The Altered Blood (Frame 19)

Frame 19 : Festival of Death (Part 1)

Acie dan Claire terbelalak takjub melihat pemandangan baru di hadapannya sesaat setelah mereka melewati portal ala kastil. Bagaimana tidak, halaman depan SMU yang lapang itu malam ini berubah menjadi seperti alun – alun sebuah kota di Eropa pada abad pertengahan. Stand - stand berdekorasikan bangunan medieval Eropa. Patung – patung malaikat, bidadari, serta makhluk mitos lain seperti gargoyle dan wyvern serta figur – figur “angelic” lain berdiri gagah di setiap persimpangan jalan batu. Lampu – lampu penerang jalan klasik berkesan seperti Paris pada masa raja Louis XIV. Sungguh sulit dipercaya, mereka tampak nyata dan detil jika mengingat bahan materialnya pembuatnya sederhana seperti fiberglass atau styrofoam.

Selain dari dekorasi bangunan yang ada, mereka pun takjub melihat orang – orang yang mengunjungi pensi ini. Dominasi hitam dan putih mewarnai setiap pengunjung yang berlalu lalang. Pakaian yang mereka kenakan pun tidak kalah unik. Ada yang memakai tuxedo, gaun panjang berumbai, pakaian puteri bangsawan, sampai berpakaian penyihir dan grim reaper lengkap dengan replika schyte (sabit besar) melintas di depan mereka. Ini lebih mirip cosplay festival daripada pensi.

”Ini petanya.” kata seorang panitia berpakaian baju zirah sambil menyodorkan gulungan kertas pada Acie. ”Silahkan menikmati.”

Acie membuka gulungan tersebut lalu melihat isinya dengan seksama. Kertas itu bergambar peta lokasi yang didesain menyerupai peta wisata. Di peta itu, ia melihat denah festival yang diatur berdasarkan area – area. Setiap area tersebut ditandai dengan beberapa simbol unik. Arti dari simbol – simbol tersebut dapat dilihat pada legenda yang tertulis di bawah dengan tulisan latin italic bersambung. Mirip dengan tulisan Shakespeare yang ditulis dengan bulu angsa. Di tengah – tengah peta itu terdapat lingkaran besar. Mungkin ini adalah center stage berupa panggung utama. Secara keseluruhan peta itu terkesan seperti peta harta karun.

Denah festival ini terbagi menjadi beberapa area. Masing – masing area memiliki tema khusus bagi bangunan – bangunan yang ada di dalamnya. Contohnya, saat ini mereka berada di area “Renaissance”. Jadi dekorasi stand yang ada berkesan noble atau bangsawan dengan warna yang terang, desain anggun dan patung – patung yang cantik. Suasana yang berbeda mungkin akan dirasakan jika memasuki area baru. Di area “Gothic” misalnya, suasana akan menjadi sedikit lebih gelap. Mungkin area yang paling suram adalah area “Death” dimana setiap bangunannya berdekorasi tengkorak, iblis, monster, dan lain – lain yang berhubungan dengan dunia kematian dan dunia astral (gaib).

Terus terang Acie belum merencanakan apa yang akan mereka lakukan di pensi ini tetapi yang pasti mereka akan bersenang – senang. Gadis berpayung transparan itu mendapat ide. Ia menggulung peta tersebut lalu menepuk Claire yang dari awal masuk hingga sekarang masih terkesima.

”Hoi Claire !”

Teriakkan Acie serta tepukkan sekali pada punggung membuat gadis berbuntut kuda itu terkejut. Seketika itu kembali dari rasa takjubnya.

”Ha. .Cie! Apaan sih ?”

”Jangan bengong aja di sini. Ayo jalan !”

”Jalan ke mana ?”

”Aku juga nggak tahu. Ayo jalan aja !”

Acie tampak bersemangat. Ia menarik lengan Claire untuk masuk ke dalam keramaian. Menjelejahi festival lebih jauh.
***

Berbagai macam benda, berbagai macam makanan, hiburan dan permainan tersedia dalam festival ini. Pernak – pernik berbau gothic seperti pakaian dari kulit, cincin, kalung dan rantai dipajang dalam stand – stand unik. Begitu pula beberapa permainan berhadiah cukup menarik pengunjung untuk menghampiri. Para seniman jalanan turut beraksi menyemarakkan suasanan dalam dominasi warna hitam dan putih. Malam ini banyak orang yang bersuka cita, berbahagia, dan bersenang – senang. Melepaskan segala kejenuhan selama semalam.

Suara melodi gitar mulai terdengar membahana ketika sebuah grup band kota mulai beraksi di panggung center stage. Mereka membawakan sebuah lagu punk gothic yang setiap iramanya seakan membawa pendengar pada suatu negeri antah berantah di zaman pertengahan. Terlihat penonton berkumpul di depan panggung sambil melompat – lompat mengikuti irama hentakan drum. Beberapa dari mereka yang kelelahan langsung menyingkir dan duduk di emperan kios, memesan minuman dingin botolan. Kemeriahan mengisi suasana dalam festival ini.

Tak jauh dari panggung, terdapat sebuah kolam air mancur. Di sanalah, Acie dan Claire duduk di bangku yang menghadap ke arah air mancur. Mereka lelah setelah satu jam berkeliling festival, menikmati segala yang ada di sana. Di samping mereka, tergolek kantong – kantong plastik berisi souvenir serta makanan yang dibeli saat berkeliling tersebut. Kini mereka melepas lelah sejenak, melihat keindahan lampu – lampu malam sambil menyantap es krim.

”Duh, capeknya . . .”

Acie menjatuhkan dirinya pada sandaran bangku. Lidahnya tak berhenti menjilati es krim sundae berasa Mocca. Sementara itu, Claire juga menyandarkan dirinya pada bangku namun posisi duduknya lebih sopan dari Acie. Ia juga menyantap es krim berasa coklat.

”Ramai sekali ya ?” Claire bergumam.

Semilir angin berhembus. Claire membiarkan angin malam menyentuh lembut wajah dan rambutnya. Menyeka keringat ang membasahi dahinya seraya memejamkan mata. Diterpa lampu malam keringat itu berkilauan layaknya mutiara dari Atlantis. Acie memperhatikannya.

“Kau tampak anggun dan cantik malam ini.” Ujarnya.

Claire sedikit tersipu. Ia menatap Acie dengan wajah merona. Kedua tangannya memegang pipi, menutupi perasaannya yang campur aduk antara malu dan senang.

“Kenapa kamu ngomong begitu ? Bukankah kamu lebih berdandan daripada aku ?”

“Duh. Maksudku bukan dandanan dan kostum.” ujar Acie sedikit kesal. Ia merasa diledek dengan halus oleh Claire. “Tetapi sifat dan sikapmu itu sangat cocok untukmu. Membuatmu terkesan lembut dan feminim.”

“Oh ya ? Terima kasih.”

Claire masih belum mengerti maksud dari perkataan Acie, tapi ia menangkap intinya sebagai pujian.

“Lihatlah orang – orang di sana.” Lanjut Acie sambil menatap keramaian. “Mereka sedang bersenang – senang. Setiap orang mempunyai cara sendiri – sendiri dalam mengekspresikan kegembiraan mereka. Ada yang meluap – luap. Ada juga yang dengan berdiam diri melihat orang lain gembira, hanya tersenyum menikmati. Menurutku, semua orang perlu untuk menunjukkan kegembiraan mereka pada orang lain. Dengan begitu, kegembiraannya akan menyebar. Memasuki diri seseorang lalu menularkannya kembali pada orang lain. Begitu seterusnya. Kau tahu ? Jika seseorang bergembira, ia akan terlihat lebih cantik atau lebih cakep secara alamiah.”

Claire mengangguk. Ia mendengarkan kata – kata Acie dengan seksama. Gadis itu tidak menyangka Acie yang selalu enerjik dan penuh semangat bisa berucap seperti itu. Seperti bukan dirinya yang biasa. Kemudian Acie melanjutkan lagi ucapannya.

”Mungkin aku bukanlah orang yang pintar dalam mengungkapkan kegembiraan. Mungkin kau melihat aku meluap – luap dan terlalu bersemangat jika aku bergembira. Memang ini menjadi sifatku sejak kecil, tetapi dalam hati aku merasa ragu. Apakah aku terlalu berlebihan ? Bagaimana dengan mereka yang tidak bisa meluapkan kegembiraan sepertiku ? Mungkin aku harus sedikit menenangkan diri.”

Acie menghela napas panjang. Ia terlihat sedikit muram. Mungkin di mata orang lain, masalah ini adalah sepele, tetapi bagi Acie, ini adalah masalah penting karena berhubungan pada sikapnya dalam kehidupan.

”Sesuai dengan yang kau bilang . . .” Claire merespon. Ia menggenggam tangan Acie yang dingin karena es krim, menghangatkannya. “Aku adalah orang yang bergembira hanya dengan melihat orang lain gembira. Entahlah, aku sejak kecil justru tidak tahu cara untuk mengungkapkan kegembiraanku. Mungkin hanya dengan tersenyum, aku bisa mengungkapkan kegembiraan pada orang lain. Tapi aku tidak mempermasalahkannya.”

“Claire ?”

“Bagiku, aku senang melihatmu seperti sekarang. Penuh semangat dan selalu ceria. Inilah caramu dalam mengungkapkan kegembiraan. Jadi biarkanlah seperti itu dan jangan berubah. Karena inilah dirimu yang sebenarnya.”

Suasana hening sejenak. Acie terdiam mendengar kata – kata dari Claire. Ia tak menyangka hatinya akan tersentuh mendengar pernyataan sederhana mengenai dirinya dari seorang sahabat yang ia sayangi. Matanya sedikit berkaca – kaca.

”Claire, terima kasih. Kau memang sahabatku yang baik” ucapnya sambil sedikit terisak.

”Ah, tidak apa – apa. Terima kasih kembali.” Claire menjawab sambil tersenyum.

Mereka kembali bersantai melihat pemandangan festival malam ini.

”Kamu tahu nggak ? Nanti malam, jam 22.00 akan ada acara spesial di dalam gedung olah raga.” ujar Acie memecah suasana.

”Oh ya ? Acara apa itu ?”

”Pokoknya ada deh. Acara khusus yang hanya diikuti oleh undangan. Acaranya romantis banget. Kamu pasti suka. Karena itu, kita jangan buru – buru pulang.”

”Kalau aku sih tidak masalah. Aku sudah memberi tahu orang tuaku di rumah. Masalahnya, apa kita bisa ikut ? Itukan hanya untuk undangan ?”

”Tentu saja bisa.” ujar Acie tersenyum. ”Panitianya kenalanku. Dia sudah memberikan izin pada kita.”

”Wah, baguslah. Kita tinggal menunggu.”

Mereka pun semakin menikmati suasana festival hingga malam semakin larut dan beberapa pengunjung mulai meninggalkan festival. Suasana semakin lama semakin sepi.
***

Sementara itu, tidak jauh dari festival.

Michelle terus melompat dari satu atap ke atap yang lain. Dari satu pucuk tiang ke tiang yang lain. Tanpa menghiraukan angin yang menerpa tubuhnya, ia bergerak mengikuti jejak aura yang ia rasakan dengan inderanya yang tajam. Rambutnya yang pirang berkibar bagai kain emas yang melayang di udara. Ia bergerak dengan sangat cepat bagai bayangan yang menyelinap di antara kegelapan malam. Di punggungnya, tergantung sebuah benda berbentuk palang besar yang terbungkus kain mantel.

Sesekali ia berhenti untuk beristirahat sejenak atau melacak kembali jejak aura yang hilang. Hal ini karena ia hanya bisa merasakan aura tersebut dan hanya memperkirakan dari mana ia bersumber. Kalau ini terjadi, ia harus kembali ke tempat terakhir ia merasakannya, kemudian mengindera aura di sekitarnya. Menurutnya hal ini membuang waktunya. Lain halnya dengan Michelle, Harfi mampu melihat jejak tersebut. Seandainya ia mendampinginya, pemuda itu bisa menuntunnya lebih cepat. Namun, kenyataannya ia hanya seorang pengecut yang tak bisa lepas dari masa lalu. Kalau sudah begini, dia ikutpun hanya menjadi beban yang menghalanginya.

Bulu kuduk Michelle semakin menegang. Aura yang ia rasakan semakin kuat. Gadis itu mempercepat langkahnya. Ia semakin dekat dengan sasaran.
***

Di tempat yang berbeda, Harfi berbaring di atas tempat tidurnya. Ia memejamkan matanya, berusaha untuk terlelap tapi tak kunjung datang, tidak terkantuk sekalipun. Kelopak matanya terbuka kembali.

Ia bangkit dari berbaring. Duduk menekuk kaki, membenamkan sebagian wajahnya di antara kedua lutut. Ada banyak hal – hal yang memenuhi pikirannya dan ini membuatnya bimbang dan gelisah. Harfi memaksakan diri untuk menghapus semua hal itu dari pikirannya tetapi hal itu juga tetap tak berhasil. Semua ingatan itu tetap kembali saat pikirannya kosong.

Pemuda itu menatap sebuah boneka yang bersandar di sudut meja belajarnya. Boneka yang merepresentasikan sosok Michelle. Boneka itu memanggil kembali ingatannya tentang sosok gadis misterius yang ditemuinya dalam beberapa hari terakhir ini. Saat pertama kali bertemu, saat menolongnya ketika diserang oleh makhluk mengerikan, saat dirinya lemah ketika terluka, dan wajahnya yang manis saat ia tertidur. Entah kenapa hatinya seakan terpaut oleh sosoknya. Suatu perasaan baru yang membuatnya untuk selalu khawatir padanya dan selalu ingin berada di dekatnya. Perasaan yang disebut dengan ”cinta”.
***

Malam semakin larut. Bulan purnama pucat menampakkan diri secara utuh di langit. Tidak ada lagi pengunjung yang datang kecuali angin yang dingin. Dua panitia penjaga keamanan gerbang depan festival berpakaian ksatria mulai menutup pintu masuk. Walaupun tak ada lagi pengunjung yang datang, mereka masih harus bertugas karena acara belum selesai.

Salah satu dari mereka telah habis waktu jaga. Ia masuk ke dalam untuk memanggil rekannya untuk menggantikan dirinya. Untuk sementara seorang penjaga harus bertugas sendirian di gerbang depan.
“Srrkk. . .sektor tujuh, segalanya masih under control , gitu. Ganti . . .srrkk”

Dari walkie talkie terdengar suara kasak kusuk panitia di gelombang yang sama melaporkan status situasi di suatu tempat diselingi suara berderak pada awal dan akhir pembicaraan. Selama belum ada hal yang harus dilaporkan penjaga itu membiarkan saja alat komunikasi itu tanpa merespon.

Beberapa menit telah berlalu, penjaga shift baru belum juga datang. Penjaga yang sedang sendirian itu mulai resah.

“Cih, pada ngapain sih mereka ? Kok belum pada datang ?” demikian ia bergumam kesal.

Sreekk . . .

Terdengar suara dari arah semak – semak di dekat pohon, mengejutkan penjaga tersebut.

“Siapa itu !?” demikian ia berteriak tetapi tak ada satupun yang menjawab.

Petugas itu curiga. Perlahan ia mendekati sumber suara. Dengan menghunus pentungan logam, iapun menyingkap semak belukar itu, memberi serangan kejutan. Tapi ia tak menemukan apapun di sana.

Grr. . .srrtt. . krieee. . .

Tiba – tiba bulu kuduknya menegang. Ia merasakan perasaan yang amat tidak enak. Dari atas kepalanya, terdengar suara aneh seperti suara dengkuran binatang. Dengan perlahan dan gemetaran, ia mendongakkan kepalanya ke atas.

”HUAA. . .” Grrbb

Ia melihat sosok mahkluk mengerikan dengan mata yang merah membara tertatap padanya. Penjaga itu terkejut bukan main sehingga ia ingin berteriak sekerasnya. Namun sebuah tangan besar meluncur, mencengkram wajahnya dan membekap mulutnya sebelum ia sempat berteriak.

Penjaga itu meronta – ronta, berusaha sekuat tenaga melepaskan cengkeramannya tetapi makhluk itu terlalu kuat untuk dilepaskan bahkan dengan kedua tangan. Malah semakin lama, cengkeramannya semakin kuat hingga kukunya mulai menembus pipi si penjaga. Ia pun meronta kesakitan, tapi makhluk itu tidak juga melemahkannya. Ia menarik si penjaga ke atas pohon dan tak lama kemudian, darah segar mengucur deras dari dahan pohon disertai dengan gumpalan – gumpalan pucat otak manusia. Makhluk itu meremukkan kepalanya.

Tak lama kemudian, seorang penjaga baru keluar dari dalam. Ia terkejut melihat tak ada satupun yang menjaga. Ia heran ke mana perginya penjaga yang lama dan tak membawa walkie talkie. Baginya sungguh merepotkan jika harus mencari petugas tersebut.

Tiba – tiba ia mendengar suara berisik dari suatu tempat di sekitar. Suara itu seperti suara binatang yang pesta makan sampah. Sebenarnya ia tak ingin mempedulikannya, tapi semakin lama suara itu membuatnya risih. Iapun beranjak menuju sumber suara tersebut untuk mengusir binatang itu.

Jantungnya serasa berhenti ketika ia menemukan sebuah makhluk bersayap sedang jongkok membelakanginya. Namun penjaga ini masih dapat mengendalikan kepanikan. Ia mengira mahkluk itu adalah pengunjung yang menggunakan kostum monster. Maka iapun menegurnya.

“Kau siapa ? Sedang apa di sini ?”

Makhluk itu berhenti bersuara. Perlahan ia berbalik menatap penjaga itu sambil menggeram. Penjaga itu mulanya kaget melihat wajahnya yang menyeramkan, namun rasa kaget itu berubah menjadi ketakutan saat ia melihat sesosok mayat manusia terbaring kaku dengan isi perut yang berantakan dan kepala yang hancur, dan ia mengenalnya sebagai rekan kerjanya sesama penjaga gerbang.

”Ahh ! Apa ini !?”

Ia berteriak histeris seraya tersungkur ke belakang. Makhluk itu berdiri, memperlihatkan tubuhnya yang besar berwarna abu – abu gelap dan sayap yang lebar. Penjaga itu meringsut mundur. Ketika teringat akan walkie talkie, ia segera berlari menuju ke gerbang.

Zreebbb

Tiba – tiba langkahnya terhenti. Ia merasakan sesuatu yang hangat di perutnya. Perlahan ia melihat ke bawah dan menemukan sesuatu seperti sebuah tangan yang menusuk perut. Matanya kemudian menyusuri dari mana tangan itu bersumber dan mendapati seekor mahkluk yang sama berada di depannya dan menjadi pemilik tangan tersebut.

Penjaga itu ingin berteriak sekerasnya tetapi tak satupun suara yang keluar. Makhluk itu menarik tangan dari dalam perutnya. Rasa hangat itu berubah menjadi panas seiring tangan itu tercabut. Seketika, usus dan isi perut si penjaga terburai keluar. Orang yang malang itu ambruk, merasakan sakit yang amat sangat dan memanggil ibunya.

Makhluk itu tidak puas. Kedua tangannya mencengkram kedua rahang si penjaga lalu menariknya ke arah yang berlawanan, merobek kulit pipi, otot, serta mematahkan engsel rahang hingga terlepas dari tengkorak. Tak terbayangkan rasa sakit yang diterima si penjaga saat mahkluk itu mencabik – cabik tubuhnya dalam keadaan hidup.

Bersambung.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer miss worm
miss worm at The Altered Blood (Frame 19) (15 years 3 days ago)
80

brutalisme di bagian ujung uhuuu diriku serem ... lama yak Q, ini ngga muncul. kangen

Writer KD
KD at The Altered Blood (Frame 19) (15 years 4 days ago)
100

tatuuuttt

Writer nirozero
nirozero at The Altered Blood (Frame 19) (15 years 4 days ago)
90

VQ! keren banget dah! Deskripsi brutalismenya memang top!

Lanjutiiinnn!!
Heran deh! Sekarang jadi fansnya VQ!

n_n

Writer adrian.achyar
adrian.achyar at The Altered Blood (Frame 19) (15 years 1 week ago)
90

VQ! This is good! Deskripsinya oke. Ceritanya tambah menarik. Top dah!

Btw, aku juga masih belum bisa menyeimbangkan antara terlalu deskriptif dan kurang deskriptif. Maaf ya kalo ada kata2 yang menyinggung. Kita belajar bareng2 ya, bro ^^

Guys, please read my poems & stories at K.com ^_^

Writer Littleayas
Littleayas at The Altered Blood (Frame 19) (15 years 1 week ago)
90

nahan napas..saking tegangnya..
oia vq...sedit ralat..mungkin kalimat claire makan es krim 'berasa' coklat bisa diganti dgn es krim 'rasa' coklat..^^

ditunggu lanjutannya

Writer -aDJIe-
-aDJIe- at The Altered Blood (Frame 19) (15 years 1 week ago)
100

k
e
e
p

w
r
i
t
i
n
g

Writer Villam
Villam at The Altered Blood (Frame 19) (15 years 1 week ago)
90

bagus vq,
saya menikmati juga kok membacanya.
usul saya, mungkin bisa ditambahin sedikit kejutan di akhir scene claire dan acie.
lanjutin teruuus...

Writer hikikomori-vq
hikikomori-vq at The Altered Blood (Frame 19) (15 years 1 week ago)

Menikmati menulis ini lagi.