Merah Di Ujung Meranti ( 4 )

Kuda coklat itu pun melesat meninggalkan desa pemberontak bersama dengan teriakkan Adisti yang membelah kesunyian pagi.

"Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...!"

Kuda coklat itu terus melaju menjauhi desa Ranggali, sebut saja begitu. Adisti masih berteriak ketakutan dan membuat hutan Ranggali pagi itu ramai karena burung-burung ikut berteriak keluar dari sarangnya.
Setiaji pun bangun dari tidurnya karena tidak biasanya hutan Ranggali begitu berisik di pagi hari. Setiaji keluar dari biliknya dan di lihat kuda kesayangannya sudah tidak ada di depan biliknya. Secepat kilat Setiaji pergi ke bilik Adisti. Bukan main terkejut Adisti sudah tidak ada lagi di biliknya.
“Pasti gadis itu melarikan diri”, gumam Setiaji.

Para penghuni desa lainnya pun ikut keluar dari biliknya.
Seorang pemuda sebaya dengan Setiaji datang menghampirinya.

“Ada apa, Ji? Ada yang tidak beres? Mengapa semua penghuni hutan Ranggali keluar dari sarangnya? Tidak seperti biasanya”, kata Ranusakti kepada sahabatnya Setiaji.

“Aku pinjam kudamu sebentar. Aku tahu siapa yang membuat kekacuan pagi ini”, jawab Setiaji.

Ranusakti bersiul panjang tiba-tiba dari rerimbunan pepohonan datang seekor kuda coklat dengan warna putih di sepanjang tengkuknya. Kuda itu berhenti di depan Ranusakti dan ia mempersilahkan Setiaji menaiki kudanya. Dengan sigap Setiaji menaikki kuda Ranusakti dan kemudian melesat meninggalkan tempat persembunyiannya mencoba mengejar Adisti.

Gadis itu memang keterlaluan, dia tidak tahu daerah ini pikir Setiaji. Ada rasa takut yang mendera hati Setiaji. Pokoknya harus kutemukan gadis itu gumam Setiaji.

Setiaji terus membelah hutan Ranggali mencari ke setiap pelosok hutan sudah setengah hari mencari tapi Adisti tidak juga kelihatan batang hidungnya. Setiaji berhenti di sekitar daerah Karang Geni, begitu setiaji menamakan daerah itu. Disebut Karang Geni karena tidak ada pepohonan yang tumbuh disana, aneh bukan di dalam hutan selebat Ranggali ternyata ada daerah yang gersang dan yang ada hanya bebatuan mirip batu karang.

“Tak mungkin gadis itu kesana karena Soca tidak akan mau kesana. Aku kembali saja dulu”, kata Setiaji menghela si coklat untuk kembali ke tempat persembunyiannya.

Setiaji terus melaju hingga ia melihat Soca kuda kesayangannya berada tidak jauh di depannya. Setiaji bersiul panjang, tiba-tiba kuda itu berbalik ke arah Setiaji. Setiaji kaget bukan main, kudanya datang sendiri tanpa gadis itu.

“Soca, tunjukkan dimana gadis itu. Pergi aku mengikutimu”, perintah Setiaji kepada kuda kesayangannya. Kuda itu seakan tahu perintah majikkannya ia pergi ke arah selatan. Setiaji memutar kudanya dan mengikuti Soca.
Setiaji mempercepat laju kudanya mengejar Soca yang melaju sangat cepat. Hingga Soca berhenti di tepi sungai, secepat kilat Setiaji menghentikan laju si coklat. Setiaji lompat dan segera berlari menuju ke pinggir sungai dimana ia melihat tubuh gadis itu tergeletak pingsan.

Setiaji mendekati Adisti yang pingsan dan terlihat keningnya berdarah.
Sepertinya ia terjatuh dari punggung Soca, gumam Setiaji. Dengan berhati-hati diangkatnya tubuh Adisti dan dinaikkan ke punggung Soca, kemudian Setiaji naik dan menyandarkan Adisti di dadanya. Setiaji kembali menuju ke tempat persembunyiannya.

Arum dan Ranusakti menunggu kedatangan Setiaji dengan cemas.

“Rum, aku akan menyusul mencari Setiaji. Kamu tunggu disini ya. Aku takut kalau terjadi apa-apa dengan mereka berdua. A..”

“Liat…! Bukankah itu kudamu Randu? Dan lihat dibelakangnya itu Setiaji!” kata Arum dengan senyum bahagianya.

“Iya itu mereka. Trimakasih gusti, mereka berdua baik-baik saja”, sahut Ranusakti.

Randu berhenti di depan Ranusakti kemudian Setiaji berhenti di sebelahnya. Ranusakti segera menghampiri Setiaji membantunya menurukan Adisti yang sedang pingsan. Ranusakti menggendong Adisti dan dibawa masuk kedalam biliknya.

“Arum, tolong bersihkan lukanya”, perintah Setiaji kepada Arum.

“Inggih” jawab Arum langsung pergi mengikuti Ranusakti yang sudah duluan membawa Adisti ke biliknya.

Sementara itu pasukan Patih Maseha Abang sedang melakukan penyisiran di daerah Meranti dan sekitarnya. Semua pasukan di kerahkan, Ki Mahesa Abang membagi pasukan penyisir menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama menyisir bagian selatan Meranti hingga ke Karang Gempol. Kelompok kedua akan menyisir daerah timur Meranti sampai ke Sela Dhuwur, daerah bukit kapur. Kelompok ketiga akan menyisir daerah utara Meranti sampai ke Alas Ranggali.

Patih Mahesa Abang memimpin kelompok ketiga yang menyisir utara Meranti hingga ke Alas Ranggali.
“Ki, di depan sudah alas Ranggali. Kita masuk atau tidak?” tanya salah seorang anak buahnya.

“Kita harus masuk karena Alas Ranggali adalah tempat yang tepat untuk para pemberontak bersembunyi. Sudah lama aku tidak memasukinya. Ayo terus maju”, kata Ki Patih kepada 8 orang anak buahnya.

Mereka terus mendekati hutan Ranggali, Ki Patih begitu gagah dan berani tapi tidak begitu anak buahnya. Ada rasa takut yang menyelimuti hati anak buah Ki Patih, mereka begitu mempercayai berita-berita yang beredar seputar hutan Ranggali. Mereka saling berpandangan satu sama lain dan saling berkomunikasi dengan bahsaa tubuh mereka karena mereka tidak ingin diketahui Ki Patih kalau mereka sebenarnya takut. Anak buahnya Ki Patih berjalan perlahan-lahan seakan enggan melangkah memasuki hutan Ranggali.

Ki Patih yang berada di depan berhenti dan menengok ke belakang. Dipandanginya satu persatu anak buahnya.

“Kepiye dadine nek para parjurit akeh wedine? Ayo, gek ndang mlaku kaya prawan pingitan, ngisin-ngisinke wae. Cepatan..!” kata Ki Patih kepada anak buahnya.

Anak buahnya dengan terpaksa mempercepat laju kuda mereka mendekati Ki Patih Mahesa Aban yang sedang memandang mereka dengan wajah garangnya.
Patih Mahesa membiarkan anak buahnya maju lebih dahulu sedangkan ia mengikutinya.

“Tobat..tobat… dhuwe bawahan ora wani mlebu alas. Gek kepiye iki, sabar.. sabar..” gumam Ki Patih Mahesa Abang melihat tingkah bawahannya.

Akhirnya dengan paksaaan mereka memasuki hutan Ranggali yang pekat. Para prajurit terus waspada memperhatikan sekeliling hutan dan dengan pedangnya mereka membabat pepohan yang begitu rapat. Hening, sunyi sepertinya para binatang enggan bernyanyi dan tidak ada yang berkeliaran. Biarpun matahari sudaha meninggi tetap saja sinarnya tidak bisa menembus kepekatan hutan Ranggali.

“Ki, sepertinya tidak mungkin para pemberontak itu tinggal disini”, kata seorang bawahannya dengan mimik ketakutan.

“Ki, bagaimana kalau kita tersesat?” tanya prajurit yang satunya lagi.

“Kalau tersesat ya tersesat saja namanya juga tersesat kita terus jelajahi saja hutan ini”, jawab Ki Patih sekenanya.

Mendengar jawaban Ki Patih ke delapan anak buahnya tertunduk lemas. Ki Patih geleng-geleng kepala melihat kelakuan minus para prajuritnya yang ternyata penakut. Kok isa ndhuwe anak buah wedi kabeh kata Ki Patih dalam hati sambil mengelus dadanya. Mereka meneruskan menyisir hutan Ranggali hingga ke dalam.

Di bilik tempat Adisti di rawat, Arum sedang membersihkan luka di kening Adisti. Setiaji dan Ranusakti memperhatikan Adisti yang pingsan. Ranusakti mengajak Setiaji keluar.

“Bagaimana gadis itu bisa menaiki Soca. Biasanya Soca tidak suka dinaiki oleh orang lain. Aku heran?” tanya Ranusakti kepada Setiaji.

“Jangankan kamu, aku dhewe ya gumun. Kok bisa Soca tidak berisik dan mau dinaiki oleh orang asing”, jawab Setiaji memandang ke jauh ke depan.

“Sak jane, mau bengi Soca dipakani apa ta?”

Setiaji menoleh ke arah Ranusakti dan tersenyum,”Mau bengi tak pakani sayur lodeh karo iwak asin”.

“Kepenak sing dadi jaran timbang aku”, kata Ranusakti tertawa dan Setiaji ikut juga tertawa.

Tiba-tiba terdengar bunyi siulan seperti burung yang terluka, Ranusakti dan Setiaji berpandangan kemudian bergegas mengumpulkan anak buahnya. Ranusakti bersiul panjang dan semua anak buahnya bergegas keluar dari bilik mereka dan berkumpul di depan bilik Setiaji. Semua yang berkempul saling berpandangan dan menunggu pengumuman dari Setiaji.

“Sepertinya kita akan kedatangan tamu tak di undang. Kita tunggu berita dari Harjo. Kalian semua siap-siap. Semoga Harjo dan anak buahnya dapat mengalihkan para tamu tak diundang itu ketempat lain. Bubar!” kata Setiaji kepada anak buahnya.

Seluruh anak buahnya bubar dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan yang paling buruk. Setiaji dan Ranusakti masuk ke dalam bilik mereka dan bersiap-siap. Setiaji membawa keris dan tombak kesayangannya. Tombak pemberian orang tuanya yang telah tiada. Dikeluarkan dari balik bajunya sebuah kalung dengan liontin bergambar naga, digenggamnya liontin itu.

“Ibu dan bapak, Setiaji mohon doa restunya. Gusti yang Maha Kuasa lindungilah hamba-Mu ini. Semoga perjuangan ini tidak sia-sia,” kata Setiaji dan kemudian dimasukkan lagi kalung itu kedalam bajunya.

Dengan gagah Setiaji keluar dan bersamaan dengan Ranusakti yang juga keluar dari biliknya. Ranusakti bersiul panjang dan seluruh anggotanya berhamburan menuju ketempat Setiaji.

“Kalian sudah siap semua?” tanya Setiaji.

“Inggih..!” jawab anak buahnya dengan kompak.

“Sebentar lagi malam akan datang dan itu akan menjadi keuntungan bagi kita karena kita yang mengetahui daerah hutan ini dengan baik. Kita akan mengawasi mereka dahulu dan saya minta jangan ada yang bergerak sebelum saya perintahkan. Arum dan para wanita akan berjaga-jaga disini dibantu oleh beberapa orang laki-laki. Sisanya kalian menyebar dari Waringin Dampit, Banyurandu hingga ke sungai Kambang”.

Setelah dibagi tugas anak buah Setiaji menyebar sesuai dengan perintah. Semua bergerak dengan membawa busur dan anak panah. Setiaji ke Banyurandu dan Ranusakti ke Waringin Dampit. Arum dan beberapa wanita berjaga-jaga di tempat persembunyian mereka dibantu 5 orang laki-laki.

Sementara itu Ki Patih dan kedelapan anak buahnya terus menyusuri hutan Ranggali. Tanpa mereka sadari Harjo dan beberapa kawannya mengintai dari atas pohon memperhatikan gerak-gerik mereka.

“Ki, hari akan gelap sebentar lagi. Lebih baik kita kembali dulu dan esok kita kembali lagi”, kata salah seorang ank buahnya yang berperawakkan kurus dan disetujui oleh ketujuh temannya.

Ki Patih meletakkan jari telujuk di bibirnya dan mendongakkan wajahnya ke atas pohon-pohon besar disekitarnya, memandang kesekeliling dengan cermat. Matanya menyipit memandang ke atas. Kedelapan anak buahnya bersiap-siap dan waspada. Harjo dan kawan-kawannya bersembunyi dan berusaha tidak banyak bergerak karena ternyata Ki Patih dapat merasakan kehadiran orang lain selain dirinya.

Hening, sunyi dan malam akan begitu cepat di dalam hutan Ranggali. Ki Patih harus segera memutuskan dengan cepat ingin melanjutkan perjalanan atau keluar dari Alas Ranggali dan kembali esok hari.

Read previous post:  
43
points
(1322 words) posted by arien arda 14 years 12 weeks ago
86
Tags: Cerita | lain - lain | fiksi | rienstory
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer arien arda
arien arda at Merah Di Ujung Meranti ( 4 ) (14 years 9 weeks ago)
80

thanx for the comment...
entah kenapa Rien suka yang klasik2 indonesia..
hehehehehhe...

thanx
keep writing

Writer mr.jay
mr.jay at Merah Di Ujung Meranti ( 4 ) (14 years 9 weeks ago)
80

Bagus lho. Bertema peperangan klasik nih. Wah, apa tema ini lagi trend yaa? hehehhehehe..

Writer timbuktu
timbuktu at Merah Di Ujung Meranti ( 4 ) (14 years 9 weeks ago)
80

keren^^

Writer bl09on
bl09on at Merah Di Ujung Meranti ( 4 ) (14 years 9 weeks ago)
80

kudanya gagah lari2 mulu gak capek apa ya? eh iya kudanya ada peran pengganti gak...(hehe duduls mode on) keren Rien...

Writer sefry_chairil
sefry_chairil at Merah Di Ujung Meranti ( 4 ) (14 years 9 weeks ago)
80

it's nice..
aku suka..

Writer julia robert
julia robert at Merah Di Ujung Meranti ( 4 ) (14 years 10 weeks ago)
50

monitornya bikin pusing....
tapi kayaknya cerita silat ya?
mantap!! terus nulis ya!!
salam kenal!!

julia nih!!