Firasat

Anak-anakku masih sibuk merapikan peralatan sekolah meraka, karena beberapa hari lagi mereka sudah harus kembali ke sekolah. Sementara aku sedang asik duduk di ruang tamu, entah mengapa malan ini perasaan ku tidak enak sekali, rasanya aku selalu gelisah.

“ kakak, besok kita kerumah teman papa yang di Rawamangun ya, kita antar oleh-oleh ke sana “ .Oleh-oleh .... ya oleh-oleh, aku dan keluargaku beberapa hari yang lalu baru saja pulang dari kampung halaman. “ iya pa,” jawab anak sulungku, ah ...!! anakku yang sulung itu, dia selalu mau mengantarku kemana saja, dan entah mengapa aku suka pergi jalan bersamanya, ya... mungkin karena dia tak serewel adiknya.

Siang itu, aku besiap-siap akan berangkat kerumah temanku, istriku sudah menyiapkan semua, menyiapkan oleh-oleh untuk temanku ku. “ Pa, kapan mo jalan ke tempat teman papa, kakak sudah siap nih”. Ah .. ! sulungku itu selalu saja begitu, dia senang sekali bila hendak ku ajak ke rumah temanku yang di Rawamangun sana, “ iya sebentar lagi kak, kita sholat Dzuhur di rumah dulu”.bungsuku masih asik mencoba tas barunya di ruang tengah, istri ku sedang menyiapkan makan siang untuk kami, sementara sulungku masih asik bersolek di depan cermin, sibuk mengepang rambutnya sendiri. Keluargaku adalah keluarga yang sangat sederhana, kami tinggal di rumah kontrakan, istriku hanya seorang ibu rumah tangga, ia ibu yang baik untuk kedua orang anakku. keluargaku memeng sederhana, tapi kami cukup bahagia.

Setelah sholat dzuhur dan makan siang bersama keluargaku, aku duduk sebentar di ruang depan,beristirahat sejenak sambil menurunkan makan siang ku, aku duduk sambil meluruskan kakiku ke meja yang berada di depanku, sambil menikmati rokokku, sejenak pikiranku melayang, aku mengandai-andai, “ ohh ... ! tuhan rumah kontrakanku ini rapuh sekali, mungkin kalau ada angin besar atau api yang melahapnya,dengan seketika rumah kontrakanku ini akan lenyap.” ya jelas saja, kontrakan ini hanya terbuat dari batako yang hanya setengah, dan selebihnya menggunakan teriplek yang di cat putih. Lantainyapun hanya peluran biasa, bukan dari keramik atau ubin.

“ Hayoo .. papa melamun,” ah .. ! bungsuku menyadarkanku dari lamunan, “ papa coba liat baguskan seragam, sepatu dan tas barunya, adek pingin cepat-cepat masuk sekolah pa “ aku tersenyum melihatnya bungsuku ini memang lucu sekali, “ iya .. sayang kan senin nanti adek dah masuk sekolah lagi, tapi janji ya sekolahnya harus rajin, harus dapat nilai bagus, ok ? Dan sekarang buka seragamnya, dan simpan sepatu sama tas nya ya “ bungsuku langsung menarik maju bibirnya, ia cemberut lalu pergi dari hadapan ku.

“ Kakak ...sudah siap belum? Ayo kita berangkat dah siang neh,” sugguh sulungku yang satu ini repot sekali bila hendak pergi, di usianya yang baru tujuh tahun, tapi dia sangat menjaga penampilannya, “ papa, aku mo bawa tas barunya boleh gak ? Sekalian di cobain pa, boleh ya ?” dia mulai banyak gaya, “ jangan sayang itu kan tasnya buat sekolah, nanti kotor, kakak gak usah bawa tas ya, kalaupun kakak mau bawa tas, pakai saja tas kakak yang lain yang lebih kecil” aku tertawa kecil sulungku merajuk.

Sepanjang perjalanan, sulungku hanya diam, mungkin dia masih ngambek, karena aku melarangnya memakai tas baru, tapi aku terus merayunya agar dia tak lagi merajuk. Setibanya di rumah temanku, sulungku baru mau tersenyum dan berbicara denganku. Lama juga aku main di rumah temanku, sulungku sudah mulai merengek minta pulang, dan lagi pula entah mengapa perasaanku tak enak sekali, lalu aku pamitan dengan temanku, lalu aku dan sulungku pamitan pulang.

Dalam perjalanan pulang, sungguh perasaanku tak enak sekali, dalam perjalanan aku hanya diam saja, dan sesekali menjawab keingintahuan sulungku. Tiba sudah aku dan sulungku di terminal Pasar Minggu, ku lihat jam di tangan sulungku, jarum jam baru munjukan jam 21:00, tapi mengapa angkot yang mengarah ke rumahku tak ada, cukup lama juga aku dan sulungku menunggu angkot, “ papa lama banget sih, angkotnya aku udah cape neh berdiri terus “ aku hanya tersenyum mendengar keluhan sulungku “sabar ya sayang“ lalu aku menuntun sulungku mencari tempat duduk, dan ternyata ada tempat di sana, di dekat pangkalan ojek itu.

Sulungku sudah mulai menguap, dan aku mengusap-usap kepalanya “ ngantuk ya ?, sabar ya sayang “ sulungku hanya diam saja. “ mau kemana pak, nunggu angkot apa ? “ pertanyaan itu cukup mengagetkan ku “ saya mau pulang pak, saya lagi nunggu angkot M 12 “ aku menjawab pertanyaan bapak itu, sepertinya bapak ini tukang ojek yang sedang mangkal. “ memang pulang nya kemana ? “ bapak itu bertanya lagi, “ saya pulang ke jalan Jambu pak “ kembali aku menjawab pertanyaan bapak itu, tapi ku lihat bapak ini sedikit terkejut lalu dia bilang “ jalan Jambu yang deket masjid ya pak ? Setahu saya di sana lagi ada kebakaran pak, rumah kontrakan yang terbakar, kalau tidak salah ada enam pintu rumah kontrakan yang terbakar, “ aku kaget sekali, jalan Jambu, rumah kontrakan enam pintu terbakar ? Masyaallah, Allahuakbar, Innalillahi .... jangan-jangan istanaku yang terbakar, “ pak tolong antar saya ke jalan Jambu”, lalu bergegas ku gendong sulungku yang sudah mulai tertidur.

Sampai sudah di jalan Jambu, ku bayar ongkos ojek, ku pegang dengan erat tangan sulungku, aku berjalan dengan cepat dan sedikit berlari, memasuki gang rumahku, sulungku hanya diam dan sedikit kesulitan mengikuti langkahku, “ papa nya Vina rumahnya terbakar “ tetanggaku depan gang memberi tahu, papanya Vina begitulah mereka menyapaku, Vina nama sulungku. Tak terlalu menghiraukan tetanggaku, aku makin cepat berjalan, sulungku hampir terjatuh karena kesulitan mengikuti irama langkah kakiku. Dan .... Ya Allah, Astagfirullah ... rumah ku benar-benar terbakar, si jago merah sudah melahap istana kecilku, aku terjatuh, aku memeluk dengan erat sulungku, istrikuki di mana istri dan bungsungku ? “ papa nya vina, tadi saudaramu datang membawa istrimu dan bungsumu, jadi kau tenang aja, sabar ikhlaskan lah semuanya “ salah sorang tetanggaku menenangkanku. Aku menangis aku memeluk sulungku yang masih tak mengerti aku terus memeluknya dengan erat dan aku berbisik lirih “ sayang, rumah kita terbakar “.

Read previous post:  
Read next post:  
Writer chiku
chiku at Firasat (14 years 4 weeks ago)
50

kok bisa ya ngobrol ditengah2 kalimat

Writer chau
chau at Firasat (14 years 9 weeks ago)
70

dengan teknik penulisan

aku sedih bacanya,,,

Writer ima_29
ima_29 at Firasat (14 years 21 weeks ago)
50

Ho oh niy Vi..agak berantakan nulisnya..Padahal tulisan gw juga brantakan siy! hehehehe...penggambaran siy dah bagus kok! cayo!

Writer heripurwoko
heripurwoko at Firasat (14 years 21 weeks ago)
50

masih banyak yang kurang seputar teknik penulisan, banyak baca deh and perhatiin detailnya...

Writer Super x
Super x at Firasat (14 years 21 weeks ago)
70

Ide ceritanya bagus... alurnya keliatan... tapi pemilihan kata dan penyusunnan kalimatnya banyak yang janggal.

Writer KD
KD at Firasat (14 years 22 weeks ago)
100

baca judulnya, orang sudah males baca

Writer v1vald1
v1vald1 at Firasat (14 years 22 weeks ago)
50

Idenya memang dah bagus. Firasat ayah pun cukup tergambar dengan baik. Tapi tehnik penulisan memang harus banyak belajar lagi. Gimana caranya? Gampang, harus banyak baca buku buat referensi. Baca kumpulan2 cerpen penulis2 yang dah matang, atau sekadar baca novel atau apa pun lah yang digemari. Dengan begitu, tehnik akan semakin berkembang.
Keep on writing Ananda!

Writer gheta
gheta at Firasat (14 years 22 weeks ago)
60

wauw... idemu bagus nih!
cuma coba deh kamu baca lagi, apa kamu gak ngerasa kekakuan tulisanmu.
aku tunggu cerpenmu selanjutnya!

Writer eagle2401
eagle2401 at Firasat (14 years 22 weeks ago)
50

Lumayan detil juga

Writer nisa
nisa at Firasat (14 years 22 weeks ago)
80

Ceritanya bagus..and great ending..!

Writer killerking
killerking at Firasat (14 years 22 weeks ago)
50

Bagus, cuma perlu diperhatikan bbrp detail. Biasanya si adik nggak akan mau kalah sama kakaknya. Kalau si sulung mau diajak pergi, si adik pasti akan ikut juga. Trus, kalo mereka masih bbrp hari lagi masuk sekolah, knp mereka sibuk sampai malam beres2 peralatan sekolah? Keep writing :)