Tales of the Shining Blade Chp. ?? (Battle scene demo 1)

Pendekar pedang hitam itu berdiri tegap menanti kedatangan Vahn. Pedangnya yang besar ia tancapkan ke tanah. Wajahnya memang tertutup oleh helm zirah tetapi sorot matanya yang tajam membuat lawannya tahu bahwa saat ini ia sedang ditatapnya.

Vahn gentar. Ia merasakan tangannya gemetar hebat. Ia dilanda ketakutan yang amat sangat. Aura sang pendekar hitam itu membuat gelisah hatinya. Ia tahu pria itulah yang membunuh ribuan pasukan Vanarra dengan tangannya sendiri, termasuk Elianor, sahabatnya semasa di militer.

”Apa kau takut, wahai sang Shining Knight ? Aku tak menyangka pemilik Druaga, si pedang bersinar adalah seorang pengecut !” demikian sang pendekar pedang itu mencibirnya. Suaranya yang lantang namun berat itu menunjukkan dirinya adalah seorang yang berpengalaman dalam pertempuran.

Mental Vahn semakin tertekan. Pendiriannya mulai goyah. Ia sangat tidak yakin akan mampu mengalahkannya, namun jika ia tidak mengalahkannya maka putri Rheina tidak akan terselamatkan. Ksatria itu kemudian melihat Druaga yang ia genggam di tangan kanannya. Kali tidak ada cahaya yang bersinar seperti pada saat melawan Caster sang penyihir. Mentalnya pun jatuh.

”Kau pasti bisa . . . ”

Vahn membuka matanya. Ia mendengar seorang wanita berkata padanya. Kata itu terasa menyentuh hatinya. Ksatria itu membalik ke arah sumber suara dan ia menemukan Leah, puteri Elf berada di dekatnya sambil menyentuh tangan kanannya. Kehangatan mulai terasa dari tangan tersebut hingga ke hati.

”Kau pasti mampu mengalahkannya, Vahn. Ingatlah kau tidak sendiri. Kami di sini bersamamu.” demikian Leah melanjutkan perkataannya.

Seketika itu kehangatan menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia merasakan semangatnya menyala kembali. Keyakinan mulai tumbuh dalam hatinya. Sepintas ia melihat ke belakang. Di sana berdiri Sirrus, sang pengembara; Ein, sang petarung; Darius, sang Dwarf; Solo, sang pencuri; dan Micah; sang penyihir.

”Kalian semua . . .”

Mereka semua tersenyum pada Vahn, menyemangatinya secara tersirat. Vahn merasakan mereka menaruh harapan besar pada dirinya.

Ksatria telah bangkit. Druaga The Shining Blade kembali bersinar. Ia berbalik menghadap Pendekar pedang hitam lalu mengacungkan pedang ke arahnya.

“Aku tidak takut denganmu, Grander. Aku akan mengalahkanmu dan menyelamatkan puteri Rheina.”

Grander, sang Pendekar pedang hitam tertawa sinis mendengarnya.

“Kalau begitu kemarilah, nak. Kau akan kucincang.”

Grander mengangkat pedang besarnya lalu menghunus di hadapan Vahn. Sementara dengan langkah mantap, sang ksatria memasuki arena pertarungan.
***

Keduanya berdiri saling berhadapan dalam keadaan siaga. Angin berhembus di antara keduanya, mengibarkan jubah mereka. Diam, mereka mengamati satu sama lain. Menanti pergerakan pertama dari masing – masing pihak.

Sementara itu di pinggir arena, rombongan Vahn memperhatikan mereka dengan hati diliputi kecemasan. Jantung mereka berdebar tak menentu. Tak seorangpun berani mengeluarkan kata – kata. Entah karena tak ingin mengganggu konsentrasi atau memang tidak terlintas kata apapun dalam pikiran, tetapi yang pasti pandangan mereka terfokus pada Vahn dan Grander. Jika dilihat dari sisi ini, jelas terlihat perbedaan fisik yang jauh. Tubuh Grander jauh lebih besar dari Vahn, termasuk pedang dan armor pelindungnya. Tentu saja perkiraan kekuatan pun akan jelas berbeda. Tetapi mereka tetap mempercayai Vahn.

BLAAARRR

Sebuah halilintar turun membelah langit menyambar ujung tiang bendera yang terkoyak. Semuanya menjadi putih menyilaukan dengan suara yang menggelegar hebat. Bersamaan itu, keduanya serentak bergerak saling menyerang. Pertarungan dimulai.
***

“Hyaaa!”

Seakan tak menyisakan keraguan sedikitpun, Vahn melesat ke arah Grander sambil meletakkan Druaga di punggungnya. Ia mengarahkan serangan tepat di leher pendekar pedang besar itu. Ketika jarak mereka sangat dekat, sekuat tenaga sang ksatria menarik pedang itu menebas leher. Namun secepat itu juga Grander menangkis serangannya. Api terpercik ketika pedang keduanya beradu.

Vahn terhempas. Tenaga Grander masih terlalu kuat untuk ditembus. Ditambah lagi ukuran pedangnya yang besar itu memeberikan daya hancur yang besar. Ternyata memang tidak mudah sama sekali untuk mengalahkan pendekar pedang itu. Ketika Vahn berusaha berdiri kembali, Grander melakukan serangan balasan. Tak disangka, dengan tubuhnya yang besar dan armor yang berat, ia dapat bergerak sangat cepat. Dalam sekejap, sang ksatria berada dalam jangkauan pedangnya. Grander langsung menghujamkan pedangnya pada Vahn.

BRUAAKK

Pedang besar dan berat itu menghujam bumi dengan kecepatan luar biasa. Dalam waktu yang genting, Vahn berhasil menghindar. Bulu kuduknya berdiri ketika melihat lubang menganga akibat terjangan pedang kembali. Sedikit saja lengah, maka ia akan terbelah dua dalam sekejap.

”VAHNNN AWAASS !”

Teriakan Leah menyadarkan Vahn. Secepatnya ia kembali siaga. Ketika sadar, Grander sudah tidak berada di tempatnya semula. Ia menemukan pria itu melompat tepat di atas kepalanya, bersiap menarik pedangnya menghujam kepala ksatria.

DUASSHHH

Vahn berhasil menghindar lagi. Kali ini ia sempat melihat gerakan grander. Ia mengelak beberapa langkah menjauhi jangkauan pedang besar dan panjang itu.

“Tak akan kubiarkan!”

Vahn terkejut melihat Grander tiba – tiba langsung melesat ke arahnya. Ia tidak berhenti sejenak seperti saat serangan pertamanya tadi. Rupanya sang Pendekar pedang hitam tidak memberikan kesempatan bagi sang Shining Knight untuk melakukan perlawanan. Kali ini ia melakukan serangan bertubi – tubi pada Vahn bagaikan harimau raksasa yang akan menerkam mangsanya.

Secara refleks Vahn menggerakan pedangnya menangkis semua serangan Grander yang diarahkan pada organ – organ vital. Tangannya gemetar hebat setiap kali menyerap kekuatan. Ia terus terdesak mundur. Tak ada celah maupun kesempatan untuk melakukan perlawanan balik. Tubuhnya mulai tergores. Ia meringis kesakitan. Sebaliknya, Grander terlihat sangat menikmatinya. Ia tak henti – hentinya. menyeringai sambil tertawa sinis. Seperti sebuah kenikmatan menyiksa lawannya sebelum membunuhnya. Sementara itu sang Ksatria mulai kehabisan tenaga.

Vahn mengambil langkah. Saat pedangnya terkena serangan, ia gunakan dorongan kekuatan lawan sebagai pegas untuk menghempaskannya mundur beberapa langkah, kemudian ketika mendarat, secepatnya ia menghentakkan kaki. Ia berhasil melompat ke sisi kanan lawan. Saat itulah ia melihat celah pertahanan dari lawan.

Seketika itu ia layangkan sabetan pada sisi kanan Grander yang tak tertutup armor maupun pedang. Saat itu ia yakin serangannya akan masuk kali ini.

Wuukk

”. . .!!”

Ketika jarak pedang dengan lawan tinggal beberapa jengkal lagi, tiba – tiba Grander melakukan suatu gerakan. Bertumpu pada kaki kanannya, ia memutar tubuhnya dengan sangat cepat ke arah kanan. Bersamaan dengan itu, ia mengayunkan pedang besarnya secara horisontal, membuat gerakan ”membabat rumput”. Ayunan pedangnya lebih cepat dari Vahn.

TRAANNKK

Secara reflek, Vahn menghentikan ayunan pedangnya untuk menangkis serangan mendadak Grander. Ia terlempar akibat menerima serangan dengan kekuatan besar secara tiba – tiba tersebut.

”Ha ha ha” Grander tertawa setelah melakukan serangan pertahanan tersebut.” Serangan apapun yang kau lakukan. Kau tidak akan bisa membunuhku.”

Pendekar besar itu menyandarkan pedang besar pada bahunya dan berjalan ke Vahn yang jatuh terduduk. Sementara itu, sang ksatria mulai kewalahan. Luka goresan semakin banyak, tenaga sudah habis, sedangkan ia belum menemukan cara untuk mengalahkan Grander.

Sementara itu sang pendekar pedang hitam semakin dekat. Ia mulai mengangkat pedangnya menyentuh langit. Bersiap menebas Vahn menjadi dua bagian.

”Sekarang matilah kau . . .” ucap Grander seiring ia menarik pedang sekuatnya menghujam Vahn.

Bersambung . . . maybe . . .

Read previous post:  
65
points
(558 words) posted by hikikomori-vq 13 years 20 weeks ago
59.0909
Tags: Cerita | dongeng | fantasy | iseng - iseng
Read next post:  
Be the first person to continue this post

Villam & Ayas: Multiple POV, hmm. Belum tahu caranya, aku harus baca ceritamu lagi. Sulit juga ya

Adrian : Sensei, aku memang belum bisa menyeimbangkan antara terlalu deskriptif sama kurang deskriptif. Kalau nulis deskripsi suka keasyikan

KD : Hell Yeah, I feel good. Thanx

Iphrite : Cara membuat action scene ala manga. Amati panel adegan tersebut lalu coba terjemahkan dalam bentuk kata2. Selamat berlatih

Nero-sama : Kok tahu aku lagi mandek. Btw sulit juga menyeimbangkan over deskriptif dengan kurang deskriptif.

Thanks to all reader. Aku akan berlatih lagi. Altered Blood akan terus berlanjut hingga tamat. Tabahlah

90

Ihiiiiieeee!!!

Baru jenuh bikin Altered ya Bang! hihihi... Yah, refreshing dulu bolehlah!

Uhm, konmentar gimana ya? Aku juga pernah bikin kaya' gini dua seri terus ilang nggak tahu kemana. Hahahaha.....

Tapi, yang ini seru kok. Cukup mendebarkan bikinnya. Dibuat simpel aja gerakannya. Nggak usah terlalu deskriptif. Soalnya, tempo orang baca action kaya' gini biasanya cepet. Dan nggak perlu waktu buat menghayati satu demi satu kalimat.

Pasti mereka ingin membacanya sekaligus tanpa perlu mengulanginya.

Yah, mungkin itu aja! n_n

100

gw juga perlu belajar buat adegan action nih.. soalnya novel gw juga fantasy petualangan..

Masih belum menemukan cara biar terlihat menarik..
Gimana cara menggambarkan hal2 keren yang biar kaya pertarungan di manga gt..

100

good good good

80

menurut aku bagus tapi seperti kata villam mungkin lebih bagus lagi kalo pertarungan diceritain dari beberapa sudut..keren2..

kapan ya aku bisa bikin cerita keren kaya gini..*berharap berharap hehe^^

70

cuma pengen tanya, arena bertarungnya kayak gimana ya? Apa stadion atau lapangan terbuka? Suasana ini aja yang kurang.

Terus yang ini:
Ketika jarak pedang dengan lawan tinggal beberapa jengkal lagi, tiba – tiba Grander melakukan suatu gerakan. Bertumpu pada kaki kanannya, ia memutar tubuhnya dengan sangat cepat ke arah kanan. Bersamaan dengan itu, ia mengayunkan pedang besarnya secara horisontal, membuat gerakan ”membabat rumput”. Ayunan pedangnya lebih cepat dari Vahn.

aku kurang bisa ngebayanginnya tapi intinya dapet sih. Emang susah bikin adegan pertarungan, kalo terlalu teknis yang baca jadi capek dan bosen. Kita sama2 belajar yach ;)

Guys, please read my poems & stories at K.com ^_^

100

bagus, vq.
kamu udah pake viewpoint vahn di scene 1 dan 3, dan itu cocok dan terlihat udah cukup personal.
sementara untuk scene ke-2 yang di tengah-tengah itu, kalo menurut gua coba gunakan viewpoint leah atau siapa yang dekat dengan hati vahn, bagaimana perasaan dia melihat vahn dan juga bagaimana dia merasakan suasana di sekitarnya.
untuk efisiensi kalimat supaya cerita berjalan cepat, beberapa kata bisa dihilangkan, sehingga kalimatnya bisa lebih singkat.
seperti di paragraf 2, tidak perlu kata-kata 'ia merasakan', itu tidak efisien.
'secara', 'sementara itu', 'seketika itu', 'mulai' juga beberapa kata yang kurang efisien (bisa dihilangkan).
kemudian kata 'amat', 'sangat' dan 'sekali' lebih baik dihindari, dan gunakan deskripsi yang lebih jelas.
keterangan dialog seperti 'demikian' atau 'ucap' sebenarnya juga bisa dihilangkan.
misalnya kalimat terakhir jadi begini:
”Sekarang matilah kau . . .” Grander menarik pedang sekuatnya menghujam Vahn.
ah...
tapi gua juga baru belajar kok...
liat dong lanjutannya...