Aku Mencintainya

“Apakah kau juga menyalahkan aku, Ares?”

Ares tertegun sesaat memandang Fuji, kakak laki-lakinya, yang belum bergerak dari tempat duduknya. Hujan masih terus turun di luar menebarkan hawa dingin dan kesunyian yang menusuk. Sesaat mereka terdiam.

Ares sungguh tidak menyukai keheningan ini. Fuji tertunduk. Ares baru menyadari kakaknya tampak begitu kecil dalam kediamanya. Fuji tidak jauh lebih tinggi darinya. Tubuhnya termasuk halus sebagai seorang laki-laki. Walau begitu, selama ini dia selalu menjadi seseorang yang bisa di andalkan. Ares telah mengaguminya sejak kecil. Fuji selalu terlihat sempurna sebagai seorang kakak laki-laki maupun anak laki-laki tertua keluarga ini.

Fuji memiliki kecerdasan jauh di atas rata-rata yang membuatnya selalu berprestasi dalam segala hal di sekolah. Dia lulusan termuda, terbaik dan tercepat di universitasnya. Dia juga seorang pianis yang hebat. Dia adalah debater yang tidak terkalahkan dan dia salah satu dari kelompok mahasiswa paling populer di kampus mereka.

Wajahnya yang tampan dan sikapnya yang lembut dan ramah semakin menambah popularitasnya di sekolah. Fuji juga seorang anak yang penurut dan saudara yang sangat baik. Walaupun begitu dia bisa berubah menjadi sangat menakutkan demi melindungi orang-orang yang disayanginya. Kehidupan Fuji sangat normal dan pergaulan Fuji sungguh membuat iri setiap anak muda. Ares tidak pernah mengira Fuji akan terlibat dengan hal seperti ini.

”Katakan, Ares.”

Ares tersadar. Fuji menatapnya. Ares berdesir melihat sepasang mata kakaknya bersinar sedih. Dia belum pernah melihat kakaknya sesedih itu. Fuji selalu terlihat gembira dan tersenyum. Matanya selalu bersinar hangat dan ramah kepada siapa saja. Entah kenapa Ares tidak tahan melihat pandangan kakaknya kali ini.

Walaupun Fuji sama sekali tidak meneteskan air mata, Ares seolah bisa merasakan dan mendengar rintihan kepedihan dari balik mata itu. Fuji pasti telah melalui hari yang sangat berat karena keputusanya kali ini. Ares mencoba menduga-duga mungkin Fuji telah menahan hal ini begitu lama sebelum akhirnya memutuskan untuk berterus terang pada kedua orang tua mereka tentang perasaan itu.

”A.. Aku tidak tahu,” kata Ares ragu.

Bagaimana dia bisa memahami kenyataan yang sungguh di luar kendalinya ini? Semuanya begitu tiba-tiba dan mengejutkan. Sedetikpun dia tidak pernah berpikir kalau kakaknya yang sangat sempurna itu ternyata memilih jalan itu.

Ares mencoba berpikir dengan jernih. Berapa kali dia mendengar hal seperti ini dalam hidupnya? Berapa kali dia telah melihatnya atau membacanya dalam film, dalam cerita, dalam lingkungan pergaulannya? Apakah itu suatu hal yang tidak normal? Tapi apakah hal semacam itu bisa disebut tidak normal? Bukankah menjadi hak manusia untuk saling mencintai? Apakah cinta semacam itu bisa disebut sebuah cinta yang tidak pantas?

”Kalau kau menyalakan aku, aku bisa menerimanya,” gumam Fuji pelan.

”Bahkan ayah memakiku dan ibu menangis. Aku benar-benar bukan anak yang baik telah membuat mereka seperti itu. Tapi adakah yang bisa kulakukan untuk memperbaiki semuanya?” keluh Fuji lagi dengan nada putus asa.

”Apakah ini juga yang membuat Diva memusuhimu belakangan ini?” tanya Ares kemudian teringat dengan sikap dingin Diva, kakak sulungnya pada Fuji belakangan ini. Fuji tersenyum kering.

”Mungkin Diva ingin membunuhku, Ares,” kata Fuji getir membuat Ares terdiam.

”Dia juga mengetahui hubungan itu?”

”Dia memergoki kami,” kata Fuji nyaris berbisik. ”Dia melihat Tezar memelukku.” Ares tidak menyahut.

Tezar, orang itu, orang yang telah membuat kebahagiaan keluarganya ternodai. Dia berhasil membuat hubungan persaudaraan antara Fuji dan Diva tercabik. Ares termangu. Haruskan dia membuat perhitungan dengan laki-laki itu?

*********

Ares masih ingat saat ibunya membawa pemuda itu dua bulan yang lalu dan memperkenalkanya pada mereka semua. Pertemuan itu seolah menjadi reuni teman lama bagi kedua kakanya, Diva dan Fuji. Fuji tampak lebih tenang menyapa pemuda itu sementara Diva tidak bisa menutupi kegembiraanya atas pertemuan itu. Keduanya terlihat sangat antusias dan gembira dengan kedatangan Tezar.

Tezar Dinata, salah satu mantan murid piano jenius kesayangan ibunya yang memperoleh beasiswa dari sebuah konservatorium musik di Jerman pada usia 18 tahun. Sekian tahun dia malang melintang di berbagai kompetisi dunia dan mendalami pendidikan konduktor dan komposisi klasik.

Saat itu adalah pertama kalinya dia kembali ke Jakarta setelah 8 tahun di negeri orang. Dia bilang dia sedang menghabiskan liburan musim panasnya di sini. Ibu bilang Tezar akan membantu di sekolah musik miliknya selama masa liburannya di Indonesia sebagai guru undangan. Dia akan menjadi konduktor undangan di gala concert perayaan ulang tahun sekolah musik ibu. Dia juga akan mengadakan sejumlah recital kecil dan master class.

“Itu bagus sekali,” komentar ayah saat itu. Tezar mengucapkan terima kasih.

”Oh, andai aku masih punya banyak waktu luang,” keluh Diva tidak mampu menyembunyikan rasa kecewanya. Sebagai wanita karier yang sudah diberi kepercayaan menangani divisi besar di perusahaanya, waktu jadi begitu berharga baginya. ”aku bisa ambil bagian sebagai solo violin di gala concert dan menjadi violismu lagi, Tezar,” desahnya. Tezar tersenyum sopan.

”Sayang sekali. Padahal aku masih ingat permainanmu, Diva,” katanya membuat Diva terlonjak gembira.

”Benarkah?” ulangnya senang. Tezar mengangguk. Fuji tertawa kecil.

”Kenangan yang manis sekali, ya, Kak?” goda Fuji. Diva tersipu. ”Kurasa aku harus minta maaf karena sekarang aku yang akan berkesempatan tampil bersamanya,” kata Fuji lagi membuat membuat Diva terperanjat.

”Fuji! Kau juga terlibat dalam konser?” tukas Diva tidak percaya. Ibu tertawa

”Fuji akan jadi pianis utama di gala concert nanti,” jelas ibu membuat Diva berseru iri. ”Lagipula Tezar juga harus membimbingnya karena Fuji sudah memutuskan untuk melanjutkan karier musiknya.”

Ares nyaris tersedak ketika mendengarnya. Dia baru tahu kalau kakaknya ternyata lebih memilih untuk melanjutkan karier pianisnya dibanding kariernya sebagai lulusan IT terbaik.

”Fuji akan mengambil master untuk jurusan performance di konservatorium yang sama dengan Tezar di Jerman,” lanjut ibu lagi.

”Kau serius?” ulang Ares pada kakaknya. Fuji tertawa kecil.

”Sebetulnya aku belum mau bicara sekarang,” katanya seraya tersenyum. ”Tapi, yah, begitulah.”

”Curang,” rajuk Diva. ”Kau akan menghabiskan waktu lebih banyak dengan Tezar dibanding aku!” katanya gemas.

Fuji tertawa. Ares kembali dibuat tercengang melihat sikap kakaknya yang lain. Diva bisa merajuk seperti anak kecil?

Ares tidak begitu menyukai musik klasik seperti Fuji dan Diva. Hanya dia satu-satunya dari mereka bertiga yang tidak belajar musik di sekolah musik milik ibunya. Itu sebabnya dia tidak terlalu mengenal Tezar dengan baik. Setahunya, selama menjadi murid kesayangan ibunya, Tezar selalu menjadi pianis untuk permainan biola Diva. Dia juga pernah ditunjuk ibunya untuk membimbing Fuji secara privat di rumah ketika Fuji masih SMP. Tidak heran kalau hubungan ketiganya cukup dekat.

Tanpa diberitahupun Ares bisa merasakan perasaan kuat yang dimiliki Diva terhadap laki-laki itu. Diva yang selalu terlihat sebagai wanita cosmopolitan yang begitu mandiri dan percaya diri tiba-tiba terlihat begitu manja dan feminim di hadapan Tezar. Melihat pandangan mata Diva sejak pertama kali melihat Tezar malam itu, Ares langsung sadar bahwa Diva telah lama jatuh cinta padanya.

***********

”Katakan, Ares, adakah yang bisa kulakukan untuk menghilangkan perasaan itu dari hatiku?” pertanyaan Fuji kembali menyadarkan Ares dari lamunanya. Dia bisa merasakan rasa bersalah di balik kata-kata kakaknya. ”Dengan senang hati akan kulakukan demi Diva,” kata Fuji lirih.

”Sejak kapan kalian,-” entah kenapa Ares tidak bisa meneruskan kata-katanya. Fuji menghela nafas. Sejenak dia terdiam.

”Mungkin sebelum keberangkatan Tezar ke Jerman waktu itu,” kata Fuji pelan membuat Ares tersentak.

Begitu lama??

”Maksudmu?” Fuji menghela nafas.

”Malam itu, 8 tahun lalu, malam terakhir sebelum dia pergi,” cerita Fuji perlahan. ”Dia menemuiku dan mengajakku berlatih bersama untuk yang terakhir.” Pandangan Fuji menerawang membuat Ares termangu.

Rachmaninoff Concerto adalah lagu terakhir yang kami pelajari bersama. Dia memintaku untuk memainkanya bersamanya. Saat itu aku belum begitu memahami perasaan ini, tapi aku bisa merasakan permainan kami begitu menyatu sekaligus menyakitkan. Kami seolah saling memberi dan berbagi dalam jalinan nada-nada yang kami buat, sebuah jalinan perasaan yang tidak mungkin bisa diungkapkan dengan kata-kata, begitu solid, universal dan menyentuh. Aku tidak mengerti kenapa aku mulai memikirkannya dan merasa sedih dengan rencana kepergianya yang tiba-tiba. Rasanya aku tidak ingin dia pergi untuk suatu alasan yang tidak kupahami. Aku ingin kami terus bersama dan bermain seperti itu selamanya,” cerita Fuji.

Ares memandang lekat-lekat kakaknya. Fuji tidak pernah berbagi cerita ini dengannya. Rasanya aneh selama ini Ares berpikir mereka begitu terbuka satu sama lain dan dia nyaris menganggap tidak ada hal yang tidak dia ketahui tentang Fuji. Ini adalah perasaan paling pribadi milik kakaknya, perasaan yang hingga beberapa jam yang lalu masih dia putuskan untuk tetap disimpannya.

”Kami tidak banyak berbicara setelah itu. Tezar berpamitan padaku dan tiba-tiba saja dia menciumku. Aku terkejut setengah mati. Kupikir dia pasti sinting melakukan hal itu padaku sebagai sesama laki-laki. Tapi dia sama sekali tidak bercanda. Dia mengucapkan kata perpisahannya dengan serius. Entah kenapa saat itu aku tidak bisa tertawa atau menggodanya. Mulutku seolah terkunci. Perasaanku meluap-luap. Aku ingin menahannya dan memintanya menunda kepergiannya ke Jerman.” Fuji terdiam sesaat.

”Tapi aku tidak bisa memikirkan sebuah alasan yang masuk akal yang bisa mendorongku melakukan hal itu. Aku hanya terdiam hingga dia berlalu. Aku mencoba menghibur diriku dengan berpikir apa yang telah dia lakukan padaku mungkin hanya sekedar ciuman perpisahan dari seorang kakak pada adiknya. Tapi pelan-pelan aku mulai menyadari kehampaan itu. Aku mulai berpikir mungkin itu lebih dari sekedar sebuah ungkapan perpisahan. Aku mulai merindukannya. Namun dia seolah menghilang. Kupikir aku pasti sudah gila memikirkannya. Aku mencoba untuk melupakan perasaan itu.” Fuji terdiam kembali.

Ares mencoba berpikir. Tezarkah yang telah menjerumuskan kakaknya dalam masalah ini? Tapi sekali lagi, apakah hal ini adalah sebuah masalah? Bukankah menjadi hak semua orang untuk menemukan perasaan sejatinya? Lagipula kalau memang Tezar menyayangi Fuji dans ebaliknya, kenapa pemuda itu meninggalkan kakaknya begitu lama? Mungkinkah Tezar sengaja melakukannya?

”Aku mengerti,” gumam Ares akhirnya. Fuji tertunduk. ”Aku tidak bermaksud mengatakan bahwa menyukai sesama jenis adalah perasaan yang tidak lazim. Kurasa Tezar ingin melindungimu. Dia menyayangimu dan dia mengerti kalau dia terus berada di sisimu dia akan melibatkanmu dalam masalah besar. Itu sebabnya bertahun-tahun dia tidak ingin kembali ke Indonesia.”

Fuji mengangguk pelan.

”Bagaimana perasaanya terhadap Diva?” Rasa penasaran amat sangat tiba-tiba menyerang Ares. Dia mencoba untuk mencari sebuah kesalahan telak dari sikap Tezar itu.

”Dia tahu. Dia merasa berada dalam posisi yang sangat sulit saat itu,” kata Fuji.

Ares menggumam mengerti. Bukan hal yang mudah bagi Diva bila mengetahui laki-laki yang disukainya ternyata menyukai adiknya, apalagi adik laki-lakinya.

”Kalau dia memutuskan untuk menghindari permasalahan itu, kenapa sekarang dia kembali dalam kehidupan kalian?” tanya Ares tidak mengerti.

”Dia kembali karena dia merasa dia akan bisa mengatasi hal itu. Delapan tahun sudah berlalu sejak itu. Sayangnya tidak seorangpun yang bisa mencegah saat perasaan itu tiba-tiba muncul dan mengacaukan semuanya,” kata Fuji pelan.

”Aku tidak berdaya mencegahnya, Ares,” keluh Fuji. ”Aku justru mengacaukannya. Aku membuatnya kembali merasakan perasaan itu. Aku tidak kuasa menahan perasaanku sendiri berkembang menjadi begitu dalam selama kebersamaan kami berikutnya. Aku sudah berusaha melupakannya demi Diva dan demi hidupku sendiri. Tapi aku tidak bisa memikirkan dan merasakan kebahagiaan yang lebih indah dari bersamanya. Aku tidak ingin kehilangan dia untuk yang kedua kalinya.”

Apakah perasaan cinta seperti itu patut disalahkan? Apakah itu menjadi sesuatu yang patut disalahkan ketika kita menyadarinya ternyata perasaan itu jatuh pada seseorang di luar dugaan kita? Ares menggeleng tanpa sadar. Tiba-tiba saja dia seolah bisa memahami jalan pikiran kakaknya. Fuji mencoba mengungkapkan kejujuran itu. Tidak ada yang lebih indah dari menemukan perasaan sejati kita dalam perjalanan hidup ini.

”Aku tidak akan pernah menyalahkanmu. Selamanya kau akan tetap menjadi kakakku yang terbaik. Aku ikut bahagia dengan semua keputusan yang membuatmu bahagia. Kurasa yang lainnya juga akan merasakan hal itu. Mereka hanya butuh waktu untuk memikirkannya,” kata Ares tulus.

Ares merasa lega telah mengucapkan kata-kata itu. Hatinya tiba-tiba terasa tenang dan entah bagaimana dia merasa makin dekat dengan kakaknya. Fuji termangu sesaat memandangnya. Ares mencoba tersenyum. Disentuhnya bahu kakaknya dengan lembut. Sesaat Fuji tidak mampu berkata-kata dan diapun menangis diam-diam.

”Ares, terima kasih.” Ares tidak akan pernah bisa membayangkan betapa besar arti dukungan itu bagi kakaknya malam itu.

***************

Pagi itu suasana bandara terlihat tidak terlalu ramai. Ares mengantar kakaknya berangkat. Hari ini Fuji akan terbang ke Jerman. Seharusnya kedua orang tua mereka juga mengantarnya. Tapi pengakuan Fuji seolah merubah sikap mereka padanya. Ares masih berharap sebuah keajaiban akan terjadi hari ini. Fuji tidak bisa diperlakukan seperti itu. Ares tidak akan membiarkan Fuji sendirian menghadapinya.

Pemuda itu sudah menunggu mereka ketika mereka datang. Ares mencoba menyalaminya dengan akrab. Tezar tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Mereka tidak banyak berkata-kata, tapi dari cara dia memperlakukan Fuji dan menyapanya, Ares bisa merasakan perasaan yang jauh lebih dalam dari sekedar rasa sayang antara dua sahabat ataupun kakak beradik.

Ares tahu Fuji sudah memilih hal yang tepat. Tidak ada yang salah dalam diri pemuda itu. Andaikan Fuji sama seperti Diva, Ares yakin orangtuanya tidak akan keberatan untuk menikahkan mereka terlebih dahulu sebelum kepergian mereka ke Jerman. Betapa ironisnya kenyataan yang kau dapatkan hanya karena kau mencintai sesama jenismu.

Panggilan dari resepsionis bandara kembali terdengar memanggil para penumpang penerbangan ke Frankfurt berikutnya agar bersiap. Ares tersenyum ketika Fuji merangkulnya dengan hangat.

”Aku akan mengabarimu sesering mungkin,” katanya

”Baik-baiklah kau di Jerman,” balas Ares. Fuji tertawa pelan.

”Ya,” katanya. ”Salam untuk yang lainnya.” Suara Fuji sedikit bergetar ketika mengucapkanya.

Ares tahu kakaknya berusaha terdengar tangguh menyangkut masalah itu. Seharusnya mereka semua berkumpul untuk melepas keberangkatannya kali ini. Kenyataan bahwa hanya Ares sendiri yang mengantarnya pasti bukan sesuatu yang mudah bagi Fuji. Seumur hidup Fuji belum pernah terlibat masalah yang begini rumit dengan keluarganya. Selama ini dialah yang selalu muncul sebagai pemecah masalah dalam keluarga mereka. Dia tidak pernah menyangka justru sekarang dia terlibat dalam masalah yang bahkan dia sendiri tidak bisa mengatasinya.

”Mereka juga pasti akan merindukanmu,” kata Ares pelan. Fuji memandangnya dengan mata berkaca-kaca.

”Andai aku bisa merubah situasi ini,-”

”Fuji, sudahlah,” cegah Ares. ”Jangan pikirkan hal itu lagi.” Fuji menghela nafas berat. Panggilan kembali terdengar. Tezar menyentuh lengan Fuji.

”Kita pergi sekarang,” katanya lembut. Fuji mengangguk.

”Sampai jumpa, Ares,” Fuji nyaris berlalu pergi ketika tiba-tiba sebuah suara terdengar memanggilnya.

”FUJI!” Fuji menoleh dan tercengang. Mungkin ekspresi Fuji saat itu menjadi ekspresi paling bahagia yang pernah dia tunjukkan pada Ares. Bahkan Arespun bisa merasakan perasaan bahagia yang meluap-luap itu ketika melihat kemunculan kedua orang tuanya di ujung lorong ruang keberangkatan.

Fuji seolah tidak bisa berkata-kata untuk sesaat. Namun sedetik kemudian diapun langsung menjatuhkan tasnya dan segera menghambur ke arah mereka dengan bahagia. Adegan berikutnya terlihat seperti adegan film drama keluarga yang penuh dengan keharuan. Ares bisa melihat ayahnya yang tersenyum penuh pengertian menepuk pundak kakaknya sementara ibunya memeluk Fuji sambil menangis. Fuji kelihatan sekali tidak bisa menahan perasaanya mendapatkan kedua orang tuanya telah datang.

”Maaf telah mengecewakan kalian berdua,” kata Fuji haru.

”Kau bilang apa, Fuji?” kata ibunya. ”Aku yang perlu dimaafkan. Seharusnya aku tidak perlu berpikir terlalu lama untuk menerima ini semua. Tidak ada yang salah denganmu. Itu sama sekali bukan masalah besar. Kau mengerti? Kami tidak peduli apapun. Bagi kami kau tetap Fuji yang dulu, yang selalu membuat kami bangga dan bahagia,” isak ibunya.

Hari itu Ares melihat Fuji pergi dengan senyum terhangat dan terindah yang pernah dia berikan kepada mereka semua. Ares tahu masih ada satu hal lagi yang mengganjal dalam hati kakaknya, yaitu Diva. Tapi Ares yakin tidak akan ada satu orangpun yang bisa memusuhi Fuji.

Ini hanyalah soal waktu Fuji, karena kau sangat berarti bagi kami semua dan kami sangat menyayangimu.

Satu minggu kemudian....

Are you all right?

Fuji menoleh mendengar pertanyaan itu. Tezar memandangnya dengan khawatir. Fuji mencoba tersenyum berusaha tidak menpedulikan tangannya yang tiba-tiba terasa dingin dan dadanya yang berdebar makin keras. Hari ini adalah hari audisinya.

Absolutely,” balasnya hangat. Fuji termangu ketika tiba-tiba Tezar meraih jarinya dan menggenggamnya dengan lembut.

You have practised so hard during this week. Your “La Campanella” last night was the best that I ever heard. Trust me,” bisik Tezar halus.

Thank you,” balas Fuji.

Mereka terdiam sejenak hingga tiba-tiba bunyi lembut telepon genggam Fuji terdengar membuat keduanya menoleh. Fuji meraihnya dan membacanya sekilas. Sejenak dia terpaku memandang nama pengirim yang tertera di layar teleponnya. Diva. Entah kenapa Fuji merasa debaran di hatinya justru makin kencang ketika dia mencoba membaca pesan singkat yang tertulis di situ.

”Aku akan melihat debut pertamamu di Eropa sebagai pianis dunia.”

Seolah sebuah batu yang besar tiba-tiba saja terangkat dari hatinya ketika membaca pesan singkat itu. Fuji merasa begitu bahagia dan bersemangat. Kegugupannya seolah menghilang begitu saja. Jarinya bergerak cepat membalas pesan itu.

I love you all.” Fuji menghela nafas. bersamaan dengan terbukanya pintu ruang audisi. Seorang petugas mendekati mereka.

”Mr. Harera Fujiko!”

Fuji tersadar dan mengiyakan. Sesaat dia menoleh ke arah Tezar. Tezar menggenggam bahunya dengan mantap dan mengangguk. Fuji tersenyum. Dipandangnya Tezar dengan hangat.

Rasanya aku bisa menghadapi rintangan seberat apapun bersamamu di sisiku.

I’ll do my best, Tezar,” kata Fuji kemudian. Tezar mengangguk.

Good luck, soulmate.

Fuji melangkah menuju ruang audisi dengan tenang.

Andaikan cinta bisa memilih, kita akan berusaha memilih agar tidak menyakiti hati siapapun. Tapi cinta adalah suatu anugerah yang tidak pernah bisa ditolak. Apakah itu menjadi suatu kesalahan ketika cinta itu jatuh pada sesuatu yang tidak seharusnya? Bukankah menjadi hak siapa saja untuk saling mencintai dan menyayangi?

Read previous post:  
57
points
(1371 words) posted by yosi_hsn 14 years 6 weeks ago
63.3333
Tags: Cerita | kehidupan | Kehidupan | yosi
Read next post:  
Writer Saddie Bluey
Saddie Bluey at Aku Mencintainya (10 years 33 weeks ago)
80

suka ceritanya... aduh yosi, walaupun aku bukan penggemar cerita yosi, aku suka cerita ini dan cara kamu menuliskannya. tezar membuatku membayangkan tezuka. XD hehehe...

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Aku Mencintainya (10 years 33 weeks ago)

ehh.. kok tahu tezuka O.O?? Kenalan dong..kenalan...

Writer Saddie Bluey
Saddie Bluey at Aku Mencintainya (10 years 33 weeks ago)

ahaha... iya donk, aku kan fans berat POT, mulai dari anime, manga, semua aku lahap, bela-belain nyari anime ori di singapore, beli seh tapi mahaaaaaaaaaaaal. tak papalah XD
tapi aku cinta mati sama ryomanya, suka juga seh ama tezuka. suka deh sama semua tim seigaku, sukaaaaaaaaaa juga sama semua tokoh dalam POT *naik gila*

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Aku Mencintainya (10 years 33 weeks ago)

lhaaa... bagi ym dong kalo ada. kirim lewat message deh.

Writer Saddie Bluey
Saddie Bluey at Aku Mencintainya (10 years 33 weeks ago)

Okok ^^ aku kirim ke msg kamu yach >.<

Writer Saddie Bluey
Saddie Bluey at Aku Mencintainya (10 years 33 weeks ago)

Lah... aku gak tahu gmana kirim msg ke kamu =.=
ney deh ym aku: blue_mlie2020@yahoo.co.uk
or boleh kok add fb aku juga di peach.ch88@gmail.com
hehehe XD

Writer Fany Ijo
Fany Ijo at Aku Mencintainya (11 years 37 weeks ago)
90

gooooooooooddd banget.....
ga bisa berkata-kata

Writer justforyou
justforyou at Aku Mencintainya (12 years 30 weeks ago)
80

.hwa....

.mewek lagi deh!!!

andai aku bisa mendapatkan cintaku................

Writer za_binatangjalang
za_binatangjalang at Aku Mencintainya (12 years 34 weeks ago)
100

de perfect story.

cinta emang ga pernah memilih dimana dia akan berlabuh,keren mba.

Writer ifie_ajah
ifie_ajah at Aku Mencintainya (13 years 3 weeks ago)
80

y....
bgs kok... =D>

Writer Diriku
Diriku at Aku Mencintainya (13 years 5 weeks ago)
60

..

Writer olief
olief at Aku Mencintainya (13 years 5 weeks ago)
100

hem, aku menikmatinya....
komennya udah di ym kan mbak :)

keren dah :D

Writer kavellania
kavellania at Aku Mencintainya (13 years 5 weeks ago)
100

membacanya pada paragraft awal aku jadi teringat sebuah novel yg aku temui seminggu yang lalu di Gramed (sudah kita bahas behind the scene) tapi aku yakin dirimu yang duluan menulis alur cerita seperti ini.

cerita ini terlalu panjang dan memang lebih cocok untuk novel karena konflik cinta sesama jenis itu lumayan pelik dan cerita ini seolah menyelesaikan konflik itu dengan mudah. nah disinilah gregetnya kurang.

yang aku suka dari cerita ini dialognya lumayan hidup cuma kurang penegasan saja ;)

Writer fifi_ann_wong
fifi_ann_wong at Aku Mencintainya (13 years 46 weeks ago)
50

Writer mtop666
mtop666 at Aku Mencintainya (14 years 7 hours ago)
80

Seandainya orang yang sedang jatuh cinta boleh memilih, maka ia akan memilih untuk tidak jatuh cinta.

Terus melangkah...

Writer Nanasa
Nanasa at Aku Mencintainya (14 years 17 hours ago)
90

Novel banget idenya. Tapi ini dah jadi cerpen utuh yang menarik kok..
Keep writting ya :)

Writer imr_aja
imr_aja at Aku Mencintainya (14 years 6 days ago)
80

mengalir ...

waduh gue ga bisa nih bikin yang kayak gini ...

Writer vieajah
vieajah at Aku Mencintainya (14 years 1 week ago)
80

9iLa... knapa yak 9w gag bisa nuLis kaya beGinian..??
gag peRnah LuLus lulus acan...

^^ hohohoh

Writer Tedjo
Tedjo at Aku Mencintainya (14 years 1 week ago)
80

sekali lagi, kamu menulis dengan baik sangat baik..semua aspek sudah berjalan lancar.., hanya saja secara personal saya tidak begitu suka konfliknya, yang menurut saya adalah suatu cinta yang mengada-ada...meskipun begitu ini sudah cukup cantik berbentuk cerpen..

Writer andrespurnama
andrespurnama at Aku Mencintainya (14 years 1 week ago)
100

dre pasti beli jika cerpen ini dijadikan novel juga,,
dari awal dre suka gaya bhasanya ga terlalu menjual mimpi-mimpi
dari awal sampai terkhir membuat dre terus ingin membacanya...
pa lagi kalimat di akhir "Rasanya aku bisa menghadapi rintangan seberat apapun bersamamu di sisiku"
da kesan tak ada yg dapat disalahkan dari cinta... walau itu adalah cinta yang salah sekalipun..
dukungan keluarga memberi kekuatan tersendiri juga di cerita cinta ini..
tanpa menjual cerita sex didalamnya,, tapi kesan cinta sesama jenisnya dapat banget bagi dre.
bener kata bang dadun, judulnya kurang nendang nich,, huhu
but overall it good story koq, and its real happen today

dadun at Aku Mencintainya (14 years 1 week ago)
90

...setelah "kehilangan" seseorang di k.com ini--karena sudah hampir tidak pernah posting lagi, akhirnya saya menemukan "penggantinya"--halah--

Mbak Yosi, saya senang sekali membaca cerita dengan gaya-mu. Yah, yah, memang agak "mirip" dengan gayanya k4cruterz (walaupun saya baru baca dua cerpennya, heuheuheu^^), tapi gpp lah, bukan aksi 'plagiarisme' kan? --haiyah-- so so kebawa isue, gue^^

tentang si "Aku Mencintainya"... wah, buat saya, ini tulisan bergenre percintaansejenis yang tidak biasa dan terasa sangat luar biasa. tidak ada adegan 'bercinta' dsb. bahkan sekedar berciuman pun terasa nihil. yah, memang. sebaba kebanyakan cerita bergenre serupa --entah kenapa-- seolah2 lebih menonjolkan hal itu, daripada yang kamu ungkap di sini; tentang kedalaman "perasaan sejati" dimana ketika sang cinta memanggil, manusia memang tak kuasa untuk tak menoleh *halah.

tapi memang, ada hal2 yang seperti k4cruterz bilang; "too good to be true". mungkin sperti tentang 'penerimaan' yang terlalu tiba-tiba. atau mungkin karena ini semacam draft untuk sebuah novel, jadinya seperti ini.

well... kini saya akan menjadi 'penunggu' karya-karyamu...

*kalo boleh usul, judulnya keknya kurang NENDANG, mbak^^

Writer panah hujan
panah hujan at Aku Mencintainya (14 years 1 week ago)
80

that i love.

i love it so much.

don't ask why..

haha (sok ngenglish ajaH)

salam kenal juga, sist...

Writer kh_someone
kh_someone at Aku Mencintainya (14 years 1 week ago)
80

ni puisi pa cerita??
klo cerita kaga disini...

-->>plg baru. maaf kasih coment yang diatas.
-->>btw bagus, n salam kenal jg ya

Writer yugi_yakuza
yugi_yakuza at Aku Mencintainya (14 years 1 week ago)
80

eksplorasi yang mantab and sweet sist..^^

keep writing yupp
^_^

mampir, mari mampiiir^^

Writer Matrix
Matrix at Aku Mencintainya (14 years 1 week ago)
80

Gw jadi bingung mo komen apa...

Writer bututbego
bututbego at Aku Mencintainya (14 years 2 weeks ago)
80

fiuh...
delapan untuk idenya.
kenapa aku tidak suka membaca novel ya?

sukses buat kamu.

Writer dhewy_re
dhewy_re at Aku Mencintainya (14 years 2 weeks ago)
90

semua udah diungkapkan ama para pendahulu

aku cuma bisa bilang
"nice story sist.."

Writer k4cruterz
k4cruterz at Aku Mencintainya (14 years 2 weeks ago)
80

.. sayah setuju ma moesafeer dan villam ... konflik, penggambaran tokoh, akur dan cerita serta temanya udah baik sekali ... tapi emang ada beberapa adegan yang janggal dan terasa (klo boleh mengutip villam) "too good to be true" ... hehehehhehehehe

mungkin skedar saran (karena saya lihat "gaya" menulis kita mirip) coba dibuat cerita dengan adegan/tema yang terasa "normal" dengan cara yg "kurang waras" atau sebaliknya terasa "tidak normal" dengan cara yg "waras" .... hehehehehehe ... misalnya : pelacur ingin naik haji .... atau mungkin seorang anak kecil yang ingin jd makhluk luar angkasa .... hehehehehehehe

sori klo sarannya agak membuat bingung dan "gak penting" ... cma ngerasa seneng ajah ada tmen yg "gaya" nya mirip

lanjuuuuuutttt yaaaahh

-anakmarmutkurangajar-

Writer Villam
Villam at Aku Mencintainya (14 years 2 weeks ago)
80

eksplorasi yang bagus, yosi.
aku salut untuk itu.
tapi pengakuan sang orang tua pada saat itu juga... gimana ya... too good to be true? aku lebih suka jika konfliknya lebih dibangun lagi...

Writer moesafeer
moesafeer at Aku Mencintainya (14 years 2 weeks ago)
100

... yang belum bergeming dari tempat duduknya... (paragraf 1)
Maksudnya belom bergerak dari tempat duduknya? (barangkali)
Bukankah bergeming artinya tetap diam, tidak bergerak.
Maaf, mungkin ada yg lebih tahu artinya. :D Mohon pencerahan.

Btw, cerpennya mantap abizzz....
Cuma, aku agak janggal terutama pada nama2 tokohnya. agak ke-jepang2-an banget. :D (kebanyakan nonton anime yah :p) Hehehehehe....

But, konflik dan alurnya bagus, penggambaran tokohnya juga kuat. Ceritanya juga menarik.

Great....
:)

Writer sefry_chairil
sefry_chairil at Aku Mencintainya (14 years 2 weeks ago)
80

manis sekali..^^

---------------
----
Mampir ke website dan blogku ya, klik aja:
SEFRYANA KHAIRIL OFFICIAL WEBSITE
Tentang Kita

Writer kornelius.kevin.kristian
kornelius.kevin... at Aku Mencintainya (14 years 2 weeks ago)
80

halo.. saya pendatang baru di kemudian.. salam kenal! ^^

cerpennya bagus.. tapi aku ada komen soal nama2 lagu.. kan yang ga maen piano ga ngerti.. mungkin yang perlu lebih dieksplorasi perasaan2 di dalam lagu itu?

cerpennya panjang juga yah..
bisa diperdalam lagi perasaannya, mungkin..?
cheers!