Dan Cinta Itu (3)

Di sebuah cafe. . . .
Sore hari. . . .

Rico duduk di sebuah kursi yang berada di sudut ruangan itu. Sementara itu secangkir moccacino hangat mengebul di depannya. Matanya menerawang keluar menikmati dinginnya hujan yang mengalir sejak tadi siang. Namun, tangannya masih sibuk dengan ponselnya, yang sejak tadi berada dalam genggamannya.

"Ting-tong!"

Bel cafe itu berdentang. Seseorang masuk ke dalam cafe itu dengan tergesa-gesa. Bajunya basah kuyub gara-gara menjemput rintik hujan yang berada di luar sana. Gadis itu sesaat mengeringkan rambutnya dengan sapu tangan yang dibawanya. Sesaat kemudian dia menggeledah isi ruangan itu dengan matanya yang lembut. Dan ketika dia menemukan seseorang berjaket kulit di pojok ruangan. Dia menyapanya.

"Hai Ric! Maaf telat," ucap Milan sambil tersenyum.

"Nggak papa," jawab Rico dengan nada elegan. Sepertinya dia sudah biasa dengan kebiasaan Milan yang satu ini. "Bagaimana kabarmu?"

Milan mengangguk. "Baik."

Rico kemudian mengambil moccacinonya lalu mengisapnya sedikit. Cukup hangat untuk menemani sore yang dingin seperti ini.

"Ada berita apa sampai kau menyuruhku berada disini?" tanya Rico membuka pembicaraan.

Milan terhenyak sesaat. Dia ragu untuk memberitahukan hal ini kepada Rico. Tapi, bagaimanapun juga lambat atau cepat hal ini akan terjadi. Dan Milan tidak ingin kalau Rico sendiri yang mengetahuinya secara langsung.

"Aku tadi pagi bertemu dengan Loni," aku Milan. Wajah Rico pun sedikit berubah. Ada aura kegembiraan yang terpancar di wajahnya.

"Benarkah?"

Milan sekali lagi mengangguk. Meskipun ini pahit. Dia harus tetap mengakuinya.

"Tapi, sepertinya kau tidak bisa menemuinya sekarang," kata Milan lirih.

"Maksudmu karena status tunangan kita?" selidik Rico. Milan mengangguk lagi.

"Duk!"

Rico menghantam meja di depannya dengan kesal. Ia tak menyangka persoalannya menjadi serumit ini. Padahal dulu ia kira rencana ini akan berhasil. Ternyata tidak demikian. Perjodohan yang dilakukan oleh orang tua Milan dan Rico memaksanya untuk terjebak dalam situasi seperti ini.

"Lalu? Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Rico berang.

"Kita tunggu saja. Sampai sandiwara ini selesai. Dan kau dapat kembali bersama Loni."

Hujan pun masih turun dengan derasnya di luar sana. Meredam riak emosi seorang lelaki yang berada di dalam cafe itu. Mungkin itu takkan bisa menenangkannya. Tapi, sedikit kabar dari gadis yang dicintainya bisa menghilangkan dahaga rindu yang ia tanam selama sebulan yang lalu.

Dan hujan pun. Akan masih terus gerimis. Sebelum bagas, menghalau keredupannya.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Hayooo! Siapa yang mau nerusin. Ceritanya masih berlanjut lho!

n_n

Read previous post:  
47
points
(350 words) posted by chiku 14 years 11 weeks ago
58.75
Tags: Cerita | cinta | estafet | sahabat
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer mesmerizeprincess
mesmerizeprincess at Dan Cinta Itu (3) (13 years 51 weeks ago)
60

pengen ngelanjutin , nanti jadi panjang hehehe...

so far, quite good.. :p

Writer koekoeh
koekoeh at Dan Cinta Itu (3) (14 years 8 weeks ago)
90

cinta... cinta... cinta.... apalagi kalo bukan salah satu bagian dari kebutuhan setiap umat manusia; entah apakah ia disebut sbg kebutuhan primer, sekunder, atw tertier, yg pasti cinta akan selalu ada untuk dicari, dimiliki, dan dinikmati ^^! Setuju?

Writer sefry_chairil
sefry_chairil at Dan Cinta Itu (3) (14 years 10 weeks ago)
80

ayo, ayo..
siapa yang mau melanjutkan?
hihi..^^

---------------
----
Mampir ke website dan blogku ya, klik aja:
SEFRYANA KHAIRIL OFFICIAL WEBSITE
Tentang Kita

Writer Littleayas
Littleayas at Dan Cinta Itu (3) (14 years 10 weeks ago)
80

blo9on aja tuh duluan yg nerusin...hehehe

Writer bl09on
bl09on at Dan Cinta Itu (3) (14 years 10 weeks ago)
90

ini toh... Nir dah aku rubah poinya tapi ngaruh ga yah?