Rahasia Joshua <Mereka yang di Rindukan>

Joshua tidak bisa untuk tidak merasa harus melihat lebih jelas, sekali lagi untuk semakin meyakinkan dirinya, bahwa mereka adalah sosok yang sama yang selama ini Joshua abdikan hidupnya, di temani oleh sosok-sosok mereka sebagai bayangan dalam kenangan. Yang Joshua abadikan apapun yang mampu diingat olehnya setelah puluhan tahun setelah masa kecilnya dahulu hingga kini ia beranjak dewasa, tidak pernah mampu dan mau ia lepaskan.

Lebih dekat, semakin dekat Joshua bahkan tidak menyadari lagi jarak antara dia dan mereka sanggup membuat suara degup jantung Joshua yang semakin kencang karena tegang, dapat terdengar oleh mereka.

“Siapa anak ini? Teman mu Sri?” bapaknya bertanya kepada anaknya Sri, tatapannya mengarah tajam ke arah Joshua

“Ngg..iya pak...” Riri atau Sri agak ragu untuk menjawab.

“Teman mu? Kenal dimana?” bapaknya kembali bertanya, ia tidak yakin anaknya punya teman seseorang yang kendaraan nya baru saja bapak itu lirik, lalu menghakimi nya bahwa, sangat tidak mungkin yang punya kendaraan seperti itu mau berteman dengan anaknya. Kecuali ada sesuatu.

Bapak itu terus menatap Joshua penuh selidik dari ujung kaki hingga ujung rambut.

“Siapa kamu nak?” bapak itu akhirnya memutuskan untuk langsung bertanya, dengan ketus tentu saja.

Joshua yang dari tadi masih tertegun terhadap apa dan siapa yang dihadapinya sekarang menjawab dengan terbata-bata

“Jo...Joshua..”

Ingin sekali ia menyebut nama Sholeh, nama yang pasti sangat dikenal oleh orang tua itu, nama yang mungkin akan membuat pertemuan ini tidak akan se kaku sekarang, mereka bukan orang asing sebenarnya, paling tidak bagi Joshua, namun akhirnya Joshua memutuskan untuk tidak, paling tidak untuk saat ini, ia tidak ingin pengalamannya terakhir kali bersama mereka terulang dan Joshua kembali tidak diterima.

“Baiklah nak...Joshua....bagaimana bisa sampai anak perempuan saya naik mobil dan diantar oleh anda?” bapak itu kembali bertanya, hanya nama anak itu tidak akan mampu menjelaskan semua.

“Oh...tadi mobil saya sedikit menyenggol anak bapak ketika saya dalam perjalanan di dekat sini” Joshua mencoba menjelasakan, ia pun merasakan ketidaknyamanan posisinya saat ini, mengantar seorang anak gadis orang yang tidak ia kenal sama sekali, tentu saja sesuatu yang janggal bagi orang tua mana pun, terutama Joshua melihat bagaimana bapaknya seperti lebih melihat posisi keluarga mereka dengan mobil milik Joshua yang sekarang sedang parkir di pekarangan milik mereka tersebut.

“Menyenggol??” Bapak itu sedikit terkejut dan mencoba menekankan kembali apa yang dimaksud oleh Joshua.

“Ya..mmm menyenggol...menyerempet.. tapi hanya sedikit.....tadi saya agak ngebut..sedikit...” Joshua kembali mencoba meluruskan tentang kondisi bagaimana mereka bisa bertemu. Tentu saja dengan memotong setengah dari cerita sebenarnya tentang alasan mengapa bisa mobilnya menabrak atau lebih tepatnya ditabrak, dengan tidak menceritakan sepenuhnya, Joshua pikir hal tersebut cukup bijaksana.

Ibunya Sri terlihat baru menyadari dan wajahnya mendadak berubah, beliau memperhatikan seluruh bagian dari tubuh anak perempuan satu-satunya itu satu persatu, sampai ke bagian yang nampaknya dari tadi berusaha ditutup-tutupi oleh anaknya. Riri tak bisa lagi menghindar, perban di lututnya terlalu kentara, ibunya terlihat marah bercampur cemas

“Tapi sudah tidak apa-apa kok, cuma lecet dan agak keseleo sedikit, tadi saya sudah langsung membawanya ke rumah sakit terdekat” Joshua sekali lagi berusaha untuk tidak membuat posisinya lebih tidak nyaman di hadapan mereka, dan Riri untungnya segera membantu dengan menimpali mengangguk setuju dan mengamini penjelasan Joshua.

Kedua orang tua itu masih menampakkan wajah penasaran kalau tidak mau dibilang mimik kecurigaan, kening mereka masih mengerenyit, tidak pernah lepas dari semenjak kepulangan anak perempuan mereka ini hingga berhadapan dengan Joshua sekarang.

“Saya mohon maaf” Joshua mencoba untuk meyakinkan rasa penyesalannya akan kesalahan yang meski tidak sepenuhnya salahnya dia, sembari mengulurkan tangannya kepada bapaknya Riri dengan tertunduk-tunduk.

Dengan wajah terlihat enggan dan masih penuh kecurigaan bapak itu menyambut juga uluran tangan Joshua dan menjabatnya meski dibuat seolah-olah terpaksa.

Ketika Joshua menjabat menyentuh tangan orang tua itu, tak ada yang lebih ia rasakan selain kerinduan, tangan besar dan kasar inilah yang dahulu selalu membimbing, mengangkat tinggi-tinggi Sholeh kecil, tangan inilah yang selalu memeluk erat di saat Sholeh sedang menangis atau si Sholeh tidak bisa tidur, tangan orang tua itu juga yang melepaskan kepergiannya sebelas tahun yang lalu.
Tidak hanya menjabat tangannya, Joshua memandang dalam-dalam wajah orang tua yang sedang dihadapinya ini, mencoba terus menangkap momen-momen yang paling ditunggunya seumur hidup, merekam sebanyak mungkin lalu di jejal kan ke dalam kepala yang baginya, saat ini lah yang paling berarti, saat-saat seperti ini lah setelah sekian lama...setelah sekian lama.....

Wajah orang tua itu tidak jauh berubah, masih terlihat keras dan kasar. Namun Joshua sangat mengenal apa yang dibalik kedua bola matanya yang renta namun masih tajam itu. Cahaya kasih bersemayam di situ, tatapannya adalah ketulusan yang selama lima tahun terbaik dalam hidup Joshua tak pernah mampu menghapusnya dengan segala apapun yang sudah diberikan orang tua kandungnya selama sebelas tahun ini.
Di sela-sela rambutnya terselip banyak uban yang putih ataupun yang masih abu-abu, terlihat lebih banyak dari sepanjang apa yang Joshua ingat.

“Saya pak Sutowo dan ini istri saya Sriani, dan tentu saja nak Joshua sudah mengenal anak perempuan saya si Sri ini” orang tua itu mencoba berusaha bersopan santun dengan memperkenalkan namanya, nama isteri dan anak perempuannya.

Nama-nama yang selama ini ingin Joshua dengar dan temui, setelah sebelas tahun.

”Iya” Joshua merespon dengan mengangguk mengerti, sambil berusaha untuk tidak terlihat tidak asing dengan nama–nama itu, senyumnya merekah, sebuah kelegaan dan kebahagiaan akan apa yang baru saja ia rasakan sekarang ini.

“Baiklah nak Joshua, ini sudah larut malam, saya pikir mungkin sudah saatnya nak Joshua untuk pamit pulang jika tidak ada keperluan yang lain lagi” tanpa basa-basi pak Sutowo mempersilahkan atau lebih tepatnya mengusir Joshua dari rumahnya sesegera mungkin.

“Baik pak” Joshua tersenyum kecil, Joshua mengenal sekali sifat bapaknya yang satu itu, sifat yang bagi sebagian besar orang dianggap kasar, namun bagi Joshua yang paham maknanya, adalah tidak lain untuk melindungi keluarganya terutama anak perempuannya.

“Kalau begitu saya permisi” Joshua meminta pamit.

“Baiklah kalau begitu, terima kasih dan selamat tinggal” singkat datar perkataan pak Sutowo yang seperti terdengar pertemuan cukup sampai di sini, kamu orang asing dengan mobil yang menyilaukan mata jangan kesini lagi, jangan pernah menganggu anak perempuan ku lagi.
Joshua menangkap sinyal tersebut, tapi tak berarti ia harus turut.....

Read previous post:  
18
points
(784 words) posted by Redo Rizaldi 12 years 35 weeks ago
60
Tags: Cerita | cinta | Cinta | Joshua | keluarga | rahasia
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Redo Rizaldi
Redo Rizaldi at Rahasia Joshua (12 years 33 weeks ago)

tiga tahun cukup jauh bukan?

saya merasa tersanjung saudara wehahaha masih mengikuti cerita saya haha

Writer wehahaha
wehahaha at Rahasia Joshua (12 years 33 weeks ago)
80

Jadi selisih umur joshua dan sri an... itu harusnya gak terlalu jauh kan? Kok adiknya itu dideskripsikan seolah jauh lbh muda?