AOM 5 : Kecelakaan

Chapter sebelumnya...

Taylor Hamilton baru saja pindah ke rumah barunya bersama keluarga besarnya untuk melupakan kematian ibu mereka tersayang. Tidak sengaja dia bertemu dengan Jordan, seorang remaja socialite kaya yang liar. pertemuan mereka terus membekas dalam pikiran gadis itu saat Jordan menciumnya untuk pertama kalinya. Sayang Taylor lupa menanyakan nama pemuda itu.

****************

Kadang-kadang Taylor tidak bisa mengerti bagaimana jalan pikiran seorang fans. Maksudnya, tidak ada salahnya menyukai musik atau buah karya seseorang. Tapi tingkah seorang fans benar-benar sulit dipahami siapapun. Mereka menyebutnya ”fanatisme berlebihan”. Mungkin itu juga sebabnya kenapa orang-orang semacam itu disebut fans.

Clarke, kakaknya nyaris menangis gembira ketika mengetahui ternyata teman-teman chatting-nya yang baru dikenalnya sebagai sesama fans The Next G di forum The Next Generation fanbase tinggal di daerah pemukiman yang sama dengannya. Dia juga nyaris histeris ketika mendengar Justine Watson, mantan basis band kesukaanya itu ternyata juga tinggal tepat di depan rumah mereka.

”Oh! Aku cinta kepindahanku ke daerah ini!” seru Clarke dengan semangat berapi-api ketika menceritakan semua itu pada Taylor.
Oh, please! Kenapa sih harus bereaksi seheboh itu?

Bertetangga dengan mantan musisi beken mungkin memang sesuatu yang keren. Tapi kan tidak perlu seantusias itu. Clarke berusaha memikirkan dan merencanakan berbagai macam cara untuk bertemu dengan idolanya itu. Sayangnya tidak ada satupun yang berhasil. Justru Taylor yang kemudian berkesempatan bertemu dengan wanita itu untuk pertama kalinya.

Saat itu Taylor sedang berjalan-jalan di hutan. Gadis itu sempat memikirkan pertemuannya dengan pemuda pirang bermata biru kristal itu. Beberapa hari berlalu sejak pertemuan mereka. Taylor masih teringat dengan ciuman itu. Apakah mereka akan bertemu lagi?

Taylor tersadar ketika melihat wanita itu di tepi danau. Mungkin dia adalah wanita tercantik yang pernah dilihatnya. Wanita itu sedang asyik melukis. Dia tersenyum lembut ke arah Taylor ketika menyadari kehadiran gadis itu. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Justine Watson. Sekarang Taylor harus menanggung akibat dari pertemuan tidak sengajanya dengan Justine, yaitu rengekan pantang menyerah kakaknya untuk mempertemukan dirinya dengan wanita itu.

*************

“Kau harus segera mempertemukan aku denganya,” tuntut Clarke siang itu. Taylor menggerutu. Mereka sedang berjalan-jalan di tengah kota. Hari ini pertama kalinya Taylor bisa terbebas dari pekerjaan mengurus rumah dan mengasuh adiknya. Akhirnya ayahnya menerima salah satu dari beberapa lamaran pengasuh yang diterimanya.

Pengasuh baru itu datang semalam. Dia seorang wanita latin berusia lima puluhan. Suaminya meninggal karena kecelakaan dan dia tidak punya anak. Pertama kali melihatnya anak-anak Hamilton langsung menyukainya. Dia tampak ramah dan baik. Namanya Martha. Martha ternyata pandai mengurus rumah dan mengasuh anak. Dia juga pintar memasak. Anak-anak merasa dimanjakan dengan masakan-masakan barunya yang eksotis dan sangat lezat. Martha bilang masakan orang latin adalah yang paling hebat.

“Aku kan sudah mengajakmu ke rumah Mr. Watson, tapi Justine sedang pergi. Aku bisa apa?” gerutu Taylor.

“Maksudku, kau harus segera panggil aku kalau kau sedang berbicara denganya.”

“Itu aneh!” gerutu Taylor lagi. Zach tertawa melihat kedua kakaknya.

“Kau benar-benar terobsesi dengan Justine Watson, ya?” kata Zach pada Clarke. kakaknya melotot.

“Jangan mulai komentar macam-macam kau, bayi!”

“Hei! Aku bukan bayi!”

“Baiklah, kau balita!”

“Hei!”

Taylor menghela nafas melihat keduanya kini sibuk berdebat sendiri. Dialihkanya pandanganya ke sekelilingnya. Lalu lintas tampak lumayan ramai. Awal musim gugur membuat cuaca tidak terlalu panas. Taylor mengamati pejalan kaki yang berlalu lalang di sekelilingnya. Seorang pelayan café sibuk mengusir gelandangan yang duduk di depan pintu masuk cafenya. Seorang wanita tua duduk di bangku trotoar di seberang mereka sambil membelai anjingnya yang berbulu sangat lebat dengan penuh kasih sayang. Sepasang muda-mudi melewati mereka sambil berciuman dan berpelukan dengan mesra. Taylor merasa kembali diingatkan oleh pemuda bermata biru kristal itu.

Kenapa aku terus memikirkannya? Apakah kami akan bertemu lagi?

Taylor merasa seolah-olah waktu berhenti ketika tiba-tiba dia seperti melihat pemuda itu keluar dari sebuah mobil yang terparkir di pinggir jalan, tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dia melangkah bergegas menuju café di hadapanya. Taylor termangu sesaat. Dadanya tiba-tiba bergemuruh dengan cepat. Waktu seolah terhenti dan pandanganya kini hanya terpaku pada sosok itu.

Apakah itu dia?

Taylor ragu sesaat.

Itu memang DIA!

Entah kenapa Taylor merasakan dorongan kuat untuk mengejarnya. Tapi sedetik gadis itu kembali merasa ragu.

Untuk apa aku mengejarnya?

Taylor tersadar. Dia tidak tahu kenapa, tapi dia segera mengerti kalau dia pasti akan mati penasaran bila membiarkan pemuda itu berlalu sekarang. Taylor tidak mau berpikir lagi.

Guys, aku mau beli makan siang,” katanya cepat kepada saudara-saudaranya seraya bergegas berlalu menyebrang jalan menuju café itu.

Apakah dia masih di dalam?

Taylor sesaat termangu kebingungan ketika sampai di depan meja layan. Pemuda itu masih disana, menunggu pesananya. Dia menoleh dan Taylor merasa ingin menghilang. Sejenak pemuda itu termangu memandang Taylor melalui kaca mata hitamnya.

“Kau...Kitty?” gumamnya seraya melepas kaca mata hitamnya dan memandang Taylor dengan heran.

Taylor tidak tahu harus merasa bagaimana menyadari pemuda itu masih mengingatnya. Kali ini dia tampak jauh lebih baik daripada waktu itu. Dia benar-benar pemuda paling tampan yang pernah dilihat Taylor. Dia seperti seorang pangeran. Taylor tersadar.

“H…Hai,” kata Taylor berusaha terdengar normal. “Kebetulan sekali kita bertemu lagi.”

Pemuda itu tersenyum lembut.

“Ya, kebetulan yang sangat manis,” katanya. Taylor tersipu.

“Pesan apa?” pertanyaan pelayan café menyadarkan Taylor.

“Umm, cheese burger, dua coke dan satu yoghurt cokelat, dibungkus saja, terima kasih,” kata Taylor cepat. Pelayan itu mengangguk.

“Sekalian dengan pesanan gadis ini.” Taylor menoleh. Pemuda itu berbicara pada kasir sambil menyerahkan uang pecahan besar.

“Hei, kau tidak usah membayar-“

“Tidak apa-apa, Kitty. Ini untuk mengganti sarapan waffelku,” potong pemuda itu halus seraya tersenyum mempesona. Senyum yang sekali lagi seolah membuat Taylor melayang. Taylor tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya tersipu.

Pesanan pemuda itu sudah seleai. Tapi sepertinya dia tidak mau segera beranjak dari tempat ini.

Apakah dia menungguku?

“Kau sendirian kemari?” tanya pemuda itu iseng.

“Tidak, saudara-saudaraku menunggu di luar,” kata Taylor seraya menunjuk Clarke dan Zach di seberang jalan. “Kau mau berkenalan dengan mereka?”

Pemuda itu tersenyum.

“Lain kali saja.”

“Kau bersama temanmu yang waktu itu?” Taylor balik bertanya.

“Tidak,” kata pemuda itu datar. “Dia sudah pergi ke luar kota.”

“Oh.”

Seorang pelayan yang membawa pesanan Taylor kembali membuat keduanya menoleh. Taylor mengucapkan terima kasih lalu beralih pada anak muda di sampingnya.

“Kurasa aku harus pergi," kata Taylor tersipu.

“Baiklah, aku juga tidak akan berlama-lama di sini.” Pemuda itu terdiam, seolah ingin mengucapkan sesuatu. Namun dia segera tersenyum ke arah Taylor.

“Jadi, ayo keluar,” ajaknya. Taylor mengiyakan.

Mereka berhenti di depan pintu cafe. Pemuda itu memandangnya. Taylor merasa gemuruh di dadanya makin kencang.

Apakah dia akan menciumku lagi?

Pemuda itu ternyata hanya mengucapkan selamat tinggal kemudian bergegas menuju mobilnya. Taylor tidak tahu apa yang muncul dalam hatinya ketika melihat seorang gadis berambut pucat yang sangat cantik sudah menunggu di mobil itu. Gadis itu berusaha memeluk dan mencium pemuda itu. Dia menolak dan buru-buru masuk ke mobilnya. Apakah gadis itu pacarnya? Gadis berambut pucat itu kelihatan menggerutu kesal seraya menyusul masuk ke dalam mobil dan mobil itupun berlalu. Taylor tersadar.

Lagi-lagi aku lupa menanyakan namanya!

“TAYLOR!” Taylor menoleh. Clarke melambai tidak sabar dari seberang jalan. Zach kelihatan merengut kesal. Taylor teringat dengan makan siang yang dibelinya barusan. Gadis itu bermaksud untuk menyeberang jalan ketika tiba-tiba sebuah keributan terdengar dari ujung jalan.

“PENCURI!! Hei! Hentikan orang itu! Dia mencuri tokoku!” Semua orang yang ada di sekitar situ menoleh, termasuk Taylor.

Seorang laki-laki berlari membabi buta keluar dari sebuah minimarket di ujung jalan. Para pejalan kaki yang tidak mau tertabrak laki-laki itu buru-buru menyingkir. Seorang polisi yang kebetulan berpratoli di jalan itu segera mengejar pencuri itu. Pemilik mini market itu keluar dari tokonya sambil berteriak-teriak ribut. Suasana sesaat berubah menjadi gaduh dan kacau-balau ketika orang-orang berusaha menghindari kejar-kejaran itu.

“Taylor!! AWAS!!” Clarke memandang adiknya dengan khwatir.

Taylor tersadar. Dia buru-buru menyingkir ketika pencuri itu melewatinya. Pencuri itu terus berlari tanpa mempedulikan sekelilingnya. Dia menabrak seorang anak kecil yang sedang asyik bermain dengan bolanya di pinggir jalan. Anak kecil itu jatuh terduduk sementara bolanya menggelinding ke jalan. Dia mengaduh dan berseru ketika melihat bolanya menggelinding menjauh. Tidak ada yang menyadari apa yang dilakukan anak kecil itu, tapi Taylor melihatnya. Dia melihat anak kecil itu bangkit tertatih-tatih menyusul bolanya tanpa memperhatikan sekelilingnya. Taylor terbelalak.

“JANGAN! ITU BAHAYA!!” orang-orang tersadar mendengar seruan Taylor. Anak kecil itu memungut bolanya dan menoleh. Sebuah mobil tiba-tiba meluncur dari tikungan mengarah ke anak kecil yang sudah berdiri di tengah jalan itu. Para pejalan kaki di sekitar situ berseru ngeri. Orang tua si anak menjerit histeris menyuruh anak kecil itu menyingkir. Anak kecil itu hanya melongo bingung dan terlonjak ketika mendengar suara klakson yang memekakan telinga.

“AWAS!!”

MOMMY!!” Clarke menutup mata tidak berani melihat pemandangan di hadapanya. Beberapa pejalan kaki menjerit ngeri ketika suara dencitan nyaring yang mengerikan terdengar disusul suara benturan yang keras.

“TAYLOR!” Clarke tersentak mendengar suara Zach. Dia buru-buru membuka mata dan tersadar. Zach sudah menghambur ke tengah jalan. Suasana hening sesaat. Mobil itu berhenti di tengah jalan. Anak kecil itu menangis keras dalam pelukan orang tuanya. Orang-orang merubung di sekitar tempat kejadian. Clarke buru-buru menghambur ke tengah kerumunan itu. Dia terbelalak ketika melihat adiknya tergeletak di jalan sementara Zach menangis shock di sampingnya.

“Taylor!! Buka matamu, please!” Clarke buru-buru berlutut dengan panik mengguncang tubuh adiknya yang diam tak bergerak. Orang-orang berdengung ribut di sekelilingnya.

“Oh, Tuhan! Aku benar-benar tidak sengaja! Aku sudah berusaha menghentikan mobil! Tapi anak kecil itu dan gadis ini muncul tiba-tiba! Aku tidak bermaksud untuk-“ wanita si pengemudi mobil itu keluar dengan panik.

“Taylor!” Taylor mengerang lemah. “Seseorang, tolong panggil ambulan!”

****************

“Anda harus bertanggung jawab untuk ini!” suara ayahnya adalah suara petama yang dikenal Taylor di antara dengungan pelan yang perlahan memenuhi pendengaranya. “Apa anda tidak bisa mengendarai kendaraan anda dengan benar?! Putri saya bisa tewas karena anda!”

Sir, dia muncul dengan tiba-tiba. Saya sudah berusaha menghentikan mobil sekuat tenaga,-“

“Putri anda menolong anak saya-“sambung suara asing lainya yang langsung dipotong oleh ayah Taylor.

“Anda juga! Apa anda tidak bisa menjaga anak sendiri dengan benar?! Semua orang juga mengerti membiarkan anak kecil bermain sendirian di jalan raya adalah hal yang bodoh!”

Dad! Sudahlah! Kau marah-marah terus sejak dua jam yang lalu!” tegur Clarke kesal.

“Kau ini bagaimana?! Adikmu belum sadar juga apa kamu tidak cemas?! Bagaimana kalau Taylor tidak sadar selamanya?!”

Dad! kau PARANOID!”

Dad...” Taylor mengerang pelan. Dia bisa merasa seseorang menggenggam tanganya dengan erat. Taylor kembali mengerang merasakan tubuhnya seolah remuk dan kepalanya pening bukan main. Perdebatan ramai itu terus berlangsung di sekelilingnya hingga seseorang menyeletuk.

“Dia sadar!” Perdebatan seketika berhenti dan kepala-kepala bermunculan di mata Taylor. Mula-mula buram lalu makin jelas.

Daddy...”

“Ya, sayang,aku di sini. Kau baik-baik saja?” Billy memandang putrinya dengan cemas. Taylor tidak segera menjawab. Diedarkanya pendanganya ke seluruh ruangan ini. Dia berada di ruangan serba putih yang bersih.

Seorang perawat segera memeriksa keadaan Taylor dan berlalu setelah memastikan kondisi Taylor membaik. Taylor melihat Clarke duduk dengan lega di sudut ruangan. Dua orang dewasa yang tidak dikenalnya berdiri di dekat ayahnya sementara seorang gadis sebayanya duduk di sisi tempat tidurnya menggenggam jemarinya dengan penuh perhatian. Billy membelai rambut putrinya dengan penuh kasih sayang.

“Kau pingsan berjam-jam. Aku nyaris gila. Kupikir kau akan tewas.” Billy tidak bisa menyembunyikan kelegaanya. Matanya berkaca-kaca. Taylor mencoba tersenyum menahan sakit.

“Aku baik-baik saja, Dad,” bisiknya lemah seraya kembali memejamkan mata dan beristirahat, melupakan sekelilingnya dan tertidur. Billypun kembali mengomel ke dua orang di dekatnya.

*********

Taylor baru bisa berbicara dan berkenalan dengan orang-orang yang menjenguknya keesokan harinya. Wanita yang menabraknya bernama Samantha Mc. Person. Dia wanita yang lembut dan sangat baik. Dia rajin menengok Taylor setiap hari dan membanjiri kamar rawat gadis itu dengan berbagai hadiah. Dari Clarke Taylor mendengar kalau Samantha juga sering berkunjung ke rumah mereka dan sudah akrab dengan adik-adiknya yang lain. Samantha membelikan Mark dan yang lainya banyak makanan dan mainan. Billy sudah berusaha menolak tapi tak kuasa menahan suka cita anak-anaknya mendapatkan kasih sayang wanita itu.

“Kau harus lihat tampangnya ketika melihat Mark dan Zoe lebih suka bertemu dengan Miss Mc.Pherson daripada dia,” kata Clarke suatu hari mebuat Taylor tersenyum.

Keluarga anak kecil yang ditolong Taylor juga menengoknya. Mr. Dan Mrs. Manningan sangat berterima kasih atas pertolongan Taylor atas Lucy. Mereka juga membawakan Taylor banyak bunga dan makanan. keluarga Watson dan tetangganya yang lain juga datang berkunjung. Taylor senang ternyata banyak orang yang peduli dan memperhatikan dirinya.

Abigail Richardson adalah teman baru lainya yang dikenal Taylor. Dia sepupu Samantha yang juga berada di mobil yang sama ketika kecelakaan itu terjadi. Abigail adalah gadis yang terus memegang tanganya ketika Taylor jatuh pingsan. Dia sebaya dengan Taylor dan sangat menyenangkan. Taylor langsung akrab denganya dan mereka mengobrol banyak hal. Abigail mengunjunginya hampir setiap saat. Taylor berpikir setelah pertemuanya kembali dengan pemuda bermata biru kristal itu, mungkin dia harus bersyukur dengan kecelakaan ini karena sekarang dia mempunyai teman-teman baru.

Read previous post:  
36
points
(1197 words) posted by yosi_hsn 14 years 5 weeks ago
72
Tags: Cerita | cinta | American pie | keluarga | Novel | teen-live | yosi
Read next post:  
dadun at AOM 5 : Kecelakaan (13 years 49 weeks ago)
90

kalo film, ini tuh film dengan jenis 'alur impian penonton'. dan ini benar-benar cerita yang bercerita. betapa kecelakaan ini (dan juga hubungannya dengan si x-The next G yang dikisahkan di awal2) telah dan tengah mempertemukan tokoh2 sentral dlm cerita ini. dan tentu saja, yang begini ini nih, biarpun mudah ditebak, tetapi sangat memanjakan penikmat/pembaca yang tidak terlalu menyukai banyak konflik yang aneh2/dipaksakan dlm sebuah cerita.

hmmm,saya sYuka sekali bagian ini. seperti pada bagian2 sebelumnya^^

dan secara bahasa dan pemilihan kata, wixxxx dirimu ahlinya. saya banyak2 berguru deh padamu.

hanya sedikit--entah koreksi atau pertaaan nih, pada kata yang berakhiran huruf "n" yang dirangkai dengan akhiran/partikel -nya, apakah harus diluluhkan? misalnya, kata "badan"--->>"badanya" atau "badannya"?
saya lupa di bagian mana, hanya sudah berkali-kali saya mmbaca tulisanmu, kata2 berakhiran "n" tersebut menjadi luluh.
saya pun tidak tau pastinya/benarnya/harusnya seperti apa. makanya saya nanya^^ hehe...

----
PS: Mbak, lanjutannya, diemailkan lagi yah^^

Writer Villam
Villam at AOM 5 : Kecelakaan (14 years 3 weeks ago)
90

yosi, kau berhasil membawaku ke dunia lain. sekali lagi, tokoh dan suasana yang kamu bangun memang cocok.

walaupun untuk narasi penutupnya, mungkin agak sedikit hambar. aku percaya kamu bisa bikin yang lebih beremosi di sini, untuk menunjukkan bahwa adegan kecelakaan yang kamu bangun memang benar-benar penting buat plotnya.

but, nice story anyway.
kutunggu lanjutannya...

oya, satu lagi, gimana kalau kata 'anak muda' diganti dengan kata 'pemuda'?

Writer Nanasa
Nanasa at AOM 5 : Kecelakaan (14 years 3 weeks ago)
100

Settingnya seperti nyata dengan bahasa yang enak diikuti.
Karakter-karakternya saling berkaitan, bikin penasaran lanjutan ceritanya..
Lanjuuutttt...

Writer Alfare
Alfare at AOM 5 : Kecelakaan (14 years 3 weeks ago)
90

Awalnya aku aneh... kayaknya yg namanya musisi beken enggak akan dengan gampang ngasih tahu alamatnya gitu aja deh... tapi kalo itu dari fans dan dia udah pensiun, maka semuanya jadi masuk.

Betulan bagus.

Writer novelist_kesunyian
novelist_kesunyian at AOM 5 : Kecelakaan (14 years 3 weeks ago)
60

wahhh kecelakaan..
tpi bagus..