AOM 3 : Pertemuan

PERTEMUAN

Jordan beranjak dari tempat duduknya. Pesta ini mulai memanas, namun dia justru mulai merasa bosan. Suasana pent house ini sudah mirip kapal pecah. Pecahan kaca, kertas dan makanan berserakan di sana-sini. temanya sudah berusaha membuat pesta yang meriah (bahkan liar). dia mengundang banyak bocah-bocah gaul kota ini. Sebuah band lokal masih memainkan musiknya mengiringi mereka yang asyik melompat-lompat dan menari dengan liar. Bau alkohol tercium, berbaur dengan asap rokok dan keringat. Beberapa pasangan tampak asyik bermesraan di sudut ruangan. Biasanya Jordan tidak pernah absen mengikuti kegilaan semacam itu. Tapi entah kenapa malam ini semua seolah tidak menarik perhatianya lagi. Jordan berlalu tanpa mempedulikan teguran teman-temanya yang lain.

Jordan meminum bir di tanganya seraya menghindari beberapa bocah yang bergelimpangan di lantai karena mabuk atau kecapekan. Dia mengumpat ketika seorang anak muda muntah-muntah di dekat kakinya. Dia merasa dirinya juga sudah mulai mabuk. Pikiranya sekacau pesta ini. Kepalanya mulai berdenyut sementara bayangan wanita itu terus menghantuinya. Kenapa dia tidak bisa hilang dari kepalanya?

Beberapa hari berlalu sejak pertemuan dengan Justine. Jordan sudah mencoba mendatangi bar itu lagi untuk mencari wanita itu. Tapi dia tidak bisa menemukanya. Wanita itu seolah hilang ditelan bumi. Hingga saat ini Jordan nyaris dibuat gila karenanya.

Dimana kau, dewiku?

Jordan menghabiskan birnya dan membuang botolnya begitu saja. Sial! Dia benar-benar butuh udara segar sekarang!

Suasana di halaman tidak kalah kacaunya. Mobil berserakan di halaman depan. Beberapa anak muda membuat acara liar sendiri di sana. Jordan berhenti di sudut balkon samping yang paling sunyi. Keramaian pesta masih terdengar samar. Jordan merasa jauh lebih tenang. Dia duduk di balkon seraya menyalakan rokoknya dan mulai menghisapnya. Bayangan Justine kembali bermain dalam pikiranya. Bukan hanya itu, Jordan juga memikirkan Jesse. Sudah beberapa hari ini, sejak malam itu, Jordan belum sempat bertemu dengannya lagi. Dia bahkan tidak menyalakan telepon genggamnya. Kemana dia?

"Jordy!” panggilan itu membuat Jordan tersadar dan menoleh. Seorang gadis cantik sudah berdiri di sampingnya. Jordan memandangnya sekilas. Baru sebulan dia berpacaran dengan Sidney Russel, salah satu bintang St. August ini. Dia dengar Sidney yang sangat terobsesi untuk berkencan denganya telah memutuskan pacar lamanya dengan brutal. Jordan tidak keberatan dengan hal itu. Lagipula siapa yang peduli? Sidney hot. Tidak ada salahnya menanggapinya. Mereka melalui sebulan hubungan yang panas, walaupun Jordan tidak menghentikan petualanganya bersama gadis lainya.

“Hei, aku mencarimu kemana-mana,” gumam Sidney seraya menjejerinya. Jordan tidak menyahut. Kepalanya kembali berdenyut. Setelah bertemu Justine, entah kenapa Jordan merasa Sidney (dan yang lainya) tidak lagi istimewa.

“Kau memikirkan sesuatu?” bisik Sidney manja seraya merangkul Jordan dengan penuh hasrat. Diambilnya rokok di tangan anak muda itu dan dihisapnya beberapa saat. Jordan tidak menyahut namun menarik gadis itu merapat dan menciumnya. Sidney terkikik menanggapinya. Jordan tidak tahu apa yang ada di pikiranya saat itu. Dia seolah merasa sedang bermesraan dengan wanita itu.

“Justine, kau membuatku gila..”

“Uh.. apa?”

“Justine, aku tidak bisa melupakan malam itu.”

“Jordan?!”

“Justine,-“ tamparan Sidney membuat Jordan tersadar dan mengeluh pelan. Sidney memandangnya dengan marah.

“Siapa itu Justine??” tuntutnya membuat Jordan membelalak. Sial! Dia pasti mabuk tadi. Jordan memalingkan wajahnya.

“Bukan urusanmu,” gumam Jordan dingin.

“Siapa JUSTINE?!” desak Sidney lagi.

“Temanku.”

“Kau tidak mungkin memanggilnya begitu rupa kalau belum pernah bercinta denganya! Apa Justine pacar gelapmu?!” Jordan menggumam kesal.

“Apa urusanmu?!”

“Jordan! Aku pacarmu!”

Tiba-tiba Jordan merasa muak dengan gadis itu. Apa haknya untuk cemburu dan melarangnya berhubungan dengan perempuan lain? Jordan bukan miliknya dan dia tidak akan pernah menjadi milik siapapun!

“Diam kau, Bitch!” sentak Jordan membuat Sidney melotot. Gadis itu terpekik kaget ketika Jordan mendorongnya dengan kasar hingga terjatuh. Jordan beranjak berlalu dengan tidak peduli.

“JORDAN! Hei!! Brengsek kamu!! Kau tidak bisa lakukan ini padaku!” maki Sidney.

Apa yang telah terjadi dengan dirinya? Bagaimana mungkin dia melihat Justine dalam diri Sidney dan memanggil-manggil nama wanita itu seperti orang gila? Nah, sekarang dia pasti benar-benar GILA, gila karena wanita itu! Jordan melarikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia butuh seseorang. Dia berusaha menghubungi Jesse tapi tidak ada sahutan. Jordan mengumpat dan nyaris membanting telepon genggamnya. Kepalanya semakin berdenyut. Kesadaranya makin tidak beres. Mati-matian dia berusaha memusatkan perhatianya. Tapi kepalanya terlalu sakit. Penglihatanya mulai buram.

Jordan mengumpat ketika mobilnya nyaris keluar jalur. Buru-buru dia membanting stir. Mobil menghindar dengan suara berdencit-dencit. Jordan memaki tidak sadar. Tiba-tiba sebuah tikungan tajam muncul di hadapanya. Jordan membelalak panik, tapi terlambat untuk menghindar.

“Oh, shit!” Porsche itu melesat menerjang batas jalan dan tersuruk menuruni bukit dengan liar menerjang pepohonan dalam kegelapan yang pekat. Jordan berusaha mengendalikan mobilnya dengan panik ketika mobilnya meluncur makin jauh ke dalam hutan. Lampu depan mobilnya menyambar sesuatu dan pecah berantakan. Dia tidak bisa berbuat apa-apa ketika sebatang pohon besar menghadang di depanya.

“TIDAAKKK!!!”

Suara benturan yang keras menyentakkan anak muda itu dari tempat duduknya. Tubuhnya tersentak ke depan menghantam kemudi. Kepalanya membentur kaca hingga retak dan berdarah lalu terkulai di atas bantalan kemudi. Sejenak suasana menjadi sunyi.

Jordan membuka mata perlahan. Dia sadar! Apakah dia sempat pingsan? Jordan merasa tubuhnya ngilu dan kepalanya seolah mau pecah. Mulutnya terasa asin. Darah membasahi tanganya ketika dia mengusapnya. Mungkin dia terluka dalam atau terkena gegar otak. Bagian depan mobilnya ringsek berat menghantam pohon itu. Jordan bersyukur dia tidak terjepit. Susah payah dia membebaskan diri dari mobilnya. Sekelilingnya begitu gelap gulita dan sunyi. Antara sadar dan tidak dia tertatih-tatih keluar.

Jordan memperhatikan sekelilingnya. Dimana ini? Jam berapa ini? Tidak ada mobil yang lewat. Jalan raya terletak jauh di atasnya. Kegelapan membuat Jordan tidak bisa melihat jalan setapak yang bisa memandunya kembali ke jalan raya.

Oh, Bagus sekali!!

Jordan melangkah terhuyung-huyung masuk ke dalam hutan sambil meraba-raba dalam gelap. Mulutnya mengumpat kesana-kemari. Tanpa sadar dia melangkah makin jauh ke dalam hutan. Pepohonan makin rapat dan suasana makin sunyi dan gelap. Jordan bahkan tidak bisa melihat tubuhnya sendiri. Tiba-tiba kakinya terperosok jalan yang tidak rata dan diapun kehilangan keseimbanganya. Jordan berseru kaget, namun tubuhnya sudah terjatuh dan terguling tanpa kendali menerjang perdu dan bebatuan lalu diam tak bergerak menabrak sebongkah batu besar.

*******

Pagi ini terasa begitu hangat dan segar. Taylor menghirup udara dalam-dalam. Sudah beberapa hari keluarga mereka tinggal di daerah ini. Mereka sudah berkenalan dengan sejumlah tetangga di sekitar mereka. Keluarga Watson adalah keluarga yang tinggal di depan rumah mereka. Gary dan Patricia sangat baik. Mereka mempunyai seorang putra berusia setahun yang sangat lucu yang langsung menarik perhatian si kembar. Keluarga Backels tinggal tepat di samping rumah mereka. Ronan Backels, anak laki-laki keluarga itu, berusia sekitar dua puluhan dan bersekolah di college setempat. Dia pemuda yang sangat ramah dan menyenangkan. Dia langsung akrab dengan Taylor dan lainnya. Dia mengajak Taylor dan saudaranya berjalan-jalan mengelilingi daerah ini dengan mobilnya. Mereka juga telah menjelajahi hutan kecil di belakang rumah mereka. Ronan bahkan sempat menunjukkan sebuah danau kecil yang terdapat di tengah hutan itu.

Rumahnya sunyi. Ayahnya sudah berangkat ke kantornya, si kembar sudah sejak tadi pergi ke rumah Patricia sementara anak-anak cowok menerima dengan gembira ajakan Ronan untuk berjalan-jalan ke pusat kota. Taylor baru saja selesai membersihkan dapur dari sisa-sisa sarapan. Ayahnya belum juga memutuskan untuk menerima salah satu dari calon-calon pengasuh yang sudah melamar padanya. Taylor berharap ayahnya akan segera memutuskannya sebelum tahun ajaran baru tiba. Taylor tidak bisa membayangkan kalau dia masih harus mengurus rumah dan adik-adiknya sambil bersekolah.

Celotehan Zoe membuat Taylor menoleh. Gadis itu tersenyum ketika Zoe terkekeh. Zoe adalah yang paling menderita di antara mereka karena dia tidak bisa lagi melihat wajah ibunya di usianya yang baru beberapa bulan.

Zoe yang malang, seharusnya saat ini kau masih asyik bermain-main dengan mom

Sebuah ide kemudian muncul di kepala gadis itu. Dia akan mengajak adiknya jalan-jalan. Pasti akan sangat menyenangkan. Taylor tidak sabar ingin menengok danau di tengah hutan itu lagi. Dia bergegas mengeluarkan kereta bayi dan memindahkan adiknya.

“Kita akan jalan-jalan, Zoe,” gumam gadis itu lembut sambil memasang jaket dan topi di kepala adiknya. “Kau pasti akan menyukai ini. Tempat tinggal kita yang baru ini benar-benar indah, kau tahu?” katanya lagi sambil memasang sepatu Zoe. Adiknya mengoceh tidak jelas. Taylor tertawa pelan seraya mendorong kereta adiknya keluar dan menutup pintu.

Hutan ini indah. Tanahnya bersih dan jalan setapaknya cukup lebar. Hutan ini menghubungkan daerah pemukiman ini dengan jalan utama di balik bukit. Penghuni daerah ini lebih suka melalui hutan ini untuk mengambil jalan pintas menuju pemukiman mereka. Tidak ada ular dan binatang buas di situ walaupun pohon-pohonnya kelihatan besar-besar. Taylor melangkah dengan santai. Dinikmatinya suara burung-burung yang berkicau denan riang. Dia bisa mencium bau lembab tanah yang bercampur dengan aroma dedaunan. Suara gemericik air dari parit kecil di pinggir jalan setapak itu membuat susana makin nyaman. Tanpa sadar Taylor bersenandung pelan.

Langkah Taylor tiba-tiba terhenti ketika melihat sesuatu tertelungkup di antara dedaunan yang berserakan. Taylor mengerutkan dahi dengan ragu. Dia menajamkan penglihatnya dan terkejut ketika menyadari sesosok tubuh tertelungkup di sana. Siapa dia? Apa yang dilakukanya di sini? Apa yang terjadi denganya? Taylor buru-buru membawa Zoe mendekat. Dengan heran dia berlutut di samping orang itu.

“Hei, bangunlah,” ujar Taylor sambil mengguncang bahu orang itu. Tidak ada sahutan. Taylor mulai ketakutan. Dibaliknya tubuh orang itu dengan khawatir. Dia seorang pemuda, mungkin sebaya Clarke, kakaknya. Keadaanya benar-benar berantakan. Noda darah kering dan tanah mengotori wajah dan pakaianya. Apakah dia masih hidup?

Taylor mencoba memeriksanya. Tubuh anak muda ini masih hangat dan hidungnya masih bernafas. Dia mungkin pingsan atau tertidur. Tapi kenapa di tempat seperti ini?

“Ayo, bangunlah!” Taylor kembali mengguncang tubuh anak muda itu. Tapi dia masih diam tidak bergerak. Taylor segera beranjak mengambil sehelai kain alas Zoe dan membasahinya dengan air dari parit terdekat. Perlahan dia mulai membersihkan wajah anak muda itu.

********

Jordan mengerang perlahan ketika kesejukan itu seolah menarik kembali kesadaranya. Perlahan dia membuka mata. hal pertama yang dilihatnya adalah seraut wajah cantik kekanak-kanakan sedang mengamatinya dan membersihkan wajahnya dengan hati-hati.

Siapa kau? Apakah kau malaikat? Apakah aku sudah mati?

Jordan termangu. Gadis itu memiliki mata terindah yang pernah dilihatnya. Gadis itu tersadar dan buru-buru menarik diri. Wajahnya memerah dengan cepat. Jordan baru saja hendak mengucapkan sesuatu ketika tiba-tiba dia merasa perutnya bergolak hebat. Buru-buru dia membuang dirinya dan muntah-muntah di semak terdekat. Dalam hati dia mengutuk minuman yang membuatnya mabuk semalam. Gadis itu memandangnya dengan sinar mata ingin tahu.

“Bantu aku,” kata Jordan susah payah. Gadis itu tidak menyahut namun segera mendekat dan membimbingnya berdiri. Jordan tertegun ketika merasakan sentuhanya. Kenapa sentuhan gadis itu terasa berbeda? Seperti ada getaran aneh yang menjalar ke dalam dirinya. Rasanya begitu hangat dan nyaman. Gadis itu membawanya menuju parit. Jordan segera membersihkan wajahnya dan mulutnya. Air itu terasa segar mengenai mukanya. Jordan kembali menoleh ke arah gadis itu dan mencoba untuk tersenyum.

Thanks.”

Gadis itu hanya menyodorkan sehelai kain kering. Jordan menerimanya dan membersihkan wajahnya.

“Apa yang terjadi denganmu?” akhirnya gadis itu bertanya ketika melihat Jordan sudah jauh lebih baik.

“Kurasa..kurasa aku mabuk tadi malam. Mobilku menabrak pohon. Aku mencoba keluar tapi malam begitu gelap.” Jordan berusaha mengingat kejadian itu. “Lalu.. sepertinya aku terperosok jatuh dan membentur sesuatu,-“ Jordan mengeluh tertahan ketika kepalanya kembali berdenyut.

Gadis itu mendekat dengan prihatin. Dirabanya kepala Jordan dengan lembut. Jordan kembali termangu. Kehangatan itu kembali menjalar menenangkan dirinya. Mereka begitu dekat. Jordan merasakan keinginan kuat untuk menciumnya. Tapi sesuatu seolah menahannya untuk melakukanya.

Well, kau kelihatan parah,” komentar gadis itu lagi. Dia terdiam sesaat. “Umm, rumahku tidak jauh dari sini. Kita bisa kesana dan melakukan sesuatu untuk membantumu.”

“Tidak perlu," kata Jordan cepat-cepat. "Aku tidak ingin merepotkanmu.” Gadis itu tersenyum.

“Aku tidak merasa direpotkan, kok,” balasnya. Jordan tampak ragu.

“Ayolah!” ajak gadis itu seraya membimbing Jordan untuk berdiri. Jordan tidak kuasa untuk menolaknya. Mereka melangkah perlahan meninggalkan tempat itu. Jordan kembali muntah-muntah di tengah jalan. Gadis itu menunggunya dengan sabar.

*******

Pemuda ini tinggi dan keren, pikir Taylor dalam hati. Siapa dia? Dia heran kenapa dia sama sekali tidak merasa canggung dan asing di hadapan anak muda ini? Taylor merasa seolah ada deja-vu yang menyergapnya ketika mereka bertemu. Sepertinya sesuatu akan terjadi di antara mereka. Apakah mereka pernah bersama di kehidupan sebelumnya? Tiba-tiba saja Taylor menyadari sesuatu ketika mendekati rumahnya. Apa-apaan ini? Bagaimana mungkin dia membiarkan seorang pemuda asing masuk ke dalam rumahnya sementara tidak ada siapa-siapa di rumah itu? Bagaimana kalau pemuda itu macam-macam denganya? Namun ketika melihat keadaan anak muda itu yang kepayahan, Taylor berusaha menyingkirkan pikiran itu jauh-jauh.

********

Gadis itu mengajaknya memasuki dapur rumahnya yang bersih dan hangat. Jordan mencoba membayangkan keluarga seperti apa yang tinggal di rumah ini. Yang jelas keluarga itu jauh berbeda dari keluarga yang dikenalnya. Gadis itu menyuruhnya duduk. Jordan menurut. Sesaat gadis itu disibukan oleh adiknya yang merengek-rengek.

Jordan mengamati gadis itu mengangkat dan menenangkan adiknya lalu memindahnya ke kursi bayi. Sejenak gadis itu bermain-main mengalihkan perhatian adiknya lalu bergerak menyiapkan sesuatu di meja dapur. Entah kenapa Jordan menyukai semua detail tingkah gadis itu. Dia bagaikan lukisan yang bergerak-gerak. Jordan tersadar ketika tiba-tiba gadis itu sudah berdiri dihadapanya sambil menyodorkan sepiring waffel dan telepon.

“Kau pasti belum sarapan dan ini untuk menghubungi seseorang yang kau butuhkan. Sekarang biarkan aku merawat lukamu.”

Jordan mengucapkan terima kasih dan menerima telepon. Dibiarkanya gadis itu duduk dihadapanya dan mulai membuka kotak obat yang dibawanya.

Sesaat Jordan bingung memikirkan siapa yang akan dia hubungi. Gadis itu mulai membersihkan lukanya dengan alkohol. Akhirnya Jordan memutuskan untuk menghubungi Jesse. Dia bersorak dalam hati ketika nada sambung terdengar.

Man! Aku berusaha menghubungimu! Kemana saja kau?!” gerutunya tertahan. “Dengar! Kau harus membantuku! Mobilku kecelakaan semalam." Jordan terdiam sesaat, mendengarkan. "Tidak, aku baik-baik saja!" tukasnya segera.

"Kau harus menjemputku sekarang juga! Aku ada di--“ Jordan memandang gadis di hadapanya dengan pandangan bertanya. Gadis itu menyebutkan sebuah alamat. Jordan mengulangnya. “Cepatlah! Aku menunggumu!" Jordan terhenti. "Siapa?! Gadis itu? Dia itu orang yang menolongku, brengsek!” Jordanpun menutup pembicaraan dan termangu menyadari gadis itu begitu dekat denganya sekarang. Perasaan aneh menggelepar di perutnya. Jordan tidak bisa menahanya lagi.

*****

“Selesai! Ini jauh lebih baik,” gumam Taylor merekatkan plester terakhir di pelipis Jordan. Dia terdiam ketika menyadari anak muda itu kini menatapnya dengan seksama. Taylor merasa wajahnya memanas. Dia baru menyadari tatapan anak muda itu begitu dalam menghujam ke hatinya. Dadanya tiba-tiba bergemuruh keras.

Please, jangan pandang aku seperti itu..

Belum sempat Taylor berkata apa-apa, tiba-tiba anak muda itu mencondongkan wajahnya. Taylor terkejut ketika merasakan mulut anak muda itu menyentuh mulutnya dengan lembut sekali. Taylor bisa merasakan gerakan mulut anak muda itu di bibirnya. Rasanya begitu hangat membuat jantungnya bergemuruh makin kencang. Apa yang anak muda itu lakukan?

*****

Jordan melepaskan ciumanya dan tersadar.

“Maaf, aku tidak bisa menahan diri. Kuharap kau tidak marah,” katanya halus. Taylor terdiam sesaat.

“Kau cowok pertama yang menciumku,” aku Taylor pelan. Jordan mengangkat alisnya.

“Benarkah? Well, kuharap aku sudah memberikan gambaran ciuman pertama yang tepat.” Jordan mencoba bergurau mencairkan suasana. Alih-alih berkomentar, gadis itu justru beranjak berlalu mengembalikan kotak obat dan menyibukkan diri dengan mengurus adiknya. Jordan merasa tidak enak. Sesaat mereka saling diam. Entah kenapa Jordan tidak menyukai suasana ini dan merasa bersalah. Gadis itu pasti sekarang berpikir kalau dia adalah anak muda kurang ajar tidak tahu diri.

Kenapa aku tidak bisa menahan diri??

Jordan merasa tidak enak. Sesaat gadis itu tidak mempedulikanya. Sial!! Ini bukan situasi yang dia inginkan!

Jesse muncul tidak berapa lama kemudian. Gadis itu yang membukakan pintu dan dia langsung memanggil Jordan. Jordan keluar dengan menggerutu.

“Kenapa kau lama sekali?!” gerutu Jordan.

“Hei, aku harus mencari alamat ini dulu!” balas temanya.

“Ayo pergi!” ajak Jordan.

“Bagaimana dengan mobilmu?”

“Biar mobil derek yang membersihkanya.”

“Yah, kalau mereka bisa,” komentar temanya. Jordan mencibir.

“Itu urusan mereka,” tukasnya. Dia tersadar ketika melihat Taylor yang mengamati mereka berdua. Jordan berusaha untuk tersenyum.

“Ini temanku,” katanya basa-basi pada Taylor.

“Aku tahu,” balas Taylor. Jesse melambaikan tanganya sekilas. Taylor membalasnya dengan tersenyum tipis. Jordan kembali beralih pada Taylor.

“Maaf telah merepotkanmu dan terima kasih atas bantuanmu, Kitty,” Kata Jordan tulus. Taylor tersenyum.

“Tidak apa-apa, kok.”

Jordan mengeluh dalam hati.
Lagi-lagi kau membuatku tidak bisa menahannya..

Untuk kedua kalinya tanpa sadar dia mencium gadis itu. Taylor terbelalak. Jordan juga tampak terkejut namun segera tersenyum.

“Ucapan terima kasih dan salam perpisahan, anggap saja begitu,” katanya cepat-cepat. “Bye..” ujar Jordan lagi seraya berlalu pergi diiringi tatapan Taylor. Gadis itu tersadar ketika mobil yang dikendarai anak muda itu meninggalkan halaman rumahnya.

Taylor tiba-tiba merasa seluruh kakinya lemas. Bagaimana mungkin anak muda itu tiba-tiba menciumnya dua kali setelah beberapa menit pertemuan mereka?? Apakah dia menyukainya? Apakah itu berarti sesuatu? Bahkan gemuruh di dadanyapun belum sempat hilang. Bahkan Taylor masih bisa merasakan sensansi hangat itu di mulutnya. Bayangan anak muda itu bermain-main di kepalanya. Dan Taylorpun tersadar.

Kenapa aku tidak menanyakan namanya??

Taylor tidak tahu apakah dia harus merasa menyesal atau kecewa.

Apakah mereka akan bertemu lagi?

.............

Yang ingin baca chapter sebelumnya dipersilahkan...
www.kemudian.com/user/yosi_hsn

Read previous post:  
49
points
(1949 words) posted by yosi_hsn 14 years 6 weeks ago
70
Tags: Cerita | cinta | American pie | keluarga | Novel | yosi
Read next post:  
Writer cat
cat at AOM 3 : Pertemuan (14 years 3 days ago)
70

ni jordan kgk ade pake permisi lgsg maen sosor aja, pake diulang lg ...

dadun at AOM 3 : Pertemuan (14 years 1 week ago)
90

so sweeeeetttt^___^

lha, langsung nyosor aja si Jordan^^
heuheu.... lanjuuuuttt ah

Writer alwayzzcitra
alwayzzcitra at AOM 3 : Pertemuan (14 years 5 weeks ago)
90

Benar2 spicy!
Lanjut...

Writer gusbadung
gusbadung at AOM 3 : Pertemuan (14 years 5 weeks ago)
70

dewasa bgt..^^ keknya perlu di beri genre deh..^^ bagus bagus..^^

Writer hasnankh
hasnankh at AOM 3 : Pertemuan (14 years 5 weeks ago)
80

Ceritanya bagus tapi eehhh ceriat dewasa yaaaa. Akukan masih anak smp.

O, ya berikut lanjutan cerita empat sekawan ku ada disini :

Kisah Para Penghuni Junglecamp Part-21

Writer kopitozie
kopitozie at AOM 3 : Pertemuan (14 years 5 weeks ago)
80

biasanya tozie paling males baca yang panjang-panjang ... tapi ini luar biasa aku baca sampe tuntas.

Writer clme_13
clme_13 at AOM 3 : Pertemuan (14 years 5 weeks ago)
90

mmmm....
satu kata:
lanjut!

kirain taylor tu nama cowo n nyaris kbaca tailor hahaha

Writer Villam
Villam at AOM 3 : Pertemuan (14 years 5 weeks ago)
90

hoho... cerita bagus, penyampaian juga oke.
btw, kalo menurut gua aja sih, pada adegan2 pertemuan jordan n taylor di bawah, lebih baik dipisahkan dengan jelas adegan2 mana yang memakai sudut pandang jordan, dan mana yang taylor.
sehingga ketegangan dan rahasia dua hati (huhuhu...) bisa terjaga.
lanjuuut...

Writer Tedjo
Tedjo at AOM 3 : Pertemuan (14 years 5 weeks ago)
80

tulisanmu makin enak dibaca sist..lanjut..!

Writer punk5
punk5 at AOM 3 : Pertemuan (14 years 5 weeks ago)
100

lanjuut