AOM 6 : The Next G lovers

Chapter sebelumnya :

Clarke Hamilton sangat memuja The Next Generation, band fenomenal yang sudah bubar beberapa tahun yang lalu. Melalui internet dia berkenalan dengan SkyWalker dan Razorblade, fans The Next-G lainnya, pemilik The Next-G fanbase forum. Clarke makin bersemangat ketika dia mengetahui keluarganya akan pindah ke kota yang sama dengan teman-teman virtualnya itu. Kejutan lainnya menunggu di rumah barunya. Ternyata dia bertetangga dengan kedua teman virtualnya itu dan Justine Watson, mantan bassis The Next-G tinggal tepat di depan rumahnya. Clarke menyebutnya sebagai sebuah berkah yang luar biasa.

***************************

2good2betrue has joined the conference

SkyWalker: selamat datang, dude
SkyWalker: lama sekali kau menghilang
Nature_Boy: hai, Man!
2good2betrue: halo, guys.
2good2betrue:ada yang terlewat olehku?
Razorblade: kamu melewatkan banyak hal *terbahak*
Razorblade: pertemuan live kami yang pertama
2good2betrue: menarik
2good2betrue: jadi kalian sudah saling bertemu?
SkyWalker: jangan lupa informasi terbesar bagi para The Next-G lovers
SkyWalker: 2good2betrue : kau sudah baca news section di forum?
Razorblade: Christoper, gitaris kita itu, ternyata sudah setahun tinggal di india
Nature_Boy: aku penasaran apa yang dia lakukan di sana?
Razorblade: meditasi?? Setelah ”chaos” yang dia buat dalam bandnya sendiri beberapa tahun lalu?? *laughing*
2goodtobetrue: mungkin sebaiknya aku juga kabur ke india sekarang
2good2betrue: this live is fucking shit!
SkyWalker: *smiling*
SkyWalker: kamu memang selalu bermasalah dengan hidupmu
Nature_Boy: jangan lupakan fakta tentang dewi basis kita
2good2betrue: ada apa?
Razorblade: dengar baik-baik! Justine Watson, dewi basis kita ternyata tinggal di kota ini
2good2betrue: menarik
2good2betrue: aku bukan The Next-G freaker seperti kalian dan belum pernah melihat konser mereka atau bertemu dengan mereka
2good2betrue: aku sibuk dengan yang lain ketika mereka berjaya
Razorblade: ya
Razorblade: dan kamu baru menyadari kehebatan mereka ketika semuanya bubar!!
Razorblade: dasar idiot! *rolling on the floor laughing*
Nature_Boy: hei! bagaimana kalau kita berkumpul lagi dan menemui Justine Watson bersama-sama
SkyWalker: ide bagus!
SkyWalker: 2good2betrue, saatnya untuk bergabung dengan kami dan membuka identitasmu yang sebenarnya
2good2betrue: *thinking*
RazorBlade: aku suka ide itu!
Nature_Boy: dimana kita ketemu?
SkyWalker: konser U2 minggu depan
Nature_Boy: keren!
SkyWalker: kau bergabung dengan kami 2good2betrue?
2good2betrue: aku pasti nonton konser itu
Nature_boy: jadi kau akan bergabung dengan kami??
2good2betrue: kalau itu, masih kupertimbangkan *cool*
Razorblade: sombong sekali *phbbt*
2good2betrue: apa peduliku? *cool*

**************************

Clarke begitu bahagia akhirnya dia berhasil mendapatkan kehidupan sosialnya kembali. Vincent Backels dan Wayne Smith adalah bocah-bocah yang sudah lama dia kenal lewat The Next-G fanbase forum sekaligus baru beberapa hari yang lalu dia kenal sebagai tetangga yang mengasyikan.

Vincent pemuda yang sopan dan pandai. Dia memiliki mata secokelat rambutnya dan wajah yang bahkan menurut Clarke tampan. Kata-kata dan sikapnya terjaga walaupun tidak berkesan formal. Gayanya santai namun sangat terkendali. Dia ahli bermain bass. Bila dia sudah asyik dengan bass elektriknya, Clarke berani sumpah puluhan gadis pasti akan bersedia melakukan apa saja demi bersamanya. Vincent menghubungi dan menemui Clarke sekembalinya dari liburan tahun ajaran barunya di Minnesotta. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengobrol ke sana-kemari.

Wayne datang beberapa jam kemudian. Dia muncul dengan gaya cueknya, celana capri, sneaker butut dan sweater longgar serta potongan rambut gondrong yang awut-awutan. Wayne seorang drummer dan Clarke sempat dibuat kagum dengan permainan anak itu ketika mereka memutuskan melakukan jam session di studio musik setempat.

***************

Malam ini mereka sepakat untuk menonton konser U2, sebuah band kaliber dunia dari Irlandia, salah satu band favorit mereka bertiga. Clarke benar-benar tidak sabar menunggu konser ini. Tidak ada yang lebih mengasyikan daripada menonton konser band favorit bersama teman-teman yang asyik.

"Kau harus merekam konser itu untukku!" suara Taylor, adik perempuan Clarke terdengar merengek sekaligus memohon di telepon. Clarke nyengir.

"Kamu kan tahu security akan langsung merampas kameranya kalau aku ketahuan," jawab Clarke kalem. Dia sangat menikmati ketidakberdayaan adiknya malam ini. Taylor menggerutu di sana. Sudah beberapa hari gadis itu dirawat di rumah sakit karena kecelakaan yang menimpanya.

"Kau kan bisa pakai telepon genggamu, bodoh!" omel adik perempuannya lagi. Clarke terkekeh.

"Tidak bisa! Aku tidak mau keasyikanku terganggu," balas Clarke.

"Kau menyebalkan!" tukas Taylor menyudahi pembicaraan telepon mereka.

Clarke tersenyum menang. Dia menoleh ke arah Zach, adiknya yang lain yang tampak duduk di sofa dengan wajah merengut. Billy tidak mengijinkanya mengikuti Clarke menonton konser karena umurnya yang dianggap belum pantas.

Suara klakson mobil terdengar dari luar menyadarkan Clarke.

"Saatnya pesta!" gumam Clarke seraya beranjak berlalu dengan riang. Dia menoleh ke arah Zach lagi.

"Baik-baiklah kau di rumah, little boy" kata Clarke. Zach mengeluarkan suara aneh dari mulutnya dengan kesal. Clarke tertawa. Saatnya bersenang-senang tanpa diganggu oleh adik-adiknya.

Inilah hidupnya, inilah sosialisasinya!

***************

Clarke mendapatkan kedua temannya menunggu di sebuah van di depan rumahnya. Vincent menyambutnya dengan akrab. Wayne tertawa dan menyapanya sekilas dari belakang kemudinya.

"Aku dan Wayne membawa teman-teman kami yang lain. Kamu tidak keberatan,kan?" tanya Vincent sambil mempersilahkan Clarke naik.

"Hei, itu bukan masalah, Man," balas Clarke. Vincent mengiyakan seraya membukakan pintu van. Clarke menyusup naik namun segera menghentikan gerakannya ketika melihat siapa yang berada di dalam van.

Dua orang gadis sebaya Vincent memandang ke arahnya dan tersenyum. Salah satu dari mereka berambut panjang dengan penampilan sederhana dan tampak pendiam sementara yang satu lagi benar-benar membuat jantung Clarke seolah berhenti berdegub.

Gadis itu benar-benar luar biasa cantik dengan rambut pirang,panjang yang ikal menakjubkan. Wajahnya sempurna, begitu cantik sekaligus kekanak-kanakan dan sensual. Segala yang ada di situ begitu menggairahkan dan mempesona. Kulit tubuhnya halus dan bercahaya keemasan pertanda dia merawat dan menjemurnya dengan sempurna. Dia memakai rok span dan sepatu boot warna gelap. Sweetshirt-nya berleher rendah nyaris menunjukan belahan dadanya. Jaket bulunya tampak seksi melekat pada tubuhnya dan dia memandang dan tersenyum mempesona membuat Clarke meleleh.

“Hai, kau pasti Clarke Hamilton yang Wayne ceritakan. Aku Ivy Bryant,” suara gadis itu terdengar halus dan mengalun begitu indah di telinga Clarke. Sesaat Clarke tidak bisa berkata apa-apa hinga gelak tawa Wayne dan Vincent menyadarkanya.

“Wah, Ivy! Kau melakukanya lagi!” ujar Wayne menyadarkan Clarke. Ivy tersenyum dan tergelak kecil. Vincent tertawa dan menepuk bahu Clarke.

“Dia Ivy dan gadis itu Annette Richardson, teman kami lainnya," jelas Vincent membuat Clarke menoleh. "Kuharap kau tidak lepas kendali menghadapi Ivy,” kata Vincent seraya tersenyum. Clarke masuk dengan salah tingkah.

”Ivy memang seperti itu,” kata Vincent lagi. “Anak-anak menjulukinya “Poisoneous Ivy”. Tidak ada yang bisa menolaknya-“

“Kecuali kau, Vinnie,” potong Ivy halus. Vincent tersenyum inosen dan menutup pintu. Wayne tertawa.

“Satu-satunya obsesimu yang nggak kesampaian, ya kan, Ivy?” goda Wayne seraya menyalakan mesin mobil setelah Vincent menyusup masuk di sampingnya. Ivy menggerutu terganggu. Wayne tergelak seraya menjalankan mobil meninggalkan halaman rumah Clarke. Entah kenapa Clarke merasa malam ini akan menjadi malam yang menakjubkan baginya.

***********************

Suasana stadion itu sudah sangat ramai ketika mereka tiba. Hiruk-pikuk dan kerumunan penonton yang sebagian besar adalah anak muda terlihat di sana-sini. Sebuah panggung super besar dengan tata lampu dan setting yang menakjubkan terlihat di tengah stadion. Panggung itu masih kosong dan gelap. Bahkan band pembukapun belum muncul. Mereka pasti datang terlalu awal. Tapi dibandingkan ribuan penonton lainya yang sudah memadati stadion ini, Clarke dan teman-temanya termasuk yang “terlambat”.

Dua buah layar monitor raksasa terdapat di beberapa sudut diantara susunan speaker ribuan megawatt. Papan Billboard yang bermandikan cahaya tidak hentinya menampilkan tulisan besar-besar U2, band dunia yang akan tampil malam ini beserta sponsor pendukung konser ini. Sejumlah poster raksasa menampilkan gambar mereka juga, membuat suasana tempat itu makin meriah. Clarke memandang panggung besar jauh di hadapanya. Sudah lama dia berpikir dan bermimpi untuk menjadi seorang musisi hebat.

Andaikan suatu saat aku bisa tampil di atas panggung itu……

“Kau tahu apa yang kupikirkan?” tanya Vincent menyadarkan Clarke dari lamunanya. Clarke menoleh dengan pandangan bertanya.

“2good2betrue,” katanya lagi, ”aku penasaran siapa dia,” sambung Vincent.

"Dia bilang dia akan datang ke konser ini. Sayang sekali dia menolak bergabung dengan kita,” kata Clarke. Vincent mengangguk dengan raut wajah menyesal.

Wayne tertawa kecil.

“Brengsek dia! Sombong sekali tidak mau membuka identitasnya pada kita,” komentar Wayne sinis. Vincent tertawa.

“Hai, guys, kalian tahu siapa yang jadi band pembuka kali ini?” tanya Ivy membuat ketiga anak muda itu menoleh. Vincent menggeleng sementara Wayne angkat bahu. Clarke memandang ingin tahu.

Red Line,” sambung Ivy membuat Wayne dan Vincent sama-sama melotot.

“APA?! Gerombolan punk rock amatiran itu?!” cetus Wayne tidak terima. Clarke memandang temanya dengan tidak mengerti. Ivy mengiyakan dengan nada menyesal.

No way!!” erang Wayne. .

“Jangan terlalu berlebihan,” tegur Vincent menenangkan temannya.

“Ada apa dengan Red Line?” Tanya Clarke heran. Ivy tertawa geli.

Red Line tadinya salah satu band amatir di St.August, sekolah kami. Wayne sempat jadi drummer di formasi awal. Tapi setelah salah satu dari anggota band bergaul dengan kelompok elit, mereka menendang Wayne keluar,” cerita Ivy puas. Wayne menggerutu.

“Mereka tidak MENENDANGKU! Aku yang keluar karena selera musik mereka benar-benar payah!” bela Wayne. Vincent berusaha menahan tawa.

“Memangnya berapa lama kau bergabung dengan mereka?” tanya Clarke. Wayne merengut.

“Satu bulan,” katanya pelan. Kali ini tawa Vincent meledak.

“Itu juga dua tahun yang lalu, sebelum semua anggota formasi awal diganti,” tambah Vincent. Wayne mengomel.

“Ya, memang! Masalahnya mereka memang payah, kok Vinnie. Kau sendiri sudah pernah lihat mereka main, kan? Kita masih jauh lebih beres dari musik mereka.”

“Jangan begitu,” kata Vincent bijak. “Paling tidak sekarang mereka bisa menjadi band pembuka konser besar.”

“Ya, itu artinya mereka lebih hebat dari kamu, Wayne,” ejek Ivy. Wayne menggerutu.

"Taruhan! Mereka pasti pakai koneksi!" omel Wayne tidak rela.

Clarke memandang teman-teman barunya dengan perasaan aneh. Fenomena sepak terjang band amatir bernama Red Line itu membuatnya tergelitik. Wayne dan Vincent adalah partner yang paling sesuai untuk semua rencana yang selama ini dia simpan dalam pikirannya.

Bisakah kalau mereka..umm.. bergabung??

“Apa kalian juga tidak ingin seperti teman kalian itu?’ Tanya Clarke tiba-tiba membuat yang lainya menoleh. Clarke memandang kedua temanya dengan serius.

“Maksudku, apa kalian berdua juga tidak ingin tampil di panggung seperti itu? Kalau teman sekolah kalian saja bias kenapa kita tidak?”

“Kita?” ulang Vincent. Wayne tergelak.

“Hei, Man, kau pikir kami pengecut? Tentu saja tampil di panggung sebesar itu, di hadapan penonton sebesar itu adalah suatu impian!”

“Kalau begitu, ayo kita lakukan!” kata Clarke semangat.

“Maksudmu?” tanya Vincent tidka mengerti.

“Kita bikin band. Kau, Wayne dan aku. Sejak bertemu kalian berdua, aku merasa bahwa kalian adalah partner yang selama ini kucari! Kita punya mimpi yang sama, kita punya selera dan pandangan yang sama. Ayo kita lakukan!” kata Clarke penuh semangat.

Wayne dan Vincent saling pandang tidak tahu harus berkata apa mengomentari proposal Clarke yang begitu tiba-tiba. Annette tersenyum geli sementara Ivy langsung meloncat memeluk Clarke.

“Aww! Aku setuju sekali dengan ide itu, Clarke!” serunya girang membuat Clarke terkejut dan memerah. Ivy beralih pada kedua temannya yang lain.

Guys! Kalian pasti bisa lebih hebat dari Red Line, ya kan, Clarke?” Clarke menggumam salah tingkah.

“Uh, well, begitulah kira-kira.”

***************************

“Ivy!”

Suara itu membuat pembicaraan bocah-bocah itu terhenti. Seorang anak muda melangkah mendekati mereka dengan angkuh. Dia mungkin apa yang disebut ‘pangeran impian para gadis’, sangat tampan, berambut pirang dan bermata biru menakjubkan dengan tubuh tinggi kurus ideal serta garis tubuh yang sempurna.

Clarke mengerutkan dahi. Apakah anak muda ini kenalan Ivy? Apakah dia seorang model remaja? Atau dia seorang artis muda? Selera berpakaianya menunjukan dia orang kaya. Clarke bisa melihat sebuah porsche terparkir tidak jauh darinya. Kalau itu memang milik anak muda itu, dia pasti benar-benar anak orang kaya.

“Hai, Ivy!” panggil anak muda itu lagi tanpa mempedulikan Wayne dan yang lainya. Kali ini Ivy menoleh terganggu.

“Aku tidak ada urusan denganmu, Mc. Pherson!” tukas Ivy sebal.

Mc. Pherson?? Dimana Clarke merasa pernah mendengar nama itu?

Anak muda itu tertawa dan berdiri di hadapan Ivy.

“Ivy, kau benar-benar tidak ingin bergabung denganku? Kau tidak memikirkan tawaranku tadi siang?” tanya anak muda itu lagi membuat Wayne mendelik. Namun Vincent memberinya isyarat untuk tidak ikut campur.

“Bukan urusanmu!” balas Ivy sengit.

“Kudengar band kali ini adalah favoritmu. Temanku adalah penyelenggara konser ini. Dia menjanjikan backstage dan undangan after-party. Kau tidak ingin bergabung?”

“Aku tidak peduli!”

“Bukanya kau suka pesta?”

Ivy melotot marah.

“Dengar, ya, Mc. Pherson brengsek!” umpat Ivy marah. “Seumur hidup aku tidak akan pernah tertarik dengan semua tawaranmu!”

Pemuda itu tertawa mengejek.

“Hati-hati dengan ucapanmu, sayang,” katanya serius. Ivy merengut.

“Omong-omong kau kelihatan makin menarik kalau marah. Aku jadi makin menginginkanmu. Seharusnya kita kencan dari dulu. Pasti hebat,” kata pemuda itu lagi dengan santai membuat Ivy melotot. Wayne nyaris melompat untuk menghajarnya tapi segera dicegah oleh Vincent.

“Dalam mimpimu, brengsek!” balas Ivy. “Berkencan dengan salah satu dari mereka jauh lebih baik daripada dengan kamu!” maki Ivy yang langsung tersadar ucapanya telah membuat pemuda itu tersinggung. Pemuda itu terdiam sesaat.

“Bagaimana kalau kita taruhan, Ivy,” kata pemuda itu kemudian membuat Ivy dan yang lainya sama-sama terkejut. Dia tersenyum.

“Kau bilang mereka jauh lebih hebat dari aku? Bagaimana kalau aku berhasil membuat penonton di tempat ini tergila-gila padaku?” kata pemuda itu lagi. Ivy tidak menyahut.

“Kita taruhan. Kalau aku berhasil membuat mereka semua menyukaiku, maka kau harus berkencan denganku malam ini.”

Wayne dan yang lainya saling pandang sementara Ivy terdiam.

“Bagaimana, Ivy? Mau taruhan? Atau," pemuda itu terdiam sesaat. "Kau takut?” tantangnya membuat Ivy melotot.

“Brengsek kau! Bagaimana kalau mereka menyuruhmu turun?”

“Aku akan menghilang selamanya dari hadapanmu,” kata pemuda itu santai. Ivy terdiam.

“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Ivy terpancing oleh tantangan pemuda itu.

“Terserah kau,” jawab pemuda itu ringan. Ivy berpikir sesaat lalu tersenyum dingin.

“Baiklah,” kata Ivy akhirnya.

“IVY!” sela Wayne. Tapi Ivy sama sekali tidak mempedulikanya. Wayne yang khawatir memandang teman-temanya minta bantuan. Vincent hanya bisa angkat bahu tidak berdaya. Percuma mencegah seorang Ivy Bryant.

“Kalau penyelenggara konser ini memang temanmu,” kata Ivy lagi. “Nyanyikan satu lagu sebagai band pembuka.”

Pemuda itu tidak menjawab.

“Kalau mereka menyuruhmu turun, kau harus menghilang selamanya dari hadapanku!” kata Ivy dingin.

“Dan kalau mereka menyukainya, kau harus menemaniku semalaman,” balas pemuda itu. “Asal kau tahu Ivy. Red Line adalah teman-temanku juga dan penonton di sini cukup menyukai mereka. Mereka pasti tidak akan keberatan kalau ternayata Red Line punya vokalis tambahan.”

Ivy melotot. Pemuda itu tertawa mengejek.

“Kau siap berkencan denganku, sayang?”

“Kau tidak akan bermain dengan Red Line, Brengsek!” potong Ivy. “Tapi kau akan bermain dengan…MEREKA!” kata Ivy sengit seraya menunjuk ke arah Clarke dan yang lainya yang langsung melongo kaget merasa tiba-tiba dilibatkan dalam taruhan itu.

“Apa?!”

What the h..-“

“Kita??”

Pemuda itu mengatupkan rahangnya. Ivy tertawa mengejek.

“Bagaimana, Mc. Pherson? Kau mau menyerah?”

“Baiklah," kata pemuda pirang itu. "Sekarang saatnya menunjukan siapa yang terbaik, aku, atau bodyguardmu,” kata pemuda itu sinis. Dia lalu meraih telepon genggamnya dan menghubungi seseorang. Sesaat kemudian dia kembali beralih pada Wayne dan yang lainya.

“Aku tunggu kalian di back stage,” katanya dingin pada Wayne.

Bye, baby,” gumam pemuda itu pada Ivy seraya berlalu menuju mobilnya. Tidak berapa lama diapun menghilang.

Clarke kembali memandang teman-temanya. Kemunculan pemuda pirang itu telah membuat mereka semua tegang. Ivy kelihatan kesal sekali sementara Wayne tampak tidak kalah berangnya. Annette dan Vincent sama-sama tidak berkomentar.

"Siapa dia?" akhirnya Clarke memberanikan diri untuk bertanya.

bersambung......

Read previous post:  
43
points
(2196 words) posted by yosi_hsn 14 years 2 weeks ago
71.6667
Tags: Cerita | cinta | American pie | keluarga | Novel | teen-live | yosi
Read next post:  
dadun at AOM 6 : The Next G lovers (13 years 48 weeks ago)
90

selesai juga bacanya!!!!
seru, mbak. pertengkaran ala barat. sip sip. banyak tokoh bikin ceritanya tambah rameeeeee. hahaha, kek film aja.

ditunggu emailnya.
PS: AOM 7 sedang saya baca, kalo bisa AOM 8 dan 9 aja, mbak.
thanks..

Writer Alfare
Alfare at AOM 6 : The Next G lovers (14 years 4 days ago)
90

bukan live, tapi life ya?

Aku kurang sreg dengan yang pake *...* di sini. Aku paham maksudnya sih, cuma rasanya kayak istilah yang dipakai kurang lazim gitu.

Tokohnya banyak. Aku mulai susah ngikutin alurnya. Tapi seru kok.

Writer Nanasa
Nanasa at AOM 6 : The Next G lovers (14 years 6 days ago)
90

Bagus dan semakin menarik.
Setting dan karakter2nya terasa sangat pas.
Great, salut buat kamu :)

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at AOM 6 : The Next G lovers (14 years 1 week ago)

@dme_13 : betulkah? Tapi saya nggak bermaksud melakukan plagiatisme sama tulisan temen kamu itu ya..hehehe
@Villam : You are absolutely right! Saya dah bikin sedikit perubahan mengenai sudut pandangnya. Thanks banget ya..

Writer clme_13
clme_13 at AOM 6 : The Next G lovers (14 years 1 week ago)
90

makin lama jd tringat gaya nulis tmenku...

Writer Villam
Villam at AOM 6 : The Next G lovers (14 years 1 week ago)
90

yosi, yosi... kok bisa sih bikin setting kayak gini? heheh...
aku gak ada keluhan soal penulisan. rapi dan mengalir lancar.
mungkin cuma soal sudut pandang (POV) aja. di bagian kedua, yang diawali dengan sudut pandang clarke, tentunya dia hanya akan tahu nama 'mcpherson' kan? dia belum tau nama 'jordan'.