Catatan Seorang Mahasiswa

“Lo masuk universitas mana?”
“Universitas Swasta Cendrawasih.”
“Ah,cupu,bisanya masuk swasta….”
“Lo masuk mana emangnya?”
“Universitas Teknologi Negara”
“Ah,palingan program mandiri.”
“Enak aja,SPMB dong! Gengsi dong,masa mandiri?”

-----------------------------------------------
Huh, pembicaraan di atas seakan masih terngiang di kepalaku. Baru beberapa bulan yang lalu, aku, dan teman-temanku membicarakan akan meneruskan kuliah dimana. Universitas negeri, atau swasta, atau di luar negeri. Sebenarnya menurutku semuanya baik. Ya, karena yang menentukan bukan DIMANA kita kuliah, melainkan SIAPA yang kuliah dan BAGAIMANA kita kuliah. Berapapun uang yang kita keluarkan, tetap saja tidak akan mempengaruhi bagaimana kita berproses selama studi.
Masih terngiang di benak ini, masa-masa kuliah yang menyenangkan.

‘Katanya boleh pakai baju bebas!’
‘Masuknya nggak jam 7 pagi loh,terus banyak bolong-bolongnya,jadi bisa cabut.’
‘Dosennya gokil-gokil, seru deh, bahkan kita bisa adu argumentasi segala.’
‘Pelajarannya sedikit,santaiii...!’
‘Nggak bakal sesibuk sekolah,pokoknya santaiii...!!!’

HAH?
NGGAK SALAH?
Mungkin aku terlalu sensitif, atau mereka terlalu naif?
Atau mungkin kisahku ini bisa menyadarkan mereka yang berpendapat demikian?

....semoga saja!
---------------------------------------
Aku menyukai pelajaran fisika waktu SMA, dan itulah alasan aku mengambil jurusan dimana terdapat banyak aplikasi fisika. Namun rasanya paradigmaku telah berubah sejak aku masuk kuliah. Ternyata kuliah tidaklah semenyenangkan masa-masa di SMA.
Memang betul, tidak ada aturan yang mengharuskan kita menggunakan seragam. Tidak ada pemeriksaan rambut dan kuku. Bahkan tidak ada yang perduli denganmu, dalam artian bahwa kita dianggap telah dewasa.
Namun aku merasa kecewa dengan masa kuliah ini. Masa yang baru kualami selama kurang lebih 3 bulan. Masa yang seharusnya dapat aku nikmati, karena aku hanya akan mendalami mata pelajaran yang aku sukai. Namun kenyataannya tidak demikian.

Hari ini lagi-lagi pelajaran fisika. Entah mengapa aku jadi kurang suka, bahkan menjadi sebal dengan pelajaran ini. Heran, namun itulah adanya.

Mungkinkah karena dosen?
Mungkin juga.
Mungkinkah karena teman-teman baru, dan aku yang kurang pandai bersosialisasi?
Mungkin juga.
Namun kurasa lebih pada dosen.
Ya.

Dosen fisika itu datang lagi. Terlambat seperti biasa, 2 jam dari waktu yang seharusnya. Padahal aku sudah datang pagi-pagi dan terburu-buru,sampai-sampai tidak sempat sarapan.
Kecewa satu kali.
Lalu kuliahpun dimulai. Aku mengeluarkan buku catatan, buku paket, dan kotak pensil. Bersiap mendengarkan penjelasan. Seperti biasa, dosen ini, Ibu Yianidwi, memberikan penjelasan. Dengan suara cempreng khas, yang membuat muak, sampai-sampai aku perlu izin ke toilet.
Seingatku sebelum pergi ke toilet,ia memberikan latihan,untuk dikerjakan selama di kelas,untuk kemudian dibahas. Ketika aku kembali dari toilet,suasana kelas berubah total.
Hening. Sangat hening.
Curiga, maka aku bertanya pada temanku.

“Tong,kenapa pada diem?”
“Iye tuh, si Ibu ngamuk tadi tau.” Jawab si Otong.
“Heh? Ngamuk? Ngamuk kenapa?”
“Iya,tadi tuh pada ga ngerti kan soalnya, terus pada bahas gitu sendiri-sendiri. Awalnya bisik-bisik,makin lama makin rame. Sebenernya gak rame-rame banget,terus tau-tau si Ibu dateng tuh,terus ngomong gini deh ‘Kamu,kamu,dan kamu yang pake kacamata,kalau sekali lagi saya lihat ribut seperti ini,TIDAK USAH IKUT PELAJARAN INI LAGI SAMPAI AKHIR TAHUN!!!’ gitu... Serem banget deh,matanya udah mau keluar gitu,hiy....”

Firasat buruk melanda. Dan benar saja, latihan itu ditambah 100 nomor lagi untuk dikerjakan, dan dikumpulkan minggu depan. Di benakku sudah terbayang tugas itu,menumpuk untuk dikerjakan. Heran, apa bisa tugas sebanyak itu diselesaikan dalam waktu seminggu?
Keesokannya pelajaran fisika terprogram, yakni pelajaran fisika yang mengaplikasikan penggunaan teknologi informatika. Jujur saja,aku lemah dalam hal komputer. Kemudian tugas dibagikan, dan dihadapkanlah diriku pada kebingungan. Menemui jalan buntu,lalu kucoba mengkonsultasikan apa yang sudah kubuat dengan dosen.

“Pak,sebaiknya ini dibagaimanakan supaya lebih baik?”
“Wah,kamu ini,orang-orang sudah sampai mana,kok baru sampai sini? Serius dong!”
“Tapi pak,saya kurang paham mengenai komputerisasi. Apa mungkin perlu diperbaiki di bagian ini?”
“Bisa saja,tapi pada dasarnya yang kamu buat ini sudah terlanjur jelek. Mau digimanain juga tetap saja jelek.”
“Tapi pak,kalau ini dibeginikan mungkin bisa lebih......”
“Ya sudah,TERSERAH ANDA SAJA! Kalau anda ngotot seperti itu,jalanin saja,tidak perlu tanya-tanya ke saya!”

Kehabisan kata-kata, dan juga kesabaran, aku meninggalkan meja dosen. Kembali ke komputerku, menatap kosong layar di depan mata.

-----------------------------------
Beginikah nasib perkuliahan di negeri ini? Apakah dengan masuk universitas negeri,artinya kita tidak berhak mendapat yang terbaik, seperti yang didapatkan mereka di universitas swasta?
Apakah perlu kita dicaci-maki, ketika kita bertanya secara baik-baik dan mengharapkan adanya petunjuk?
Ataukah mental kita sedang diuji agar menjadi pribadi dewasa yang kuat, dan siap menghadapi tekanan?
Mungkin juga.
Namun apakah seorang dosen berhak menghakimi para mahasiswa yang terlambat, bahkan hanya berselisih satu langkah kaki dengannya, ketika mereka sendiri seringkali datang terlambat bahkan tidak hadir tanpa menginformasikan sebelumnya pada para mahasiswa?
Apakah ini cermin pendidikan di Indonesia?
Apakah begitu bobroknya pendidikan di negeri ini, sampai-sampai calon-calon pemimpin bangsa masa depan dibina dengan cara militer, kapitalis, dan oportunis?
Apakah harus kita mendapat perilaku tidak adil, bahkan dalam dunia edukasi, ketika ketidak-adilan seringkali dicuap-cuapkan oleh para pembela keadilan di luar sana?

Tidak ada yang tahu.
Semuanya kembali pada mereka.
Yang merasa.
Yang melakukan.
Yang bertindak.
Yang telah memperlakukan.

Karena aku hanyalah aku...
...seorang Mahasiswa.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer dekku
dekku at Catatan Seorang Mahasiswa (14 years 32 weeks ago)
80

bro, salam kenal ya.
gue juga kuliahnya di universitas negeri kok. tapi masa-masa terindah gue malah pas kuliah. untungnya gue gak pernah ngalamin apa yang loe alamin. biasanya sih dosen yang ngeselin itu yang gak bisa diajak argumen. ini curhat apa fiksi atau dua2nya? kalau curhat, sabar aja, biasanya 6 bulan pertama emang gak enak. tapi lama-lama juga maknyuuus, hehehe.
kalau ini fiksi, udah bagus, ceritanya mengalir ringan, bikin terhanyut dan iba pada si tokoh, sekali lagi: maknyuuuus

Writer FrenZy
FrenZy at Catatan Seorang Mahasiswa (14 years 32 weeks ago)
70

sedikit eksperimental, dengan poin yang menarik. tapi kayaknya bisa dikembangkan lagi deh piscou, misalnya nambah dialog :) jadi poin-poin yg ingin disampaikan keluar melalui dialog, yang lebih seru disimak.

Writer wehahaha
wehahaha at Catatan Seorang Mahasiswa (14 years 32 weeks ago)
80

gak berubah tekniknya. ^^ Masalahnya ada di kita sendiri : kurang dapat merelakan perginya masa2 SMA dan datangnya masa kedewasaan di kuliah.

Writer ijazah_sd
ijazah_sd at Catatan Seorang Mahasiswa (14 years 32 weeks ago)
80

Hey jantung bangsa! Jangan lemah kau!
Kau tidak sendirian.

Writer bututbego
bututbego at Catatan Seorang Mahasiswa (14 years 32 weeks ago)
80

asli bagus...

no comment dulu.

Writer kornelius.kevin.kristian
kornelius.kevin... at Catatan Seorang Mahasiswa (14 years 32 weeks ago)
80

"tidak ada pemeriksaan rambut ..."
jadi teringat sesuatu neh.. hahaha..

anyway..
a good one.. writing stylenya conversational, yang cocok buat contentnya.. kritiknya banyakk..

to build a nation, we need men who care about their country..

dan.. seorang mahasiswa ini.. kayaknya ga sendirian ngomel2.. tinggal bersatu dan mengajukan perubahan..

saya setuju dengan si mahasiswa di cerita ini!

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Catatan Seorang Mahasiswa (14 years 32 weeks ago)
80

Setuju banget!