Kirana part 1 (edited)

Bagian 1

Ini dia buku yang kubutuhkan! sorakku dalam hati mendapatkan akhirnya pencarian yang membosankan selama dua jam telah berakhir. Literatur itu tergeletak pasrah di atas rak terakhir perpustakaan ini. Serta-merta aku mengulurkan tangan dengan penuh semangat untuk meraihnya dan tiba-tiba akupun tersentak dan tertegun.

Apakah sampul buku bisa sehalus dan selembut ini?

"Maaf,kau memegang tanganku-" suara pelan itu tiba-tiba terdengar membuatku tersadar. Aku menoleh dan termangu.

Gadis itu mungkin gadis tercantik yang pernah kulihat. Uh,mungkin tidak juga sebenarnya. Tapi entah kenapa dia kelihatan begitu bersinar-sinar di mataku. Semua yang ada dalam wajahnya tampak sempurna. Matanya adalah yang paling menakjubkan dari semuanya, begitu bening dan damai.

"Eh,tanganku-" gadis itu berkata lagi. Kali ini dengan nada jengah. Aku memandang jariku yang masih menggenggam jemarinya di atas buku yang tadi kuinginkah. Aku segera menyadari kekurang ajaranku. Buru-buru kutarik tanganku dengan muka merah padam.

"Ma..maaf."

Gadis itu mencoba tersenyum maklum dan aku seperti melayang. Dia menunjukkan buku yang sama-sama kami butuhkan itu.

"Jadi?" tanyanya lagi. Matanya memandangku dengan penuh harap. Oh, Tuhan! Siapa yang bisa menolak pandangan itu? Aku mencoba tersenyum. Tapi aku nyaris yakin senyumku pasti terlihat seperti cengiran orang tolol tidak berperikemanusiaan. Aku nyaris yakin gadis itu akan meledak tertawa tadi. Tapi dia hanya berdehem pelan dengan anggun. Apakah wanita memang begini anggun?

"Yah,untukmu saja," kataku akhirnya.

"Benar, nih?" tanyanya. "Bagaimana kalau kau datang lagi besok. Kukembalikan, deh," katanya. Ya ampun, dia tidak hanya manis, tapi juga baik hati!

Aku hanya mengangguk-angguk seperti orang dungu. Dia tersenyum dan mengucapkan terima kasih lalu berlalu pergi meninggalkan bayangan yang begitu lekat dalam pikiranku.

Siapa dia?

**********

Aku tergolek di tempat tidurku. Malam belum begitu larut. Seharusnya aku melakukan aktifitas rutinku seperti biasa yaitu belajar hingga larut malam. Tapi sungguh! Kejadian di perpustakaan tadi benar-benar menghilangkan seluruh konsentrasiku. Dia terlalu cantik untuk dilupakan. Kalau saja bisa, rasanya ingin kutendang gambaran tentangnya jauh-jauh dari otaku, meloncat bangun, membuka buku dan kembali belajar gila-gilaan sampai jauh malam. Sayanganya itu tidak mungkin. Bayangan gadis itu menari-nari dengan senyum kemenangan di pikiranku, mengikat dan mematriku dengan kuat di atas tempat tidur, membuatku tergolek tidak berdaya di antara kegalauan-kegalauan yang diciptakanya.

Aku menganggapnya pertemuan yang sangat dahsyat. Aku belum pernah merasakan ini sebelumnya. Apakah pertemuan manusia bisa seperti ini? Apa ini yang disebut "chemistry between us"?

"Selamat malam!" sebuah suara tiba-tiba menyadarkan aku. Aku menoleh tidak berminat. Pintu kamarku terbuka dan seraut wajah tampan muncul sambil tersenyum lebar. "Bay! Kamar kamu sedang mendapat kehormatan untuk dikunjungi orang keren!" cetusnya gembira. Aku menggerutu. Dasar Hell dia! Pintu terbuka makin lebar dan sosok tinggi kurus itu melangkah masuk ke dalam kamarku.

"Hai, Lad!" sapanya dengan nada riang.

Namanya Deni, teman yang paling memuakkan sekaligus paling dekat denganku. Dia punya hubungan erat sama kerajaan Inggris Raya karena ibunya adalah wanita Inggris asli yang jatuh cinta dengan budaya dan suasana Indonesia sejak pertama kali dia menginjakkan kaki di bumi pertiwi ini. Ibunya menikah dengan ayahnya, seorang pengusaha kaya dari Jakarta. Itu sebabnya dia suka menyapa teman-temanyanya dengan sebutan Lad, panggilan khas anak muda Inggris untuk sebayanya. Aku hanya heran kenapa dia tidak disekolahkan di Inggris saja oleh orang tuanya.

Kami sama-sama menempati asrama eksklusif milik universitas yang hanya diperuntukkan bagi para jenius pemilik beasiswa. Satu hal lagi yang aku heran tentang dia. Orang tua Deni punya segalanya. Bahkan mereka bisa membelikan Deni sebuah rumah di kota ini. Tapi entah kenapa Deni justru berhasil masuk universitas ini melalui beasiswa. Apakah memang ada anak yang seberuntung itu, memiliki materi, kecerdasan sekaligus penampilan fisik yang semuanya di atas rata-rata?

Tidak seperti aku yang berkesan serius dan anak kamar (karena aku jarang keluar dari kamarku kalau tidak untuk kepentingan kuliah atau perpustakaan), Deni anak muda yang menyenangkan dan mudah bergaul. Banyak orang yang bilang dia tampan dan menarik. deretan gadis yang mengincarnya dan dikencaninya tidak terhitung lagi jumlahnya. Dia paling suka keluyuran. Tapi itu bukan masalah baginya karena toh dia memiliki segalanya. Hell!! Itu sebabnya pula aku tidak pernah memiliki alasan kuat untuk menentang sikap narsis-nya yang berlebihan.

"Ada urusan apa kau kemari?"

Deni tertawa kecil.

"Jangan sinis begitu, Bay-" Tanganya bergerak menghidupkan radio mencari gelombang yang menyiarkan musik up beat yang menghentak membuatku terlonjak bangun dan melotot. Aku benci keributan!

"Matikan radionya, goblok! Ini kamarku, bukan diskotik!"

Deni tidak (atau mungkin pura-pura tidak) mendengar. Dia sibuk menggoyangkan kepalanya mengikuti irama dan mulutnya ikut menyanyikan lagi tersebut. Aku menggerutu jengkel seraya beranjak bangkit dan mendekati radioku dan mematikanya. Deni menoleh dengan heran.

"Kenapa?" tanyanya polos.

"Kau mengganggu acara belajarku!"

"Lho? Bukannya dari tadi kamu cuma berbaring nggak karuan?" tanyanya tidak mengerti

"Sekarang aku mau belajar!" kataku tidak peduli seraya menghempaskan tubuhku di kursiku dan kembali tenggelam di antara buku-buku besar dan tebal yang menumpuk di mejaku.

Aku tahu Deni memandangku dari balik punggungku tapi aku berusaha tidak mempedulikanya. Tiba-tiba saja dia tertawa. Sial! Memangnya ada yang lucu di sini?

"Ada urusan apa?" Aku tidak tahan lagi. Godaanya terlalu banyak. Ada Deni yang terus memperhatikan aku sementara bayangan gadis itu masih dengan setia mengisi pikiranku. Deni berhenti tertawa.

"Tidak ada apa-apa," katanya santai. "Aku hanya sedang menawarkan bantuan padamu."

"Bantuan?" ulangku tidak paham.

"Ya," katanya. "Bantuan sebagai penyambung antara dirimu dengan perkembangan peradaban dan budaya pergaulan di luar sana," jawabnya santai.

"Sudah kukira, kamu memang punya niat buruk untuk menggangguku," gumamku jengkel (sebenarnya karena aku sedang jengkel pada diriku sendiri yang masih belum bisa berpikir normal lagi sejak gadis itu ada dalam kepalaku).

"Omong kosong!" bantah Deni. "Ada aku atau tidak, aku tahu benar kamu nggak akan terbengaruh. Kamu itu kan punya kemampuan konsentrasi superior. Belajar terus tanpa mempedulikan apapun kan keahlianmu. Ibarat pertapa, konsentrasimu itu sudah layak untuk berkomunikasi langsung dengan Tuhan," katanya. Aku tidak menyahut. Deni memandangku.

"Justru kalau sekarang kamu marah-marah seperti itu, aku curiga ada yang salah denganmu," sambungnya lagi dengan nada penuh arti membuat aku terkejut sendiri. Deni mulai menyadari sesuatu! Perasaan aneh menggodaku untuk bercerita tentang pertemuan itu. Tapi aku menepisnya.

"Sudahlah!" kataku akhirnya. "Aku sedang tidak mau diganggu! Keluar dari kamarku," kataku datar, berharap penegasan ini akan berpengaruh pada Deni. Alih-alih mengikuti perintahku, Deni justru mengamatiku dengan seksama. Gawat! Aku paham betul pandangan itu. Dia mulai menatapku dengan pandangan "aku tahu ada yang tidak beres denganmu"-nya itu.

"Ada masalah?" tanyanya akhirnya. Aku mengerang dalam hati. Kenapa dia selalu tahu kalau ada sesuatu yang sedang kupikirkan? Dan entah bagaimana dia juga selalu berhasil membuatku berbicara walaupun aku sudah berusaha keras untuk menolak berbagi denganya. Kenapa aku tidak suka dengan hal itu? Karena itu selau memberi kesan Deni selalu menjadi seseorang yang jauh lebih tahu atas segalanya dariku.
Ceritakan saja semua masalahmu, aku pasti selalu punya jalan keluarnya. Ugh !

"Tidak ada apa-apa!" kataku cepat.

"Katakan saja."

"Tidak ada!"

"Kamu tidak bisa bohong padaku. Bilang saja, kau terlibat hutang? Atau kamu ada masalah sama biaya kuliah? Atau--"

"Ini nggak ada hubunganya dengan masalah uang, sialan!" tukasku sebal.

"Terus?"

"Ini soal cewek,-" Ya Tuhan! Kenapa aku begitu bodoh? Lagi-lagi aku menyesali kelemahanku yang mudah terpancing kata-katanya. Deni tidak memberi komentar. Aku baru sadar kalau dia melongo sesaat memandangku dengan tidak percaya.

"Ada cewek yang menghantuimu?" ulangnya. Aku diam saja. "Kau bisa memikirkan PEREMPUAN juga?" aku menggerutu. Apa kamu pikir aku nggak waras? Dan sedetik kemudian Deni melompat bangkit dari tempat tidur dan mencengkram bahuku sambil tertawa bahagia.

"Ini hebat! Kau yang seorang pelajar sejati, yang selama ini selalu mengutamakan buku dan prestasi, yang tidak pernah peduli perempuan akhirnya dibuat kalang kabut juga oleh mereka? Hebat!" tukasnya. "Omong-omong, Siapa dia? Bertemu di mana? Seperti apa?"

Aku tidak punya pilihan lain lagi. Deni harus dijawab atau dia akan terus mengejarku dengan serentetan pertanyaaan pantang menyerahnya. Akhirnya akupun menceritakan pertemuan itu. Deni mendengarkan dengan penuh semangat.

"Ya ampun! Kamu sudah jatuh cinta! Jatuh cinta pada pandangan pertama!" serunya. Aku mengerutkan dahi dengan ragu.

"Apa kamu bilang?"

"j-a-t-u-h c-i-n-t-a"

"Kau berlebihan."

"Tidak, aku justru yakin sekali." tegasnya.

"Kau bercanda."

"Jangan meragukan keahlianku! Memangnya cuma cewek yang ahli dengan urusan melankolis begitu?" tukas Deni terhina.

Aku tidak menyahut,setengah ragu setengah berpikir mungkin yang dia bilang itu ada benarnya. Tapi bagaimana mungkin aku bisa bilang kalau aku jatuh cinta padanya? Pertemuan kami tidak lebih dari beberapa menit. Aku baru tahu ada cinta yang seperti itu. Mata gadis itu seperti magnet yang langsung melekat erat dalam pikiranku. Apa cinta pada pandangan pertama itu memang nyata?

"Kau berlebihan, Den. Aku bahkan nggak tahu nama gadis itu dan dimana dia berada. Tapi aku nggak bisa melupakanya dari otaku," kataku akhirnya. Deni tersenyum.

"Kalau aku jadi kamu, aku akan cari tahu tentang dia dan kukejar cewek itu bahkan sampai ke kutub utara sekalipun!"

"Itu sih karena kau memang gila cewek!"

"Cinta itu memang gila, Lad," katanya lagi. lagi.

"Aku tidak sedang JATUH CINTA!" tegasku tidak tahan lagi.

Deni hanya tersenyum penuh arti.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Villam
Villam at Kirana part 1 (edited) (14 years 49 weeks ago)
80

yosi, komentar gua gak banyak ya... udah banyak ditulis di bawah. tapi yang jelas adegan pembukanya gua suka banget. cuma adegan dialog dengan deni emang agak... gimana ya? ya gitu deh... cowok biasanya gak berdialog seperti itu... (u know what i mean?).
tapi lanjut deh.

Writer dikadiman
dikadiman at Kirana part 1 (edited) (14 years 50 weeks ago)
80

masalah EYD yg udah disinggung user lain, g suka tulisan lu! Pembukaannya lucu, konflik batinnya yg rada over juga jadi terasa lucu, kalo style dialog lu emang seperti itu juga nggak masalah, dialog film AADC kan kaku juga. Keep writing! Ditunggu tulisan yang lain :)

Writer noir
noir at Kirana part 1 (edited) (14 years 50 weeks ago)
70

Penceritaan kok masih terasa kaku ya. Terutama di bagian dialog, seperti orang membaca dialog dari buku. Pembaca bisa salah menafsirkan, misalkan untuk tokoh Deni yang terkesan gemulai karena Deni terlalu sering menggunakan kata 'bay.." di akhir percakapan.

Ada beberapa kejanggalan dalam penulisan, salah satunya seperti ini: Gadis itu mencoba tersenyum maklum membuatku merasa meleleh.

Penggunaan awalan 'me' yag terlalu banyak. Mungkin bisa diubah menjadi:
Gadis itu mencoba tersenyum dan aku meleleh dibuatnya.

EYD, tanda baca, huruf besar kecil harap diperhatikan lagi. Tanda .... tidak perlu selalu ada di akhir dialog.

-keep writing-

Writer lisna_santa
lisna_santa at Kirana part 1 (edited) (14 years 50 weeks ago)
70

Sebagai pemula, aku belum berani komentar banyak. Tapi sebagai pembaca yg netral, aku masih belum tau jalan ceritanya mau dibawa kemana. Jadi ditunggu aja kelanjutannya.
Satu pertanyaan...tokoh Deni itu cowok tulen atau memang cowok gemulai??...hehehe....:P

Writer dimas_rafky
dimas_rafky at Kirana part 1 (edited) (14 years 50 weeks ago)
70

Kenapa pemberian tanda seru (!) diletakkan setelah spasi? Menurutku tidak perlu pakai spasi. Sehingga tidak ada lagi ada tanda seru yg ketinggalan. Kamu Ngerti ga ya, yang aku maksud?

Komen2 jg tulisanqu ya..

Writer sefry_chairil
sefry_chairil at Kirana part 1 (edited) (14 years 50 weeks ago)
70

aku setuju sama miss worm, tulisan ini sudah rapi, terlihat kamu sudah sering menulis..^^ tapi coba kembangkan diksinya...hehe.. just comment..
met kenal :)

---------------
----
More about Sefryana Khairil and her books, klik here:
Sefryana Khairil Official Website
Read and give your comments..
sefry's stories & poems at k.com

Writer miss worm
miss worm at Kirana part 1 (edited) (14 years 51 weeks ago)
60

pertama, saya prefer kamu memulai dengan prolog pun saya rasa ide bagian pertama ini cukup menarik untuk dijadikan teaser.

sepertinya kamu sudah cukup lama menulis dan cukup luwes. saya sarankan untuk eksplor lagi pemilihan kata agar lebih bagus. lalu beberapa typos ditemukan dalam tulisan ini. editing ketat beberapa kali sebelum posting will do.

Ada beberapa cara penulisan yang mengganggu, seperti jumlah tanda tanya (mengapa harus dua kali diketik? percayalah, efeknya sama), beberapa deskripsi terasa melompat sehingga ruang untuk pembaca terlalu lebar dan kadang tidak semua bisa menjangkau

ditunggu tulisan-tulisan selanjutnya

Writer dhewy_re
dhewy_re at Kirana part 1 (edited) (14 years 51 weeks ago)
70

waktu baca openingnya jadi ingat sama salah satu adegan sebuah iklan..hehe..

Writer elvnprya
elvnprya at Kirana part 1 (edited) (14 years 51 weeks ago)
80

"tergeletak pasrah"

wakakakaka kalimat2 yang menyenangkan.

tapi tunggu lanjutannya deehh