Kisah Para Penghuni Junglecamp Part-21

17. ANA BUKA MULUT

Semua terkejut melihat Ana, kecuali Tika. Ia hanya tersenyum puas sambil bertolak pinggang.

”ANA?!” teriak Kak Nia tak percaya.
”Kau tahu semua rahasia ini? Kenapa kau tak bilang dari tadi ?’’ tanya Luna.

Ana tak menjawab. Ia tertunduk diam.
”Karena aku berjanji tak akan membocorkannya.” ujarnya kemudian. ”Lagipula kalau aku bocorkan, bahaya akan menimpa kita.”

”Menimpa kita? Aneh,” ketus Tika.
”Kalian tak tahu. Kalau kubocorkan, Zea dan keluarganya akan membunuh kita,”

”Aku tak mengerti,” usik Tomi.
”Yang jelas dong, kalau ngomong.” ejek Tika lagi.
”Sudah, kalian jangan bertengkar. Jangan buat masalah lagi, kita sudah cukup menderita!” kata Kak Nia. ”Ayo An–Cepat beritahu saja rahasiamu, sebelum ada kekacauan lagi,”

Ana berpikir sejenak.
”Baiklah kalau begitu. Ini bermula saat aku diculik. Ceritanya begini,” Ana mengawali ceritanya. Semuanya ia tuturkan, mulai dari ketika ia terbangun dan berada di sebuah rumah menyeramkan, sampai ia diberitahu oleh Zea dan Ryu bahwa mereka dan keluarga mereka adalah arwah baik yang gentayangan.

Tentu saja semuanya kaget! Luna sampai memekik ketakutan, dan Tika melotot tak percaya. ”Ja...Jadi...Mrs. Rocee dan Sussan...Mereka adalah arwah...Yang...yang melukai tanganku dan...”

”Berarti benar kata pamanku!” kilah Tomi. ”Berarti memang benar...Kalau Hutan Junglecamp ini memang menyimpan misteri! Tapi..Katamu Zea akan membunuh kita?”

Ana diam sebentar. ”Ya. Dia bilang kalau sampai banyak yang tahu, ia dan keluarganya akan marah. Mereka masih bagian dari zombie. Mereka mudah marah dan bisa membunuh kita.”

”Terus... Sekarang kita harus bagaimana?” tanya Luna. Wajahnya pucat sekali, seperti habis melihat hantu sungguhan. Ia lalu duduk di sebuah bangku, dan menengadahkan kepalanya pada Ana, menunggu jawaban.

Ana menggeleng kecewa. ”Aku tidak tahu. Zea tidak memberitahu apa-apa tentang semua ini. Ia tak menceritakan apapun tentang bahaya yang bisa menimpa dirinya,” Lalu dipandangnya wajah teman-temannya dan Kak Nia. Semuanya nampak ketakutan dan gugup. Mereka membisu beberapa saat, memikirkan apa yang harus dilakukan. Tiba-tiba Kak Nia bangkit dari duduknya.

”Kenapa kita tak menunggu hingga pagi saja? Kita bisa tidur di sini hingga pukul enam nanti, dan semua ini pasti akan berakhir dan kembali seperti semula,” ujar Kak Nia.

Empat Sekawan tak menanggapi. Mereka bingung.
Kak Nia tersenyum, lalu berjalan menuju pintu. Disambarnya sebuah kunci di atas meja sambil berseru, ”Ini dia kuncinya!” Kemudian dimasukkannya kunci ke lubang kunci, memutarnya, kemudian membukanya. Pintu terbuka lebar-lebar. Kak Nia tersenyum puas.

”Ayo, anak-anak, kita keluar dan masuk ke kamar! Kita bisa tidur nyenyak!” ujar nya, sambil masih tersenyum merekah. Tapi rupanya anak-anak hanya terpaku memperhatikannya.

”Kenapa diam? Ayo, kita tidur saja!”
Ana hanya mengerutkan kening, matanya melotot tak percaya. Apa? Tidur nyenyak dan membiarkan Zea bersama keluarganya menjadi patung selama-lamanya?! Membiarkan mereka tersiksa? Sementara mereka sudah susah payah menolong dan melindungi kami?! Benar-benar kejam! Tidak–Itu tak boleh kubiarkan!

”Tunggu dulu!” teriak Ana tiba-tiba. ”Kita tak boleh membiarkan mereka menjadi patung. Kita harus menolong mereka!”

”Ya, benar! Mereka telah berjasa kepada kita. Tapi apakah pantas kalau kita biarkan mereka begitu saja?!” tambah Tomi. Ternyata ia sependapat denganku, pikir Ana. Kak Nia terkejut.

”Hah? Menolong mereka? Mereka ’kan arwah? Mereka hanya zombie-zombie yang tidak punya hak hidup,” ejek Kak Nia.

”Itu namanya tidak manusiawi! Air susu dibalas air tuba!” kilah Tomi.

”Mereka memang bukan manusia!” Kak Nia tak kalah bicara.

”Mereka benar.” kata Tika tenang. ”Dengar, Kak. Walau hidup mereka hanya semalam, tapi bagaimanapun juga mereka tetap menolong kita. Kita harus menyelamatkan mereka seperti mereka menyelamatkan nyawa kita,”

Ana menunduk lesu. Ia tahu ia tak dapat mengalahkan omongan Kak Nia. ”Ya sudahlah, terserah Kakak.” ujarnya sambil berpaling. ”Kami saja yang akan menolong mereka.”

”Kak Nia, mungkin ada benarnya kalau kita menolong mereka,” bujuk Luna.

Namun Kak Nia tetap pada pendiriannya. Ia menggeleng, tetapi tidak marah. ”Aku ingin tidur, aku benar-benar lelah.” ujarnya sambil tersenyum. ”Beraksilah tanpa aku. Kalian ’kan Empat Sekawan. Kalian pasti bisa,” lalu ia berpaling, berjalan meninggalkan Empat Sekawan, berbelok menuruni tangga, dan menghilang.

”Selamat tidur, Kak. Semoga nyenyak,” ujar Luna sambil menutup pintu dapur.

Lalu ia berpaling pada teman-temannya, ”Oke, sekarang kita mulai dari mana?”

”Kita mulai dari menyelidiki patung-patung mereka. Siapa tahu ada petunjuk,” Tika memimpin. Semuanya mendekati masing-masing patung dan segera menyelidikinya.

Tika menyelidiki patung Bibi Ola yang berpose ketakutan. Mulutnya menganga, matanya melotot dan kedua kakinya terbuka lebar-lebar. Kedua tangannya mengepal. Eh, tunggu. Di kepalan tangan kirinya, tergenggam sebuah kertas. Dengan kasar, Tika menarik kertasnya yang kusut, dan membukanya. Tetapi ternyata tidak ada tulisan apa-apa di situ. Kosong. Ia mengeluh panjang, lalu meremas-remas kertas itu, dan melemparnya. Kemudian ia mulai menyelidiki lagi.

Luna dan Ana yang menyelidiki patung Ryu, terheran-heran. Pose Ryu begitu aneh. Tatapannya tajam dan menentang. Tangan kanannya menggenggam, sementara tangan kirinya menunjuk ke samping. Mulutnya terbuka sedikit, seperti hendak berbicara.

”Kurasa tak ada petunjuk pada anak ini,” ujar Luna .

”Ya, kecuali ada kertas yang ia genggam!” kilah Ana sambil menyambar kertas yang digenggam oleh tangan kanan Ryu. Lalu mereka membaca isinya.

”Satu bungkus terigu, enam telur, dua-tiga gelas air, gula putih... Hei! Ini ’kan resep kue?!” tutur Luna.

”Itu memang resep pudding yang akan kami buat tadi! Jadi itu bukan petunjuk,” ujar Tomi. Kemudian ia berjalan menuju patung Zea.

Sementara yang lain sibuk menyelidiki, Tomi hanya diam terpaku memperhatikan pose patung Zea yang benar-benar aneh.

Wajah Zea berpaling ke kiri, dan tangan kirinya menunjuk ke sebelah kiri, seolah-olah hendak menunjukkan sesuatu. Mulut Zea terbuka sedikit, seperti hendak berbicara, seperti patung Ryu.

Otak Tomi berputar. Lalu ia memperhatikan patung Ryu yang berada di sebelahnya. Ryu juga menunjuk ke arah kiri, pikir Tomi . Jangan-jangan ini petunjuk!
”Teman-teman!” sahut Tomi. Semuanya lantas berpaling.

”Ada apa?”
”Lihat ini! Patung Ryu dan Zea sama-sama menunjuk ke arah kiri! Walau kelihatan janggal, tapi menurutku ini pasti petunjuk,” jelas Tomi.

”Ya. Mereka bermaksud menunjukkannya kepada kita,” ujar Tika.

”Kalau begitu pasti petunjuknya ada di antara benda-benda ini–Lemari, sebuah baskom, botol tinta dan...Foto keluarga!” kata Ana.

”Tidak, An. Baskom tidak termasuk, letaknya terlalu jauh. Aku rasa–Lemari, foto keluarga, botol tinta dan empat buah gelas,” tutur Tika sambil menunjuk ke arah empat buah gelas yang diletakkan berjejer di depan lemari. Mereka ber-empat lantas berjalan mendekati benda-benda itu.

Tomi membuka lemari yang berdaun pintu dua. Debu berterbangan di mana-mana. Lalu ia menemukan sebuah buku tebal. Ia langsung mengambilnya, menepuk-nepuk debu di atasnya sambil terbatuk-batuk, dan membaca judulnya.

” THE SECRETS OF MAGIC ”. Itulah judulnya.
“Rahasia-Rahasia Sihir?” gumam Tomi. Kemudian ia membuka lembaran-lembarannya. Namun semuanya berbahasa sihir yang sama sekali tak dimengerti.

Deretan gelas yang janggal sangat menarik bagi Tika. Ia membawa gelas-gelas itu ke meja, dan menyelidikinya. Ia menerawangkan gelas kaca itu satu per satu. Eit..Tunggu. Ketika ia menerawangkan gelas ke satu, samar-samar terlihat percikan silau cahaya berwarna merah. Begitu seterusnya. Pada gelas kedua terlihat percikan warna ungu. Gelas ketiga keluar percikan berwarna hijau, sementara gelas terakhir keluar percikan berwarna biru. Apa artinya ini? Tika bertanya-tanya.

***

18. PETUNJUK TERPECAHKAN!

BAGI Ana, hal yang tidak membosankan adalah menyelidiki foto keluarga besar Zea. Ia hitung satu per satu, ada delapan orang di sana. Terlihat ada dua anak kecil yang satu perempuan dan yang lainnya laki-laki. Itu pasti Zea dan Ryu, pikirnya. Lalu ada seorang bapak-bapak bertubuh kekar dan wanita gendut. Mereka tak lain adalah Bibi Ola dan Paman Diddle.

Namun ada empat orang yang seluruh wajahnya buram, sama sekali tak terlihat. Ana bingung dibuatnya. Siapa mereka?

Luna menyambar sebotol tinta yang tidak terlalu besar. Warna bungkusnya hitam, tapi ia tak tahu apa warna tintanya. Ia buka tutupnya, dan tiba-tiba saja bau menyengat menyayat hidung mereka.

”Uh! Bau apa ini?!” ujar Tomi sambil menutup hidungnya.

”Menyengat sekali!”
”I-Ini hanya bau botol tinta! Tapi kenapa baunya..Uhh..” desah Luna.

”Itu amoniak, kali!” komentar Ana. ”Sudah, tutup saja botolnya!”

”Tapi ini petunjuk,” bantah Luna. ”Sudah, kalian jangan hiraukan bau ini. Sibuklah sendiri!”

Semuanya pun tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Luna sangat tidak mengerti, apa kegunaan tinta yang baunya menyengat itu. Ia kemudian ingat dengan selembar kertas yang dilempar oleh Tika saat menyelidiki patung Bibi Ola. Mungkin akan berguna untuk mengetahui warna apa sebenarnya tinta ini, batin Luna. Ia lalu mengambil kertas kusut itu, dan meratakannnya di atas meja. Kemudian ditumpahkannya setetes air tinta ke atas kertas itu sambil menutup hidungnya rapat-rapat.

Clak...!
Setetes tinta diteteskan, ternyata berwarna merah.
Tunggu. Tintanya melebar.
Terus melebar, melebar dan melebar.
Tiba-tiba warnanya berubah!
Dari merah menjadi cokelat tua, lalu menjadi ungu, kemudian menjadi hitam.
Ada apa ini?!

Luna benar-benar terkejut. Tiba-tiba saja dari tinta yang melebar itu, muncul sebuah tulisan besar di tengah-tengah kertas. Entah tulisan apa itu, bahasanya tidak dimengerti. Dan pada saat itu, tintanya tidak mengeluarkan bau menyengat lagi.

”Teman-teman!” panggil Luna. ”Coba lihat, apa yang aku temukan,”

Semuanya mengerumuni Luna.
”Tulisan apa ini? Tulisanmu?” tanya Ana.
”Ini bukan tulisanku,” bantah Luna. ”Dengar. Tadi aku teteskan tinta ini ke atas kertas yang digenggam patung Bibi Ola yang diremas-remas dan dibuang oleh Tika. Semula warnanya merah, tapi tintanya tiba-tiba melebar dan warnanya berubah menjadi cokelat, lalu ungu, dan menjadi hitam! Aku tak tahu apa arti tulisan ini, tapi aku yakin ini adalah petunjuk!”

“Ini bukan kalimat yang ada di kamus dunia.” ujar Tomi. ”Ini kalimat sihir,”

”Sihir? Kau tau dari mana?” tanya Luna. Tomi lalu menyodorkan buku yang digenggamnya.

”The..The Secrets Of Magic?!!”
Tika merebutnya paksa, dan membuka lembaran-lembarannya. Semuanya mengamati dengan seksama apa isi buku itu.

”I-Ini...Benar! Bahasa sihir!” pekik Ana kaget, lalu disambarnya kertas yang tertulis bahasa asing penemuan Luna. Kemudian dicocokkannya tulisan itu dengan tulisan yang ada di buku.

”Lihat, kan?! Cara penulisannya sama!” ujar Ana. Sepertinya ia heboh sendiri. Sebenarnya walau yang lain juga kaget, mereka tenang saja.

”Tenang teman-teman,” kata Luna. ”Kita harus cari cara agar bisa menerjemahkan kata-kata ini. Pasti ada kuncinya,”

”Baik. Begini saja. Katakan apa yang kalian temukan,” kata Tika serius. Ia melirik pada Ana.

”A-aku tidak menemukan apa-apa di foto ini,” ujar Ana sambil menunjukkan foto keluarga Mr. Bob. ”Tapi memang ada yang aneh. Lihat, di sini ada wajah empat orang yang buram dan tak terlihat. Mereka pasti masih bagian dari keluarga Zea.”

Tomi manggut-manggut. ”Memang. Mungkin mereka ada kaitannya dengan semua ini,”

Tika kemudian mengajak ketiga temannya menghampiri meja makan. ”Kalian lihat gelas-gelas ini,” tuturnya. ” terawangkan gelas ini. Dan lihat apa yang terjadi.”

Ketika masing-masing menerawangkan gelas itu, percikan warna terpantul dari gelas itu.

”Warnanya! Warnanya bagus sekali!” kata Ana. ”Tapi apa artinya ini?”

Semuanya diam, terpaku. Tak ada yang menjawab.
”Aku tahu.” ujar Tika tiba-tiba. Sifat Tika yang asli mulai muncul. ”Petunjuk awalnya pasti dari buku itu. Buku itu akan menjelaskan apa penawar racun untuk melawan dan memusnahkan raja zombie di sini,”

”Tapi apa formulanya? Apa alat untuk menerjemahkan bahasa itu?” kilah Ana.

”Warna tinta yang diteteskan Luna sama dengan percikan warna di gelas ini.” jelas Tika. ”Yaitu hitam, cokelat, merah dan ungu. Menurut analisa ku, kita harus meneteskan tinta ke setiap gelas,”

Teman-temannya mengambil gelas. Begitu juga Tika. Lalu ia teteskan tinta ke setiap gelas. Tiba-tiba, muncul cahaya kuat di sekeliling gelas kaca itu.

”Wow!” teriak Tomi. ”Gelasku bercahaya merah,”
”Sekarang apa?” tanya Luna.

Tika tak menjawab. Ia berjalan mengambil kertas bertulisan aneh yang ditemukan Luna, lalu menyatukan dengan robekan buku ’The Secrets of Magic’. ”Ayo kita tuangkan cairan ini secara bersamaan.”

Tika menutup buku sihir itu. ”Tuangkan ke atas sampulnya,”

Empat Sekawan mengelilingi buku besar itu, lalu menuangkannya. Tiba-tiba keluar cahaya putih silau memancar di buku itu. Benar-benar menyilaukan. Yang mengejutkan, buku itu melayang ke atas dengan sendirinya dan membuat Empat Sekawan tak berani berkata-kata. Buku aneh itu lalu jatuh ke meja–Seperti dibanting keras–dan cahaya putihpun menghilang. Debu kotor berterbangan di mana-mana.

Empat Sekawan masih terdiam, mereka mendekati buku itu dengan pelan-pelan. Setelah itu Tika membuka bukunya. ”Berhasil. Bahasanya berubah,”

”Ajaib!” pekik Ana. ”Ini bahasa Inggris,”
Tika membuka halaman lembaran tulisan besar yang ditemukan Luna tadi. Ia baca kalimatnya,” ’Satukan cahayamu. Jika sinar bulan berpihak, kegelapan akan musnah.’ ”

”Apa maksudnya? Cahaya mana?” tanya Luna.
”Entah.” jawab Tika. ”Jika sinar bulan berpihak, kegelapan akan musnah. Hmm, mungkin kita butuh cahaya bulan. Dengan itu musuh kita akan terkalahkan,”

”Di sini tak ada cahaya bulan.” usik Tomi. ”Tapi mungkin di lantai ter-atas di rumah ini ada sebuah ruangan terbuka–Biasanya ’kan rumah-rumah besar seperti itu. Setidaknya cahaya bulan terlihat,”

Semua tampak berpikir.
”Benar juga,” timpal Ana sambil terus memainkan gelasnya yang memancarkan sinar ungu. Menurutnya sinar itu benar-benar indah.”Tapi butuh perjuangan untuk ke sana,”

Tika terus berfikir. Tak sengaja ia mendapati sedikit sinar tipis–Mungkin dari sinar bulan di luar yang merembes ke kaca–Dan saat Ana mengarahkan gelas itu ke sedikit cahaya, gelasnya memantulkan warna.

”A-Aku tahu,” ujar Tika. ”Yang dimaksud buku itu adalah menyatukan cahaya dari gelas-gelas itu tepat di bawah sinar bulan purnama!”

Teman-temannya terbelalak kaget. ”Be-benar juga!”
”Luna dan Tomi–Kalian pergi ke lantai paling atas dan tunggu di sana sampai aku dan Ana menyusul. Kami akan pecahkan masalah di sini sebelum shubuh. Ambil masing-masing gelas kalian. Ayo, lari secepat-cepatnya!” perintah Tika. Luna dan Tomi tak sanggup berkata, dan langsung melesat pergi menaiki anak tangga seperti dikejar-kejar anjing.

”Baik, Ana,” kata Tika serius. Diambilnya buku ’The Secrets of Magic’ dan membuka lembaran-lembarannya. “Kita pecahkan misteri ini. Tantangan baru dimulai,”

* * *

“Uhh!!” umpat Tika sambil membanting buku ‘The Secrets of Magic’ dan mengaruk-garuk kepalanya. Ana yang sedang memperhatikan foto keluarga Zea, terkejut.

”Aku tak dapat memecahkan apa arti kalimat-kalimat ini. Bahasanya terlalu puitis–’Satukan pecahan kaca yang terpisah-pisah maka besi akan meleleh. Jangan menanti awan hitam, kesempatan hanya satu. Siku-siku pasti menghentikan langkah kalian. Putih akan hilang. Jangan sia-siakan waktumu’–Kau tahu artinya, An?”

Ana melongo. Mungkin sifat genius Tika sudah hilang. Kekuatannya memang hanya berlangsung sesaat.

”Ngg, kaca yang terpisah-pisah mungkin petunjuk? Kalau besi meleleh, apa ya? ’Jangan menanti awan hitam, kesempatan hanya satu’. Mmm...Mungkin kita harus buru-buru karena kesempatan hanya satu??” kata Ana.

”Kalimat pertama artinya memang kita harus satukan petunjuk dan memecahkannya, tapi..Besi akan meleleh...Apa artinya, ya? Ah, biarin lah. Yang penting kita harus pecahkan petunjuk,” kilah Tika. Ia bangkit dari duduknya, lalu menyambar foto keluarga yang digenggam Ana.

”Ini pasti Zea, terus ini Ryu, ngg... Ini Paman Diddle, dan...Bibi Ola,” ujar Tika sambil menunjuk satu per satu orang di dalam foto yang wajahnya jelas. ”Kemungkinan yang buram ini adalah..Ibu-nya Zea, Paman Bob, terus...Siapa yang dua orang lagi? Mungkin kakek dan neneknya? Soalnya terlihat tangan mereka keriput dan memegang tongkat,”

Ana manggut-manggut. ”Tapi kenapa ada yang buram, ya? Lagipula kakek dan neneknya tak pernah ada di sini. Zea bilang di rumah ini cuma’ ada enam orang. Kalau kakek dan neneknya baik, seharusnya mereka ada di rumah. Mereka ’kan tidak jahat,”

Ada sesuatu melesat kencang di pikiran Tika. ”Jahat!” ujarnya spontan dengan mata terbelalak. ”Ya, benar–Jahat! Gambar Zea, Ryu, Paman Diddle dan Bibi Ola tidak buram karena mereka arwah baik, tapi gambar lainnya buram dan itu menunjukkan bahwa mereka termasuk arwah jahat!”

”Tapi Mr. Bob tidak jahat. Bahkan wajahnya ramah sekali.
Untuk apa ada di rumah kalau dia arwah jahat?” timpal Ana.

”Ada udang di balik batu, An,” ujar Tika. ”Dia pasti punya maksud lain. Mungkin pada acara supper, Mr. Bob akan menyerang kita. Lihat saja, Mr. Bob tidak disihir menjadi patung, ’kan?”

Ana diam saja. Setelah itu ia dan Tika pergi ke bawah, memastikan Kak Nia yang sedang tidur baik-baik saja.
”Tak apa-apa,” kata Ana. ”Tidurnya pulas.”

Mereka berjalan melewati ruang tamu. Tika memperhatikan dengan seksama jam dinding besar yang terdapat lonceng emas seperti gong menggantung di bawahnya. Waktu menunjukkan pukul satu lewat lima belas.

”Ayo, Tik? Ngapain diam di situ? Buruan, batas waktunya ’kan sampai shubuh,” ajak Ana.

Tika diam saja. Ia terus memperhatikan jam itu seakan terhipnotis. ”Ana?” panggilnya. ”Apa jam tiga malam bisa disebut shubuh?”

”Lho, jam tiga malam memang sudah shubuh. Memang kenapa?” tanya Ana.

”Ke sini,” panggil Tika. Ana menurut. ”Perhatikan baik-baik. Jika jarum pendek tepat di angka tiga dan jarum panjang tepat di angka dua belas, apa yang kamu dapat?”
Ana diam beberapa saat, berusaha menguras otaknya.

”Su..Sudut siku-siku!” teriaknya kemudian. ”Jadi yang dimaksud ’Siku-siku pasti menghentikan langkah kalian’ adalah...”

”Jika sudah pukul tiga shubuh, usaha yang kita lakukan sia-sia dan arwah jahat akan menguasai Junglecamp. Pihak baik akan kalah. Dan kita harus selesaikan masalah ini sebelum jam tiga,” potong Tika. Tampangnya benar-benar serius.

Kemudian mereka berjalan menaiki anak tangga, menuju dapur lagi. Saat itu mereka sedang sibuk berpikir.
”Hmm.. ’Jangan menanti awan hitam’, hmm.. Kurasa itu bukan ungkapan, An.” kata Tika.

”Maksudmu jika awan hitam datang kita celaka?” tanya Ana. Tika menggeleng.

”Bukan!” ujarnya. ” ’Jangan menanti awan hitam, kesempatan hanya satu’. Artinya jika bulan purnama ditutup awan, kita akan kalah. Dan setelah itu awan tak akan membuka dan bulan purnama tak akan terlihat lagi!”

”Bagus. Sekarang apa arti ’Putih akan hilang’?” tanya Ana.
”Tidak tahu. Mungkin kebaikan akan hilang?” tebak Tika. ”Atau cahaya akan hilang?”

Mereka berjalan, membuka pintu dapur dan menutupnya kembali. Tiba-tiba bau menyengat menusuk hidung mereka.
”Ih! Bau apa ini? Lihat–ada lumpur!” teriak Ana saat sepatunya menginjak cairan yang kental di lantai.

”Ini bukan lumpur.” Tika lalu berjongkok dan memperhatikan dengan seksama. Ia telusuri sepanjang apa cairan itu.
”Patungnya–Patung itu meleleh!”

Mereka berlari menghampiri patung-patung. Semennya terus membanjiri lantai, dan tak lama kemudian kulit Zea dan yang lainnya mulai nampak.

”Tika–Mungkin maksud ’Besi akan meleleh’ itu patung akan mencair dan menjadi manusia kembali,” ujar Ana.

”Ya. Kita berhasil memecahkan petunjuknya, dan mereka terselamatkan,” kata Tika, tersenyum puas.

Mereka menunggu sampai Zea dan yang lainnya menjadi manusia lagi. Zea tersenyum, lalu merangkul Tika dan Ana.
”Aku yakin kalian bisa,” ujarnya senang.

”Terimakasih, ya. Padahal petunjuk yang kami berikan itu sulit,” tambah Bibi Ola.

”Mana dua anak lagi?” tanya Ryu, sambil mengibas-ngibaskan beberapa cairan semen yang melekat di bajunya.

”Mereka di atas. Menunggu kami menyusul ke atas
sana,” jawab Tika.

”Sepertinya misteri Junglecamp akan berakhir kali ini. Kalian adalah anak-anak pintar yang mau membantu kami dan tidak egois. Tahun lalu banyak yang melihat kami menjadi patung, tapi mereka membiarkan kami begitu saja. Akhirnya mereka dihabisi oleh zombie yang lainnya,” tutur Zea.

”Ayo kita ke meja makan. Acara supper akan dimulai,” ajak Ryu.

Kemudian mereka mengambil bangku dan duduk di kursi meja makan. Tak lupa Ana dan Tika membawa gelas ’ajaib’ mereka.

Ana terlihat payah sekali, dan tertidur saat itu juga.

”Kita harus menunggu Mr. Bob dan Mrs. Melantha,” ujar Bibi Ola. ”Semoga mereka lekas datang,”

(BERSAMBUNG ... ke pertarungan sengit)

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer d757439
d757439 at Kisah Para Penghuni Junglecamp Part-21 (13 years 37 weeks ago)
80

jadiin novel pasti laku keras

80

bagus bgt^^

100

Keren abis ...tuh teka teki petunjuknya. Aku suka bener. Semoga ide pemecahan misteri petunjuknya orisinil ya.. karya dik hasna sendiri. Kalo itu ide asli aku kasih nilai 10. Terus menulsi yaa..

90

deskripsinya udah oke, hanya sedikit greget saat mencekamnya.^^tapi selebihnya rapi kok, de..

Writer Villam
Villam at Kisah Para Penghuni Junglecamp Part-21 (14 years 12 weeks ago)
90

ide yang menarik.
buat menambah impresi, bisa lebih dideskripsikan bagaimana benda2 unik yang disebutkan: patung-patung, buku sihir, bahasa asing, gelas, dll. ini kesempatan emas buat bikin ceritanya jadi lebih unik dan bernuansa misteri.
lanjuuut...