The Altered Blood (Frame 18)

Frame 18 : Determination

Ranting – ranting pohon akasia berderak ketika angin terakhir di siang hari yang gelap ini berhembus. Butir – butir air yang terkumpul di daun jatuh bertetesan pada genangan air hujan yang berada di bawahnya seiring dengan terlepasnya daun tersebut dari ranting. Beberapa jam telah berlalu sejak hujan deras itu reda dan hari telah berganti menjadi malam. Walaupun begitu, belum ada tanda – tanda awan mendung akan pergi.

Harfi berjalan di antara genangan – genangan air yang membasahi jalan yang biasa ia lalui setiap pulang ke tempat kostnya. Ia melangkah dengan sedikit membungkuk. Kedua tangannya membantu menahan berat ransel basah yang ia gendong. Uap mengepul dari mulutnya setiap kali ia menghembuskan napas melalui mulut. Udara dingin ini cukup menambah berat langkahnya pulang. Ditambah lagi perasaannya selalu getir jika mengingat pembicaraannya dengan detektif di sekolah siang itu.

Saat ini yang ia inginkan adalah sampai tempat kost secepatnya, menghangatkan diri, dan – kalau bisa – melupakan segalanya. Segala peristiwa yang terjadi. Pembunuhan berantai misterius, kemunculan iblis bersayap, kenyataan mengejutkan mengenai dirinya, dan seorang gadis misterius bernama Michelle yang mengatakan semua ini padanya.

“Michelle. . .” Harfi bergumam.

Michelline von Rutherfort. Seorang gadis misterius. Agen sebuah organisasi rahasia yang mempunyai misi membasmi makhluk – makhluk terkutuk untuk menyelamatkan umat manusia. Malam itu ia menceritakan semuanya pada Harfi. Mengenai fakta yang ada di belakang semua ini. Mengenai apa yang menyebab semua peristiwa ini. Namun yang paling mengejutkan Harfi adalah kenyataan dirinya yang merupakan titisan dari sang pembantai iblis sejati, Isaac von Suthleheim. Sebagai keturunannya, Harfi ditakdirkan untuk membunuh raja iblis Chiroptera sebelum ia melahirkan keturunan baru yang lebih kuat. Nasib umat manusia berada di bahunya. Di dalam hatinya, Harfi masih belum menerima kenyataan ini.

Srrrrttt

“Hah ?”

Harfi menghentikan langkahnya. Ia merasakan sesuatu melesat menembus dirinya. Sesuatu yang membuat perasaannya bergidik. Segera ia menoleh ke belakang. Pemuda itu mendapati tak ada sesuatu di sana kecuali jalan yang gelap.

“Apa kau merasakannya ?”

Harfi terkejut. Seseorang berbicara padanya tiba – tiba. Ia langsung menoleh kembali ke depan, ke arah sumber suara itu. Ia melihat Michelle berdiri bersandar di tiang lampu penerang jalan.
***

Gadis pirang bermata biru itu mengenakan pakaian gothic ala bangsawan Eropa seperti yang pernah ia pakai ketika pertama kali bertemu Harfi. Sinar lampu jalan yang meneranginya membuat ia tampak bercahaya seperti putri dari dunia dongeng fantasy abad pertengahan. Pemuda itu tak bisa mengalihkan pandangan darinya.

“Apa kau merasakannya, Harfi ? Itu adalah pancaran energi iblis. Hanya para keturunan Suthleheim-lah yang bisa merasakannya.”

“Energi iblis ?” tanya Harfi.

Michelle berjalan mendekati Harfi, namun matanya mengarah pada sumber pancaran energi itu berasal. Ia mengangkat tangan kanannya ke arah yang sama sambil memejamkan mata. Mencoba memusatkan konsentrasi pada tangan kanannya itu untuk merasakan sesuatu.

“Ini menandakan adanya pergerakan Chiroptera yang memiliki kekuatan energi iblis terbesar dari arah sana.”

“Energi iblis terbesar ? Kalau begitu ini adalah. . “

“Ya, inilah kekuatan raja Chiroptera, Nosferatu. Ini artinya, ia telah menemukan sasarannya.”

“ ‘Claire’ !?”

“Mungkin saja.”

Michelle membuka matanya seiring ia menurunkan tangannya. Ia menghadap Harfi dengan wajah serius.

“Harfi, waktunya semakin sempit. Target kita telah menemukan ‘Claire’. Kita harus menghentikan Nosferatu sebelum ia beregenerasi dengannya.”

Harfi diam. Batinnya sedang berkecamuk. Di satu sisi ia adalah titisan sang pemenggal yang ditakdirkan untuk membunuh chiroptera dan harus ia lakukan. Di sisi lain, ia mengenali dirinya yang lemah dan penakut. Seorang yang tak pantas mengemban tugas sebesar ini dan sebisa mungkin ingin hidup dengan tenang, terhindar dari berbagai masalah seperti yang ia impikan. Kini ia mendapati dirinya berada di antara dua keputusan yang sulit. Mengikuti takdirnya, atau menghindari takdirnya.

Michelle terlihat kesal melihat Harfi yang bimbang. Kalau terus begini, mereka bisa kehabisan waktu. Akhirnya ia memegang kedua bahu pemuda itu.

“Dengarkan aku, Harfi !”

Harfi menegakkan kepalanya dan melihat ke wajah Michelle. Sorot mata tajam gadis itu memaku pandangan pemuda itu. Jantung Harfi berdebar – debar. Ia merasakan gabungan antara perasaan takut dan terpesona akan kecantikkannya.

“Sekarang adalah waktu terakhirmu untuk membuat keputusan apakah kau akan ikuti takdirmu atau tidak. Jika kau memilih ikut takdirmu, kau akan hidup sebagai seorang mempunyai harga diri tinggi dan pahlawan bagi umat manusia. Jika kau memilih menolak takdirmu maka kau akan hidup tanpa arti sebagai pengecut yang selalu dibayang – bayangi misteri masa lalu yang tak akan pernah bisa kau selesaikan. Sekarang tentukan pilihanmu !”

Masih memegang bahu Harfi, Michelle menunggu jawaban pemuda itu tetapi Harfi belum menjawabnya. Dalam waktu yang sempit itu, segala ingatan Harfi muncul ke permukaan untuk dipertimbangkan. Ingatan ketika ia membunuh ibunya sendiri, ketika ia dikucilkan dalam lingkungan sosial, ketika bertemu pertama kali bertemu dengan Michelle, pertama kali bertemu dengan Chiroptera, ketika bermimpi bertemu kembali dengan ibunya serta kegelapan yang melahap segalanya. Semua itngatan itu saling membayangi dalam pikirannya. Terus berputar – putar hingga lahir suatu keputusan.

“Maaf, Michelle. Aku tak bisa. . “

Harfi melepaskan tangan Michelle dari bahunya. Akhirnya ia memutuskan untuk menolak takdirnya sebagai pembunuh Chiroptera.

“Maaf, aku tak mau merasakan hal – hal ini lagi. Biarlah aku menjadi diriku apa adanya.”

“Kau. . .”

Mendengar keputusan Harfi, tak ada yang bisa dilakukan Michelle kecuali menghela napas panjang.

“Baiklah. Pada akhirnya kau memilih untuk hidup menyedihkan. Aku tak bisa berbuat apa – apa lagi. Aku memang harus melakukan hal ini sendiri.”

Michelle berbalik memunggungi Harfi. Ia berbicara tanpa menatapnya.

“Aku memang kecewa, tetapi aku senang bisa bertemu denganmu. Mungkin ini pertemuan kita yang terakhir kalinya. Terima kasih telah menyelamatkanku waktu itu. Selamat tinggal.”

Demikian salam perpisahannya. Kemudian ia berlari kencang ke arah sumber energi itu. Setelah beberapa langkah, ia melompat tinggi, menjejakkan kaki di puncak tiang telepon kemudian menghilang. Gerakannya sangat cepat untuk ditangkap mata biasa seperti gerakan ninja dalam film.

Akhirnya Harfi hanya bisa melihat bayangan sosoknya yang menghilang. Ia tahu telah mengecewakan Michelle yang telah menaruh harapan besar padanya namun tekadnya telah bulat. Ia kembali berjalan pulang menuju tempat kostnya. Tetapi, entah mengapa, bayangan wajah Michelle yang kesakitan saat terkena serang Chiroptera terus terbayang dalam pikirannya. Dan ini amat mengganggu pikirannya.
***

SMU Marie Angela adalah sekolah termegah dan terfavorit di seluruh Bandung. Prestasi akademik yang sangat baik, gedung yang besar, fasilitas yang lengkap, membuat sekolah ini menjadi impian bagi pelajar dan orang tua untuk bersekolah atau menyekolahkan anaknya di sini walaupun biaya SPP cukup mahal. Fasilitas yang di sini sangat lengkap mulai dari ruang belajar, ruang laboratorium, ruang ektrakurikuler, aula luas sampai kantin yang lengkap. Fasilitas olah raga adalah yang paling lengkap karena terdapat arena atletik, lapangan sepak bola, lapangan basket, baseball, kolam renang tertutup dan gedung olah raga.

Terdapat pula fasilitas lain penunjang kegiatan belajar mengajar. Salah satu diantaranya adalah signal blocker. Ini adalah alat yang dapat menghalangi sinyal ponsel sehingga tak ada satupun siswa dan guru yang bisa menggunakan ponsel pada saat jam pelajaran berlangsung. Walaupun mengalami pro dan kontra, alat ini telah berjalan selama beberapa bulan dan berfungsi sebagaimana mestinya.

Pensi yang diadakan oleh SMU Marie Angela adalah event yang paling dinantikan oleh para remaja dan masyarakat kota Bandung. Event yang diadakan setiap tahun ini selalu meriah, megah, dan selalu ramai dikunjungi. Selain sering menghadirkan grup band atau bintang terkenal, selalu terdapat acara – acara unik yang mengisinya. Pensi yang diadakan pada tahun ini bernama “Death Carnival” dan mengambil tema gothic. Oleh karena itu seluruh acara serta stand yang ada di dalamnya harus bertemakan gothic, medieval, termasuk dress code pengunjung yang wajib mengenakan pakaian berwarna hitam.

“Akhirnya sampai juga ya.” Seru Acie di depan gerbang sekolah.

Hari sudah malam ketika Achie dan Claire tiba di SMU Marie Angela. Sesuai dengan tema, mereka mengenakan pakaian berwarna hitam. Claire hanya mengenakan kemeja dan rok panjang berwarna hitam sedangkan Achie tampil eksentrik dengan gaun panjang hitam, mengenakan sepatu hitam bersol tebal dan payung transparan.

“Ya syukurlah sudah sampai.” Claire merespon Acie dengan ekspresi lega.

Berada di dekat Achie membuat Claire sedikit risih. Bagaimana tidak, hampir semua orang yang ada di bus memperhatikan mereka sepanjang perjalanan. Mungkin ini tidak masalah bagi Acie yang memang tujuannya adalah menarik perhatian, tetapi Claire yang hanya “ngikut” mungkin belum siap dengan rasa malu. Ia hanya bisa memalingkan wajah.

“Claire lihat itu. Gerbangnya keren banget.”

Claire melihat ke gerbang sekolah mengikuti kata Acie dan ia takjub. Gerbang yang biasanya ditutupi pagar geser itu kini dihiasi semacam portal besar yang terbuat dari fiberglass. Portal itu berbentuk seperti gerbang katedral atau kastil dengan kaca mosaic bermotif zaman renaissance dan bunga – bunga mawar. Terkesan seperti masuk ke kastil tua di Perancis pada abad pertengahan. Saking takjubnya, Claire tercengang. Ia tak dapat berkata apa – apa selain terpaku melihat kemegahannya.

Di lain pihak, Acie tampak bersemangat. Ia menarik lengan Claire, hingga gadis itu tersadar.

“Oi, jangan bengong di sini. Ayo masuk!”

“Lho, memangnya kamu sudah beli tiket ?”

“Tentu saja.” Kata Acie sambil memperlihatkan dua lembar tiket masuk pada temannya itu.

Melihatnya, Claire menjadi tenang. Iapun mengikuti ajakan Acie untuk masuk ke dalam pensi. Di gerbang terdapat dua petugas penjaga gerbang yang memakai kostum baju perang abad pertengahan. Acie memperlihatkan tiket itu sementara Claire mengamati mereka.

Srrtt

“. . !?”

Tiba – tiba Claire merasakan sesuatu yang aneh. Ia melihat sekitarnya dengan rasa curiga tetapi ia tidak menemukan apa – apa. Ia yakin, ia merasakan seseorang sedang memperhatikannya dengan sorotan tajam. Gadis itu dapat merasakan tatapan itu meski tidak terlalu yakin.

“Claire !”

Claire terkejut. Acie memanggilnya dengan nada kesal.

“Kamu ini kenapa sih ? Kok melamun terus ?”

“Nggak, nggak ada apa – apa kok.”

Claire membuat senyum palsu di depan Acie dan berlaku seolah – olah tak terjadi apapun. Acie percaya saja walau sedikit curiga. Mereka lalu memasuki gerbang setelah mendapat izin dari penjaga. Walaupun tidak terlalu menghiraukan, gadis itu merasakan sesuatu yang kurang enak pada malam ini.

Semua orang yang ada dalam acara ini tidak menyadari bahwa kematian sedang mengintai mereka malam ini.

bersambung

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nirozero
nirozero at The Altered Blood (Frame 18) (15 years 4 days ago)
90

Deu... bikin orang penasaran nih!

Janji lho ya bakalan selesaikan cerita yang ini. Awas kalo nggak!

Writer Villam
Villam at The Altered Blood (Frame 18) (15 years 2 weeks ago)
80

VQ, namanya yang bener acie ataw achie?
bagus ceritanya.
tapi kalimat yang terakhir itu:
'semua orang dst dst', apakah itu muncul dari kepala claire, achie, atau cuma informasi dari penulis?
sori kalo agak bingung membayangkan ceritanya diliat dari sudut pandang siapa.
terusin ya... ditunggu lanjutannya.

Writer Littleayas
Littleayas at The Altered Blood (Frame 18) (15 years 2 weeks ago)
80

ayo ki lanjut..penasaran nih ^^

Writer miss worm
miss worm at The Altered Blood (Frame 18) (15 years 3 weeks ago)
80

penulisan tiga titik kalau tidak salah itu begini, Ki ...

lanjut

Writer adrian.achyar
adrian.achyar at The Altered Blood (Frame 18) (15 years 3 weeks ago)
80

deh. Lanjut ^^

btw, VQ, untuk bagian ini:

“Hah ?”

sebaiknya ditulis begini:

“Hah?”

Tanda baca seperti ? atau ! harus digabung dengan kata terakhir.

Guys, please read my poems & stories at K.com ^_^

Writer f_as_luki
f_as_luki at The Altered Blood (Frame 18) (15 years 3 weeks ago)
90

makin seru!

Writer arien arda
arien arda at The Altered Blood (Frame 18) (15 years 3 weeks ago)
80

hayo..hayo...dilanjut...
gak sabar neh...
makin keyen...

keep writing ya

Writer KD
KD at The Altered Blood (Frame 18) (15 years 3 weeks ago)
100

trus...setelah itu gimana?

Writer hikikomori-vq
hikikomori-vq at The Altered Blood (Frame 18) (15 years 3 weeks ago)

duh dah lama ga nulis. Sori, aku belum terbiasa dengan format baru nih