AOM 7 : Sebuah Impian

Chapter sebelumnya.....

Clarke Hamilton berkenalan dengan Vincent dan Wayne beberapa waktu setelah kepindahannya ke rumahnya yang baru. Dia gembira bukan main ketika tahu kedua teman barunya adalah fans The Next-G seperti dirinya. Suatu hari Vincent mengajak Clarke melihat sebuah konser. Dia juga memperkenalkan Clarke dengan dua orang temannya yang lain, Ivy dan Annette. Ketika mereka berlima tiba di tempat konser, mereka justru bertemu dengan Mc. Pherson, biang masalah di sekolah mereka. Situasi jadi memanas ketika Mc. Pherson menantang Ivy untuk taruhan.

*************************

”Siapa dia?” Clarke mencoba bertanya pada Vincent. Vincent menghela nafas.

”Dia Jordan Mc. Pherson teman sekelas kami. Dia pimpinan kelompok elit St. August. Dia anak keluarga paling kaya di kota ini. Tingkahnya benar-benar menyebalkan. Kurasa sudah dari dulu dia naksir Ivy, tapi Ivy selalu menolaknya,” jelas Vincent.

Clarke menggumam mengerti. Dia masih terganggu dengan pikiran dimana dia pernah mendengar nama Mc. Pherson.

“Kau sadar apa yang kau lakukan?!”

Seruan Wayne tiba-tiba terdengar membuat Clarke menoleh. Wayne tampak bergerak mencengkram bahu Ivy dan mengguncangnya dengan keras.

“Kamu sadar kata-katamu tadi?! Dengar, ya! Aku tidak peduli ada urusan apa kau dengan Mc. Pherson jelek itu!! Tapi melibatkan aku, Vincent dan Clarke?! KAMU PASTI NGGAK WARAS!!” omel Wayne tidak habis pikir.

“Habis aku bisa apa?!” tukas Ivy. “Aku tidak bisa menolak tantanganya dan aku juga tidak bisa membiarkan dia menang karena bermain bersama teman-temanya! Kamu harusnya paham!” bantah Ivy sengit.

“Bodoh sekali kau mau menerima taruhanya!” gerutu Wayne. Ivy melotot.

“Jangan bilang aku bodoh!!” pekik Ivy.

“Umm… Mc. Pherson,”gumam Clarke bingung. Annette dan Vincent memandangnya sementara Wayne dan Ivy masih ramai bertengkar. ”Di mana, ya... sepertinya aku pernah dengar nama itu,” katanya ragu.

Annette menghela nafas.

”Dia adik Samantha, perempuan yang menabrak adikmu,” kata Annette kemudian membuat Clarke terkejut. Vincent juga kelihatan kaget.

”Apa?” ulang Clarke tidak percaya. Annette memandangnya.

”Jordan dan Samantha kakak beradik. Kau sudah mengenal Samantha, kan?” tanya Annette. Clarke tercengang.

”Bagaimana kau bisa tahu tentang Samantha dan kecelakaan yang menimpa adikku? Kapan aku bercerita padamu?” tanya Clarke heran. Vincent memperhatikan keduanya. Wayne dan Ivy sudah berhenti bertengkar. Sekarang keduanya memilih saling diam dengan marah.

”Abigail, teman adikmu yang baru itu adalah adikku. Dia banyak bercerita padaku,” kata Annette mebuat Clarke terkejut.

”Kau kakak Abigail?” tanyanya. Annette mengangguk. ”Berarti kau sepupu Samantha?” Annette mengangguk.

Clarke terdiam sesaat, namun sedetik kemudian dia menggumam kaget. ”Jadi.. kau juga SEPUPU JORDAN?!” serunya tidak percaya. Vincent dan yang lainnya juga kelihatan terkejut mendengarnya.

”Apa?” gumam Wayne kaget.

”Annie, kau-” Vincent tidak meneruskan kata-katanya.

”Annie! Kau ada hubungan dengan Mc. Pherson sialan itu?!” tanya Ivy serta-merta mendekati sahabatnya. ”Kenapa kau tidak pernah cerita padaku? Kita kan sudah bersahabat sejak kelas satu!” protesnya. Annette memerah.

”Eh, itu..-” Annette bingung sesaat. ”Itu kan bukan hal yang perlu dibahas,” katanya malu. Ivy melotot tidak terima. Annette memandang jam tangannya dan tersadar. ”Guys, bukannya kalian harus menemui Jordan sekarang?” tanya Annette mencoba mengalihkan perhatian teman-temannya. Vincent dan yang lainnya tersadar.

”Sial!” gerutu Wayne. ”Apa kita benar-benar harus meladeninya?!”

”Hei! Kamu nggak bisa menghindar!” tukas Ivy serta-merta.

”Diam!” balas Wayne kesal. Ivy sudah siap untuk membalas omelan Wayne lagi namun buru-buru dipotong oleh Vincent.

Guys, sudahlah,” lerai Vincent melihat pertengkaran yang siap meledak itu. “Annette benar. Sekarang kita harus menyusulnya,” kata Vincent lagi.

”Tapi,-” Wayne masih berusaha menolak.

”Secara tidak langsung, Mc. Pherson juga telah menantang kita, Wayne,” jelas Vincent. ”Apa kau tidak menyadarinya?” Wayne terdiam. Ivy buru-buru mengiyakan. Wayne membelalak.

“Tapi ini gila, Vinnie! Bermain di panggung itu? Oh, Man!” Wayne tidak tahu harus berkata apa lagi. Entah kenapa Clarke merasa hatinya bergemuruh ketika Wayne menunjuk ke arah panggung super hebat di hadapan mereka.

Apakah mereka benar-benar akan bermain di sana malam ini?

“Bukannya itu impian kalian bertiga?” ujar Ivy.

“Tapi,-“

“Kita tidak punya pilihan, Wayne,” kata Vincent.

“Ya,” sambung Ivy. ”Kecuali kalau kalian pengecut..-“ sambung Ivy.

“DIAM KAU!!” sentak Wayne marah. Ivy merengut.

“Apa Jordan pernah tampil di panggung?” celetuk Clarke tiba-tiba membuat ketiga anak muda itu menoleh. “Kalau dia belum pernah, seharusnya dia juga sama gugupnya dengan kita,” kata Clarke membuat yang lainya tersadar.

“Clarke benar,” kata Vincent kemudian. “Setahuku Jordan belum pernah tampil di panggung,” sambung Vincent.

Wayne tiba-tiba tergelak.

“Aku bahkan tidak yakin dia bisa bernyanyi atau memainkan alat musik,” tambah Wayne geli. Ivy ikut tertawa kecil. Vincent tersenyum.

“Mungkin kita harus minta maaf pada band utama malam ini karena kita akan hancurkan konser mereka,” kata Vincent kemudian. ”Benar, kan Annie?”

“Maaf, Guys,” kata Annette ragu. ”Tapi yang pernah kudengar dulu, Jordan sudah biasa tampil di panggung besar. Dia adalah seorang artis dunia waktu kecil,” kata Annette pelan membuat teman-temanya melotot.

“Kenapa kau tidak bilang dari awal, Annie?!” ujar Ivy senewen.

“Kau tidak bertanya. Lagipula untuk apa aku cerita?” balas Annette merasa bersalah.

“Memangnya dulu dia artis apa?”

“Pianis,” kata Annette membuat Clarke dan yang lainnya saling pandang.

“Omong kosong!” tukas Ivy. “Pianis kan belum tentu bisa menyanyi! Kuharap dia demam panggung sekarang! Atau suaranya lepas kendali! Atau dia mabuk! Atau apalah! Sialan!” Ivy mengomel kesana-kemari. Vincent kembali memandang Clarke dan Wayne.

”Ayo, pergi,” kata Vincent. ”Kita penuhi tantangan Mc. Pherson.” Clarke mengangguk. Wayne mengiyakan. Ivy tiba-tiba tersadar melihat keseriusan ketiga teman-temanya itu.

”Vinnie, tunggu!” seru Ivy menahan lengan pemuda itu. Vincent menoleh. Ivy memandangnya dengan khawatir sekarang.

”A..aku baru sadar,” katanya panik. ”Kalian tidak akan mengiringi Mc. Pherson dengan serius, kan? Kalau kau dan Clarke bermain dengan baik, kalian justru akan mempermudah penampilannya,-”

”Akhirnya kau mengerti juga, ya?” tukas Wayne gemas. Clarke menghela nafas.

”Mc.Pherson membuatmu memikirkan cara bagaimana supaya dia tidak bisa memenangkan taruhan bersama teman-temannya, Ivy. Tapi dia juga membuat kami berpikir bagaimana agar kami bisa lebih baik darinya,” kata Clarke. Ivy terkejut.

”Tapi..tapi,-”

”Menyuruh kami mengiringinya berarti kau memberikan pengiring paling solid yang pernah ada,” gumam Wayne. Ivy melotot.

”Berisik! Dasar narsis sialan!” maki Ivy. Wayne angkat bahu.

”Maaf, Ivy,” kata Vincent. ”Kalau panggung besar di depan itu adalah impian kami bertiga, maka sekarang kami akan berusaha tampil sebaik-baiknya.”

Ivy tercengang.

”Kalian...kalian pengkhianat!” serunya kesal.

”Ayo ke backstage,” ajak Vincent pada Clarke dan Wayne.

***********************

Kerumunan penonton menuju backstage terlihat makin berkurang. Sejumlah groupies tampak berkerumun mencoba melobi beberapa panitia agar diperkenankan masuk ke dalam. Clarke bisa melihat makin banyak orang yang menggunakan kartu tanda panitia atau wartawan mondar-mandir di sana. Bus band utama belum kelihatan, tapi sebentar lagi saatnya band pembuka tampil. Mereka menemukan Jordan Mc. Pherson berdiri tidak jauh dari pintu masuk backstage bersama seorang petugas keamanan, seorang panitia dan dua orang pemuda sebayanya yang belum dikenal Clarke.

Red Line!” desis Wayne membuat Clarke menoleh. Wayne menunjuk dua remaja yang berdiri di dekat Jordan.

”Mereka anak-anak Red Line, band pembuka konser ini,” sambungnya. Clarke mengangguk. Mereka bergegas mendekati kerumunan kecil itu.

Jordan memandang mereka dengan dingin.

”Kenapa kalian lama sekali?” tukasnya. ”Mau mencoba menghindari pertunjukkan mendadak ini?” ejek Jordan. Wayne menggeram.

”Maaf,” kata Vincent.

”Akhirnya kau naik panggung juga, Smith?” komentar salah satu dari personel Red Line itu pada Wayne. ”Setelah selama ini kamu terus-terusan sesumbar kalau kamu jauh lebih bagus dari kami, band nomor satu di St. August.”

”Itu benar,” tukas Wayne jengkel. Anggota red Line itu tertawa.

”Aku jadi ingin tahu bagaimana penampilan kalian. Jordan harusnya menyesal memenuhi tantangan Ivy untuk menggunakan kalian sebagai player-nya,” kata salah satu anggota Red Line itu seraya tertawa.

”Lagipula, Jor. Aku terkejut mendengar kau akan menyanyi. Kapan kau pernah menyanyi di panggung?” tambahnya lagi. Temannya yang lain tertawa.

”Brengsek kalian,” gumam Jordan. ”Menyanyi bukan hal yang sulit selama kalian tahu apa itu nada!” temanya bersiul kagum.

”Sejak kapan kau jadi ahli soal musik begitu?”

”Sejak Ivy Bryant jadi obsesiku,” jawab Jordan santai. Teman-temanya tertawa.

”Jadi bagaimana Mc. Pherson?” tanya Vincent membuat Jordan menoleh.

”Dengar,” kata Jordan kemudian. ”Aku sudah bicara dengan panitia. Kita diberi waktu 10 menit untuk 1 lagu. Mereka akan gunakan itu sekaligus untuk pengecekan terakhir semua instrumen dan perlengkapan panggung. Aku butuh satu lagu yang bisa kalian mainkan dan aku nyanyikan.” Vincent dan Wayne saling pandang.

The Next G,” kata keduanya bersamaan.

”Terlalu rumit untukku,” kata Jordan mengakui.

The Next G atau taruhan ini batal,” tegas Vincent lagi. Jordan memandangnya sesaat dengan kesal.

”Baik! Tapi aku yang tentukan lagunya!” gerutu Jordan membuat Clarke mengerutkan dahi. Apa Jordan juga mengenal lagu-lagu The Next Generation dengan baik? Apakah dia seorang fans juga?

Hush,” kata Jordan lagi membuat Clarke dan yang lainnya saling pandang.

Lagu itu adalah lagu yang cukup terkenal karena banyak band yang telah membuat cover version-nya sebelum The Next Generation memilihnya untuk mengisi soundtrack sebuah film remaja pada saat-saat terakhir sebelum kehancuran mereka. Lagu itu mungkin menjadi single terakhir The Next-G dan beredar terbatas. Hanya mereka yang benar-benar mendengarkan musik-musik The Next Generation yang tahu band itu pernah memainkannya. Entah kenapa Clarke merasa hatinya berdebar. Kebetulan yang sangat aneh kalau mereka akan memainkan lagu itu dan Jordan bisa menyanyikannya. Apakah Jordan Mc. Pherson juga seorang The Next-G lover??

”Baiklah,” kata Vincent mewakili yang lain.

”Tapi kami butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan instrumen di panggung,” kata Clarke. Jordan memandangnya.

”Tiga menit,” kata Jordan. ”Aku bisa mengalihkan perhatian penonton. Begitu aku selesai kalian harus mulai memainkan intronya.”

Clarke heran ketika mendapatkan dia dan kedua temannya yang lain mengangguk mengerti. Seolah ada sebuah ikatan pikiran yang tidak terlihat dalam brieffing singkat ini. Tidak ada bantahan dan tidak ada perdebatan bertele-tele seperti yang sempat Clarke bayangkan tadi. Bagaimanapun mereka baru saja bertemu dan formasi ini baru saja terbentuk beberapa menit yang lalu. Ini sama saja dengan jam session. Hanya para pemain yang bisa menyatukan permainan dan perasaan mereka yang bisa menghasilkan sebuah ramuan jam session yang menggugah selera. Apakah mereka termasuk salah satunya?

”Hei, ini kedengaran asyik,” komentar teman Jordan. ”Kau benar-benar bunuh diri, Jor, naik panggung di hadapan penonton sebanyak itu tanpa persiapan apa-apa bersama mereka,” ejeknya lagi. Jordan menggumam tidak peduli. Dia memberi isyarat pada Clarke dan yang lainnya untuk mengikutinya ke dalam.

*********************

Dua orang panitia lainnya menyambut mereka di backstage dan langsung memberikan peralatan yang mereka butuhkan. Clarke dibuat takjub sejenak.

Sebegitu besarnyakah koneksi yang dimiliki seorang Jordan Mc. Pherson dengan pihak promo tour sehingga dia bisa mendapat ijin untuk menyisipkan sebuah program tambahan di susunan acara panitia?

”Dengar, kalian rusak pertunjukan ini, berarti kalian mempermalukan diri sendiri,” kata Jordan sebelum mereka naik ke panggung. Clarke memandangnya dan mencoba tersenyum

”Kau bisa mengandalkan kami,” ujar Clarke serta-merta.

”Clarke bodoh!” tukas Wayne. ”Kau terang-terangan mau membantu Mc. Pherson memenangkan taruhan ini??” gerutunya. Clarke tersadar dan meminta maaf. Wayne menggerutu. Dia kelihatan memegang stick drum pinjamannya dengan gelisah. Vincent tampak sama tenangnya dengan Jordan. Sekali lagi Clarke merasa aneh. Kenapa dia tidak merasa canggung dengan penggabungan ini? Kenapa dia justru merasa makin bersemangat?

”Maaf,” gumam Clarke sambil nyengir polos.

Panggung masih dibiarkan gelap ketika mereka naik. Beberapa tekhnisi panggung mendampingi mereka mendapatkan instrumen mereka masing-masing. Wayne segera menuju ke drum set di sisi panggung. Vincent meraih gitar bass dan Clarke menyiapkan gitar melodinya dibantu oleh seorang tekhnisi panggung. Clarke mengamati Jordan melangkah menuju piano digital yang disediakan oleh panitia di sudut lain panggung. Apa yang akan dia lakukan?

Jordan seorang pianis.

Kata-kata Annette terngiang di kepalanya.

Apakah dia akan.....

Suara hentakan piano terdengar mengejutkan Clarke. Di keremangan panggung dia bisa melihat Vincent dan Wayne juga menoleh dan tercengang. Spot light langsung menyala mengarah ke piano itu. Clarke yakin penonton sama terkejutnya dengan mereka. Piano klasik di pertunjukan rock?? Pemuda itu pasti gila! Jordan kini duduk di belakang piano itu dan memainkan jarinya dengan kecepatan luar biasa di atas tuts piano.

Melodi itu begitu cepat bergulung-gulung bagaikan ombak dan penuh emosi seperti badai yang manyerang pikiran dan perasaan siapapun yang mendengaranya, bagaikan lautan yang sedang menunjukan kemarahanya, mengamuk tanpa ampun. Clarke menahan nafas.

Dia tidak pernah mengira piano bisa dimainkan secepat dan sekuat itu. Dan terutama, dia tidak pernah mengira pemuda sombong itu sehebat itu!

”Ada lagi yang kau butuhkan?” pertanyaan kru panggung menyadarkan Clarke.

”Tidak ada masalah,” kata Clarke segera bersiap-siap.

Clarke memandang lautan manusia di hadapannya. Sial! Belum pernah dia melihat lautan manusia sebanyak ini. Tiba-tiba saja dia merasa gugup. Clarke melirik Jordan lagi. Pemuda itu seolah tenggelam dalam dunianya sendiri? Bagaimana dia bisa setenang itu? Dan ekspresi apa itu? Dia benar-benar jauh berbeda dengan bocah sombong menyebalkan yang baru dilihatnya beberapa menit yang lalu. Entah kenapa Clarke seolah mendapat sengatan energi dari penampilan Jordan. Tiba-tiba saja kegugupannya memudar dan diapun nyengir lebar.

Baiklah, Mc. Pherson. Kalau begitu, aku juga tidak akan kalah dari kamu!

Jordan mengakhiri permainanya dengan satu hentakan kuat disambut tepukan dan sorakan ramai para penonton. Layar monitor raksasa di tengah lautan manusia itu telah menayangkan gambarnya. Cahaya spotlight serta-merta menghilang dan panggung kembali gelap.

Tapi pertunjukan belum berakhir. Hanya beberapa detik setelah suara piano yang bagaikan ombak dan dengungan ribuan lebah itu menghilang, strumming gitar yang intens terdengar dari sisi lain panggung membuka intro lagu berikutnya, disusul hentakan manis drum dan bass. Seketika lampu sorot dan lampu panggung menyala menakjubkan menyinari panggung memperlihatkan seluruh pemandangan panggungd an para pemainnya, membuat sejumlah penonton bertepuk tangan dan berseru tertarik.

Jordan beranjak berdiri dan menyambar microphone. Suara musik terdengar makin menghentak dan dinamis memberikan nuansa rock pshycedelia era 60'an ketika. Jordan berlari ke tengah panggung dan mulai bernyanyi. Lampu sorot dan kamera yang sudah menyala mengenainya dan seketika wajahnya langsung muncul di monitor raksasa. Jeritan histeris penonton wanitapun terdengar.

....................
Na na na naa..na na naa na naa...
Na na na naa..na na naa na naa...
Well I got a silly little girl, she's on my mind
Look at her, she looks so fine
She's a best girl I've ever had
Except that she's gonna make me feel so sad
Hush, hush..i heard you're calling my name now
Hush, hush..you broke my heart but that was a dream now
Hush, hush..i thought I heard you're calling my name now
Hush, hush..you broke my heart but that was a dream now
Early in the morning, late in the evening
Oh gotta believe me honey, I never was a dreamer
Na na na naa na na naa na naaa..
Na na na naa na na naa na naaa..

...................................................

Clarke masih heran bagaimana pemuda itu bisa menguasai lagu itu dengan baik. Tapi mungkin saja itu karena lagu itu adalah lagu yang sudah sering dinyanyikan oleh banyak musisi, sebuah cover version yang sangat dinamis dan menantang.

Suara Jordan tidak terlalu luar biasa. Dia benar. Vokalis menjadi posisi yang mudah selama dia tahu apa itu nada dan sangat mengerti bagaimana caranya menarik perhatian penonton. Dia tidak banyak bergerak, namun gayanya sudah cukup membuat jeritan-jeritan histeris terlihat di sana-sini. Bahkan dia berhasil membuat penonton lapisan depan ikut menyanyi dan melompat bersamanya.

Clarke sama sekali tidak merasakan kecanggungan itu lagi. Sikap Jordan membuatnya makin bersemangat di atas panggung. Reaksi penonton membuatnya makin berani menunjukkan permainanya. Adrenalin naik dengan cepat dan Clarke merasa over energy. Beginikah rasanya bermain di atas panggung besar? Sama sekali tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Sungguh, itu benar-beanr membuatnya ketagihan!!

Clarke yakin kedua temannya yang lain merasakan perasaan yang tidak jauh berbeda denganya. Permainan Wayne terdengar mantap sedangkan Vincent mengisi dengan begitu smooth. Musik mereka terdengar kompak. Tidak heran karena sebelum ini mereka telah beberapa kali bermain bersama di studio, sekedar untuk mengaransemen ulang lagu-lagu The Next-G atau lagu-lagu buatan mereka.

Tapi dengan Jordan yang mengisi posisi vokal sekarang ini, kekompakkan itu benar-benar luar biasa, mengingat suasana dingin yang baru saja terjadi di antara mereka beberapa saat yang lalu. Seolah ada sebuah ikatan musikalitas yang tidak tampak diantara mereka yang menciarkan dan meleburkan semuanya, tidak hanya mereka bertiga, tapi juga mereka berempat!

Apakah ini berarti sesuatu?

Gemuruh sorakan penonton terdengar ketika mereka mengakhiri lagu mereka. Jordan tertawa puas. Clarke tidak kalah puasnya seperti yang lain karena mereka telah berhasil menaklukan panggung impian ini. Lampu panggung seketika padam. Clarke dan yang lainnya bergegas meninggalkan panggung. Namun langkah mereka terhenti ketika mendengar seruan sayup-sayup itu terdengar. Seruan yang maik lama terdengar makin jelas.

”Lagi! Lagi!! LAGI!!”

”Kurasa aku mendengar ENCORE,” ujar Jodan menang membuat Clarke menoleh dan tersadar atas taruhan itu.

"Aku menang," kata Jordan lagi dengan tawa mengejek. Wayne memandang Jordan dengan berang sementara Clarke dan Vincent tidak tahu harus bagaimana. Seorang panitia tiba-tiba muncul seraya bergegas mendekati mereka dengan wajah serius. Panitia itu langsung mendekati Jordan.

”Band utamanya terlambat hampir satu jam. Red Line tidak bisa mengisi kekosongan waktu sendirian. Panitia meminta kau dan bandmu untuk membantu mengisi kekosongan waktu, Jor! Penonton kelihatannya menyukai penampilan kalian. Bagaimana kalau satu atau dua lagu lagi?” tanya panitia itu.

”Apa??” seru Wayne.

”Maksudnya kita naik panggung lagi?” tanya Clarke tidak menyangka. Seruan itu terdengar makin ramai.

”Lagi! Lagi!! LAGI!!”

Jordan tertawa mengejek.

”Jadi, lagu apa lagi yang bisa kalian mainkan dan kunyanyikan??”

***************************

bersambung........

("HUSH" originally is a country song written by Joe South for Billy Joe Royal. After the time, The song then was recovered by many band including Deep Purple, Blue Swede and Kula Shaker.)

a "HUSH" cover version by Kula Shaker:

Read previous post:  
45
points
(2575 words) posted by yosi_hsn 14 years 1 week ago
75
Tags: Cerita | cinta | American pie | band | Novel | teen-live | yosi
Read next post:  
Writer Alfare
Alfare at AOM 7 : Sebuah Impian (14 years 1 day ago)
100

perkembangan cerita di bab-bab terakhir ini agak di luar dugaan saya...

Writer Tedjo
Tedjo at AOM 7 : Sebuah Impian (14 years 2 days ago)
80

lanjut sist, saya supporter dulu ...sajalah, belum mengikuti kisahnya..cuman di bagian ini rasa-rasanya gaya berceritamu..sudah sangat enak diikuti

Writer dhewy_re
dhewy_re at AOM 7 : Sebuah Impian (14 years 2 days ago)
90

kereen sist...

ajarin donk...

Writer cat
cat at AOM 7 : Sebuah Impian (14 years 3 days ago)
100

g hanyut dlm cerita ini, n membayangkan setiap detil cerita .
top deh

Writer Nanasa
Nanasa at AOM 7 : Sebuah Impian (14 years 3 days ago)
90

Semakin hebat aja nih cerita

Tapi kok rasanya terlalu dipaksain kalo Annette itu sepupunya Jordan. Soalnya terlalu kebetulan banget.
Tapi kalo kamu dah punya rencana lain tentang dia, ya sip lah :p

Great, secara keseluruhan bagus sekaleee..

Writer Villam
Villam at AOM 7 : Sebuah Impian (14 years 3 days ago)
100

hohoho... yosi, what can i say?
the storytelling is good.
it's brilliant. i can feel the energy!
and deep purple is one of my favourite band. hehehe...
great.