Love Begin in Expo (part 1)

Love Begin in Expo

BAB I :

- Hujan Pertemuan -

Siang itu langit sepertinya tidak bersahabat dengan Selena. Langit mendung dan sepertinya akan hujan lebat. Angin juga terus menerus mengoda Selena, terus menerus menyibak rambut panjang terurai Selena. Sesekali Selena menatap langit kemudian mulutnya komat kamit berdoa agar hujan tidak lebat. Karena jika itu terjadi maka pameran hari ini akan sedikit pengunjung.

Selena menemani tantenya datang ke Pontianak untuk mengikuti kegiatan expo Indonesian product. Tante Min, tantenya yang bekerja di koperasi usaha kecil menengah di Jakarta ditugaskan untuk mengikuti pameran di Pontianak. Selena dan tantenya belum pernah sekalipun datang ke Pontianak, menurut orang-orang yang mereka kenal Pontianak adalah kota yang sedikit seram.

Masih banyak orang yang percaya mengenai segala jimat dan santet. Dan konon kabarnya jangan pernah sembarangan bicara karena disana masih banyak tempat angker yang memiliki penunggunya.

Karena semua alasan itu Selena, tantenya dan beberapa teman dalam rombongan mereka memakai gelang yang sudah didoakan agar tidak terjadi hal-hal aneh pada mereka. Mereka mendapatkan gelang yang berbentuk tali itu dari keluarga temannya tante Min. Padahal kenyataannya saat ini hantu-hantu lebih takut pada manusia.

Pameran baru dibuka kemarin siang, dan suasana cukup meriah. Selena senang sekali dan menikmati pertunjukan tarian daerah, nyanyian dan pertunjukkan barongsai yang disuguhkan.

Sepertinya penduduk di kota ini sangat menyenangi pameran, terbukti dari ramainya pengunjung di hari pembukaan expo ini. Walaupun sebagian besar pengunjung yang datang hanya sekedar melihat-lihat, tapi bagi para peserta pameran hal itu adalah hal yang menyenangkan. Ramainya pengunjung diartikan sebagai besarnya perhatian yang diberikan penduduk kepada mereka.

Selena tidak pernah bepergian jauh, semua dikarenakan sifatnya yang ceroboh dan pemalu. Orangtuanya sangat cemas dan was-was kalau terjadi hal yang tidak diinginkan bila membiarkan Selena bepergian sendiri.

Perjuangan Selena untuk mendapatkan ijin untuk mengikuti tante Min begitu sulit. Dia telah meminta ijin sejak 1 bulan yang lalu, saat tante Min memberikan kabar mengenai rencana keberangkatannya. Selena berusaha meyakinkan orang tua dan kakak-kakaknya.

Selena adalah anak bungsu, karena itu dia sangat dijaga oleh keluarganya. Mungkin perlindungan yang lebih itulah yang membuat Selena jadi pemalu dan agak ceroboh. Selena selalu saja memecahkan barang dan sulit berkomunikasi dengan orang-orang yang baru dikenalnya.

Masa SMA Selena dilalui dengan sangat biasa. Tidak ada yang heboh ataupun tidak ada satupun kisah yang mendebarkan hatinya. Dia tidak pernah mengalami masa pacaran ataupun masa-masa bersama gang siswi-siswi disekolahnya. Dia hanya menghabiskan waktu sebagai penjaga perpustakaan, hanya itulah yang membuat dia senang. Sebuah dunia untuk dirinya.

Karena itu di masa liburan ini dia ingin membuat gebrakan baru bagi dirinya. Dia ingin mencoba melihat dunia luar selain di dalam buku dan lingkungan keluarganya. Dia berjanji kepada ayahnya akan melakukan apapun permintaan ayahnya bila diijinkan selama liburan ini pergi bersama tante Min. Akhirnya Selena mendapatkan ijin itu setelah begitu banyak perjuangan dan janji-janji.

Selena terkejut saat tante Min menepuk pundaknya. “Selen!” ucap tante Min.
“Aduh, gimana sih kamu? Kok dari tadi bengong terus? Dari tadi tante panggilin lho,” ucap tante Min sambil menata aksesoris di meja pajang.

“Maaf, tante. Selen bener-bener ndak denger waktu tante manggil tadi. Ada masalah apa tante?” tanya Selena.
“Tante cuma mau nanya, kamu mau makan apa siang ini? Tuh mas Bimo mau pesan kateringan,” Selena menatap tantenya dan berkata “Sama seperti yang kemarin sajalah, nasi uduk plus bakwannya satu,” Selena tersenyum dan kembali menekuni pembukuan stand Koperasi Jakarta 1, stand milik tantenya.

Nampaknya hujan semakin lebat, berkali-kali terdengar suara petir yang membuat Selena sedikit khawatir. Selena duduk disudut standnya, dia memperhatikan beberapa orang yang lalu lalang. Walaupun hujan sangat lebat tapi tempat itu masih ada begitu ramai pengunjung yang berlalu lalang. Pengunjung-pengunjung itu terjebak hujan dan akhirnya memilih untuk kembali melihat-lihat stand yang ada.

Angin bertiup sangat kencang dan sesekali membuat tenda stand-stand itu bergetar. Selena masih tetap sibuk dengan kerjaannya, dia memang sangat ahli dalam melakukan pembukuan. Selena bisa dikategorikan sebagai gadis yang pintar, namun sifat tertutupnya membuat dia sedikit terlupakan. Diantara kerumunan orang yang ramai Selena sepertinya tidak pernah dilirik, memang dari segi penampilan Selena bukanlah gadis yang sempurna dan seksi.

Sesekali Selena memperhatikan seorang gadis yang sibuk memilih aksesoris dari kerang. Aksesoris yang dibuat oleh Selena sedang dipegang gadis cantik itu. Tubuhnya tinggi dan proporsional, wajahnya cantik dan mulus, kulitnya yang hitam manis menambah kesan ayu dan seksi. Sebuah keindahan yang merupakan kehebatan Tuhan.

Selena sangat berharap kalung dari kerang merah muda itu tidak akan berpindah tangan. Walaupun dia sadar kalau dia tidak mungkin berani memakai kalung kerang itu, tapi hatinya sudah sangat terpaut pada kalung kerang itu. Sebenarnya kalau dia mengatakan keinginannya pada tante Min, maka saat itu juga kalung kerang itu akan jadi miliknya. Namun dia terlalu sungkan untuk meminta. Dia sudah banyak merepotkan tante Min.

“Sudah?” sebuah suara berat seorang pria menyapa diantara kerumunan para pengunjung. Gadis manis itu menarik tangan pria tersebut, pria dengan badan yang tinggi dan putih. Wajahnya yang berkarakter membuat kesan angkuh dan beda dari pria-pria lain yang ada diruangan itu. Pasangan yang sempurna, itulah yang terlintas dibenak Selena. Selena menatap pria itu yang sedang memeluk pinggang gadis itu dengan erat.

Gadis manis itu tersenyum dan berbicara dengan suara yang manja kepada pria tadi. Sepertinya mereka adalah pasangan kekasih. Selena memperhatikan gerak gerik pasangan itu, sepertinya pria itu sangat pandai memperlakukan wanita. Dia mampu membuat gadis itu merasa aman, dengan melindungi gadis itu dari tengah kerumunan. Kata-katanya begitu renyah dan kadang-kadang terdengar pujian-pujian untuk gadis manis itu.

Selena merasa sangat bodoh karena terus menerus memperhatikan pasangan tersebut. Dia merasa mereka adalah pasangan yang sangat beruntung. Akhirnya Selena mencoba kembali menekuni pekerjaannya. Sesekali dia mendengar suara petir yang terus bersahut-sahutan. Hujan tidak juga berhenti, malah semakin deras.

“Halo! Adek! Haloooo!” gadis manis itu memanggil Selena berkali-kali.
“Halooo! Kamu mau jaga stand apa mau bengong?” teriak gadis itu lagi.

Selena terkejut dan menatap bengong kearah gadis itu. Dia segera berdiri dan tanpa sengaja dia menjatuhkan keranjang berisi aksesoris. Selena merasa sangat malu, dia melihat pria ganteng itu sedang menatapnya dengan senyum yang mengejek ataukah itu hanya perasaannya? Karena perasaan malu, maka dia menganggap setiap mata menatapnya remeh.

Setelah membereskan keranjang aksesoris itu dia segera melayani gadis tadi. “Maaf mbak, maaf saya sedang bengong tadi,” ucap Selena dengan sopan.
“Ada yang bisa saya bantu, mbak?” tanyanya lagi.

“Tentu saja! Jualan kok bengong! Mana bisa barang daganganmu laku?” ucap gadis itu sambil menyodorkan beberapa aksesoris yang sudah dipilihnya.
“Cepet hitung berapa semua! Ndak pakai lama dan ndak pake salah hitung ya!” ucapnya dengan tegas.

“Tunggu sebentar ya bu, eh .. maaf mbak,” Selena terkejut saat gadis itu menatap dengan tatapan kesal saat dia salah mengucapkan panggilan.
“Lihat yang bener!” Selena hanya mengangguk pelan.

“Fla, jangan seperti itu dong sayang. Jangan galak-galak sama anak kecil. Lagipula mungkin dia masih belum mahir,” pria itu menepuk pundak gadis bernama Fla itu.

“Lagipula ndak ada gunanya marah-marah, hanya akan membuat kulitmu yang halus itu jadi capek,” Fla, si gadis manis itu mulai tersenyum. Dia mencubit lengan pria itu pelan, hanya sekedar untuk memberi kesan dia masih sedikit marah. Dan seperti yang diharapkan pria itupun berpura-pura merasakan sakit dari cubitan kecil itu, hanya sekedar memberi kesempatan untuk gadis itu tersenyum lagi.

Selena sedikit iri dengan keadaan itu, dia ingin diperhatikan oleh pria itu. Dia segera membungkus kalung dan beberapa aksesoris lain yang dibeli Fla. “Semuanya delapan puluh ribu rupiah, mbak,” ucapnya dengan sesopan mungkin.

“Ini!” Fla menyerahkan selembar uang seratus ribu. Selena segera mencari uang kembalian untuk Fla.
“Sayang, kenapa ndak jadi membeli kalung kerang pink itu?” pria itu mengambil kalung kerang pink itu dan mencocokkan di leher Fla.

“Ndak ah, ndak bagus. Kurang menarik! Sepertinya kalung itu terkesan ndak akan menarik mata orang-orang walaupun aku yang memakainya,” ucap Fla sambil berjalan kearah stand berikutnya.

Tiba-tiba saja kayu penahan stand terlihat miring. Tenda terpal yang menutupi mulai bergoyang karena angin semakin kuat. Bulir-bulir hujan juga semakin besar dan mulai membasahi stand karena beberapa tiang mulai goyah. Para pengunjung dan penjaga stand mulai panik dan sibuk melarikan diri. Tiang penyangga stand yang terletak didepan stand milik tante Min sudah roboh.

Selena berusaha berdiri, dia mengambil tas yang berisi uang penjualan barang. Saat mencoba keluar kaki Selena tersandung meja pajangn sehingga dia jatuh dan terjerembab. Selena melihat dengan jelas tiang kayu stand jatuh, dia berusaha bangun tetapi kakinya masih sakit. Akhirnya dia hanya pasrah dan menutup matanya berharap dia bisa teleport saat itu juga.

Selena sedikit bingung saat dia membuka matanya, dia tidak merasakan sakit atau perih. Hanya perasaan nyaman dan hangat. Dia membuka matanya perlahan, matanya merasa tidak percaya. Hatinya langsung berdegub kencang. Keingat dingin membasahi dirinya. Sepertinya bukan keringat,hanya bulir-bulir hujan yang mulai membasahi dirinya.

Pria ganteng itu mengendong Selena dan membawanya keluar dari tenda expo itu. Selena melihat hujan membasahi baju pria itu, namun jaket parasut sedikit melindungi tubuh Selena dari hujan yang turun dengan derasnya. Dia membawa Selena ke ruko diseberang stand expo yang masih berada dalam komplek mall itu.

“Adik manis, sudah ndak shock lagi kan,” ucapnya ramah. Seketika itu juga Selena sadar kalau dia masih memgang erat baju pria itu.
“Maaf,” Selena langsung melepaskan pegangannya, dia berdiri disamping pria itu. Badan Selena masih sedikit limbung, dia hampir saja jatuh kalau tidak segera menarik lengan pria itu.

“Terima kasih,” ucap Selena berkali-kali sambil membungkukkan badannya terus menerus. Pria itu hanya tersenyum dan merapikan rambut Selena yang acak-acakan dan menutupi sebagian wajahnya.

“Lain kali hati-hati ya, konsentrasi kalau kerja ya.” Selena hanya mengangguk pelan. Dia mengelus kepala Selena dengan lembut. Selena merasa melayang, perasaannya melambung.

“Sheen!” teriakan Fla membuyarkan semua mimpi indah Selena.
“Sheen! Aku dari tadi muter-muter keliling mall nyariin kamu!” Fla menarik Sheen dari sisi Selena.

“Kamu nagapain deket-deket ma cewek ndak jelas ini?” teriak Fla lagi.
“Ndak ada apa-apa. Hanya membantunya keluar dari tenda stand,” ucap Sheen dengan santainya.

“Kamu membantu dia keluar dari tenda, tapi kamu ndak mikirin aku? Pacarmu! Pacarmu, Sheen!” teriak Fla lagi.
“Fla, berhentilah berteriak seperti itu. Dan sejak kapan kita pacaran?” ucap Sheen dengan senyum heran disudut bibirnya.

“Sejak awal kamu sudah tahu kan, kalau aku tidak mau terikat dengan kata pacaran. Aku sudah menjelaskannya sejak kamu memaksaku untuk jalan bersama bukan,” Sheen tidak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun.
“Sheen? Ternyata! Kamu memang brengsek!” teriak Fla sambil berlari pergi menembus hujan lebat itu.

Selena melihat kearah Fla dan Sheen secara bergantian. Dia melihat Sheen hanya melambaikan tangannya dengan senyum disudut bibirnya. Fla menghentikan langkahnya. Dia membalikkan badan dan menunggu sesaat. Dia berharap Sheen akan mengejarnya namun yang dia lihat Sheen sibuk melambai tanda perpisahan pada dirinya.

Selena hanya terdiam dan menatap bengong kepada pasangan itu. Ternyata kisah cinta itu tidak terlalu indah. Sheen merapikan pakaiannya dan rambutnya. Dia tersenyum dan menatap Selena dengan lembut. “Tuh.. ibu kamu uda nyariin kamu. Jangan sampai ibumu melapor ke bagian informasi dan mengumumkan telah kehilangan kelinci kecilnya,”

Selena sebenarnya enggan beranjak dari sisi Sheen. Namun dia melihat seorang gadis bak model di televisi mendekati Sheen. Mereka bercakap-cakap dengan mesra, seakan-akan mereka sudah lama mengenal satu sama lain. Gadis muda itu bersikap sangat manja kepada Sheen. Dan Selena akhirnya sadar kalau dia bukan gadis yang akan menjadi pilihan Sheen. Mungkin bagi Sheen dia hanya kelinci kecil yang tidak mungkin akan berubah menjadi unicorn.

Selena berjalan bersama tante Min. Payung yang lebar itu tidak dapat memayungi perasaan Selena. Dia berpaling menatap bayangan Sheen hingga hilang dari belokan ruko itu.

Read previous post:  
52
points
(1197 words) posted by cat 15 years 2 weeks ago
74.2857
Tags: Cerita | kehidupan | cat | gadis | Luka | pisau | pulang | rumah sakit | sakit
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Alfare
Alfare at Love Begin in Expo (part 1) (14 years 32 weeks ago)
60

Hm, komentar ttg yg supernatural yg di awal itu agak mengganggu pikiranku.

Mmh, aku agak susah memahami jalan pikiran Selena ttg beberapa hal. Misalnya, ttg dianya yg pengen ikut tantenya pergi. Rasanya, ada suatu motif yang kurang diungkap, begitu. Kupikir, itu yang bikin ada narasi kerasa panjang di bagian awal, soalnya juntrungannya jadi enggak jelas. (belajar dari pengalaman sendiri)

Mmh, agak dramatis yaa?

Writer cassle
cassle at Love Begin in Expo (part 1) (14 years 34 weeks ago)
90

Expo Indonesian Product? Yang diselenggarakan bareng sama water n safety expo itu y? (Indowater, something?), hahaha bagus tu expo.. banyak jajanannya, abis dari expo water aku sempet mampir ke sono soalnya. Ide exponya emang fakta apa cuma kebetulan tu? hahaha.. (jadi kayak iklan ne commentku..) anyway, lanjutin lagi yaaa.. seru niyh..

Writer adrian.achyar
adrian.achyar at Love Begin in Expo (part 1) (14 years 34 weeks ago)
70

Elly, sorry baru kasih komen.

Gw setuju dengan villam, sebaiknya jangan kasih narasi panjang sekaligus, kayak di awal cerita ini. Yang baca jadi capek. Akan lebih baik kalo pelan2, dicicil aja.

Guys, please read my poems & stories at K.com ^_^

Writer Villam
Villam at Love Begin in Expo (part 1) (14 years 34 weeks ago)
70

menarik.
paragraf pertama cukup menarik.
tapi untuk paragraf selanjutnya, kalo bole usul, jangan dibuat narasi panjang lebar. kalo bisa dituangkan dalam bentuk dialog atau action (berlari, berjalan, ambil ini, ambil itu) sehingga jadi lebih dinamis.
atau dibuka belakangan sedikit demi sedikit segala informasinya.
usul doang lho...
lanjut...

Writer arien arda
arien arda at Love Begin in Expo (part 1) (14 years 35 weeks ago)
70

ada sambungannya gak..
keknya ada ya..
soalnya gantung di akhirnya..

di tunggu lanjutannya..
setuju sama one
diedit lagi biar keren

Writer on3th1ng
on3th1ng at Love Begin in Expo (part 1) (14 years 35 weeks ago)
70

'Walaupun hujan sangat lebat tapi tempat itu masih ada begitu ramai pengunjung yang berlalu lalang'

kalimat yg itu ko, agak aneh bacanya ya..hayo, diedit lagi..

:D