Secangkir Kopi Dan Bibir Merah

Aku memang penggemar kopi. Tak satu hari pun boleh lewat tanpa secangkir minuman beraroma khas itu membasahi tenggorokanku. Kopi panas, hot cappuccino, adalah favorite-ku. Kurang suka pada kopi dingin, atau minuman kopi blender. Karena itu, tak heran, jika salah satu tempat umum yang sangat suka kukunjungi ialah café, khusunya Starbuck café.

Di sana, berjam-jam bisa kuhabiskan hanya ditemani segelas hot cappuccino dan beberapa buah novel. Aroma kopi yang berhembus dari kopi yang mengepul panas memberikan gairah tersendiri bagiku. Memberikan imajinasi pada barisan kalimat dalam novel yang kubaca. Sungguh, aku menikmati suasana seperti itu…

Ada yang bilang, kopi bisa membuat orang kecanduan. Ketagihan…Tak tahulah, benar tidaknya pernyataan itu. Barangkali hanya suggesti. Tapi bagiku, hari tanpa kopi sangat menyiksa. Serasa ada sesuatu yang kurang lengkap di dada…Ada aroma yang kurang pas di hidung. Semua terasa begitu semu…datar…tanpa sensasi…

Ternyata, saat minum kopi yang tepat bagi seseorang juga berbeda-beda. Ada yang senang meminumnya di pagi hari, saat memulai pekerjaan di kantor. Ada yang lebih suka menyeruputnya di sore hari, kala kelopak mata serasa memberat dan semangat kerja melemah. Tapi, ada juga yang menjadikannya teman begadang di malam hari, menemaninya menggarap setumpuk perkerjaan.

Momen kopi bagiku mengalami perubahan dalam tahun-tahun belakangan ini. Dulu, begitu menginjak kantor, lidahku selalu sakauw, menagih rasa khas kopi itu. Segeralah aku berlari ke pantry, menyeduh secangkir kopi kapal api.

Begitu air mendidih bercampur dengan bubuk kopi, aromanya segera merebak memenuhi ruang sempit pantry…. Hmmmm…hidungku menghisapnya dengan leluasa. Mataku terpejam mencium aromanya yang bagiku tak ada bandingannya itu…Melebihi parfum luar negeri mana pun yang harganya melangit…

Seruput…seruput…seruput…Aku mulai menikmati kopi hangat itu… Mmmmm…nikmat! Semangat kerja ku mulai memanas, sepanas kopi dalam cangkir.
AKu menghempaskan pantatku di kursi kerja, mulai menyalakan komputer, dan tentunya, mulai bekerja.

Sedang tenggelam dalam keasyikan bekerja, big bossku, Pak Budi Raharja, alias BR menghampiri. Tumben-tumbennya! Pikirku. Kulirik meja kerja managerku yang ternyata masih kosong. Pantas,Anton tidak masuk. Jadi BR langsung by pass kepadaku.

“Reyna, ada meeting pagi ini dengan Pak Bisman. Kamu ikut saya.” Ujar BR.
“Sekarang, Pak?” tanyaku dengan lugu. Berharap BR menjawab, meeting itu besok, Reyna... Ya, sekarang, Reyna. Emangnya minggu depan? Bantahku sendiri.Kalau tidak, kenapa BR tergopoh-gopoh mendatangiku dengan mengapit agenda besar yang kami semua tahu itu agenda meetingnya?

“Ya, sekarang. Saya duluan karena Pak Bisman sudah menunggu. Reyna menyusul saja, ya.” Katanya sambil berlalu meninggalkanku.

Aku menghela nafas. Huh! Benar kan sekarang? Gerutuku dalam hati.
Aku paling malas menghadiri meeting. Ada banyak alasan mengenai hal itu. Kurang pengetahuan, bisa jadi. Kadangkala, dalam meeting diharuskan mengambil satu keputusan yang berkaitan dengan bidang masing-masing. Dan, dalam posisiku yang hanya berlabel staff, aku tak punya kapasitas menelurkan keputusan-keputusan penting.

Harusnya memang manager-ku yang maju. Tapi,…seringkali dia juga terbentur berbagai meeting, hingga tak bisa hadir, terpaksalah aku yang mewakili.

Tapi meeting kali ini, aku juga punya alasan kenapa enggan menghadirinya.
Kulirik cangkir kopi di atas meja. Ah, sayang sekali harus kutinggalkan…Saat balik nanti, pastilah ia sudah mendingin. Aku meraih cangkir itu dan perlahan-lahan kureguk. Ingin rasanya kunikmati dan kulebur kehangatan itu saat itu juga.

Aiihhh… nikmatnya..Akhirnya, cairan kopi pun habis, Yang tersisa di dasar cangkir hanya ampas kopi yang hitam mengental. Aku menghela nafas puas, sambil meletakkan cangkir itu kembali. Kuraih agenda meeting, sebuah pen, dan hand phone, lalu bergegas meninggalkan ruangan.
Melewati meja Dea, rekanku, aku menyapanya sekilas, “Dea, aku mau meeting ya..”
Dea menatapku sambil akan berujar sesuatu, namun aku sudah bergegas melewatinya, melesat menuju lift.
Ruang Bisman di lantai 14. Hanya dua lantai dari ruangan Accounting, tempatku.
Lift segera membuka, aku menghambur ke dalamnya.

Tak lama kemudian, aku sudah tiba di ruangan Bisman. Tampak BR sedang berbincang-bincang dengan Bisman.
Aku berdiri di ambang pintu. Biasalah, ragu-ragu untuk masuk. Begitu melihat kehadiranku, BR langsung melambaikan tangannya, dan menyuruhku masuk.

Bisman duduk di ujung meja bundar di tengah ruangan. BR di ujung satunya lagi. Berjarak 2 kursi dari Bisman. Ketika aku tiba, BR langsung menggeser duduknya, mendekati Bisman. Jadi posisinya, Bisman, BR, baru kemudian aku. Kalau dipikir-pikir, tempat duduk kami saat itu sesuai pula dengan posisi di kantor. Bisman yang Direktur Keuangan itu kan big boss, BR boss, dan aku sendiri bukanlah boss, alias staff only.

Bisman menghembuskan asap rokoknya. Gaya big boss satu ini memang santai. Meski demikian, kami mengenalnya sebagai pimpinan yang punya karisma, supel dan disenangi para staffnya. Meski begitu, kesan berwibawa membuatnya disegani.

Lagi, ia menghembuskan asap rokoknya, yang membentuk gulungan awan di dalam ruangan itu. Aku menahan nafas, berusaha tak menghirup asap rokok itu. Bagaimanapun, aku ingin melindungi paru-paru dari serangan gas Nicotine itu. Kata orang, perokok pasif lebih berbahaya dibanding perokok aktif.

“Jadi,…program bonus itu diberikan untuk…” Bisman membuka suaranya.
“Ya, begitulah Pak.” Jawab BR sambil melirik ke arahku, dan tetap tertegun menatapku.
Aku mengerti maksud di balik tatapannya itu. Biasalah, pasti ia meminta peneguhan atas jawabannya itu. Bukankah aku staf yang langsung menangani masalah itu?
Aku mengangguk, mengiakan. “Benar, Pak…”

Mendengarku bersuara, Bisman menoleh ke arahku, lalu mengamatiku sejenak. Sesaat ia tampak ingin mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya, lagi-lagi ia hanya menghisap kembali rokok di tangannya dan kembali menghembuskan. Kali ini ke arah yang berseberangan dengan kami.
Aku meneruskan keteranganku dengan mimik wajah yang kubuat semeyakinkan mungkin. “Program bonus itu seperti ini Pak…”

“Semestinya Marketing tak perlu memberikan bonus sebesar itu kepada distributor…” Kata Bisman setengah mendesis. “Biayanya terlalu mahal.”
Kami, aku dan BR mengangguk-angguk bagai boneka India yang dipajang di etalase toko.

Lama duduk dalam posisi tegak, siaga, kaki dan tubuhku mulai terasa kaku. Inilah salah satu juga alasan kenapa aku tak menyukai meeting. Semuanya serba formal. Sikap, tutur kata, gaya…Ah, semuanya perlu jaga image. Capek rasanya.
Untunglah, diskusi itu tak berlangsung lama. BR bilang, ia sudah ditunggu meeting dengan divisi lain.
Begitu kami serempak berdiri, dan mengucapkan salam pamit, aku langsung menghambur keluar, tak menunggu BR yang masih berbasa basi sejenak dengan Bisman.

“Hai, Rey…” sapa seseorang saat aku melintas di depan lift. Ternyata Silvy, rekanku dari divisi Treasury.

“Ngapain lo…” Tiba-tiba kalimatnya terputus saat ia mendekat ke arahku. “Bibir lo kenapa? Kok coreng moreng begitu?”

“Kenapa, Sil?” tanyaku bingung. “Memangnya ada apa dengan bibirku?” Tanyaku setengah mengikuti slogan salah satu film Indonesia, AADC.

“Itu bibir lo…Coba deh elo ke toilet, ngaca.” kata Silvy sambil melangkah ke dalam lift yang sudah membuka. “Gue duluan ya Rey...”teriaknya, seiring lift yang menutup kembali.

Aku mulai cemas dan sedikit kekhawatiran melintas…Langkahku setengah berlari menghambur ke toilet di sebelah lift dan langsung menerjang pintu toilet. Oh, jangan-jangan…Oh, jangan sampai begitu.. Ah, tidaaakkkk!!! Oh, my God, tolonglah aku! Pekikku ketika melihat bayangan wajahku di cermin toilet.

Wajahku masih tetap sama, tak berubah seperti monster menakutkan. Tapi….tapi, kini ujung bibirku dihiasi dengan lengkungan hitam pekat yang mirip kumis melintang tukang sate Madura. Kumis melintang. Benar-benar seperti kumis tebal. Siapa pun pasti bisa melihatnya, apalagi dalam jarak yang tidak sampai 1 meter, seperti dalam ruang meeting tadi… Oh my God! Seruku lagi sambil buru-buru menghapus kumis hasil kopi itu dari atas bibirku.

Aku menyesal dalam hati, kenapa tadi terlalu tergila-gila dengan kopiku. Tapi sebenarnya, bukan salah kopi juga. Harusnya kan aku bisa ke toilet sebentar untuk merapikan diri, seperti yang biasa kulakukan menjelang meeting. Tapi anehnya, hal itu tadi tak sempat kulakukan.

Terbayang kembali tatapan Bisman tadi. Juga wajah BR yang tertegun menatapku. Rupanya, tatapan mereka punya dua arti. Yang pertama, jelas meminta jawaban dariku atas masalah yang tengah dibahas. Dan yang kedua, yang tidak kusadari tadi, menyiratkan keheranan atas hiasan di atas bibirku. Sekaligus juga kebingungan mereka, bagaimana harus mengatakannya padaku.

Jangan-jangan karena itulah meeting berlangsung sangat cepat. Mungki mereka tak tahan melihat seorang wanita dengan kumis kopi mengahdiri meeting.
Ah, malu sekali rasanya…Tak berani rasanya menatap wajah mereka selama beberapa saat ini.

Itulah sebabnya, mengapa momen kopi kuganti, dari pagi hari menjadi malam hari. Saat itu, jika kumis itu terbentuk lagi, tak ada meeting yang akan kuhadiri. Tak ada mata-mata yang akan tertegun heran menatapku dan diam dengan sejuta kebingungan di kepala mereka.

Jakarta, 9 Maret 2007

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
dadun at Secangkir Kopi Dan Bibir Merah (13 years 12 weeks ago)
70

bukan cuma mereka yang bingung

Writer sherlyne_dee
sherlyne_dee at Secangkir Kopi Dan Bibir Merah (13 years 16 weeks ago)

Temans, makasih banget ya yang udah ngasih comment. Senengnya dapet tanggapan dari rekan-rekan di Kemudian. Sungguh lho. Ini dari lubuk hati yang terdalam. He he he. In fact, this is 90% true story. Believe it or not. Didorong rasa maluuuu yang amat sangat, maka kuberanikan diri nyusun kata-kata, ya akhirnya jadilah cerita ini...
Kristoper: tx ya nilai 10 nya
Heripurwoko: ya, banyak yang ejaannya salah ya. cepet2 nih...tx ya koreksinya.
Edowallad: ha ha...Memang jauh dari sexy sih...Mengerikan malah...Pasti itu kesan orang yg melihatku. Anyway, aq cuma nyari judul yg eye catching. Makasih ya nilai 10 mu.
vivaldi: aku suka caramu mengomentari scr detail. Kayaknya kamu ok punya juga nih. Bikin tahu dimana kelemahan plus kelebihanku. Ya, memang aku mesti banyak belajar lagi nih.
Thanks ya komennya...
Frenzy: ha ha...berarti judulku bikin penasaran juga ya? Kapan-kapan kubuat kopi yg lebih nikmat lagi..tx ya
Harsya: Kopinya tubruk, kapal api yang hitam pekat itu lho
punk5: ha ha ha. mudah2an tukul bener nih.
Thanks ya semuanya...
Yang belum kasih comment, silakan, monggo lho ditunggu. Apa aja deh. Yang penting kasih. he he he.

Writer punk5
punk5 at Secangkir Kopi Dan Bibir Merah (13 years 16 weeks ago)
60

kopi emang bikin kita gila!tapi bukannya cewek yang suka kopi itu tipe yang bijaksana?kata tukul lhooo...piss sheer..piss..hehe

Writer Harsya
Harsya at Secangkir Kopi Dan Bibir Merah (13 years 16 weeks ago)
70

kok kopi doang??
kopinya rasa apa ngomong2??

Writer FrenZy
FrenZy at Secangkir Kopi Dan Bibir Merah (13 years 16 weeks ago)
70

kirain cerita seksi apaan eh taunya humor hehehe :) not bad! tapi, kayaknya tentang kopinya masih kurang nikmat buatku.. or maybe its just coz i dont like coffee :)

Writer edowallad
edowallad at Secangkir Kopi Dan Bibir Merah (13 years 16 weeks ago)
100

a cup of black coffe and red lips...
is'nt sexy

Writer v1vald1
v1vald1 at Secangkir Kopi Dan Bibir Merah (13 years 16 weeks ago)
70

Ceritanya mengalir sederhana. Deskripsi ruang dan situasi cukup baik. Tapi bisa lebih bagus lagi. (banyak menulis akan menjadikan lebih gape). Ceritanya segar. Entah kenapa, belum betul2 menggelitik. Padahal idenya bagus. Cuman mungkin pengaturan plotnya kurang "halus" .. Well, mungkin. Yang jelas, tulisannya dah bagus kok.

Writer heripurwoko
heripurwoko at Secangkir Kopi Dan Bibir Merah (13 years 16 weeks ago)
50

simple...

tapi coba cek kata-kata 'kukunjungi',
'khusunya', dll. EYD my fren, jgn lupa

Writer KD
KD at Secangkir Kopi Dan Bibir Merah (13 years 16 weeks ago)
100

top