---------------
----
More about Sefryana Khairil and her books, klik here:
SEFRYANA KHAIRIL OFFICIAL WEBSITE
Read and give your comments..
SEFRY'S STORIES & POEMS AT K.COM

Writer arien arda
arien arda at Merah di ujung Meranti ( 1 ) (14 years 13 weeks ago)
80

thanx ya atas komen2nya...

rien sedang menyelesaikan yang kedua.. sabar ya..

trims my bro and my sist..

Writer bluer
bluer at Merah di ujung Meranti ( 1 ) (14 years 13 weeks ago)
80

penasaran..penasaran.. penasaran
ayo rien.. posting lagi

Writer miss_girly
miss_girly at Merah di ujung Meranti ( 1 ) (14 years 13 weeks ago)
80

lanjutannya dong mbak riennn

(^_^)

Writer bututbego
bututbego at Merah di ujung Meranti ( 1 ) (14 years 13 weeks ago)
80

iya.. iya

Writer gheta
gheta at Merah di ujung Meranti ( 1 ) (14 years 13 weeks ago)
80

ugh.. mba' rien.. jangan yang berasmbung ya??

lanjutannya cepetan deh....!

mang ngapain tuh bupati?

Writer erwin yahya
erwin yahya at Merah di ujung Meranti ( 1 ) (14 years 13 weeks ago)
90

cepetan yah..penasaran nih...
rien..dah baca cerpenku yg Dongeng dari Andalas...?