Estafet : (7) Pre-Clues

Aneh. Benarkah kematian abangku dan mas Henry telah direncanakan seseorang? Lalu apa alasannya? Batin Ruben tak henti bergeremang mempertanyakannya. Sementara Heru yang ditemuinya di kafe siang itu sudah dalam keadaan mabuk, semakin mabuk.

Delapan bulan yang lalu, Riko—kakak Ruben, meninggal dunia secara tidak wajar; tiba-tiba menderita sakit perut yang tak alang kepalang hingga kejang-kejang, dan dari mulutnya keluar benda-benda tajam, seperti silet, paku dan jarum-jarum kecil.

Dan tadi malam, Ruben menerima kabar bahwa Henry, sahabat Riko yang juga sahabat Heru menyusul kepergian Riko dengan cara yang tidak kalah janggal.

Jelas ada yang tidak beres di balik semua ini. Hal itu semakin dipertegas dengan kata-kata Heru beberapa saat yang lalu, “... Henry dan abang elo udah pergi ninggalin gue, sekarang giliran gue, Ben.”

Apa yang terjadi sebenarnya? Apa hubungan antara kematian mas Henry dan bang Riko dengan nasib mas Heru? Jangan-jangan, semua ini berkaitan dengan buku Voodoo yang kutemukan, yang di dalamnya terdapat tanda-tanda yang mencurigakan??? Dan jika memang benar, lantas apa alasannya?

Tapi, bagaimana caranya aku mengungkap misteri ini? Mas Heru yang setahuku tidak biasa ‘minum’ itu keburu mabuk berat sebelum memberiku petunjuk.

“Temenin gue minum dong, Ben...!” Heru mendekatkan mulut botol ke mulut Ruben.

“Enggak, Mas!” tepis Ruben yang tidak pernah sekalipun menyentuh barang haram itu.

“Banci lo, Ben! Ergk...” sendawa pahit merebak dari kerongkongan Heru.

Najis! Baunya bahkan lebih busuk dari bau naga yang tidak mandi tujuh hari! Ruben memalingkan penciumannya yang sensitif.

“Abang lo tuh, si Riko, nggak pernah nolak setiap kali gue ajak minum!” lanjut Heru dengan mata nyala-padam.

Ha? Bang Riko suka minum-minum? Ruben terkejut setengah mati.

“Mas Heru nggak usah bawa-bawa nama bang Riko deh!” Ruben jadi nyolot. “Bang Riko tuh gak pernah minum-minum kayak Mas Heru!”

“Hahaha...haha...ha...” tawa Heru hambar, namun berkelanjutan. “Sapa bilang, Ben? Ergk...”

Sekali lagi Ruben menghindar, merentang jarak penciuman.

“Dulu, kita bertiga tuh; gue, Henry sama Riko sering nongkrong di kafe-kafe dan kelab buat minum-minum. Mabok.” Tutur Heru tiba-tiba lancar. “Biasanya, kalau salah satu dari kita bertiga lagi ada masalah, ya minum-minum beginilah jalan keluarnya. Yang lagi bermasalah, nraktir yang lainnya. Dan gue... gue selalu paling payah, Ben. Abang lo tuh yang paling hebat, paling kuat. Baru bisa mabok kalo udah minum lebih dari tiga botol.”

Orang bilang, seseorang yang sedang mabuk memang suka ngelantur, tapi justru kata-katanya jauh lebih jujur. Antara percaya dan tidak, Ruben berusaha tetap berpihak pada mendiang abangnya tercinta.

“Mas Heru jangan asal bicara ya, soal bang Riko!” meski merasa percuma berdebat dengan orang mabuk, Ruben merasa perlu melakukan pembelaan atas diri Riko. “Biarpun kalian bersahabat dekat, yang lebih tahu tentang bang Riko tuh aku, adiknya yang setiap hari berinteraksi dengannya di rumah.”

“Ruben... Ruben...” nada suara Heru kembali pada notasi orang mabuk. “Elo gak kenal abang lo sendiri. Dia tuh gak seperti yang lo lihat selama ini. Ergk...”

Ruben mulai naik pitam, sekaligus semakin penasaran.

“Malam itu...” kata-kata Heru terpenggal tenggakan bir kesekian. Lalu kata-katanya kembali lancar keluar, “Malam itu... abang lo terlalu banyak minum. Gue sama Henry udah berusaha ngingetin dia supaya minum gak kurang dari tiga botol aja. Tapi, dia bilang waktu itu dia lagi banyak problem. Dan gue bilang, cukup gue dan Henry aja yang mabok biar abang lo bisa nyetir mobil. Tapi, dia bilang, dia bener-bener lagi stuck banget. Akhirnya kita bertiga sama-sama mabok dan...”

Kata-kata Heru mendadak terhenti. Hening. Mukanya tertelungkup pada meja bar.

“Mas,” Ruben mengguncang-guncangkan tubuh Heru. “Mas, bangun, Mas!”

Sial, Mas Heru sepertinya benar-benar tepar, collapse. Aku harus mencari pertolongan karena tidak mungkin kupikul bobotnya yang cukup besar ini sendirian. Tapi... tapi di mana orang-orang? Di mana para pelayan? Mereka semua menghilang... Kafe pun lengang...

Ruben kebingungan sekaligus ketakutan. Deg! Perasaannya jadi tak karuan. Siang itu, suasana kafe justru lebih gelap dan sunyi dibanding malam hari.

Dan tiba-tiba... udara mendingin berlipat ganda. Ruben semakin merinding. Rasa takut memecut-pecut hatinya. Ciut. Aura mistis menyelimuti ruangan kafe.

***

“Maaf, Mbak, jam besuknya sudah habis,” ujar seorang perawat rumah sakit jiwa pada Yuki dengan wajah kecut.

“Sebentar lagi ya, Suster!” Yuki mencoba tawar menawar dengan perawat yang tampangnya dua kali lipat lebih menyebalkan darinya itu. “Semeniiit aja, ya?!”

“Kebiasaan!!!” sungut perawat itu. Kemudian dia melirik jam tangannya, “Ok, semenit!” Mungkin perawat itu tahu; sesama orang menyebalkan dilarang saling ‘mendahului’. Jadinya perawat itu memberikan perpanjangan waktu.

“Minggu depan mama sama papaku pulang dari luar negeri. Jadi mungkin, aku bakalan lebih jarang lagi buat besuk Kak Mala di sini.” Tutur Yuki lembut pada seorang perempuan tanpa gairah di hadapannya. Yuki memang piawai memahat sejuta mimik di wajahnya. Namun, ini adalah ekspresi simpatiknya yang paling jujur yang pernah dia tunjukan.

Mala, perempuan yang bergaris wajah mirip dengannya itu adalah kakak kandung Yuki yang hingga kini keberadaannya masih menjadi rahasia antara Yuki dan Mala sendiri, dan tentunya Tuhan. Sejak usia tiga tahun, Yuki diadopsi oleh keluarga kaya raya yang hingga kini menyayanginya. Alasan keluarga itu mengadopsi Yuki terdengar cukup menggelikan, “Karena mendapat wangsit dari mimpi.”

Mala dan Yuki, sepasang kakak-beradik yang berasal dari keluarga miskin itu harus terpisahkan satu sama lain karena orang tua mereka rela menjual Yuki pada keluarga kaya itu. Selain memang alasan perekonomian, faktor utama mereka melepas Yuki kecil adalah karena dirinya dianggap aneh, tidak normal, bahkan menandakan tanda-tanda ‘kegilaan’. Yuki kecil kerap kali berbicara seorang diri dengan level suara dan mimik muka yang mirip orang dewasa. Selain itu juga tingkat emosinya terlalu ekstrim berubah-ubah untuk balita seusianya. Ibunya sering kali ketakutan jika sewaktu-waktu Yuki menatapnya tajam seperti seseorang yang menyimpan dendam, setelah itu Yuki bisa saja berteriak histeris, tapi beberapa saat kemudian Yuki kembali pada hakikatnya sebagai balita biasa yang normal.

Sedangkan oleh keluarga kaya itu, Yuki justru dimanfaatkan sebagai ‘ladang keberuntungan’. Memang benar, dalam mimpi aneh itu, mereka mendapat bisikan yang mengatakan bahwa jika mereka ingin beruntung, maka mereka harus mengangkat anak kampung yang memiliki aura ‘biru tua’, yang tak lain adalah Yuki. Benar saja, setelah mereka mengadopsi Yuki, bisnis mereka di bidang ritel alat-alat elektronik pun lancar dan semakin berkembang. Hingga sekarang.

Mereka menyebut Yuki sebagai si ‘Bocah Biru’ atau dikenal dengan istilah ‘Indigo Child’. Tapi, demi stabilitas, mereka menyembunyikan identitas Yuki dari siapa pun. Dan mereka telah berhasil membuat Yuki tumbuh menjadi gadis yang wajar dan normal. Namun entah kenapa, semakin dewasa, Yuki justru semakin tidak menyadari ‘kemampuannya’ itu. Ia hanya datang di saat-saat tertentu.

Bagaimana dia bisa mengingat dengan jelas semua masa kecilnya, hingga setelah dewasa bertemu dengan Mala pun, dia yakin benar bahwa Mala adalah kakak kandungnya.

Dan baru saja, Yuki seakan kembali mampu merasakan kemampuannya datang; saat dia memeluk Mala, perempuan yang masih memajang kehampaan itu.

Raut pucatnya, tatapan kosongnya, bibir kebiruannya, rambut panjang-berantakan-nya, tubuh ringkihnya, dan air mata yang sesekali merintik di ujung mata sembabnya adalah satu paket kelaraan yang bertahun-tahun diderita perempuan itu. Dirinya bahkan satu-satunya pasien ter-kalem di rumah sakit jiwa ini. Semua itu mentransformasikan suatu energi ke dalam ruang pikiran Yuki. Energi yang membawa imajinya ke suatu dimensi yang berada di ambang nyata dan abstrak. Dan di situ, dia seakan mampu melihat segalanya. Slide-slide peristiwa yang pernah terjadi pada diri Mala, yang menyebabkannya menjadi serapuh dan semalang sekarang.

Tentang peristiwa malam itu...

***

Sementara, Ruben masih kebingungan mencari di mana orang-orang. Tak tahan dengan selubung hitam yang mengelambui ruangan, dia pun berlari ke luar, mencari pertolongan.

Akhirnya Ruben bertemu dengan dua orang satpam di depan. Tanpa memberikan penjelasan terlalu panjang, mereka bertiga lekas ke dalam, setidaknya untuk membopong Heru ke mobilnya.

Tapi, Heru sudah tidak berada lagi di tempatnya!!!

Ruben hanya bisa mematung, speechless.***

(bersambung)

Ke manakah Mas Heru sebenarnya? Dan apa yang ‘dilihat’ Yuki tentang peristiwa malam itu? Apakah semua ini bisa menjadi petunjuk bagi Ruben untuk memecahkan misteri yang terjadi, atau malah justru semakin membakar bara penasarannya?

Imaaa...!!! Tangkap tongkat estafet ini...!!!

[Sabtu, 22 September 2007 23:29:53]

Read previous post:  
86
points
(1496 words) posted by bl09on 13 years 32 weeks ago
86
Tags: Cerita | cinta | bl09on stories | ikut ngrusak cerita yaks | Rumah sakit jiwa
Read next post:  
Writer diane_yuyie
diane_yuyie at Estafet : (7) Pre-Clues (12 years 34 weeks ago)
90

Tapi... ini voodoo apa santet sie? Kok keluar silet dan perkakas lainnya? :D
Bukannya voodoo buat nyiksa orang dari jauh aja... sori sok tehuu... aku ndiri juga gag ngeh. :P
Tapi seru bgt nie... aku ngikutin terus lhooo :X

Writer redshox
redshox at Estafet : (7) Pre-Clues (13 years 24 weeks ago)
100

Mantap buanget ...

Writer Jamil_begundal
Jamil_begundal at Estafet : (7) Pre-Clues (13 years 24 weeks ago)
100

nice! well done
apalagi yah
pokoe keren dah!
terus berkarya ya, dun!!!

Writer ranggamahesa
ranggamahesa at Estafet : (7) Pre-Clues (13 years 29 weeks ago)
90

keren nih mas..
tp ceritanya dibikin estafet ya?
haduh2. hebat euy pada kreatif ya.

Writer ima_29
ima_29 at Estafet : (7) Pre-Clues (13 years 29 weeks ago)
80

*lirak lirik kanan kiri ketakutan cari bantuan

ima itu sapa yah??*pura-pura amnesia dulu ah...

Writer evikaye
evikaye at Estafet : (7) Pre-Clues (13 years 29 weeks ago)
80

what next?

Writer miss worm
miss worm at Estafet : (7) Pre-Clues (13 years 30 weeks ago)
90

estafet ini terus berlanjut ^^ bagus bagus ... siapa selanjutnya? ima?

Writer arien arda
arien arda at Estafet : (7) Pre-Clues (13 years 30 weeks ago)
80

oom dadun...
ceirtanya keren...
mkain penasaran..
IMA.. cepetan dilanjutin ya........
di tunggu loh

keep writing

Writer ananda
ananda at Estafet : (7) Pre-Clues (13 years 30 weeks ago)
90

*tepuk tangan
seru Dun, makin bikin orang penasaran aja.

Ima dudulz ... lanjutin buruan .. (sukurin lo) huehuehuehuehueh

Writer nirozero
nirozero at Estafet : (7) Pre-Clues (13 years 30 weeks ago)
90

Bang dadun... akhirnya diposting juga hiks!

Gw terharu. Estafetnya sampai segini. Hehehehe.....

Dun, Rubennya luwes aja. Pakai gue elo juga nggak papa. Thanks udah dibikinin. Sama sori kalau kemarin gw cekokin banyak banget referensi. Sekali lagi makasih berat lho yaw!!!

Ima!!! Ambil tuh tongkatnya!
n_n

==========================================================

Dun, kemarin puisi lo salah tangkep tuh! Bikinnya gini aja. Anggep aja akan buat puisi untuk gebetan lo. n_n

Writer bl09on
bl09on at Estafet : (7) Pre-Clues (13 years 30 weeks ago)
80

dah baca neh.....
penjual jamu eh ima lanjutanya di tunggu

Writer yugi_yakuza
yugi_yakuza at Estafet : (7) Pre-Clues (13 years 30 weeks ago)
80

heeee....
ne estapet kapan selesainya ya ??
:D
btw, makin penasaran niy bro ama kelanjutannya..
Jon, gw tunggu kelanjutannya
:D