Kehidupan Gila di Sekolah (Dika)

Sebuah mobil BMW memasuki lahan parkir SMA DANIS. Terdapat Dika yang sedang memarkirkan mobil itu. Dika adalah anak seorang pengusaha yang memiliki 5 perusahaan terbesar di Indonesia raya. Tapi, dia tidak pantas dengan derajat itu. Dengan tubuh kurus kering kerontang dan wajah yang lebih mirip kecoak gepeng, dia lebih pantas disebut anak topeng monyet. Dia anak pindahan, dia sebenernya masuk SMA DUGEM, SMA buangan jika tidak lulus mengikuti tes masuk SMA favorit. Untungnya, dengan kekayaan orang tuanya, dia berhasil masuk ke SMA DANIS. SMA favorit dan elit yang berisi siswa high level dan pintar.

Dika turun dari mobilnya dengan tampang sok cool dan kulinya. Dia berjalan dengan perlahan dan berharap ada cewek yang lagi sial memandangnya. Namun tak satu pun yang memerhatikannya. Beberapa cewek malah memandangi mobilnya, menyangka Dika adalah seorang supir yang mengantar seorang cowok ganteng, tapi setelah menunggu ternyata yang turun dari mobil itu hanya Dika. Cewek-cewek itu memasang wajah penuh kekecewaan. Bahkan ada yang keceplosan bilang, “Lho kok cuma supirnya doank?”

Berbeda dengan para cewek, cowok-cowok yang sedang nongkrong di depan tempat parkir melihat mobil BMW itu seperti uang berjalan. Mobilnya bisa dipreteli untuk dijual ke loakan. Sedangkan, pemiliknya bisa dipalakin.

“Hoi! Berhenti lo!” ini Jono, penguasa SMA DANIS, belum pernah ada yang mengalahkannya.

Dika tetap memasang wajah sok cool dan kulinya memberi salam tempel. Tanpa melihat wajah Jono.
“Hehehe thanks ya Nyet!!” Jono dan kawan-kawannya langsung berlari ke warung mbok Munah untuk membeli rokok secara ilegal.
“Tunggu!” Dika menarik baju si Jono dan langsung meluncurkan pukulannya.
-Buagh!-
“Kampret lo!” Jono mengarahkan tinjunya.
Dengan cepat Dika memberi salam tempel dan membisikan sesuatu.
“Nih gue kasih lagi, lo pura-pura kena pukul, biar gue keliatan macho!”
-Buagh!- “Ok.” Jono menyetujui setelah melesakan tinjunya.
“Lho?”
“Tenang aja, sekarang lo pukulin gue” Jono memberi isyarat.
-Buagh! Brak! Bug! Bak! Buagh! Brot! “Anjrot kentut lo!” Bruak!-
“Arrggh ampun Dika!” Jono mengedipkan matanya lalu berlari.
“Sana lo pergi!”
Beberapa cewek langsung ngeri dan kagum melihat sikap macho Dika yang sebenarnya hanya bohongan. Di kubu cowok, mereka mengetahui kalau itu bohongan. Mereka berencana malakin Dika besoknya, mereka rela dipukulin Dika, asal dapat duit.

Bel berbunyi, tanda masuk kelas. Semua siswa berdesak-desakan memasuki kelas. Maklum hari ini ada ulangan mendadak. Tapi memang siswa SMA DANIS pinter-pinter mereka menyogok pesuruh sekolah untuk mengambil agenda seorang guru killer.
“Woi pelan-pelan donk kalo masuk! Kayak anak TK aja.” Erwin, contoh ketua kelas yang demokratis dan bijaksana.
“Kampret semue! Kaki gue ke injek-injek.” Seru Sueb, cowok gila yang tidak pernah memakai sepatu jika ke sekolah. Dia orang Betawi.
“AUH!! Sapa nih yang grepe-grepe.” Disya—cewek cantik yang montok aduhai—merasakan ada yang iseng meraba-raba tubuhnya.
“EH Rur, lo duduk sama gue, nti gue traktir deh!!” Dika mengkonfirmasi Ruri, cowok paling jenius di SMA DANIS.
“Ogah ah!”
“CEPET MASUK!!!” Teriak Bu Kilarsih, guru paling killer di SMA DANIS. Guru yang dari namanya saja sudah diketahui kalau dia guru killer. Guru Matematika.
“Ya bu!!”
“Lo duduk sama gue!” Dika menarik tangan Ruri tapi bukan tangan Ruri yang ditarik.
“Oh jadi elo yang grepe-grepe gue!”
-PLAK!-

Semua kelas hening. Bu Kilarsih sudah duduk manis di mejanya.
Semua siswa telah duduk di formasinya masing-masing. Tapi ada satu yang salah. Dika duduk paling depan. Tempat yang paling cocok untuk bunuh diri jika dia bukan siswa yang pintar. Parahnya, selain Dika adalah anak yang bodoh, dia juga tidak sebangku dengan Ruri tapi dengan Yuli, cewek yang paling dibenci oleh Dika. Cewek yang pintar tapi tidak memenuhi standar fisik terutama pada bagian wajah dan konon mereka dijodoh-jodohkan oleh teman sekelas. Itulah kejamnya hidup di SMA DANIS, terjadi perbedaan kasta menurut seleksi alam.
“Psstt! Hoi Ruri, nomer 4?” Dika menimpuk Ruri dengan penghapus.
-JEDUAKK- Bu Kilarsih melempar penghapus papan tulis.
“Aduh!”
Dika sebenarnya bisa melirik jawaban Yuli, karena soal yang diberikan sama. Tapi, dia lebih memilih ditimpuk dengan penghapus papan tulis daripada menurunkan derajatnya yang setinggi rumput Jepang.
“Aduh gimana nih! Gue belum jawab sama sekali.” Dika mulai bingung.
“Nih,” Yuli menyodorkan jawabannya tapi Dika mengacuhkannya
“Sial! Hoi Ruri!”
-JEDUAKK-
“Ough!”
“YAK waktunya HABIS. Cepet KUMPULKAN”
Si Ruri langsung mengumpulkan lembar jawabannya. Disusul Erwin, sang ketua kelas yang teladan. Dika bergerombol dengan teman-temannya yang senasib; belum selesai ngerjain.
-JEDUAKK- JEDUAKK- bu Kilarsih melempar stok terakhir penghapus papan tulis.
“Satu-due-tige-empat-habis, yes!” Sueb menghitung dan langsung berlari menuju gerombolan yang lain setelah mengetahui senjata bu Kilarsih telah habis. Siswa yang belum selesai semakin ramai mencari jawaban. Yang sudah selesai mengerjakan menutupi pandangan Bu kilarsih agar tidak bisa melihat perilaku teman-temanya yang lain.
“TENAAAAANG!!!!” suara Bu Kilarsih memecahkan gendang telinga. Hening.
Semuanya langsung mengumpulkan lembar jawaban dengan pasrah. Termasuk Dika yang baru mengisi satu jawaban
“SILAHKAN KELUAR!! ISTIRAHAT.”

Saat istirahat adalah saat yang paling ditunggu-tunggu Dika. Dia bisa tebar pesona ke adik kelasnya.
“Bu, nasi bungkus pake bungkus ga pake lama!!” Dika memesan nasi bungkus pake bungkus karena kantin sangat rame, lebih rame daripada pasar Legi, jadi dia berencana makan di kelas.
“Sabar mas!”
Beberapa menit kemudian.
“Nih mas, 10ribu karena ga pake lama!”
Dika langsung menyerahkan uangnya tanpa melihat berapa uang yang dia berikan. Maklum orang kaya. Tapi ternyata uang yang dia kasih itu cuman seribu.
Dika berlari menuju kelas. Perut dan cacing di dalamnya sudah meraung-raung minta jatah. Dia langsung berbelok masuk ke kelas.
-BRUAK- Dika menabrak seorang cewek. Mereka berdua jatuh dengan posisi Dika diatas cewek itu. Wajah dan bibir mereka hampir bersentuhan. Dika memejamkan matanya, dia masih shock karena menabrak, dia berharap yang ditabraknya adalah Disya, empuk pikirnya. Tapi kok ga? Dika menyadari hal aneh dan langsung membuka matanya.
“AAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRGGGGHHHHH!!!!!!!”

Read previous post:  
Read next post:  
70

Cerita konyol yang pernah kubaca.
Biarpun konyol tapi enjoy bacanya.Teruskan ceritanya.

Writer Nanasa
Nanasa at Kehidupan Gila di Sekolah (Dika) (12 years 51 weeks ago)
80

Kocak n konyol.

Apa nggak berlebihan kalo Dika adalah anak seorang pengusaha yang memiliki 5 perusahaan terbesar di Indonesia raya?
Tapi yah, untuk cerita kayak begini sih fine2 aja ya..

Kayaknya kalo Dika dikasih seorang teman yg gila juga, bakalan seru nih..

lanjuuutt...

Writer bunda_ery
bunda_ery at Kehidupan Gila di Sekolah (Dika) (12 years 51 weeks ago)
80

Lanjut bro...:)

70

isi dah ok, penulisan aja musti diperhatikan ok?

Writer cat
cat at Kehidupan Gila di Sekolah (Dika) (12 years 51 weeks ago)
50

lanjut kan ke gilaanmu

Writer dhewy_re
dhewy_re at Kehidupan Gila di Sekolah (Dika) (12 years 51 weeks ago)
80

lanjuut..
biar makin gila tu sekolah

Writer hamdi ruby
hamdi ruby at Kehidupan Gila di Sekolah (Dika) (12 years 52 weeks ago)
80

bilang
kalo
yang
ditabrak
itu...
YULI!!!

soalnya kalo yang ditabrak itu yuli, komedinya jadi...

TAMBAH RAME!!!

HA..HA..HA...

Terusin men ceritanya!!!
Gokil tuh!!!

Writer sefry_chairil
sefry_chairil at Kehidupan Gila di Sekolah (Dika) (12 years 52 weeks ago)
80

konyol jg.. hihi
nice story..

komen karya2ku jg yah..^^

---------------
----
Mampir ke website dan blogku ya, klik aja:
SEFRYANA KHAIRIL OFFICIAL WEBSITE
Tentang Kita

Writer wehahaha
wehahaha at Kehidupan Gila di Sekolah (Dika) (13 years 21 hours ago)
80

lucu juga. Tapi masih kurang gila. Judulnya udah boleh. LAnjutin dong. Gapapa lagi.^^