Lukisan Terasing

Aku bermimpi..

Kita ada di sebuah pantai, pemandangan bukan seperti lukisan atau potret di kalender, kita disebuah pantai yang tak bernama, dan kita tidak berdua, ada beberapa pecinta kasmaran lainnya yang sedang menikmati suara laut saat itu. Waktu itu bukan saat matahari merubah birunya laut menjadi emas dan mutiara-mutiara yang digerus ombak, namun saat purnama berpijar langit, bahkan awan pun enggan menutupinya.

Kamu mengenakan jaket hangatku dan aku mendekap panas tubuhmu. Kamu duduk dipangkuanku dan aku memelukmu, sembari aku mencuri aroma tubuhmu di setiap nafasku, kemudian dengan penuh percaya aku menumpukan telapak tanganku di punggung tapak tanganmu, menyelundupkan jari-jariku diantara jemarimu, dan aku memasrahkannya didepan tubuhmu. Aku dan kamu sedang diselubungi cinta. Seandainya ada bintang di tiap diri kita, diantara semua pecinta yang kasmaran, pasti kita berpijar paling terang.

Aku merapatkan telinga dan wajahku dipunggungmu, aku mendengar detak jantungmu memompa kehidupan penjuru tubuhmu, detak jantungmu terasa jelas di wajahku, aku menutup mataku.. mendengar nafasmu, mendengar suaramu tubuhmu dan mencuri cium wanginya. Baru sekarang dalam gelap karena menutup mataku, aku membenarkan para pecinta kasmaran terdahulu, yang ingin menjadi udara untuk para kekasihnya. Kau tau, udara menyetubuhi tubuh lebih lama dan detil, dan ia menyerahkan dirinya untuk terbakar menjadi abu hanya untuk memberikan setitik energi yang menggerakkan tubuh. Devotion - sacrifice - statisfaction.

Tubuhmu bergerak, aku membuka mataku dan memberikan ruang serta jarak agar kamu bebas, kamu berdiri dari pangkuanku, menoleh dan berkata, tepatnya bertanya,

dingin ?, katamu sambil mengangguk bertanya.

Aku terdiam, enggan menjawab pertanyaannya, aku melihat bulan tepat ada disebelah kirimu, ini indah, batinku.

dikit, tapi gpp kok.., sahutku dan menggeleng kecil sekali, tapi aku yakin gerakanku tertangkap kerang hitam yang polos menatapku , lembut,
penuh afeksi, dan teduh.. aku sadar dan tertawa kecil dalam hatiku, bahkan mungkin aku sedang menatapmu sama.

Aku merokok yah.., kataku sambil merogoh saku bajuku.

Jangan.., katamu lirih.

ha ? , aku tercengang, baru kali ini kamu melarangku merokok. Tapi aku tak bertanya, dan aku pun membatalkan keinginanku.

Aku menepuk bangku disebelah kananku, memberi isyarat dan kamu pun duduk disebelahku, aku mengelus lengan kananmu dengan tanganku, kamu menemukan tempat yang pas, tepat menyela dan mengisi dada kananku, kamu mengangkat kakimu dan meringkuk, mempercayakana seluruh berat badanmu ke tubuhku, kamu memakai kaus kaki warna dominan merah senja, warna biru laut menutup mulai tumit sampai keatas, tampaknya warna biru laut itu hanya menutup sebelah belakang kedua kakimu.

kaus kaki yang aneh.., kataku singkat.

kamu hanya menghe-eh, dan mengangguk, sama sekali tak berkomentar.

kamu ngga papa ? kenapa ? , tanyaku sambil mengusap lembut lengannya yang tepat ada di telapak tangan kananku. Biasanya kita selalu mendebatkan hal-hal kecil untuk mengisi waktu, tapi kamu hanya diam aja, aku pun khawatir.

gpp.., dan jawabanmu terdengar seperti malas.

hening, suara laut menderu membuat busa di pantai, angin laut tenang. Aku merasa sesuatu sedang terjadi, kamu entah kenapa menjadi diam.

aku sayang kamu.., suaraku memecah sepi.

suara laut, serangga yang entah ada dimana.

aku juga.., jawabmu.

suara laut menderu membuat busa di pantai, angin laut tenang, gesekan-gesekan daun kelapa, suara serangga yang entah dimana. Pelukanku semakin erat, tangamu yang melingkar juga, Kita hening dan entah kemana pikiran mengembara, entah ke jurang penyesalan yang bisa menjatuhkan seseorang jauh kedalamnya atau ke pegunungan harapan yang membawa seseorang serasa bisa menyentuh langit dengan jangkauan tangannya, mungkin sedikit berjinjit.

kamu tau…, kataku sambil menggantungkannya di udara, menunggu..

ga.., jawabmu singkat.

dan kita tergelak kecil bersama.

bulan dan bumi sejak dahulu saling mencintai. Tapi mereka ga pernah bisa meleburkan diri menjadi satu, hanya jiwanya yang menjadi satu. Bulan, sesosok sempurna yang elok, rupawan, centil, kadang kekanakan, sederhana namun menyenangkan. Bumi, bukan elok dan bukan rupawan, hanya sederhana dan menatap bulan menjadi hobinya. Malam ini, bulan sedang berdandan elok dan menunjukkan citranya yang paling indah, coba liat.., kataku sambil menunjuk ke langit, indah kan ? bumi saja sampai birahi dibuatnya, laut sampai pasang tiap purnama, menggelegak melihat kecantikan purnama.. ya.. bumi birahi setiap purnama, keanggunan yang dibungkus tipis awan.

Tapi bumi dan bulan tak bisa bersatu, jika mereka bersatu maka bumi dan bulan akan hancur, lantak, lenyap. Sedang mereka masih terikat tugas, tugas yang mutlak dari sang Maha-Maha. Selama itu pula mereka akan terus saling rindu.

Sejenak pelukan tanganmu bertambah erat, mungkin kamu waktu itu merasa gemas.

Kamu inget ga pas ada gerhana ? entah itu gerhana matahari ato gerhana bulan. Aku merasakan anggukan kecilmu.

Saat itu bumi dan bulan saling melepas rindu, meski hanya lewat bayangan saja, mereka saling menyentuh. Saat gerhana matahari bayang-bayang bulan menyentuh bumi dan sebaliknya saat gerhana bulan, maka bayang-bayang bumi menggerayangi bulan dengan leluasa. Bumi dan bulan menyanjung terima kasih pada Ra-Herakhty sang dewa matahari dan sang Maha-Maha yang mencipta.

aku terdiam setelah selesai bercerita.

suara laut menderu dan terus membuat busa di pantai, angin laut tenang, gesekan daun-daun kelapa, suara serangga yang entah dimana. Kita hening dan entah kemana perginya kata-kata cerita karanganku saat itu.. cerita itu, sebentar dadaku terasa sesak mengingatmu dan aku. Aku menelannya bulat-bulat semua rasa itu. pahit..

bumi.. kami disni masih berpelukan dan kamu hanya bisa menatap kekasihmu dengan penuh birahi.

luna..?, panggilku pelan, setengah berbisik.

bumi.. , jawabmu pelan dan sangat malas, mungkin saat itu kamu sudah jauh berkelana ke liarnya pikiran, yang tercerat dimanapun pandangan menuju,telinga menguping, dan mulut berucap. Atau mungkin kamu sedang berada dimana sebelum datangnya waktu dan sebelum hadirnya ruang..

ngga.., lanjutku lagi, lalu aku mengusap rambutmu, cuping telingamu dan pipimu. Lagi aku mengelus rambutmu. dan lagi..

Wajahmu terangkat, aku menatapmu dalam-dalam semua momen terasa bergerak lambat, suara deburan ombak tak terdengar lagi, angin menahan nafasnya, daun kelapa saling menutup dan mengintip di sela-sela mereka, serangga-serangga berhenti menggesekkan sayap-sayapnya, semua terpaku menatap kita.

Tuhan pasti sedang gembira sekali saat merancang ini,

Aku dan kamu berhadapan.. hanya berjarak sepuluh koma sekian senti saja.

Kesenyapan yang datang mendadak padaku ini membuat aku bisa mendengar detakku sendiri.

Momen berhenti

Semua hukum fisika ditentang..

Molekul udara disekitar berhenti tanpa bergerak..

Semua menunggu..

Aku mati rasa……

Dua koma sekian liter udara aku hisap untuk menggerakkan moleku-molekul disekitarku.

Dua koma sekian liter itu cukup untuk membuat aku menggerakkan tubuhku dan mandekatkan wajahku ke wajahmu, mataku dan mata indahmu, namun tak sampai dua koma sepersekian detik kemudian mata indah itu menutup dengan penuh percaya dan kepastian.

Hanya Dua bibir..

Hanya dua orang..

Hanya satu momen, dan dua lidah yang belajar.

Nafasmu yang hangat terasa menghembus menambah panas yang entah siapa yang mengawali atau mungkin kita, mencecap setiap lekuk dan tekstur bibir yang sejak dulu hanya kusentuh dengan mata.

Aku tak tahu aku sedang bernafas atau tidak, aku sadar aku bernafas saat aku menghembuskannya.

Seluruh inderaku kebas..

Dadaku sesak.. otakku padat, pikiranku liar..

Dua koma sekian menit kita berbicara, dengan bahasa yang tak sulit untuk dimengerti oleh semua makhluk, dua koma sekian menit kamu menjelajah dan setiap lekuk yang kubuat dengan lidahku yang menari-nari di ruang yang semakin terdesak, dan aku menjelajahmu, jari-jari tangan kananku bersilangan dengan pinggangmu, tangan kiriku liar menelusuri pipi, rambut, cuping telingamu dan dagumu yang lentik.

entah kemudian kapan tepatnya, aku transendensi, genggamanmu mengendur, tubuhmu berbicara bahwa hausnya telah basah tersiram, pelan-pelan, sungguh detik-detik yang menyiksa saat aku melepas bibir itu, mutiara hitam itu perlahan membuka cangkangnya, mutiara itu basah, mutiara itu menangis.

Seluruh inderaku kembali, suara laut pelan dan pasti mulai menderu dan kembali membuat busa di pantai, angin laut membelai pelan, daun-daun kelapa mulai bergandengan lagi dan saling bercerita dengan angin, para serangga bersorak-sorak dan kembali menggasak sayapnya sendiri.

Tanpa berbicara aku mengerti lukanya.. aku mengecup dahimu untuk menringankan sedikit luka itu tapi berharap semoga itu menyembuhkanmu.. aku juga terluka.

Semua kembali seperti sedia kala, kamu kembali menemukan tempat menyandarkan kepala di dada kananku, aku kembali menelusuri rambutmu, lalu mencium rambutmu dan kembali menelusurinya.. pelan..

kita terdiam, sebuah frame lukisan hitam-putih, dan kita adalah warna terasing.. ya.. kita benar-benar terasing.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Dikna Da Masta
Dikna Da Masta at Lukisan Terasing (12 years 42 weeks ago)
90

You got them All Brutha .... !!!! I'll never regret to spend lots of my time juz 2 read yours. That's what I called as Da' Spartacus !!!!

Writer panah hujan
panah hujan at Lukisan Terasing (12 years 42 weeks ago)
80

JATUH CINTA,
JATUH HATI,
JATUH HARGA DIRI.....
SAYA....
SUMPAH.........
BAGUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUSSSSSSSSSS BANGET!!!
SUER!
NGGAK PERCAYA??
YA UDAH...
POKOKNYA YANG BILANG INI CERITA JELEK,
PASTI GILA...
TAUU NGGAK?? ROMANTIS BANGET...

tapi...
maaf ya, kalau misalnya kamu naruh "di" di depan "keterangan tempat" maka kamu harus memisahkannya..
sedangkan kalau kamu meletakkannya di ddepan "kata kerja" baru si "di" itu bisa kamu sambung..
hehehe...

sumpah, suer, nice banget...

Writer miss worm
miss worm at Lukisan Terasing (12 years 42 weeks ago)
80

... yang sangat kuat. analogi yang menarik.

(tidak membahas teknis pun saya kali ini)

Writer Littleayas
Littleayas at Lukisan Terasing (12 years 42 weeks ago)
70

aku suka kata2 kamu..bagus loh. utk soal teknis yang lain kan uda ngomong..^^

Writer F_Griffin
F_Griffin at Lukisan Terasing (12 years 43 weeks ago)
50

Ini baru cerita. Ada tokoh, ada konflik walaupun tujuannya agak samar karena deskripsi lebih mendominasi.

Masih:
1. Kosakata baik. Tata cara penulisan buruk. Penulisan ulang akan sangat membantu. Kalau malas, Microsoft Word punya fungsi search and replace.

2. dingin ?, katamu sambil mengangguk bertanya.

- Mulai setiap kalimat dengan huruf besar.
- Kalimat tidak langsung menggunakan tanda petik pada awal dan akhir kalimat.
- Setelah tanda seru, tanda tanya dan titik, meskipun diikuti dengan tanda petik, selalu mulai kalimat selanjutnya dengan huruf besar.

SEMANGAT!

Writer irdix
irdix at Lukisan Terasing (12 years 43 weeks ago)

@moesafeer

terima kasih

@Tedjo

*jadi pengen malu* tapi ga bisa nih..

@Villlam

sudah saya coba perbaiki, mungkin ada saran.. mohon bantuannya :)

Writer Villam
Villam at Lukisan Terasing (12 years 43 weeks ago)
90

bagus. bisa terasa dengan baik ceritanya.
cuma satu paragraf yang mungkin agak menganggu plot, yang tentang gerhana matahari. perasaanku aja sih...
salam kenal ya...

Writer Tedjo
Tedjo at Lukisan Terasing (12 years 43 weeks ago)
80

pemilihan kata dan penataan kata yang oke..

Writer moesafeer
moesafeer at Lukisan Terasing (12 years 43 weeks ago)
80

Romantis....