Jari Manis

“Kamu lebih cocok memakai wedges bertali, Meg.” Olva menarik sepatu stiletto dengan hak entah berapa puluh centimeter miliknya dari tanganku dan menyodorkan wedges bergaya etnik – miliknya juga.

Hari itu kami akan pergi kencan buta. Aku yang akan kencan buta. Olva hanya menemaniku dengan tunangannya. Kami akan double date. Pria yang menjadi kencanku adalah sahabat Hans – tunangan Olva.

“Rasanya aneh, Va.” Sungutku. Aku tidak biasa memakai sepatu dengan tali yang harus dililitkan di sepanjang betis.

“Kamu hanya belum terbiasa, sepatu itu cocok untuk kakimu yang mungil.” Olva sama sekali tidak peduli dengan ‘penderitaan’ku.

“Ayo, nanti kita terlambat.” Seru Olva lagi. Ia sudah sempurna dengan gaya andalannya – boho chic. Olva penganut setia bohemian style, tapi punya setumpuk koleksi sepatu dengan berbagai style. Dan ia dengan rela meminjamkannya padaku setiap kali kuinginkan. Mungkin ia prihatin pada sahabatnya yang minim koleksi sepatu – itu pun hanya terdiri atas flat shoes dan beberapa sepatu berhak standar untuk kerja.

Dengan repot aku berusaha menyelesaikan lilitan tali itu pada betisku. Olva berdecak sebal melihatku. Lalu ia ikut turun tangan dengan mulut terus mengoceh, “Kamu yang mau kencan, aku yang repot!”

Dia tidak sadar kalau dialah yang mati-matian ingin mencarikan kekasih untukku.

“Siapa namanya, ya? Aku lupa.” Sahutku. Sengaja. Kesenangan tersendiri melihat Olva berdecak seperti cicak.

“Tsk!”

**

Namanya Tama. Orangnya sendiri yang menyebutkan saat bersalaman denganku.

“Meggie,” balasku. Dan seperti biasa aku lebih banyak diam. Kelemahanku kalau sudah berhadapan dengan makhluk bernama pria.

Tama memandangku terus malam itu. Olva menyikutku terus malam itu. Dan aku dibuat jengah oleh mereka berdua malam itu. Syukurlah masih ada Hans yang normal.

**

“Aku tidak mau blind date lagi!” seruku pada Olva keesokan hari di kantor. Olva merepet. Aku tidak peduli.

**

Bagaimana cara melepaskan diri dari ocehan sahabat yang terobsesi ingin mencarikanmu kekasih?

Aku memilih menghabiskan waktu sendirian berjalan-jalan dalam mall. Saat Hans mengetuk pintu apartment yang aku dan Olva tinggali bersama, itulah kesempatanku. Olva akan ‘hilang ingatan’ kalau sudah bersama Hans. Artinya dia tidak akan protes aku menjelajahi kuilnya sendirian. Kuil yang kumaksud adalah mall, tentu saja, rumah kedua Olva.

**

Aku bertemu Tama lagi di mall. Aku sedang mencoba aksesoris untuk menambah koleksiku. Kalau Olva adalah sepatu, maka aku adalah aksesoris. Kalung, anting, cincin, sebut saja!

Tama menyapaku saat aku sedang mencoba cincin perak berbentuk capung besar dengan batu hijau sebagai matanya. Cincin itu terlalu kecil di jari tengahku.

“Mungkin pas di jari manis,” ucap Tama perhatian.

Aku memandang Tama dan tersenyum. Tentu saja ia tidak tahu prinsipku, jadi kukatakan padanya, “aku tidak pernah memakai cincin di jari manis.”

Tama menautkan kedua alisnya, ingin bertanya ‘kenapa’.

Aku tidak merasa wajib memberitahu padanya. Jadi aku diam saja dan meletakkan kembali cincin capung itu lalu mengambil cincin dengan bentuk bunga yang telah kucoba sebelumnya ke meja kasir. Tama mengajakku minum kopi di Starbuck setelah itu.

**

Olva berteriak senang dengan suara paling keras yang pernah kudengar saat kuberitahu kalau aku sudah beberapa kali jalan dengan Tama.

Yeah, Olva, harapanmu tercapai. Selamat!

**

Tama menyukaiku sejak pandangan pertama. Tama yang mengatakan saat kutanya kenapa ia terus memandangiku malam kami bertemu. Dan aku tidak mengatakan apa pun saat Tama menanyakan kenapa aku tidak mau memakai cincin di jari manis. Ternyata ia masih penasaran.

Ngomong-ngomong, usia hubunganku dan Tama sudah menginjak satu bulan lebih. Nyaris dua bulan. Seusia cincin bunga yang kubeli waktu itu. Kurangi dua hari.

**

Olva menempel padaku seharian, di apartment dan di kantor, saat sarapan hingga makan malam. Tujuannya hanya satu, merayu agar aku bersedia double date lagi dengannya dan Hans. Aku benci double date. Beberapa bulan lalu aku bersedia karena aku tidak mau bertemu Tama - yang saat itu belum kukenal - sendirian.

Tapi itulah Olva. Ia tidak peduli. Ia akan menempel terus hingga aku menyetujuinya. Aku tahu dia hanya penasaran melihatku dan Tama berkencan.

“Ya, ya, ya!” seruku akhirnya. Dan Olva menciumi pipiku.

**

“Kenapa kamu tidak mau memakai cincin di jari manis?”

Untuk yang kesekian kalinya Tama bertanya. Aku baru sadar Tama begitu penasaran dengan hal tersebut. Tapi aku tetap tidak menjawabnya. Aku merasa alasanku konyol, itu sebabnya aku tidak mau meberitahunya.

Memang tidak ada yang kuberitahu. Kecuali Olva. Ia tahu semuanya tentangku, juga sebaliknya.

**

Tama mencium bibirku. Lembut. Lalu ia memainkan jemarinya di tubuhku. Lembut, tapi menggelitik. Aku tertawa karena geli. Dan Tama malah menciumiku.

Aku merasa malam ini akan kulalui dengan kesenangan.

Hanya merasa.

Tama merusaknya dengan pertanyaan yang sama tentang ‘cincin di jari manis’.

“Kenapa kamu begitu penasaran?”

“Kenapa kamu begitu merahasiakannya?” Tama membalas.

**

Aku sudah bilang kalau aku merasa alasan untuk tidak menggunakan cincin di jari manis sangat konyol kalau kuceritakan pada orang-orang. Dan sekarang semakin konyol karena hal itu menyebabkan pertengkaran besar pertamaku dengan Tama.

Aku tidak suka bertengkar dengan Tama.

Aku cinta Tama.

Tapi aku tidak mau minta maaf lebih dulu. Dia yang salah karena mempermasalahkan hal sepele.

**

Olva bertingkah seperti dukun gypsi yang sedang mencari ilham agar ramalannya berhasil. Ia bolak-balik berjalan di depanku yang sedang duduk di atas sofa. Mulutnya mengoceh tak karuan.

Aku tahu ia perhatian padaku dan menyayangkan pertengkaranku dan Tama, tapi kadang Olva suka berlebihan.

“Kenapa?” Olva bertanya lagi. Ini yang ketiga kalinya.

Terpaksa, deh. Aku menghela napas.

“Aku sebal dia bertanya terus, kenapa aku tidak mau pakai cincin di jari manis.” Sahutku, mencoba menyembunyikan wajah di balik bantal sofa.

Olva melongo sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak dan kulempar bantal.

**

Oke, ini sudah menginjak minggu kedua sejak aku bertengkar dengan Tama. Aku tidak tahan. Apa aku harus melupakan gengsi dan minta maaf padanya?

Tidak!

Aku tidak mau. Kan, Tama yang salah!

**

“Maafkan aku,” ucap Tama. Kami sedang berada di apartmentku. Olva sedang berada di dapur bersama Hans. Tapi aku tahu telinga Olva sedang menempel di dinding sekarang.

Tama melanjutkan penjelasannya lagi.

“Sejak pertama kalinya, aku tahu aku ingin serius denganmu, Meg. Itu sebabnya aku penasaran denganmu yang tidak ingin memakai cincin di jari manis,” Tama menghela napas. Mengambil jeda.

“Hal itu,” ia melanjutkan kembali, “seperti memberitahuku bahwa kamu tidak ingin melanjutkan hubungan kita ke arah yang lebih serius lagi.”

“Tidak seperti itu, Tama!” potongku. Dan Tama tersenyum, membelai rambutku.

“Aku tahu, karena itu aku bertanya pada Olva.”

Mulutku langsung terbuka lebar. Melongo.

“Jadi, kamu sudah tahu...” mukaku memerah. Dan semakin merah saat Tama melebarkan senyumnya.

“Konyol, kan? Tertawa saja!”

Tapi Tama menggeleng, “tidak konyol, kok. Menurutku, justru sangat manis.”

Aku menatapnya. Tidak percaya. Aku mencari-cari tanda di wajahnya kalau ia mengatakan itu hanya agar aku tidak malu atau marah. Tapi aku tidak menemukan apa pun.

“Manis...?”

“Iya, manis.” Dan Tama mengecupku.

“Jadi, Meggie-ku yang manis...”

Tama menghentikan ucapannya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong baju. Sebuah kotak mungil berwarna putih.

“...aku akan memberi alasan agar jari manismu dapat dihiasi oleh cincin. Kasihan, jari manismu pasti iri dengan jari lainnya.”

Aku diam. Terpana.

“Kamu tidak ingin membuat jari manismu bahagia?”

Aku masih diam, tapi kepalaku mengangguk-angguk dan memeluk Tama. Tentu saja setelah Tama memasangkan cincin itu di jari manisku.

Beberapa saat kemudian, yang terdengar dari dalam apartment hanyalah ocehan riang Olva.

--End--

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Princessa
Princessa at Jari Manis (12 years 17 weeks ago)
70

aku masih bingung dengan alasan kenapa kok ga mau di jari manis???

tapi aku suka dengan ceritanya....

Writer Chatarou
Chatarou at Jari Manis (12 years 29 weeks ago)
90

sepertinya masih ada yang tersisa dan belum terungkapkan...

itu kata hatiku..

Writer nino
nino at Jari Manis (12 years 32 weeks ago)
80

ehm cerpennya bagus... v('',)

Writer perkosakata2008
perkosakata2008 at Jari Manis (12 years 38 weeks ago)
100

...diriku yang me-narsis-kan diri *halah* secara selama ini belum pernah narsis.. kekekek xD

Writer panah hujan
panah hujan at Jari Manis (12 years 39 weeks ago)
80

agak janggal,....

nggak diulas lagi kenapa musti "jari manis",,,,

lagipula rada banyakan missing link nyah....

hihihi, just my opinion
tapi cara bercerita udah baguus..

well, two thumbs up for your dare
halaah, sok ngenglish..

Writer birahilaut
birahilaut at Jari Manis (12 years 40 weeks ago)

makasih ya dah mampir ke MP gw

Writer za_hara
za_hara at Jari Manis (12 years 40 weeks ago)
70

hmm, rasanya ini bukan teknik yang biasa dipakai untuk cerpen walaupun bentuknya cerpen. ^_^ bagiku ada plus minusnya:

plus:
1. kamu berhasil membuat satu terobosan gaya (novel ke cerpen)
2. kamu bisa mengkreasi setiap alur melalui kumpulan adegan mozaik/montaj) tanpa perlu patuh pada narasi baku.

tapi minusnya:
1. topik sulit tertangkap di awal cerita, padahal "cerpen yang bagus" (menurut versi kebanyakan redaktur lho) adalah yang sudah memberitahu kita di bagian awal ke arah mana kita akan dibawa bercerita.
2. kekuatan suspens berkurang. hal ini karena gaya mozaik/montaj jarang dipakai dalam cerpen, sehingga bagi orang yang kerap menggunakan pola pikir seperti tersebut di atas, cerita ini akan terkesan membosankan (dan bagiku pribadi, tali pengikat suspens dalam ceritamu ini, hanyalah judulnya).

tapi kita berpikir positif saja, Hun. setiap inovasi selalu menghasilkan "kegamangan" di mata orang2 yang berpandangan tertentu kok. jadi, teruskan saja jika kau ingin terus mengolah gaya seperti ini.

hanya saja, tetap perhatikan suspens-nya.

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Jari Manis (12 years 41 weeks ago)
90

Mbak, anda memberikan pencerahan pada saya tentang bagaimana membuat "cerpen". Bagus, mbak.. lam kenal yah..

Writer kopitozie
kopitozie at Jari Manis (12 years 41 weeks ago)
80

Hmmm ... penasaran pasti ada lanjutannya yaaa

Writer ghe
ghe at Jari Manis (12 years 41 weeks ago)
Writer A_am Hidayat
A_am Hidayat at Jari Manis (12 years 41 weeks ago)
80

theme biasa... gaya bercerita biasa... tapi alurnya sangat rapi.. yah, ciri khas fortherose gitu loh\\

very nice for me to come back... i really miss k.com ^^

Writer Tedjo
Tedjo at Jari Manis (12 years 44 weeks ago)
80

mungkin soal selera kali ya :) theme dan gaya berceritanya..biasa..

Writer cat
cat at Jari Manis (12 years 44 weeks ago)
70

n seger ...

Happy ending, g suka banget.

Writer brown
brown at Jari Manis (12 years 44 weeks ago)
80

jadi ini gaya Melissa Bank itu? hihihi, aku mmg ga up-to-date banget. yg ini memang berbeda dari cerpen2mu sebelumnya. rasanya renyah dan gurih, membuatku merasa riang dan santai. tapi ayu nakal, kita tetap ga dikasi tau alasannya.

nice, yu.

Writer -aDJIe-
-aDJIe- at Jari Manis (12 years 44 weeks ago)
100

kisah nyata ini ya ?

pasti hidupmu penuh dengan keceriaan dan perpaduan sekitar 1001 warna....

yang pasti akibat dari keceriaanmu berimbas dalam cerita ini....

mantap

Writer noir
noir at Jari Manis (12 years 45 weeks ago)
90

Alasan yang bagus untuk memaka cincin d jari manis :P

Writer my bro
my bro at Jari Manis (12 years 45 weeks ago)
90

Nice one sis ^_^. makin memperlihatkan sisi romantisnya Ayu.

Jari manis gw yg mana yah, kok rasanya pahit semua? (sambil ngejilatin jari)

Writer cibo
cibo at Jari Manis (12 years 45 weeks ago)
90

...ayu semakin, makinan deh tulisannye..

ga bise nulis cerita jadi aye seneng baca aje, Ayu adalah salah satu Idola sayah.. Yeachh Hidup Ayuu..

Writer Littleayas
Littleayas at Jari Manis (12 years 45 weeks ago)
90

happy ending...sukaaaaa bgt..setuju sama rina, jari manisku juga kedinginan..hehe =P

dadun at Jari Manis (12 years 45 weeks ago)
80

*prikitiwwwww... paling seneng baca tulisan2 kayak gini. manis-manis gimanaaaa gitu. halah, kalo gak baca komen2 (terutama dari Arien dan Sefry) saya gak bakalan tau alasan Meggie gak mau pake cincin di jari manis. well, gaya barunya oke juga.^^

Writer bluer
bluer at Jari Manis (12 years 45 weeks ago)
80

Akhirnya kamu membuat cerita yang bisa aku tebak dan endingnya juga happy ending. Ada juga yu..

Ayu, jadi mau YM sama kamu...
KEren yu, mengalir banget.

Writer -riNa-
-riNa- at Jari Manis (12 years 45 weeks ago)
90

Duh...jariku jadi iri nih. dah gitu kedinginan pula.
Bagus banget! Tapi, masih ada satu pertanyaan yang blom kejawab, apa alasannya ga mau pake cincin di jari manis? Blom dijawab.

Writer heaven_waiting
heaven_waiting at Jari Manis (12 years 45 weeks ago)
90

saya juga mauuu...

Writer hege
hege at Jari Manis (12 years 45 weeks ago)
70

enak yah nulis cerita just for fun(btw ini cerpen lumayan panjang deh, perasaan... dibanding yg itu)

tips:
'Olva melongo sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak dan kulempar bantal.'

mending scene seperti ini dijadiin 2 kalimat ajah deh.

Writer on3th1ng
on3th1ng at Jari Manis (12 years 45 weeks ago)
80

rasanya aku tahu alasannya..
hmm...hihihi

*sok tahu mode on

Writer fortherose
fortherose at Jari Manis (12 years 45 weeks ago)

...dan adrian, aku memang sengaja nggak membeberkan alasannya -->bener banget seperti yang dibilang sefry dan arien^^

wind, aku juga mau ketemu Tama, hahaha^^

winn, gayaku sedikit beda yah? hehe, ini gara2 jatuh cinta dengan gaya seorang penulis, dan pengen nyobain^^.. eksperimen dikit=p

Writer FrenZy
FrenZy at Jari Manis (12 years 45 weeks ago)
80

aku dan adrian sependapat :) kenapa ga ditulis alasannya yu? bagiku misteri yang tidak dipecahkan itu sangat mengganggu untuk pembaca yang setia membaca sampai akhir untuk menguak rahasianya lho. hehehe.

beberapa kalimatnya seperti beda dari gayamu biasa yu, bittersweet. aku sedikit tersendat di awal, namun ada banyak bagian di mana aku suka sekali penempatan kalimatmu :D

Writer sefry_chairil
sefry_chairil at Jari Manis (12 years 45 weeks ago)
80

nice story!!
wew.. ^^

mau jawab pertanyaan Adrian:
Yan, Ayu mengungkapkan alasannya secara tersirat .. bnr kan ya, Yu?
*lirik Ayu
hihi.. :D

----------------------------
-----------
More about Sefryana Khairil and her books, klik here:
Sefryana Khairil Official Website
Read and give your comments...
Sefry's story and poems at K.com

Writer arien arda
arien arda at Jari Manis (12 years 45 weeks ago)
70

so sweet..
jari manis hanya untuk cincin pernikahan..
iya gak..?
hehehehhe..
ceritanya romantis..
keep writing

Writer miss worm
miss worm at Jari Manis (12 years 45 weeks ago)
80

ngiri. mau dong ketemu Tama juga ^0^

Writer adrian.achyar
adrian.achyar at Jari Manis (12 years 45 weeks ago)
70

alasannya enggak mau kenapa ya? Emang sengaja enggak kamu tulis atau aku aja yang dudulz ;p

Terus, aku ngerasa kok karakter si aku dan olva sama aja ya, jadi kayaknya mirip2 gitu.

Yah, itu perasaan aku aja sih. Maaf kalo ada kata2 yang kurang berkenan ;)

Guys, please read my poems & stories at K.com ^_^