AOM 4 : Berandal kecil

Chapter sebelumnya...

Jordan bertemu dengan Justine, wanita yang telah membuatnya mabuk kepayang di suatu bar ketika dia sedang hang-out bersama temannya. Penolakan wanita itu yang mengejutkan membuat bocah itu nyaris gila memikirkanya dan membuat Jordan mengalami kecelakaan yang mempertemukannya dengan Taylor, gadis yang membuatnya beralih dari bayangan Justine.

********************

Samantha Mc. Pherson memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya dengan tidak sabar seraya bergegas keluar. Seorang pelayan wanita berseragam pelayan hitam dan putih menyambutnya dan segera membawakan tas kerjanya.

“Di mana Jordan?” tanya Samantha berang.

“Di kamarnya, miss.”

Samantha buru-buru masuk ke dalam menuju kamar adiknya. Hari ini dia baru saja memenuhi undangan kepala sekolah St. August. Apa yang kemudian didengarnya membuat dia malu dan marah. Dia terpaksa memohon dan berjanji untuk menambah sumbangan pribadinya terhadap sekolah itu ketika pihak sekolah mengutarakan rencana mereka untuk mengeluarkan adiknya dari sekolah tersebut. Ini sudah yang kedua kalinya setiap menjelang tahun ajaran baru. Samantha benar-benar tidak habis pikir apa yang diinginkan adiknya. Semuanya selalu mengenai laporan yang sama. Nilai ujian dan tugas yang kosong, bolos pelajaran, pelecehan pada guru, dan segunung kenakalan serta pelanggaran peraturan lainya.

“Ini yang terakhir kalinya kami memberi kelonggaran, Sam. Ini bukan soal uang, tapi soal nama baik sekolah kami. Aku masih mempertimbangkan rasa hormatku padamu dan nenekmu. Tapi kalau adikmu tetap seperti itu, sebelum tahun ajaran baru besok berakhir, kami terpaksa akan mengeluarkanya. Maafkan aku.”

Kata-kata kepala sekolah St. August masih diingatnya dengan jelas dan sekarang Samantha benar-benar harus membuat perhitungan dengan adiknya.

Samantha mendapatkan pintu kamar adiknya tertutup rapat. Sayup Samantha bisa mendengar suara musik yang pasti sedang distel cukup keras dari dalam. Samantha menggedor pintu dengan keras dan berseru.

“JORDAN!! Buka pintunya!!”

Di dalam kamar....

Jordan membuka matanya dengan terganggu. Dia mendengar gedoran itu dan suara kakaknya. Dia juga tahu apa yang akan terjadi kalau dia tidak segera membukanya. Samantha akan melakukan segala cara agar pintu itu terbuka. Kalau perlu dia akan mendobraknya dengan paksa. Jordan beranjak dengan malas dan membuka pintu.

“Aku harus bicara padamu!” ujar kakaknya serta-merta menghambur masuk ke dalam kamar. Jordan mengerutu sebal. Kakaknya masih memakai pakaian kerjanya dan dia kelihatan sangat kesal. Pasti ceramah panjang lebar itu akan mengalir dari mulutnya. Jordan memandangnya dengan malas.

“Aku tidak mau diganggu! Apa kamu tidak lihat aku sedang istirahat?!” balas Jordan marah. Samantha memandangnya. Namun sedetik kemudian dia terperanjat melihat keadaan Jordan.

“Jordan! Apa lagi yang terjadi denganmu?!” Jordan pura-pura tidak mendengar seraya kembali berbaring di tempat tidurnya. “JORDAN!”

“Bukan urusanmu!” balas Jordan sengit.

“Aku kakakmu dan aku berhak tahu apa yang terjadi padamu, Berandal kecil!”

“Aku bukan anak kecil!!”

“Kalau begitu BILANG!!” bentak Samantha. Jordan menggerutu.

“Aku kecelakaan semalam. Mobilku ringsek tapi aku tidak apa-apa,” kata Jordan sambil lalu. Samantha membelalak namun berusaha menyabarkan diri. Dihelanya nafas beberapa kali seraya mematikan musik dari stereo di kamar itu.

“Baiklah, mobil tidak masalah bagiku. Aku senang kau tidak apa-apa,” katanya melunak. Jordan tidak menyahut. Samantha memandangnya sejenak. Dia tidak menyangkal pendapat orang yang menyebutkan adiknya memiliki wajah yang sangat rupawan. Wajah yang begitu inosen dan tampan. Tapi kenapa perilakunya tidak semanis wajahnya?

“Kalau kau kemari hanya untuk memandangi aku, lebih baik kau keluar!” kata Jordan menyadarkan Samantha.

“Hari ini aku menemui kepala sekolahmu,” kata Samantha. Jordan mengerang dalam hati. “Kau tahu apa yang kami bicarakan?”

“Aku benci pembicaraan ini!”

“Jordan, kau harus dengarkan aku! Ini tentang sikapmu yang keterlaluan di sekolah.“

“Aku tidak mau membicarakan itu!” potong Jordan keras.

“Kau harus merubah sikapmu, Jordan. Itu tidak baik-”

“Apa peduliku?!”

“Jordan! Mereka nyaris mengeluarkanmu dari sekolah!”

“Yeah, bagus! Keluarkan saja aku dari tempat sialan itu!” seru Jordan marah. “Dan kau!” sentaknya sambil menuding kakaknya. “Keluar dari kamarku! Urus saja urusanmu sendiri! Kenapa kau tidak berkeluarga saja dan meneruskan kegemaran berceramahmu pada mereka?! Brengsek!!”

“Jordan! Kau tidak bisa bicara begitu padaku!”

“Ya, aku bisa! Keluar dari kamarku!!”

“Jordan! Dengar!” Tapi Jordan sudah menyambar remote stereonya dan kembali menyalakanya dengan keras menenggelamkan suara Samantha.

Bisakah aku mendapatkan sehari saja ketenangan?? Kepalaku seperti mau pecah!!

Jordan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dengan tidak peduli, menyalakan rokok ganja dan menghisapnya terang-terangan di depan kakaknya.

“Jordan!! Kau harus dengarkan aku!!” seru Samantha berusaha meningkahi suara musik yang memekakan telinga itu. Namun adiknya sama sekali tidak mempedulikanya.

“Pergi kau ke neraka, Bitch,” gumam Jordan. Samantha melotot marah

“Kau benar-benar keterlaluan, Jordan!” gerutunya marah. “Ingat, kita belum selesai, bocah bandel!!” katanya seraya berlalu dan membanting pintu dengan keras. Jordan tertawa tidak sadar.

***********

Samantha menghela nafas sedih. Seorang pelayan datang membawakan segelas minuman dan obat penenang. Samantha menghabiskanya dan termangu di kursi. Kenapa adiknya sama sekali tidak mau mendengar dan menghormatinya?

Samantha dan Jordan berbeda ibu. Ibu Samantha meninggal ketika melahirkan dirinya. Samantha kemudian diasuh oleh neneknya, keluarga paling terpandang dan terkaya di kota ini. Ayah Samantha menikah lagi beberapa tahun kemudian dengan ibu Jordan, seorang pianis dunia terkenal dari Perancis. Jordanpun lahir.

Hubungan Samantha dengan keluarga ayahnya yang baru tidak begitu dekat. Mereka hanya bertemu dua atau tiga kali dalam setahun sementara ayahnya sesekali mengunjungi Samantha di kota ini. Beberapa tahun setelah pernikahan ayahnya, Samantha mendengar ayahnya bercerai dengan pianis itu. Selama beberapa tahun Samantha tidak pernah bertemu lagi dengan ibu tiri dan adiknya itu hingga dia mendengar kabar Jordan yang sudah beranjak remaja kembali tinggal bersama ayahnya di New York.

Nenek Samantha meninggal tiga tahun yang lalu dan mewarisi seluruh kekayaanya kepada Samantha, membuat dia menjadi wanita yang cukup kaya di usianya yang ke 26. Selama itu Samantha terus berusaha kembali menjalin hubungan dengan ayah dan adiknya. Samantha mendengar hubungan ayah dan adiknya mulai tidak beres. Mereka sering bertengkar. Suatu malam Jordan meneleponya dan berkata bahwa ayahnya telah mengusirnya.

Samantha tidak begitu paham keributan besar apa yang terjadi antara ayahnya dengan adiknya saat itu. Dia hanya merasa kasihan dan menawari Jordan untuk tinggal bersamanya. Jordan tidak menolak. Adiknya tampak letih dan kacau ketika datang. Samantha langsung menyuruhnya beristirahat. Dia tidak tega untuk mendesak adiknya dengan pertanyaan-pertanyaan "apa", "mengapa" dan "bagaimana" saat itu.

Dari ayahnya Samantha mendengar betapa Jordan sudah sangat diluar kendali. Ayahnya menyebutnya ‘bocah kurang ajar tak tahu diuntung’ dan mengumpat tidak akan menganggap Jordan sebagaianak laki-lakinya lagi. Samantha berusaha menenangkanya dan berjanji akan menasehati Jordan. Tapi ternyata hal itu tidak semudah yang dia kira. Ketika dia bertanya pada adiknya yang menyebabkan ayah mereka marah sekali,Jordan hanya tertawa dan berkata dengan santai

Well, dia memergoki aku tidur dengan teman kencannya.” Samantha tidak tahu apa hal itu memang benar-benar terjadi atau tidak.

Jordan tidak jauh lebih baik setelah tinggal bersama Samantha. Tingkah laku adiknya yang liar tetap tidak bisa dikendalikan. Samantha selalu berusaha menasehati dan memperhatikanya. Namun yang terjadi kemudian hanyalah pertengkaran sengit diantara mereka. Jordan sama sekali tidak peduli padanya. Samantha sudah tidak tahu harus bagaimana lagi mengatasi adiknya. Dia tidak tega untuk mengusir Jordan pergi seperti yang telah dilakukan ayahnya. Jordan adalah satu-satunya saudara sedarah yang dia punya. Dia sangat menyayanginya dan selalu mengharapkan yang terbaik untuknya.

Andai ada sesuatu yang bisa merubah perilaku adiknya suatu hari nanti…….

***************

bersambung....

Read previous post:  
84
points
(2862 words) posted by yosi_hsn 14 years 5 weeks ago
76.3636
Tags: Cerita | cinta | American pie | keluarga | Novel | teen-live | yosi
Read next post:  
Writer yosi_hsn
yosi_hsn at AOM 4 : Berandal kecil (14 years 4 weeks ago)

terima kasih buat semua komentarnya. Saya pilih western setting karena orang-orang yang dijadikan model karakter cerita ini diambil dari luar semua.. hoho, biar enak ngebayanginya.
Komentar yang lain, tetap ditunggu...

Writer Littleayas
Littleayas at AOM 4 : Berandal kecil (14 years 4 weeks ago)
80

aku tunggu lanjutannya ^^

Writer themoststubb
themoststubb at AOM 4 : Berandal kecil (14 years 4 weeks ago)
80

setting dan ceritanya bagus. meski aku ngga ngerti kenapa harus pake setting luar negeri. tapi, pemilihan kata2nya bener2 bagus. aku suka.

Writer Alfare
Alfare at AOM 4 : Berandal kecil (14 years 4 weeks ago)
100

Kondisi yang sangat rumit.
Mh, kayaknya maksudnya 'mewariskan' daripada 'mewarisi' deh. Ini kayaknya bakal berkembang jadi drama sweet home yang betul2 bagus.

Writer Villam
Villam at AOM 4 : Berandal kecil (14 years 5 weeks ago)
100

gua suka dengan suasana yang kamu bangun. karakter tokoh bisa keliatan dari dialognya. mungkin bisa ditambahin juga ekspresi wajah dan tubuhnya saat 'bertempur' itu, biar lebih oke.
oya, satu lagi usulku, lebih baik konsisten dengan sudut pandang samantha dari awal sampai akhir bagian ini. jangan melompat masuk ke dalam kepala jordan, seperti di tengah-tengah itu.
biar isi kepala jordan disampaikan nanti, di scene lain dimana jordan bercerita melalui sudut pandangnya.
oke, lanjuut...