AOM 2 : The Angel part 2

“Kita hampir sampai!” ujar Billy Hamilton dengan gembira ketika mobil van yang dikendarai putra sulungnya memasuki kawasan pemukiman itu.

“Mana rumah kita, Dad?” tanya Jennifer yang baru berusia 10 tahun sambil memperhatikan sekelilingnya dengan tertarik. Ashley, kembaranya, juga kelihatan antusias mencari.

“Itu!” seru Ashley. “Yang berwarna cokelat itu. Iya, kan?” Billy mengiyakan. Mobil terus melaju dengan kecepatan rendah menyusuri jalanan kompleks tersebut. Taylor Hamilton mengamati rumah baru mereka dengan seksama. Rumah baru mereka tampak jauh lebih besar dan nyaman dibanding rumah lama mereka yang kecil dan sempit, memaksa mereka hidup berdesakan di New York

Kawasan pemukiman ini terletak di pinggir kota dan suasananya sangat tenang dan nyaman. Tidak jauh dari situ terdapat sebuah bukit dan hutan kecil yang indah. Bayang-bayang sebuah kastil tua tampak menjulang di puncak bukit itu. Menurut ayahnya, kastil tua itu dulu milik tuan tanah kawasan ini. Sekarang pemerintah menjadikanya sebagai salah satu objek wisata yang cukup terkenal di daerah ini. Jalan-jalan di daerah itu sepi. Trotoarnya luas dan berhiaskan pohon-pohon yang rindang. Rumah-rumah di daerah ini umumnya besar dan berhalaman luas.

Rumah baru mereka berhalaman luas. Rumah itu bernuansa cokelat dengan arsitektur bergaya pedesaan. Hutan terlihat tidak terlalu jah dari halaman belakang rumah mereka itu. Rumah itu tidak berloteng tapi Billy bilang kalau rumah itu memiliki ruang bawah tanah. Jendelanya besar-besar dengan kusen dan kerai berwarna putih bersih. Sebagian dindingnya terbuat dari kayu dan sebagian lagi bercorak bebatuan. Di depan teras terdapat sebuah tangga kayu gelap dengan pegangan yang anggun. Di samping tangga terdapat seperangkat bangku kayu dan sebuah rumah pohon. Jalan kecil dari semen berhiaskan gerumbul menghubungkan jalan dengan teras rumah dan garasi. Billy telah memasang sebuah ring basket di situ. Sederet tanaman perdu membatasi rumah mereka dengan halaman rumah tetangga. Betul-betul rumah yang indah. Taylor menghela nafas dalam hati. Mom, sayang sekali kau tidak bisa ikut menikmati keindahan rumah ini bersama kami...

Linda Hamilton meninggal beberapa bulan yang lalu karena kanker yang dideritanya. Taylor tidak bisa menggambarkan bagaimana bencana itu menghancurkan mereka. Untuk beberapa waktu lamanya mereka semua tenggelam dalam kesedihan yang teramat dalam. Tidak ada satupun dari mereka yang siap kehilangan Linda. Dia adalah istri dan ibu yang luar biasa bagi mereka semua, terutama bagi Taylor. Bahkan sampai saat inipun ketika sebagian besar dari mereka berhasil menerima kepergian itu, ketika akhirnya ayahnya memutuskan untuk pindah ke negara bagian ini, jauh di lubuk hatinya Taylor masih merasakan kesedihan yang amat mendalam apabila teringat dengan ibunya.

“Selamat datang di kediaman baru keluarga Hamilton!” seru Zach, adik Taylor yang berusia 12 tahun, tiba-tiba terdengar dari jok belakang. Taylor menggerutu dalam hati. Dipandanganya buaian Zoe di pangkuanya dengan khawatir. “Mark! Apa pendapatmu tentang rumah baru kita?!”

“Ssst!” tegur Taylor pada Zach. Namun adiknya tidak peduli.

“Mark! Kau tidak takut kau tidak bisa punya teman di tempat ini?” tanya Zach lagi pada adiknya yang baru berusia 3 tahun.

“Berisik!!” balas Mark kesal. Zach tertawa.

“Bagaimana dengan kalian?” tanyanya tiba-tiba beralih pada adik-adik kembarnya.

“Ssst!!” desis Taylor lagi seraya mengawasi Zoe, adik bayinya yang tertidur dalam buaian.

“Bagaimana kalau rumah ini berhantu?” tanya Zach lagi. “Kudengar ada yang pernah gantung diri di ruang bawah tanah.”

“Jangan menakut-nakutiku!” jerit Jennifer yang duduk di samping Taylor.

“Ada hantu di kamarmu,” kata Zach bandel.

“Diam!!” tukas Ashley.

“Bisakah kalian diam?” pinta Taylor.

“Dan hantu itu akan muncul saat kalian tidur,” oceh Zach. “Mengendap-endap, menyelinap dan… MENCEKIK KALIAN SEPERTI INI!!” serunya tiba-tiba menerkam adik-adiknya. Jennifer dan Ashley menjerit.

“DAD!!”

“Zach!!” tegur Billy seraya menoleh kebelakang. Zach tertawa keras hingga suara berderak menghentikan tawanya. Mark terbelalak memandang mainanya yang hancur terinjak kakaknya.

“Ooopps…” gumam Zach inosen.

“DAD!! Zach menginjak mobil-mobilanku!!” tangis Markpun pecah.

“Oh, please, kalian akan membuat Zoe terbangun.” keluh Taylor. Namun keributan itu tidak mereda. Mobil berhenti di halaman rumah baru mereka.

“Zach! Jangan membuat Mark menangis lagi!” tegur Billy.

“Dia jahat!” tangis Mark. Zach menjulurkan lidahnya.

“Zach,” Billy tiba-tiba sudah membuka pintu belakang memuat Zach tersadar dan tersipu.

“Uh.. hai, Dad!” ujarnya polos kemudian bergegas melesat keluar, berlari melewati ayahnya. Billy menggerutu, menarik dan menggendong Mark yang masih terisak menangis sambil memeluk mainanya yang remuk sebelah. Taylor memandang keranjang buaian di pangkuanya dengan cemas. Zoe mulai menggeliat bangun. Oh, tidak.. jangan sekarang, please

Dad! Kali ini kau harus memberiku kamar sendiri!” tuntut Jennifer pada ayahnya seraya beranjak keluar. Tangis Mark sudah mereda. Bocah itu sekarang bersandar kecapekan di bahu ayahnya.

“Ya! Aku juga!” balas Ashley. Jennifer melotot.

“Jangan meniruku!”

“Aku tidak menirumu!” bantah Ashley.

“Ssstt!” tegur Taylor. Tapi kedua adiknya tidak mempedulikanya. Dan apa yang dikhawatirkan gadis itupun terjadi. Lengkingan Zoe tiba-tiba terdengar memekakkan telinga. “Oh, Tidak…” keluh Taylor panik. Ditepuk-tepuknya Zoe dengan lembut supaya diam sementara kedua adiknya berhamburan keluar sambil berdebat siapa meniru siapa. Clarke, kakak Taylor, tampak sibuk membongkar barang-barang mereka bersama Zach.

“Kau tidak bisa mendapat kamar yang sama denganku!” seru Jennifer.

“Tentu saja aku bisa!”

Ladies!” tegur Billy. “Kalian akan dapat kamar yang sama.” ujarnya.

“Oh, Dad! Kami terlalu besar untuk sekamar!” protes keduanya bersamaan. Taylor yang mendengarnya di antara lengkingan Zoe hanya mencibir. Terlalu besar? Dia sendiri harus berbagi dengan kedua anak usil itu sampai usia 15 tahun. Kalau sekarang ayahnya masih memberinya teman sekamar, Taylor akan membencinya seumur hidup! Zoe menendang membuat Taylor tersadar. Taylor meraba popok Zoe yang ternyata masih kering. Gadis itu meraih botol susu dan memberikanya pada adiknya. Zoe langsung memuntahkanya dan menangis makin keras. Taylor mengeluh frustasi. Dia belum terbiasa mengurus bayi sendirian. Di rumah lama mereka ada seorang pengasuh yang sama pandai dengan ibunya dalam mengurus Zoe dan mereka semua. Namanya Ms. Jones. Sayang dia tidak mau meninggalkan New York dan ikut pindah dengan mereka kemari.

Taylor meraih Zoe dan menimangnya dengan lembut. Suara kakaknya membuat tangis bayi itu perlahan mereda dan akhirnya terdiam. Taylor menggumam dan tertawa pelan. Adiknya terkekeh dan mulai berceloteh. Taylor tersenyum lega. Pintu mobil terbuka dan wajah Billy muncul.

“Kau tidak keluar, sayang?” Taylor mencoba tersenyum. Pahanya kesemutan karena harus memangku buaian Zoe selama perjalanan.

Dad, kau harus secepatnya menemukan pengganti Ms. Jones.” kata gadis itu seraya beranjak keluar. Mark sudah tertidur kecapekan dalam gendongan ayahnya. Billy termangu sesaat.

“Ya, sayang. Kau bisa lihat, terlalu banyak hal yang bisa dilakukan ibumu untuk kita.” gumamnya sendu. Taylor terdiam dan memandang ayahnya sesaat. Kenangan akan ibunya muncul kembali dan itu membuat hatinya sedih.

“Kau janji tidak akan menyinggung itu lagi pada kami.” gumam Taylor membuat Billy tersadar.

“Ya, kau benar. Apa yang telah kulakukan?” Billy menggumam sendiri. “Kita tidak bisa terus tenggelam dalam kesedihan itu. Bukankah itu tujuan kita pindah kemari?” Taylor mencoba untuk mengangguk dan tersenyum. Billy tersenyum riang. “Kalau begitu aku akan secepatnya mencari pengganti Ms. Jones.” Katanya lagi seraya berlalu. Taylor mengangguk dan menyusul ayahnya. Dia memutuskan untuk melihat-lihat rumah baru mereka.

Rumah ini memiliki ruangan yang lengkap dan nyaman. Lantainya dari kayu. Dindingnya sebagian berhiaskan kayu lapis berpelitur. Interiornya bergaya pedesaan dengan bernuansa cokelat yang sangat elegan. Ruang tengahnya luas dan memiliki perapian. Sebuah karpet bulu dengan bantal nyaman terhampar di situ. Ruang makanya besar dan menyatu dengan dapur. Dapurnya jauh lebih luas dari milik mereka dulu, tampak sangat bersih dan rapi. Linda pasti akan senang sekali melihat dapur mereka yang baru ini. Linda sangat suka memasak dan dia selalu mengeluhkan dapur mereka yang kecil dan sempit. Taylor membayangkan ibunya pasti akan berseru kegirangan dan bergerak kesana-kemari memeriksa dapur ini dengan gembira. Tanpa sadar air mata gadis itu menetes. Mom, aku rindu padamu….

“Taylor,” Taylor buru-buru menghapus air matanya dan menoleh. Ayahnya sudah berdiri di belakangnya.

“Aku teringat mom lagi.” aku Taylor. “Dia pasti akan suka melihat ini.” katanya sambil menunjuk dapur mereka. “Rumah ini indah sekali, Dad.” Billy mengangguk dan menepuk bahu putrinya. Zoe mengoceh sambil memilin-milin rambut Taylor yang sehalus satin. Dari jendela terdengar jeritan si kembar ketika Zach menyodorkan seekor ulat bulu ke arah mereka.

“ZACH!! Jangan ganggu adikmu!” seru Billy serta-merta.

“Ya, Dad!!” balas Zach dari luar. “WHOOAAA!!”seru anak laki-laki itu. Si kembarpun kembali menjerit dan berlari menjauh. Zach tergelak. Billy menggerutu lalu kembali beralih pada Taylor yang sekarang sibuk melepaskan jari mungil Zoe yang terjerat rambutnya.

“Mana kamarku?” tanya Taylor.

“Ide bagus! Ayo kita lihat!” ajak Billy. “Lorongnya ada di sebelah sini, Miss.” Taylor tertawa kecil.

Keduanya melangkah menuju sisi lain rumah ini. Ayahnya mengajak Taylor memasuki koridor sempit beralaskan karpet cokelat gelap yang lembut.

“Di sini kamar kalian.” kata Billy. “Ini kamar Clarke.”

Taylor memandang ke dalam. Kakaknya tampak sibuk membongkar barang-barang pribadinya dengan gembira. Di rumah lama mereka Clarke harus berbagi kamar dengan Zach dan Mark. Kamar pribadi jelas membuatnya senang. Poster The Next Generation band favorit Clarke sudah terpasang rapi di dinding kamar. Sesaat Taylor mengagumi kamar yang tidak terlalu luas dan berinterior dinamis itu. Kamar ini bernuansa cowok dan kelihatan musikal, sesuai dengan hobi Clarke. Clarke menggantungkan gitar akustiknya dengan hati-hati di samping poster. Ketika dia melihat Taylor dan ayahnya, dia mengacungkan ibu jarinya dan tersenyum.

Taylor lalu menengok kamar Zach dan Mark di seberang kamar Clarke. Taylor bisa melihat tempat tidur susun, kotak mainan dan deretan rak kayu di dalamnya. Mark kelihatan sudah tertidur di tempat tidur bawah.

Kamar si kembar ada di samping kamar Zach. Kamar itu bernuansa merah muda dan putih. Interiornya begitu girly berhiaskan renda dan boneka, pantas sekali untuk anak berumur 10 tahun. Barang-barang yang ada di situ serba dua dan ditata sama persis seperti benda dan bayanganya. Taylor mengaguminya.

“Bagaimana kau bisa membujuk mereka untuk sekamar?” tanya Taylor ingin tahu.

Well, aku berjanji akan memberi mereka kamar pribadi kalau mereka sudah berumur 15 tahun." ujar Billy. Taylor mengerutkan dahi.

“Aku sudah 15 tahun. Apakah aku…-" Taylor memandang ayahnya dengan ragu. Billy tersenyum dan mengangguk.

“Tentu saja, sayang. Kamarmu tepat di sebelah Clarke.” Taylor terbelalak gembira, buru-buru masuk melihat kamar pribadinya yang baru.

Kamar itu begitu anggun. Tempat tidurnya besar. Lemari pakaianya cukup luas untuk menyimpan semua pakaian, sepatu dan perlengkapannya. Meja belajar, komputer, stereo set dan rak semuanya tertata dengan rapi. Taylor bahkan mendapatkan sebuah meja rias yang cantik, kamar mandi mungil dan sambungan telepon pribadi. Ayahnya juga telah meletakan piano upright kesayanganya di sudut ruangan.

Kamar ini bernuansa biru dan putih, warna kesukaanya. Jendelanya yang besar dan bisa dibuka, langsung mengarah ke halaman samping. Taylor bisa melihat rumah tetangga mereka dari situ. Sebuah sofa malas terpasang di dekat jendela memungkin Taylor duduk sambil memandang halaman. Benar-benar kamar pribadi yang nyaman. Taylor sangat menyukainya. Namun dia tertegun ketika melihat seperangkat boks bayi dan lemari berisi pakaian dan perlengkapan bayi di sudut lain ruangannya. Billy tersadar.

“Umm, itu… aku berencana memindahkannya segera, begitu kita mendapatkan pengasuh yang baru. Aku sudah menyiapkan kamarnya. Ini hanya sementara sampai….-“ Taylor tersenyum dan mengangguk.

“Aku mengerti. Zoe tidak mungkin dibiarkan tidur sendirian. Aku tidak keberatan. Lagipula Zoe tidak akan menggangguku, kok. Ini jauh lebih baik daripada si kembar.” Billy tersenyum lega.

“Jadi, apakah kau menyukai kamarmu?”

“Ini hebat sekali!” kata gadis itu serta-merta. Dia bergerak mencium pipi ayahnya. “Thanks.” Billy tersenyum dan menggumam senang.

Mungkin kepindahan mereka kemari benar-benar akan mengembalikan semua kehangatan dan kebahagiaan yang sempat hilang karena kematian Linda. Mungkin kepindahan mereka kemari akan membawa pengalaman dan hal-hal menyenangkan lainya pada keluarga mereka. Taylor sangat berharap ini benar-benar hal yang terbaik dalam hidup mereka.

Mom, kau pasti gembira juga bersama kami di sana..

Read previous post:  
109
points
(2489 words) posted by yosi_hsn 14 years 7 weeks ago
77.8571
Tags: Cerita | cinta | American pie | dewasa | keluarga | Novel | teen-live | yosi
Read next post:  
dadun at AOM 2 : The Angel part 2 (14 years 1 week ago)
90

awalnya.... duh, lama banget sih alurnyaaaa lelettttt.... tapi, gue coba paksa, coz gue udah jatuh cinta sama bagian pertama.... dan.... tidak siasia-percuma......... gue gak kecewa....MBAAAAAAKKKKKK,,, KERENNNN!!!! ini bakal jadi novel yang 'hangat' kah?

duh, tuan hamilton, anaknya bererot banget yah??? heuheu :))

lanjuuttttttttttttt

Writer cat
cat at AOM 2 : The Angel part 2 (14 years 5 weeks ago)
70

lanjut

Writer Villam
Villam at AOM 2 : The Angel part 2 (14 years 5 weeks ago)
100

ah... gua suka...
setelah 'wild thing' di bagian sebelumnya, sekarang jadi mengharukan.
kamu pintar membuat suasananya. salut.
well written.
teman-teman, kenapa begitu kejam menuduh ini karya saduran?
it's rude...

Writer idjunc
idjunc at AOM 2 : The Angel part 2 (14 years 6 weeks ago)
90

salam kenal...
idenya sederhana, satu keluarga yang pindah rumah karena tidak mau dihantui oleh kenangan akan kematian sang ibu. tapi sang ayah kerepotan sekali mengurus anak-anaknya. well, yosi berhasil menyampaikannya dengan sederhana. saya setuju dengan alfare, penokohan karakternya cukup nyata. bravo.

Writer bintang alzeyra
bintang alzeyra at AOM 2 : The Angel part 2 (14 years 6 weeks ago)
50

keren juga..saduran ato py sendiri?

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at AOM 2 : The Angel part 2 (14 years 6 weeks ago)

@ Alfare : Benar juga. hehehe... saya coba edit beberapa kalimat supaya keganjilan itu nggak terlalu mengganggu. Trims komenya....
Oya, untuk siapapun yang baca, saya tekankan sekali lagi,tulisan saya yang judulnya Angel Of Mine ini sama sekali BUKAN SADURAN atau TERJEMAHAN. trims...
Ditunggu komentar yang lain.

Writer Alfare
Alfare at AOM 2 : The Angel part 2 (14 years 6 weeks ago)
90

Saya terus terang sulit membayangkan ada kastil tua di pinggiran Manhattan.

Lepas dari itu, semuanya betulan rapi. Yang betul-betul membuatku terkesan adalah tokoh-tokohnya yang cukup nyata dan... uh, sesuai dengan sifat orang-orang sono. Penggambaran yang betulan bagus.