Perjalanan Sang Malam

Cerpen: Wafie el-Luthfy

Panasnya matahari tak lagi menyengat ubun-ubunku. Cuaca hari ini tidak begitu mengundang keringat di kepala. Mungkin karena pergantian musim sudah tiba waktunya. Dari musim panas berganti musim dingin. Itu memang sudah menjadi hukum alam. Ada malam ada siang. Pun begitu dengan musim, pasti silih berganti.

Di musim ini, biasanya orang-orang indonesia yang berdiam di negeri Musa pada gelisah lantaran harus berteman dengan cuaca dingin. Pas ketika puncaknya, maka semua Masisir (Mahasiswa Indonesia Mesir) pada menyiapkan selimut malamnya. Ada yang menyalakan api, ada pula yang terus-menerus bersenggama dengan sang istri. Ada juga yang sampai tidak mandi beberapa hari, karena saking dinginnya.

Dan beragam tindakan yang dilakukan itu, sangat berguna sekali dalam menepis dan mengurangi cuaca dingin yang menusuk tubuh. Karena dengan berbuat seperti itu, maka kehangatan yang mereka butuhkan dapat tersalurkan. Walau itu hanya sebentar waktu.

Aku juga merasa kedinginan itu seperti berada di sebuah kutub yang penuh dengan salju. Dinginnya sungguh membuat sekujur tubuh menggigil. Udaranya terasa seperti air es yang membasahi seluruh anggota tubuh. Gemetar dan menggigil.

***

“Pak Ong...” satu panggilan sedang menyebut namaku.

“Mau kemana kamu dingin-dingin begini, kok tidak memakai jaket. Nanti kalau masuk angin dan sakit pasti aku juga yang repot.” tiba-tiba sapanya menghentikan langkahku yang sudah hampir di depan pintu.

“Eh... kamu Ghi’. Mengejutkan saja. Tak kirain jin ifrid sedang marah. He...” jawabku yang sempat terkejut juga dengan panggilannya. Karena pas waktu itu, ruang tamu lampunya lagi mati.

“Kamu kok belum tidur Ghi’. Katanya setelah dapat selimut tebal tidak akan beranjak dari atas kasur?” lanjut kubertanya.

“Hmmm... tadinya juga berpikir begitu sih. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, gak enak kalau terus-menerus di atas kasur, tahuuu...!” ledeknya meniru orang Mesir ketika sedang marah.

“Oh...gitu tah! Tak kirain tidak akan pernah lepas dari selimut tebal itu. Ya udah Ghi’, aku pergi dulu nih. Entar pulangnya takut kemaleman. Makasih lho udah ngingatin” kemudian aku meloncat ke pintu. Dan, ”Daaah... sobatku yang crewet.”

Kusempatkan untuk melihat raut mukanya, ternyata memerah. Tapi ada sesungging senyum yang tidak bisa disembunyikan di raut wajahnya.

Memang sahabatku yang satu ini selain unik juga lucu. Tapi rasa persahabatan tidak pernah dia kesampingkan. Toh, walau harus mengorbankan dirinya sekalipun.

Inilah yang kusuka darinya. Satu bentuk pengorbanan yang murni terlahir tanpa mengharap imbalan jasa dari tindakan yang dilakoninya.

Sehingga dengan sendirinya, aku pun sangat menyayangi persahabatan ini. Dan aku akan terus berusaha menjaga persahabatan ini, sampai nantinya aku kembali berselimut tanah.

***

Setelah sampai di luar rumah. Kupakai jaket tebal, lalu kuambil sebatang rokok Cleopatra dari bungkusnya. Kemudian kubakar ujung rokok itu, sambil kuhisap dalam-dalam. Buus... asap rokokku menggumpal dan lenyap ditelan pekat.

Benar kata Ghi’, udara malam ini sungguh dingin sekali. Walau aku telah memakai jaket tebal, tetapi hawa dingin tetap merasuki sekujur tubuhku. Memperkosa kehangatan jaketku. Menjilati gumpalan asap rokokku.

Kakiku melangkah gemetar, dingin yang kurasa memang sungguh luar biasa. Tak terhitung berapa derajat celciuskah keadaan kota Kairo saat ini. Tapi yang jelas, dinginnya telah membuat anak Masisir enggan untuk keluar rumah. Apalagi di malam yang dingin seperti ini.

Kuayun kaki terus kedepan, sambil sesekali kusempatkan untuk mendengarkan percakapan sang malam dengan bintang-gemintang yang berpijar redup tertutup gumpalan awan di angkasa sana.

Dan entah kenapa, percakapan malam itu tiba-tiba terdengar sumbang di telinga. Mungkinkah lantaran dingin yang menyelimutinya, hingga suaranya tersumbat oleh hembusan bayu?

Aku tah tahu...! Sedang kakiku pun ikut serta, seperti paku yang tertancap di atas batu. Dan tiba-tiba, kebisuan itu lenyap ketika bunyi keras melengking di daun telingaku.

“Kiiiiik....” klakson mobil itu membuyarkan gumamku. Spontan aku terkejut melihat mobil flat merah muda berada di depan mataku. Aku gugup, kemudian diam terpaku, tidak tahu menahu.

Apakah karena aku takut, saat mobil itu berubah jadi malaikat maut hendak merenggut nyawaku. Ataukah aku tertegun, lantaran dalam mobil itu ada seorang gadis cantik tersenyum manis memandangiku.

Tetap aku tidak tahu!.

Senyap, sesenyap petang menyelimuti perjalanan malamku.

Sejenak aku terpaku, namun kemudian aku kepinggir dari jalan itu, karena telah menghalangi jalannya.

Tapi di luar dugaanku, gadis yang mengendarai mobil itu membututi perjalananku. Dan anehnya, dia malah memanggilku. Bahkan dia berteriak memanggilku dengan sebutan “Hi Guy”, disaat kuhendak pergi menjauh dari tempat itu.

“Kenapa gadis itu memanggilku. Marahkah dia sama diriku.” pikirku dalam hati.

Cemaspun datang menjamah pikiranku, terpaksa kaki kuayun terus kedepan tanpa menoleh lagi kebelakang. Bukannya aku tidak ingin menjawab panggilannya, tapi aku tidak ingin merepotkan diriku pada gejolak hati yang terjadi. Karena jauh di lubuk sana, ternyata rasa kagum dan takjub akan raut wajahnya, tumbuh bak bunga mekar di musim gerimis tiba.

Dan akhirnya apa yang terjadi...

Gadis yang bersinar di malam dingin itu, terus mengejarku dengan mendekatkan mobilnya pas di depan kakiku. Akupun tidak berani lagi untuk melangkah maju, karena di depan terdapat roda hitam yang siap melumat habis kakiku. Aku diam tanpa suara, kepala tertunduk menatap isi bumi yang seakan menertawai kegugupanku.

Ya, hanya dengan mulut tertutup rapat dan muka tertunduk kebawah, serta kedua mata yang terpejam. Aku tidak berani memanggilnya, aku tidak kuasa memandangnya. Pikiranpun melayang tanpa arah angin yang datang.

Semilirnya mengusik sepanjang lorong telingaku. Hembusan dingin itu kembali meracuni sukujur tubuhku. Sedari tadi dapat kusembunyikan di balik jaket tebal, kini muncul kembali bawa salju ke dalam saku yang berwarna biru.

***

“Hi Guy...”

Kembali suara itu memanggil dengan sebutan asing bagiku. Akupun tersentak dari kebisuan yang membelenggu keadaanku sejak itu.

Pelan-pelan kuangkat juga raut muka, walau terasa berat dan kaku demi menghilangkan rasa kelu yang ada. Dan sedikit kucoba pandangi elok wajahnya yang tersumbar senyum manis di lekuk bibirnya.

Dug, degub jantungku tiba-tiba berdetak kencang sekali. Tubuh yang seharusnya tidak mengeluarkan keringat di musim dingin. Tapi kali ini, apa yang tidak bisa dijangkau oleh panca indera, terlihat jelas di depan mata.

Dan sesaat saja, keringat itu membeku di sekujur tubuh. Dan mencair lagi, saat sepenggal memory yang telah pergi datang kembali membasahi relung hati. Dinginnya mengungkit kisah terindah yang tak pernah kulupa. Di mana jalinan kasih terpaut di dalamnya. Senandung lagu cinta menggema bagai lantunan cicit camar yang membawa kabar pada sang awan.

Syahdu nan indah terasa...

Mengalun bagai melodi musik kitaro mengisi ruang hati. Oh... Syahdunya, mewarnai malam kelabu. Oh... Indahnya, melukis istana surga.

Tuhan...
Sungguh sempurna Engkau meracik gadis ini. Hingga rasa kagum tak perlu diundang lagi, tetapi datang sendiri. Seperti datangnya sepenggal memory menyapa diri. Mengajak hati untuk kembali bersholawat kepada Nabi.

***

Setelah selesai kumenikmati pesona indah di raut wajahnya. Kembali mukaku tertunduk bersimpuh menghadap tanah.

Tapi saat itu pula, hembusan nafas harum mewangi tiba-tiba tersumbar pas di depan hidungku. Aku hanya bisa menikmati harum itu, karena aku telah merajut kembali seperti sedia kala. Tanpa gerak dan tanpa arah kumenatap. Tunduk dan menunduk kaku.

Hanya gumam naluri yang ada saat itu. “Kali aja harum itu hanya hembusan angin yang dibawa dari rerimbun bunga di pinggir jalan sana. Atau jangan-jangan harum itu datangnya dari...” Gumamku tiba-tiba tersumbat oleh kedua lekuk bibir manusia yang menempel di mulutku.

Terkejut, tercengang, heran semua menjadi satu dalam bejana otak. Mulut tak bisa menganga, sepatah katapun tak bisa keluar darinya. Karena mulutku, nyatanya telah dilumat oleh kedua bibir manusia.

Entah siapa, saat ini aku masih belum bisa menafsirkannya!

Cukup lama aku menikmati ciuman mesra itu. Tiba-tiba, perasaanku bertanya lagi.

“Benarkah bibir yang melumat mulutku, adalah gadis yang sejak tadi tidak aku hiraukan panggilannya? Ataukah ini hanya sebatas lamunan saja, karena hatiku terlalu memuji akan kecantikan yang ia miliki?”

Akhirnya, jawaban itu terungkap juga, saat gigitan manja memainkan ujung lidahku.

Ya, gigitan dan manisnya kedua lekuk bibir tipis itu bukan sekedar lamunan sunyi di malam sepi. Gadis yang kupuji itu, telah berdiri kokoh bak benteng Shalahuddin Al-Ayyubi di depan mataku.

Semerbak desah nafasnya telah menyusuri kedua gua hidungku. Menabur aroma kesetiap dinding-dinsing pot urat nadi. Hingga bersemi di pangkalan hati.

Ternyata, dialah gadis yang pertama kali menyentuh, mencium, mengecup, dan bahkan melumat habis kedua lekuk bibirku dengan mesra penuh cinta. Aku tidak pernah menyangka bakal terjadi kenyataan seperti ini.

Nun jauh di dasar hati, sangat naif sekali aku dapat bercumbu mesra dengan gadis secantik rupa bidadari. Mungkin hanya lewat ilusi aku baru bisa bercinta dengan gadis secantik dirinya. Tapi malam ini, tanpa kusangka Tuhan memang sangat luar biasa rahmat dan kasih sayang-Nya.

Hingga luas samudera pun tidak akan pernah cukup kujadikan tinta untuk menulis, melukis, dan menggambar kegembiraan yang kurasakan ini.

“Oh... ternyata dingin yang menyusupi sekujur tubuh, dapat ditepis oleh tubuh gemulai yang membalut hangat tubuh dinginku.” desahku pada malam yang telah menghadiahi seorang bidadari.

Akhirnya, perjalanan malamku ‘pun berakhir di sudut kota tempat aku menulis pesan untuk dirinya.

Aku mencintaimu malam ini, tidak tahu esok nanti.

Rabea Al-Adawea, 01 Februari 2007

Penulis: Adalah penikmat sastra, dan tergolong sebagai penulis reguler di komunitas TANDABACA.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer my bro
my bro at Perjalanan Sang Malam (14 years 47 weeks ago)
80

Dan entah kenapa, percakapan malam itu tiba-tiba terdengar sumbang di telinga. Mungkinkah lantaran dingin yang menyelimutinya, hingga suaranya tersumbat oleh hembusan bayu?
(hehehe gw suka bagian yg ini)^_^

Writer Ayo_e
Ayo_e at Perjalanan Sang Malam (15 years 17 weeks ago)
80

Gue sih senang ajah bacanya .. enak.. gak bosanin.. bagus ..

Writer KD
KD at Perjalanan Sang Malam (15 years 18 weeks ago)
100

cerita ini kayaknya udah pernah diposting, tapi dirubah dikit. Kamu orang kedua yang aku tangkap basah reposting cerita...
**************************
Yang pertama adalah Azarya Mesaya, tapi it's okay

Writer gheta
gheta at Perjalanan Sang Malam (15 years 18 weeks ago)
50

waduh.. kenapa malah hilang, penutupnya yang dulu...!!! disitu khan rangkuman, dan yang bikin cerita itu jadi utuh. klo yang kayak gini ceritanya jadi ganjil. buat apa kamu bercerita tentang sahabat pak onk (disini ceritanya nyata banget dan gak ada yang aneh), kalo sebenarnya pada intinya hanya tentang gadis cantik itu. bahkan di bait selanjutnya hanya kamu dan gadis itu (disini banyak keganjilan apa sebab perempuan itu mendekati, siapa dia, apa motivasinya, kok tiba tiba maen serobot!).
jadi gak seruuuu!!!!!

Writer heripurwoko
heripurwoko at Perjalanan Sang Malam (15 years 18 weeks ago)
40

banyak yang janggal nih pak. bener kata julie, tp pak wafie menanggapi dengan menulis 'melenceng yang cerdas', kayak gimana ya maksudnya? masih kurang cerdas sepertinya.

Writer wafie
wafie at Perjalanan Sang Malam (15 years 18 weeks ago)
10

Menanggapi komentar dari mbak Julie. Pertamanya saya sangat berterima kasih, sudah memberi komentarnya yang membangun.
Dan masalah kenapa cerpen ini ceritanya banyak berlebihan, artinya melebihi kadar yang sesungguhnya.
Yang jelas, saya ingin menyuguhkan sesuatu yang memang benar-benar melenceng dari realitas. Karena saya suka yang melenceng, tetapi melencengnya itu cerdas. Tidak bodoh!
Gitu mbak Julie, sekedar apologi saja, kenapa saya harus menciptakan ide itu dalam cerpen ini. Buat tmn2 yang lain, saya tunggu komentarnya?
See U Next Time...

Writer julie
julie at Perjalanan Sang Malam (15 years 18 weeks ago)
50

memang ada ya seorang perempuan cantik yang sekoyong-koyong datang dan mencium seorang laki-laki. bahkan perempuan "nakal" sekalipun belum tentu mau melakukannya.
........
banyak hal yang di ceritakan di cerpen ini menurut aku sngat berlebihan.
........
kiiiiik..bunyi klakson itu membuyarkan lamunanku.?????? bunyi klakson emang udah ganti ya?

Writer -riNa-
-riNa- at Perjalanan Sang Malam (15 years 18 weeks ago)
60

Ok kok, bacanya enak..