Rahasia Joshua <Cinta asal>

“Ah ini tidak apa-apa, cuma lecet kok, bisa segera sembuh begitu sudah dikasih obat” perawat itu berusaha menenangkan suasana.

Saat ini mereka berdua berada di rumah sakit, anak perempuan itu tidak menduga bahwa ia hanya akan dibawa kesini bukan nya ke kantor polisi.

Joshua sendiri tidak terlintas sedikitpun di pikirannya untuk memperpanjang masalah handphonenya itu sampai ke aparat kepolisian. Ia tidak terlalu memerlukannya, kalo perlu ia bisa menggantinya sekarang, namun sekarang ia memutuskan membawa anak perempuan itu ke rumah sakit, selain ia melihat lecet besar di lutut anak perempuan itu, ia juga tidak bisa berjalan, nampaknya ada yang salah atau terkilir di bagian lututnya, khawatir ada yang lebih parah dari apa yang diduganya, ia segera membawanya ke rumah sakit terdekat dengan mengaku sebagai kakak laki-lakinya.

“Setelah istirahat sebentar, adiknya boleh dibawa pulang, sekarang saya tinggal dulu untuk mengurus segala masalah administrasinya” suster itu pun meninggalkan mereka berdua di ruangan perawatan.

Suasana kembali kaku mengingat apa yang membuat mereka bertemu hingga ke rumah sakit lalu kemudian menjadikan mereka adik kakak sementara saat ini.

“Kamu tidak apa-apa lagi kan?” Joshua mencoba mencairkan suasana yang disambut anak perempuan itu hanya dengan anggukan kepala

“Joshua” ia mencoba memperkenalkan diri mencoba sekali lagi mengakrabkan suasana.

“Riri” tidak enak juga setelah diampuni terus di obati, anak perempuan itu merasa harus balas memperkenalkan diri.

“Riri rumahnya dimana?, biar saya antar, ini sudah agak malam”

Sepertinya tidak ada pilihan, Riri mengangguk malu-malu.

Di perjalanan, meski tadi sudah saling memperkenalkan diri, mereka masih tetap saling diam menunggu seseorang di antara mereka memecah kesunyian dan memulai pembicaraan.

“Ehem...tentang barang mu itu..” Riri akhirnya memulai kembali pembicaraan menanyakan kejanggalan baginya mengapa teman yang baru dikenalnya ini tidak terlihat risau telah kehilangan barang.

“Oh itu, tidak apa-apa bukan barang berharga, lupakan saja” jawab Joshua dengan entengnya berusaha menenangkan perasaan Riri

“Oh..” Riri agak lega, ia menyimpulkan pasti barang yang diambil teman-temannya itu hanya kotak tisu atau barang sejenisnya seperti itu, ia tidak lagi khawatir.

“Belok sini” Riri menunjukkan arah jalan menuju rumahnya, arahnya tidak jauh dari tempat Joshua melamun tadi, tidak jauh juga dari tempat pertemuan pertama mereka berdua.

********

Sesuatu mulai membuat galau hati Joshua, arah jalan rumah ini mulai seperti tidak asing baginya. Agak menakutkan, jalan ini sering dilewati oleh Joshua bersama adik perempuannya ketika mereka masih kecil, Joshua memiliki adik perempuan ketika ia masih diasuh oleh keluarga Sutowo, anak perempuan bernama Sri Andini itu lahir setelah tiga tahun Joshua hidup bersama mereka, sebelumnya pak Sutowo belum dikarunia anak setelah puluhan tahun pernikahannya dengan Sriani, bahkan isterinya sendiripun sudah meyakini dririnya sendiri tidak mampu alias mandul, oleh karena itu ketika pertama kali pak Sutowo membawa bayi Joshua ke rumah gubuknya tidak ada perasaan lain selain gembira yang terpancar dari wajah Sriani, setelah sekian lama ia menantikannya, meski tidak berasal dari rahimnya sendiri ia tidak bisa tidak bersyukur, dan tiga tahun kemudian Sri Rezeki pun lahir, bertambahlah kebahagian keluarga itu, anak asuhnya Sholeh memiliki adik perempuan yang paling Sriani idam-idamkan lahir dari rahimnya sendiri, lengkaplah ia sebagai perempuan bagi suaminya.

Yang ditakutkan Joshua pun ternyata benar. Rumah yang ditunjukkan Riri sebagai rumahnya adalah rumah yang selama ini ia hindari, yang selama ini hadir dalam setiap mimpi, yang mengiringi serta menghantui kehidupan Joshua dari waktu ke waktu, Rumah itu, tempat dimana ia pernah dikenal dan dipanggil sebagai Sholeh oleh Bapaknya, pak Sutowo dan ibunya bu Sriani.

“Nama mu Riri benarkan? Bukan Sri Rezeki kan?” Joshua bertanya seperti pada dirinya sendiri dengan lirih kepada Riri tanpa memandangnya, tatapannya terpaku pada rumah tersebut, mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri kalau yang di sampingnya saat ini bukan seseorang yang telah lama dikenalnya, sosok yang telah lama dirindukannya sekaligus yang selalu berusaha ia lupakan dan kuburkan segala kenangan penuh kebahagiaan yang pernah mereka lewati bersama.

Riri menatap Joshua dengan kening berkerut, ada selintas kecurigaan di pikirannya terhadap pertanyaan samar-samar Joshua tersebut.

Ia pun segera membuka pintu mobil itu dan dari dalam rumah keluar dua orang tua, satu perempuan dan satu lagi laki-laki tua yang seperti menunggu kehadiran Riri yang segera menghampiri mereka berdua.

“Sri!! Kamu dari mana saja to nduk, sudah malam begini baru pulang” suara cemas dari perempuan tua itu menyambut kembali Riri yang dipanggilnya Sri yang sepertinya adalah anak perempuan mereka.
Berbeda dengan perempuan tua itu, laki-laki yang disampingnya yang tak lain adalah suaminya dan juga bapaknya si Riri terlihat menahan marah, terlihat dari wajahnya yang terlihat merah di sela-sela keriput wajah tua nya.

“Dari mana koe!!! Anak perempuan koq main sampe malam-malam begini!!?? Ora elo’!!! masuk sana!!” sempot laki-laki tua itu sambil memeluk erat anak perempuan semata wayangnya, sesuatu yang terlihat bertolak belakang dengan kerasnya perkataan yang baru diumbarnya tadi.

Read previous post:  
19
points
(908 words) posted by Redo Rizaldi 12 years 50 weeks ago
63.3333
Tags: Cerita | cinta | Kehidupan | keluarga | rahasia
Read next post:  
Writer wehahaha
wehahaha at Rahasia Joshua (12 years 48 weeks ago)
70

konflik mulai terlihat menanjak. Tapi bagian ini kurang panjang ah... Jadi gak banyak yg bisa dinilai.

Writer Redo Rizaldi
Redo Rizaldi at Rahasia Joshua (12 years 50 weeks ago)
50

Joshua Joshua? :D

saya emang terinspirasi dari film tersebut hahaha

tapi pun, kalo Joshua Joshua itu versi dongeng baik2 nya
kalo Rahasia Joshua itu versi gelap nya :p

di ibarat kan bahwa Film Joshua-Joshua itu cuma mitos, dongeng yang baik-baik saja ;P

Writer 77_DB
77_DB at Rahasia Joshua (12 years 50 weeks ago)
60

Cerita ini ngingetin aku sama sebuah film... Tapi aku lupa apa ya ???