Pekerjaan Iin (edited)

Pertama kali Iin diberitahu oleh sepupunya kalau dia akan mulai bekerja besok di majikanya yang baru, Iin nyaris tidak bisa tidur semalaman. Ini pekerjaan pertamanya dan dia berusaha menebak-nebak bagaimana majikan barunya nanti.

Majikan barunya bernama Ibu Sudi, pemilik butik, tempat Retno bekerja. Kata Retno, Ibu Sudi seorang juga seorang pegawai di salah satu bank pemerintah sementara suaminya seorang dosen di sebuah universitas negeri di kota ini. Majikanya mempunyai tiga rumah. Yang satu dijadikan butik, yang lain dijadikan kos-kosan dan yang terakhir dijadikan tempat tinggal. Rumah yang terakhir besar dan berlantai dua. Rumah itu terletak di sebuah perumahan berkelas menengah. Itu sudah cukup membuat Iin menganggap mereka adalah pasangan suami istri yang cukup berada. Mereka mempunyai tiga orang anak. Anaknya yang pertama dan kedua sudah bekerja sementara yang terakhir, laki-laki, masih kuliah. Iin menganggap itu suatu hal yang bagus. setidaknya dia tidak akan direpotkan oleh tugas tambahan mengurus anak-anak majikan yang masih kecil-kecil.

Iin benar-benar berpikir kalau majikanya kali ini sempurna. Mungkin dia bisa ikut merasakan fasilitas-fasilitas yang tidak dia miliki. Mungkin dia bisa bercerita tentang bagaimana canggihnya alat-alat rumah tangga milik mereka, seperti yang biasa Siti ceritakan tentang majikanya yang pemilik perusahaan karet itu. Atau mungkin dia bisa bercerita pada teman-temanya bagaimana cantik dan modisnya majikanya, bagaimana bagus dan mewahnya pakaian dan perhiasan mereka, seperti yang biasa Darti ceritakan tentang majikanya yang pemilik rumah kecantikan itu. Iin tidak sabar lagi.

*******

Tapi itu dulu, ketika Iin belum tinggal bersama keluarga itu dan bekerja untuk mereka. Sekarang enam bulan sudah berlalu. Majikanya mengijinkan Iin untuk pulang ke rumahnya setiap bulan. Hari ini Iin termenung di kamarnya. Entah kenapa dia malas bersiap untuk kembali ke rumah majikanya. Besok dia berjanji untuk kembali ke rumah keluarga itu. Janji yang Iin ucapkan kepada Bu Sudi sekedar untuk basa-basi dalam acara berpamitanya. Iin bingung dan gamang memutuskan untuk kembali ke sana atau tidak. Enam bulan rasanya berlalu begitu lama.

Keluarga Sudi bukan keluarga yang jahat. Mereka tidak pernah berbuat semena-mena pada Iin. Mereka tidak pernah membentaknya dan menyuruhnya melakukan pekerjaan-pekerjaan yang di luar batas-batas kemanusiaan. Mereka juga tidak pernah menyiksa Iin, seperti yang sering dia dengar dari surat kabar atau televisi. Mereka juga tidak pernah melakukan pelecehan yang merendahkan harkat dan martabat Iin sebagai seorang wanita dan pembantu rumah tangga.

Ibu Sudi bukan orang yang kasar. Iin bahkan selalu menyukai caranya berbicara. Suaminya orang yang bertemperamen keras. Tapi diapun hanya memarahinya ketika dia melakukan kesalahan dan itu tidak sering terjadi. Anak-anak Bu Sudi juga tidak keterlaluan. Mereka anak yang baik. Hanya ada satu kelemahan dalam keluarga itu. Mereka jarang BERBICARA.

Kesunyian dan kesendirian itu menyedihkan. Kesunyian dan kesendirian itu membuat kita terasing dan bertanya-tanya, apakah ada yang salah dengan kita. Rasanya begitu gamang ketika menemukan bahwa orang-orang di sekeliling kita tidak menyapa kita. Mereka seolah-olah tidak mempedulikan keberadaan kita, membuat kita bertanya "Adakah yang salah dengan diriku?", "Apa yang mereka pikirkan tentang diriku?", "Kenapa mereka bersikap begitu?". Pada akhirnya pertanyaan-pertanyaan itu membuat kita mencari jawaban sendiri yang celakanya justru mendorong kita untuk berprasangka.

Iin iri dengan Siti dan Darti, teman-temanya. Majikan mereka mempunyai lebih dari satu orang pembantu, sehingga Siti dan Darti tidak pernah kesepian. mereka selalu punya teman untuk berbagi dan bercanda. Teman-temanya juga selalu bercerita bagaimana cerewetnya majikan mereka, yang selalu bercerita ini-itu, tentang keluarga, tentang pekerjaan, tentang teman, bahkan tentang aib teman dan keluarga mereka. Majikan mereka selalu berkata banyak hal, membuat Siti dan Darti merasa menjadi bagian dari keluarga itu dan bangga karena begitu banyak hal dan rahasia keluarga yang mereka ketahui tentang majikanya, seolah mereka adalah orang yang penting. Iin ingin menjadi penting seperti itu.

Suami Ibu Sudi nyaris tidak pernah berbicara padanya selain melontarkan kalimat-kalimat perintah yang pendeng. Kadang dengan intonasi datar, kadang dengan intonasi tinggi. Anak-anak ibu Sudi lebih menyedihkan lagi. Mereka nyaris tidak pernah berbicara dengan Iin selain untuk bertanya "Dimana Ibu?". "Di mana bapak?". "Kamu sudah makan?" dan kalimat basa-basi lainya. Kadang Iin merasa tersisih ketika melihat ternyata anak-anak Ibu Sudi bisa saling bercerita, bercanda dan tertawa dengan ributnya. Iin ingin menyatu dengan mereka juga. Apakah tidak boleh? Iin merasa tersisih.

"Kenapa mereka jarang mengajaku berbicara? kenapa mereka tidak mau berbagi denganku? Apakah mereka hanya menganggapku sebagai seorang pembantu yang tidak tahu apa-apa? Aku juga bisa mengikuti apa yang mereka bicarakan. Kenapa mereka tidak berbicara? Apa mereka tidak tahu kalau aku juga bisa diajak bicara?" Iin nyaris tidak bisa mengatasi kesunyian dan keterasingan itu. Sekarang Iin bimbang. Haruskah dia kembali lagi ke dunianya yang sunyi dan terasing itu??

Ibu Iin menyadari kegundahan hati putrinya. Dia mendekati gadis remaja itu.

"Ibu sudah buatkan keripik dan kering kentang pesanan Bu Sudi. besok jangan lupa kamu bawa, ya?" pertanyaan ibu membuat Iin tersadar dan mengangkat wajahnya. Iin menggumam lesu.

"Bu," kata Iin berusaha memikirkan kata-kata terbaik untuk mengutarakan perasaan hatinya pada ibunya. "Bagaimana kalau aku nggak balik lagi ke tempat Bu Sudi?" tanya gadis itu akhirnya membuat ibunya mengerutkan dahi.

"Kenapa?"

"Aku nggak betah." Iin mencoba memberikan alasan.

"Kenapa?"

"Keluarga itu nggak pernah menganggap aku sebagai bagian dari mereka. Mereka cuma butuh aku untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga mereka. Mereka jarang mengajakku ngobrol, bahkan kadang-kadang untuk melihat keberadaanku di ruangan yang samapun tidak. Aku merasa kesepian dan terasing di sana. Aku satu rumah dengan mereka, tapi seolah-olah aku hanya boleh melihat mereka dari jauh. Aku nggak boleh masuk ke kehidupan mereka." Ibu tersenyum lembut.

"In, coba pikirkan lagi keburukan dan kebaikan lainya yang sudah mereka lakukan padamu?"

Iin terdiam. Dicobanya memikirkan keburukan lainya yang pernah dilakukan majikanya selain intonasi tinggi suami Bu Sudi dan kediaman keluarga itu. Iin terkejut ketika dia tidak bisa menemukan keburukan lainya lagi. Iin mencoba memikirkan tentang kebaikan mereka.

Iin teringat dengan nada halus bicara Bu Sudi. Iin teringat dengan Mbak Ani, putri sulung majikanya, yang selalu membiarkan dia membaca habis semua koleksi komik, novel dan majalahnya. Mbak Nita, putri majikanya yang kedua kadang tiba-tiba saja membelikan dia beberapa helai baju baru atau makanan kecil. Keluarga itu juga selalu membiarkanya menonton televisi hingga jauh malam. Mereka juga tidak pernah memarahi dia bergaul dengan tetangga sekitar.

Ibu kembali tersenyum dan membelainya.

"Kadang kita tidak bisa menuntut banyak dari pekerjaan yang kita lakukan hanya karena situasinya tidak seperti yang kita inginkan. Mungkin kita harus sedikit menyesuaikan diri dengan lingkungan itu. Bekerja itu ibadah, In. Kamu harus bisa melakukanya dengan penuh keikhlasan dan pengabdian kamu." Iin tidak menyahut. Ibu kembali melanjutkan.

"Majikanmu bukan orang jahat, In. Kenapa kamu tidak coba untuk memahami mereka? Mencoba mengerti mungkin kediaman itu adalah karakter mereka. Kalau kamu hanya merasa kesepian, ada banyak cara yang bisa dilakukan buat mengatasinya. Kamu punya teman-teman di butik. Ibu dengar Bu Sudi sering meminta kamu membersihkan butik?" Iin mengangguk.

"Kamu juga punya banyak hiburan di sana. Kamu pernah cerita sama ibu kalau ada televisi di lantai atas yang hanya sering ditonton sama kamu, kan?" Lagi-lagi Iin mengangguk.

"Bersabarlah, In. Pahami dulu sifat majikanmu itu. Kamu harus bisa menyesuaikan diri dengan mereka. Mereka orang-orang baik. Kamu yang harus selalu menyesuaikan diri dengan lingkunganmu, bukan mereka yang harus menyesuaikan diri denganmu." Iin termenung mendengar kata-kata terakhir ibu. Mungkin dia akan mencobanya. Iin tersenyum.

"Ya, Bu. terima kasih. Iin mau coba." Ibu tersenyum.

***********

Dua lebaran sudah berlalu sejak Iin bekerja di rumah Bu Sudi. Hari ini Iin bergegas untuk kembali ke rumah itu. Dua dus besar berisi keripik dan kering kentang buatan ibunya, pesanan majikanya, sudah siap. Sekarang Iin tidak ragu-ragu lagi untuk berangkat. Kediaman majikanya sudah bukan sesuatu yang menyiksanya lagi. Mereka memang masih diam. Tapi Iin menemukan satu hal dari mereka. Mereka ternyata tidak pernah menolak untuk menjawab pertanyaanya. Bahkan anak-anak majikanya tidak pernah keberatan untuk menjelaskan sesuatu yang dia tanyakan.

Sekarang Iin tidak merasa terasing lagi di keluarga itu. karena walaupun majikanya selalu diam, tapi dia mengetahui banyak hal. mereka memang tidak pernah "mengajaknya" bergabung, tapi mereka tidak pernah menolak untuk "menjawab". Bu Sudi kini makin mempercayainya dan memintanya membantu pekerjaanya di butik. Iin kini makin sibuk dan merasa "penting". Kata-kata ibu selalu dia ingat-ingat.

"Bukan lingkungan yang harus berubah untukmu, tapi kau yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan itu.."

Read previous post:  
Read next post:  
Writer Ari_rasya
Ari_rasya at Pekerjaan Iin (edited) (13 years 41 weeks ago)
90

Tp kalo mbak yosi yg buat bguz2 aj tuch =) hehe...

Btw Angel of Mine nya kok blum dlanjutin sich??

Writer cantabile
cantabile at Pekerjaan Iin (edited) (13 years 41 weeks ago)
80

ceritanya bagus, mengandung pesan bijak yang penting. nice work! keep writing ^_^

Writer adrian.achyar
adrian.achyar at Pekerjaan Iin (edited) (14 years 2 weeks ago)
70

"Majikanya"? Maksudnya "majikannya"?

terus, artinya "pendeng" apa ya? maaf, saya ga ngerti bahasa jawa.

yang ini: "Ibu sudah buatkan keripik dan kering kentang pesanan Bu Sudi. besok jangan lupa kamu bawa, ya?"

maksudnya "kentang kering"?

Idenya bagus dan ceritanya menarik. Mungkin akan lebih bagus kalo ceritanya lebih digali lagi. Pokoknya, guru saya pernah mengajarkan saya begini "show! Don't tell!" Maksudnya, jangan bilang kalau tokoh A adalah orang yang galak tapi tujukkan (misal dengan dialog) kalau dia berkata-kata dengan nada yang tinggi.

Gitu aja sih. Yosi, maaf ya kalau ada kata yang kurang berkenan. Kita belajar sama2 ya ^^

Guys, please read my poems & stories at K.com ^_^

Writer Villam
Villam at Pekerjaan Iin (edited) (14 years 5 weeks ago)
80

ah... bagus...
gua dapet pesan ceritanya.
cocok juga buat dibaca keluarga2 yang kehilangan 'iin-iin' mereka setelah lebaran.
penggalian yang bagus.

Writer starof hope
starof hope at Pekerjaan Iin (edited) (14 years 6 weeks ago)
70

emang siiih,, jujur aja aku suka prolognya kamu,, keren! jadi agak misterius. Tapi kalau menurutkuuu,, jadi agak gak penting,, *sori banget ya*

cuz menurutku,, prolog itu merupakan bagian terpenting dalam hidup! eh salah, dalam cerita,,
good job!

Writer ice
ice at Pekerjaan Iin (edited) (14 years 6 weeks ago)
60

untuk jadi prolognya cukup detail dalam satu sisi..masih bisa dikembangkan

Writer A_am Hidayat
A_am Hidayat at Pekerjaan Iin (edited) (14 years 6 weeks ago)
50

Sevagai prologue, ceryita ini belon menggambarkan isi cerita. Buat prolog yang lebih ngena', okay. **clink...

dadun at Pekerjaan Iin (edited) (14 years 6 weeks ago)
70

ditunggu