AOM 8 : Taruhan

Chapter sebelumnya...

Ivy Bryant tidak bisa menolak taruhan yang tiba-tiba diajukan oleh Jordan Mc.Pherson, pemuda paling menyebalkan di St.August di sebuah konser besar yang didatanginya bersama teman-temannya. Aturannya sederhana. Jordan harus bisa membuat para penonton konser tersebut tertarik dengan penampilanya. Bila dia berhasil maka Ivy harus bersedia berkencan dengannya dan kalau dia gagal, dia harus menghilang selamanya dari hadapan Ivy. Untuk menggagalkan Jordan, Ivy meminta bantuan Clarke, Vincent dan Wayne agar mengiringi penampilan Jordan. Ivy berharap kolaborasi dadakan ini akan berakibat buruk pada penampilan Jordan. Sayangnya, pertunjukan itu justru berhasil dengan sukses dan menimbulkan ENCORE dari para penonton. Jordanpun memenangkan taruhan itu.

************************

“Ivy!”

Seruan itu terdengar di antara hiruk pikuk konser, membuat Ivy menoleh. Jordan tiba-tiba sudah berada di situ dan memandangnya dengan puas. Seketika wajah Ivy berubah menjadi kesal. Clarke dan yang lainnya saling pandang. Jordan tersenyum.

“Kau tidak lupa taruhanya, kan? Aku bahkan berhasil membuat mereka meminta encore,” katanya

“Brengsek kau! Mereka menyukai penampilan kalian semua, bukan cuma kau!” tukas Ivy sebal.

Jordan tertawa.

“Kau akui atau tidak, teman-temanmu justru membuatnya jadi jauh lebih mudah,” kata Jordan lagi. Vincent dan Wayne saling pandang tidak terima. Clarke melangkah mendekati Jordan.

“Hai, Aku Clarke. Tadi itu benar-benar keren. Aku tidak pernah menyangka kita bisa bekerjasama sekompak itu,” kata Clarke mencoba bersikap ramah seraya mengulurkan tanganya. Jordan memandangnya dengan dingin.

“Apa itu berarti kau mengakui kelebihan aku dibanding kalian semua?” tanya Jordan dengan nada mengejek membuat Clarke tercengang.

“KAU..-“ Wayne tidak meneruskan kata-katanya karena Vincent buru-buru menahanya. Jordan melengos.

“DENGAR! Persetan dengan kalian semua!” tukas Jordan tidak sabar pada Clarke dan yang lainnya. Dipandangnya Ivy dengan serius.

“Ivy! Kau tidak lupa peraturanya, kan?” desaknya. Ivy tidak segera menyahut. Dia memandang Jordan sesaat lalu beralih ke teman-temannya dengan ragu. Annette memandangnya dengan tegang.

"Terimalah kekalahanmu, Ivy," kata Jordan dengan nada mengejek. Ivy menggeram.

Haruskah aku menghabiskan malam ini dengan Mc. Pherson brengsek ini? Sial! Kenapa aku harus kalah?!

"Ayo, Ivy," tegas Jordan seraya mengulurkan tangannya.

Ivy tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia tidak mungkin menghindar dari taruhan ini. Dia telah kalah dan sekarang dia harus menghadapi konsekuensinya. Ivy merasa menjadi orang paling bodoh malam ini. Dia tidak punya pilihan lain selain menerima uluran tangan itu.

“Ivy…-“ kata-kata Wayne terdengar tidak rela. Ivy memandangnya dengan bimbang. Jordan tersenyum menang seraya menarik Ivy mendekat.

Guys, lakukan sesuatu untuk menghentikan aku, please!!"

“Kita pergi dari sini, baby,” bisiknya halus membuat Ivy tersadar. Sekali lagi Ivy menoleh ke arah teman-temanya sebelum akhirnya berlalu pergi mengikuti Jordan.

Damn it!!

************************

Tadinya Ivy berpikir kekalahanya atas taruhan itu akan membuat malam ini menjadi malam paling sial sepanjang hidupnya. Dia tidak pernah membayangkan dia akan membiarkan dirinya menghabiskan malamnya bersama orang seperti Jordan Mc. pherson. Namun sejauh ini, Ivy merasa tebakannya mungkin salah. Dia terkejut mendapatkan dirinya justru sangat menikmatinya.

Setelah berlalu dari hadapan teman-teman Ivy, Jordan membawa Ivy kembali ke backstage. Dia memperkenalkan Ivy kepada beberapa temanya, para event organizer konser itu. Seorang panitia memberinya kartu free pass untuk back stage dan after party. Ivy merasa sangat beruntung.

"Bagaimana kau bisa mendapatkan semua fasilitas ini?" tanya Ivy penasaran pada Jordan.

"Aku membantu mereka mendapatkan sponsor utama untuk konser ini," kata Jordan sambil lalu. Ivy menggumam mengerti.

"Kalau begitu kau orang penting," gumam Ivy. Jordan tertawa.

"Sudah kubilang, menonton konser ini bersamaku akan jauh lebih asyik," kata Jordan seraya menoleh. "Kau juga boleh bergabung dengan kelompok elite kalau kau mau. Kami punya jaringan sosialisasi yang sangat bagus," katanya lagi membuat Ivy tersadar. Bicara soal kelompok elite, kenapa dia tidak melihat seorangpun selain Jordan di sini?

Dimana mereka?

“Mana teman-temanmu itu? Aku tidak melihat Sidney dan yang lainya,” tanya Ivy penasaran sambil memperhatikan panggung sekilas.

“Luke mengadakan pesta ulang tahun gila-gilaan di penthouse keluarganya,” kata Jordan sambil meminum bir yang disodorkan temannya. “Anak-anak lebih suka gila-gilaan di sana malam ini. Kalau aku tidak berjanji dengan Red Line untuk menonton mereka, aku juga tidak akan di sini,” kata Jordan membuat Ivy terdiam.

“Kenapa kau tidak bergabung dengan mereka saja? Maksudku Red Line. Kau kelihatan tidak canggung di panggung tadi,” kata Ivy. Jordan memandang Ivy dengan penuh arti.

“Apa itu pujian?”

Ivy tersadar dan memerah.

“Maksudku,-” Ivy mencoba mencari kata-kata untuk mengalihkan pembicaraan. Jordan tertawa.

“Aku dengar dulu kau seorang artis,“ kata Ivy lagi membuat Jordan tiba-tiba menoleh tajam.

Ivy merasa hatinya berdesir melihat sinar mata Jordan saat itu. Bukan binar kenakalan atau keangkuhan seorang Jordan Mc.Pherson yang biasa dia lihat, tapi sinar kemarahan berkelebat sesaat di matanya yang sebiru kristal itu. Apakah dia telah mengucapkan sesuatu yang seharusnya tidak dia ucapkan? Namun sedetik kemudian mata itu kembali berkilat nakal.

“Kau benar-benar penasaran dengan masa laluku?” tanya Jordan. “Akan kukatakan setelah kau tidur denganku,” kata Jordan santai. Ivy memerah jengkel.

“Dalam mimpimu, sialan!” Jordan tertawa lagi seraya kembali menghabiskan birnya.

Suasana makin ramai ketika band utama muncul. Sejauh itu Jordan kelihatan tenang-tenang saja, tidak melakukan hal-hal di luar dugaanya. Walaupun ini terasa aneh, Ivy mulai berpikir mungkin kalah di taruhan itu bukan suatu masalah besar.

Konser utama berlangsung dengan lancar dan Ivy sangat menikmatinya. Band Irlandia itu benar-benar berhasil membius penonton. Untuk beberapa saat Ivy bahkan melupakan taruhan konyolnya. Selesai konser Jordan lalu mengajaknya ke after party eksklusif yang diselenggarakan di sebuah bar hotel tempat band itu menginap. Ivy yang begitu senang nyaris memutuskan untuk berbaikan dan mulai berteman dengan Jordan ketika tiba-tiba pemuda itu menariknya keluar dari pesta dengan paksa.

“Apa-apaan, sih kau?!” protes Ivy ketika pemuda itu menyeretnya pergi. “Pestanya baru saja dimulai!” sentak Ivy sambil melepaskan diri dari pegangan Jordan di lobi hotel. Jordan memandangnya dengan serius.

“Waktu bersenang-senang untukmu sudah selesai, Cinderella!”

“Apa?!”

“Aku sudah cukup memanjakanmu dengan ini,” kata Jordan lagi membuat Ivy melotot. “Kau berhutang banyak padaku. Kau ingat aku pemenang taruhanya, kan?”

“Maksudmu..-”

“Sekarang kau harus menurut padaku!” tegas Jordan serius. Ivy tersadar dan entah kenapa hatinya merasa tidak enak. Apa yang akan anak muda itu lakukan padanya? Sekarang mereka berada di hotel. Apakah dia akan.. Ivy tidak berani membayangkan. Tiba-tiba saja rasa cemas merayapi hatinya. Dipandangnya Jordan dengan curiga.

“Jangan macam-macam padaku, please,” gumam Ivy membuat Jordan termangu sesaat. Sedetik kemudian pemuda itupun tertawa keras. Ivy tersadar dan memerah menyadari apa yang dia pikirkan keliru.

“DIAM KAU!” tukas Ivy. Jordan masih tertawa.

“Kuakui aku tidak memikirkan hal itu,” kata Jordan berusaha menghentikan tawanya. “Tapi kau membuatku memikirkanya.”

“Brengsek kau!”

“Memang.”

“Kau…-“

“Dengar! Kau sendiri tahu apa yang bisa kulakukan padamu, kan?” potong Jordan. “Sekarang kau harus mengikutiku dan tidak usah merepotkan!” kata anak muda itu seraya kembali menarik Ivy dan mengajaknya menuju mobil.

“Kau mau membawaku kemana?” tanya Ivy ketika Jordan memaksanya masuk ke mobil.

“Pesta Luke!” jawab Jordan singkat seraya menghidupkan mesin mobilnya.

“APA?!” Tapi Jordan sudah melarikan mobil mewahnya meninggalkan pelataran parkir hotel tersebut.

*********************

Luke Brown teman sekelas mereka termasuk dalam kelompok elit sekolah itu. Malam itu Penthouse milik Luke Brown sudah kelihatan ramai dan kacau balau ketika mereka tiba. Malam sudah makin larut dan pesta sudah lebih dari setengah jalan. Beberapa anak muda sudah mulai membuat acara sendiri di luar, bermesraan, mabuk atau menghisap ganja.

“Aku dengar gosip Luke iri padamu,” kata Ivy.

“Brown sialan, bisa apa dia menghadapi aku,” kata Jordan santai. “Kau juga setuju, kan?” tanyanya tiba-tiba pada Ivy.

“Aku tidak pernah peduli dengan urusan kelompok kalian!”

“Kalau kau tidak peduli kau tidak akan tahu Brown tidak senang denganku,” balas Jordan. Ivy menggerutu. ”Lebih baik kau bergabung saja dengan kelompok kami, Ivy.”

“Diam kau!”

Jordan tertawa seraya mengajak Ivy memasuki tempat itu. Pesta itu masih berlangsung dengan ramai dan liar. Sebagian anak muda sudah kelihatan teler dan lepas kendali. Beberapa yang masih sadar menyapa Ivy dan Jordan sambil lalu sementara yang lainya kelihatan tidak peduli, asyik menari maupun sibuk dengan kegiatanya sendiri-sendiri.

“JORDY!” Dean Phillip teman sekolah mereka lainnya menyambut dengan antusias. “Kemana saja kamu, Jor? Gadis-gadis itu sudah bosan menunggumu!”

Jordan tertawa.

“Kurasa Brown justru menyukai ketidakhadiranku, kan?” tanya Jordan.

“Kenyataan bilang, Kau tetap favoritnya..-” Dean menghentikan kata-katanya ketika melihat Ivy. Sesaat dia tampak tercengang.

“Aww! Lihat siapa yang datang. Apa Luke juga mengundangmu, Ivy?” tanya Dean pada Ivy.

“Hai, Dean,” balas Ivy dingin. “Tidak. Jordan yang mengajaku kemari.”

“Oh!” Dean tampak terperanjat.

”Itu mengejutkan,” komentar Dean. Lalu dia beralih pada Jordan dan berbisik. “Kau benar-benar berhasil mengajaknya?” bisiknya tidak percaya pada Jordan. Jordan hanya tersenyum menang.

Man! Kau memang yang terbaik!” gumam Dean. Ivy memandang kedua pemuda itu dengan curiga. Beberapa anak muda lain mendekati mereka. Jordan tersadar dan menoleh.

”Halo, guys,” sapanya pada teman-teman kelompoknya. Ivy menegang. Itu kelompok elit!

“Jordy!-” Sidney Russel menghentikan gerakanya dan melotot ketika melihat siapa yang datang bersama Jordan. ”Oh, brengsek!”

Penelope Wright dan Kareen Austin, dua teman Sidney lainnya tampak mengerutkan dahi melihat Ivy. Ivy merasa jengah. Dia tahu gadis-gadis itu mempermasalahkan kemunculanya.

Sidney memandang Ivy dengan tatapan 'ingin membunuh'-nya. Sudah sejak kelas satu dia dan Ivy bermusuhan memperebutkan posisi siswi paling populer di sekolah. Sampai sekarang dia masih tidak bisa menerima kekalahan di pesta dansa kemarin ketika anak-anak memilih Ivy sebagai ratu pesta. Kemunculan Ivy bersama pacarnya tentu saja bukan hal yang menyenangkan.

“Halo, Brown,” kata Jordan tanpa mempedulikan perang dingin di antara gadis-gadis itu kepada si pemilik pesta. Luke tidak menyahut, memandang Jordan dan Ivy dengan kesal.

“Kau pasti kenal Ivy, kan? Kau tidak keberatan aku mengajaknya kemari? Dia teman kencanku malam ini,” kata Jordan riang.

“Apa!?” gumam Sidney. Penelope dan Kareen terkikik geli.

“Brengsek!” umpat Sidney tertahan.

“Tentu saja tidak,” balas Luke sebal. Jordan tersenyum menang dan beralih pada para gadis.

“Hai, girls, kalian bersenang-senang malam ini?” sapa Jordan.

“Jordan, kau benar-benar mengejutkan kami,” kata Penelope seraya tersenyum tanpa mempedulikan kehadiran Ivy. “Kami senang kau akhirnya muncul.”

“Ya,” sambung Kareen. “Dan lagi pesta ini mulai membosankan.”

Sidney kelihatan tidak bisa menahan diri lagi.

“Mau apa kau ke sini, Bryant?! Aku tidak yakin Luke mengundangmu juga!” kata Sidney tajam ke arah Ivy. Ivy bisa melihat gadis itu sudah setengah mabuk. Jordan yang tidak peduli dengan ketegangan itu berlalu mengambil bir.

“Ini bukan pestamu, bitch!” balas Ivy sengit.

“Kau tidak berhak ada di sini!” tukas Sidney.

“Atas dasar apa, sialan?! Brown sendiri tidak bilang begitu! Kau ada masalah denganku?!” tantang Ivy membuat Sidney makin melotot.

“Kau.. BRENGSEK!!” maki Sidney serta-merta menampar Ivy mengejutkan semuanya. Kareen tersenyum tertarik.

“Hei, ini mengasyikan. Luke membuat masalah di pestanya sendiri,” gumam Kareen pada Penelope, temannya.

“Bukan,” ujar Penelope. “Jordan yang mendatangkan hiburan ini.”

“Oh, yeah,” balas Kareen menjilat bibirnya dengan penuh semangat.

Girls, ayolah!” Dean mencoba menangahi Ivy dan Sidney yang kini berhadap-hadapan dengan mata saling membara penuh dendam. Namun Sidney dan Ivy sudah tidak bisa dilerai. Luke kelihatan bingung harus bagaimana. Beberapa anak mulai tertarik dengan keributan itu. Jordan muncul dengan riang sambil membawa sebotol liquor.

Girls, kenapa kalian?” tanyanya heran pada Ivy dan Sidney.

“Jangan sok inosen, Jor!" gerutu Luke. “Kau yang menyebabkan keributan ini! Aku tidak akan biarkan kau mengacaukan pestaku, brengsek!” Jordan memandangnya dengan dingin.

“Bukannya pestamu sudah kacau dari tadi, Brown?" balas Jordan sebal. "Kau seharusnya berterima kasih padaku karena hiburan ini,” balasnya. Dean tetawa kecil dan mengangguk setuju.

“Ayo, teruskan pertunjukan ini, Jordy,” katanya. Jordan tersenyum seraya beralih pada kedua gadis yang bertengkar.

“Dengar, berhentilah bertengkar,” kata Jordan halus pada kedua gadis itu. “Aku akan berkencan dengan siapapun yang bisa bertahan dari liquor ini.“

Sidney memandangnya dengan berapi-api.

“Kau seharusnya tahu aku orang yang paling tepat untukmu, Jordy!” katanya. Jordan tersenyum seraya mengambil dua buah gelas dan menuangkan liquor.

“Tunjukan padaku, babe,” kata Jordan tenang.

Sidney langsung menerima gelas itu dan meminumnya sampai habis. Jordan tersenyum melihat gadis itu menyodorkan gelasnya yang telah kosong. Jordan beralih pada Ivy.

“Bagaimana, Ivy?” katanya sambil menyodorkan gelas lainya yang masih penuh. Ivy tersadar dan menggeram marah.

“BRENGSEK, KAU! Seharusnya dari tadi aku tidak mengikutimu!” makinya.

“Habiskan bagianmu,” kata Jordan tidak peduli.

“Aku tidak mau ikut taruhan konyolmu lagi, sialan!!”

“Kau takut, kan Bryant?” ejek Sidney.

Ivy menggeram tidak terima. Dia memang tidak sudi lagi mengikuti Jordan. Tapi membiarkan Sidney menghinanya, tentu saja dia tidak bisa membiarkanya. Apalagi dia belum membalas tamparan barusan.

Akan kubunuh kau Sidney Russel!!

Jordan tersenyum.

“Bagianmu, Ivy,” kata Jordan tenang. Ivy langsung menerima minuman itu dan menghabiskanya. Kali ini anak-anak lainnya sudah berkumpul memperhatikan mereka dengan tertarik.

Jordan kembali menuang gelas kedua gadis itu dan keduanya langsung menghabiskanya dengan rakus. Sebentar saja botol minuman di tangan Jordan sudah kosong. Anak-anak lain mulai berseru riuh memberi semangat. Sidney mulai memerah karena mabuk. Ivy mulai merasa kepalanya berdenyut. Namun ketika dilihatnya Sidney masih bertahan Ivy berusaha menahan diri. Dia tidak bisa mundur sekarang. Ivy berusaha tidak memikirkan apa-apa lagi. Tantangan ini harus dia selesaikan demi harga dirinya di hadapan seorang Sidney Russel!! Ivy tidak berpikir panjang lagi ketika Jordan menyodorkan sebotol liquor lain padanya.

Kau harus fokus Ivy! Kau TIDAK BOLEH mabuk! KAU TIDAK BISA KALAH!

Sorakan itu makin ramai dan riuh. Ivy teringat kembali dengan konser itu. Sorakan itu sama ramainya, berputar-putar dalam ruang pikirannya. Ivy menghabiskan botol berikutnya. Pemandangan di sekelilingnya mulai buram dan tidak beraturan. Kepalanya seperti mau pecah.

BERTAHANLAH, Ivy! Kau harus sadar!!

Ivy mulai tidak bisa menyadari sekelilingnya. Dia berusaha hanya memusatkan diri pada minuman sialan itu. Dia berusaha berkonsentrasi pada afirmasi-afirmasi yang muncul dari dalam otaknya yang mulai menurun. Suara-suara di sekelilingnya makin ramai. Ivy merasa bumi yang dipijaknya mulai berputar dan dia nyaris tidak bisa bertahan lagi.

Apakah aku kalah???

Ivy merasa makin ringan. Antara sadar dan tidak dia merasa seseorang memeluknya tapi dia terlalu pusing untuk menyadari siapa. Konser itu, Band Irlandia itu, penampilan mendadak itu, teman-temanya, semua berputar dalam pikiranya. Malam ini benar-benar sangat melelahkan. Ivy tidak bisa bertahan lagi ketika semuanya tiba-tiba menjadi GELAP!

********************

Ivy terbangun dengan kepala berdenyut keesokan harinya. Hal pertama yang dia lihat adalah ruangan terang benderang yang sangat luas. Ivy memutar kepalanya yang berat mengamati sekelilingnya.

Dimana ini?

Ivy mendapatkan dirinya berada di atas sebuah tempat tidur besar yang lembut dan nyaman. Kamar ini sangat indah dan rapi, seperti suite dalam hotel.
Ivy mulai panik ketika ingatanya kembali pada kejadian di pesta Luke Brown. Apa yang terjadi padanya??

Tiba-tiba dia merasa mual. Buru-buru dia beranjak dan berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah. Ivy terduduk lemas berusaha mengingat kembali semua kejadian yang dialaminya semalam. Ivy memandang kamar mandi yang bersih dan mewah inid engan curiga.

Apakah ini hotel? Mana Jordan? Apa yang telah dia lakukan pada dirinya?

Seorang wanita berseragam pelayan rumah tangga memasuki kamar mengejutkan Ivy yang baru muncul dari kamar mandi. Wanita itu membawa meja dorong berisi minuman dan sarapan. Dia tersenyum sopan padanya.

“Selamat pagi. Saya membawa sarapan,” katanya.

Ivy buru-buru mendekatinya.

“Ini dimana?” tanyanya panik membuat wanita itu mengerutkan dahi.

“Ini kediaman keluarga Mc. Pherson,” jawabnya.

“Mc. Pherson?” ulang Ivy kaget. Sesaat dia berpikir sesaat. Apakah Jordan membawanya ke rumahnya? “Mana Jordan?”

“Dia ada di kamarnya saya rasa.”

“Apa dia yang membawa saya kemari?” tanya Ivy lagi. Wanita itu tersenyum dan mengangguk.

“Dia datang dini hari seperti biasa dan langsung menidurkan kau di sini. Dia pesan supaya menyediakan makanan kalau kau sudah terbangun. Dan kalau kau ingin pulang, mobil sudah siap di depan,” jelas wanita cepat seolah dia sudah sering mengucapkan kalimat itu. Ivy tidak segera menyahut.

“Kalau tidak ada lagi yang ditanyakan, saya permisi.” Wanita itupun berlalu.

Ivy terduduk lemas di pinggir tempat tidur. Benarkah Jordan tidak melakukan apa-apa pada dirinya?? Ivy mencoba mengisi perut dan menghubungi keluarganya dengan pesawat telepon yang ada di kamar itu, berbohong kalau dia menginap di rumah Annette semalam. Dia lalu memutuskan untuk mencari Jordan.

Ivy menemukan anak muda itu sedang mondar-mandir menelepon di ruang tengah. Ivy bisa melihat sebuah grand piano besar di situ. Apakah Jordan sering memainkanya? Jordan menyelesaikan pembicaraanya dan menyadari kehadiran Ivy.

“Hai,” sapanya sambil lalu seraya sibuk menghubungi sebuah nomor dengan telepon genggamnya. Ivy mendekatinya dengan marah.

“Kau harus ceritakan padaku apa yang terjadi semalam!” tuntutnya.

“Kau memenangkan permainan itu. Kau menghabiskan botolmu yang terakhir ketika Sidney teler,” kata Jordan tidak peduli. Ivy terdiam sesaat.

“Kau melakukan sesuatu padaku?” Kali ini Jordan menoleh sesaat lalu tertawa. Ivy mengerutkan dahi.

“Kau masih berpikir soal itu?” tanya Jordan.

“Dengar, Ivy. Kukatakan satu hal padamu. Aku bukan maniak gila tukang perkosa orang. Kau benar-benar berpikir aku masih terobsesi denganmu?” tanya Jordan dingin. “Aku tidak mau tidur dengan perempuan yang tidak mau tidur denganku!”

Ivy mengerutkan dahi.

“Kalau begitu kenapa kau memaksaku berkencan denganmu, brengsek!” katanya marah.

Jordan tertawa kecil.

“Kami kelompok elit sangat menyukai taruhan dan permainan, Ivy.” Jordan memandang Ivy sesaat.

“Aku bertaruh seribu dollar dengan Luke untuk mengajakmu ke pestanya,” kata Jordan membuat Ivy melotot.

“Semua orang tahu kau tidak akan mau pergi denganku. Tapi aku berhasil membawamu ke sana. Luke berkeras aku telah memaksamu. Tapi kubilang tidak ada perjanjian aku harus menunjukan padanya kalau kau datang dengan sukarela. Aku memenangkan taruhan itu..-“

“Jordan,-“

Suara lembut itu memotong kata-kata Jordan dan membuatnya itu menoleh. Seorang gadis yang tidak dikenal Ivy muncul dari kamar. Dia hanya mengenakan kemeja yang tampak kebesaran untuk tubuhnya. Dia tampak tercengang melihat Ivy.

“Jordan, kau gila, ya? Apa aku saja tidak cukup untukmu?” godanya seraya mendekati Jordan dan memeluknya.

Jordan tersenyum dan mencium gadis itu penuh hasrat. Gadis itu tertawa kecil. Jordan menoleh pada Ivy yang masih berdiri diam dan tampak marah luar biasa.

“Kenapa kau berdiri saja di situ, Ivy?” tanyanya dengan nada mengejek. “Mau bergabung dengan kami? Kurasa Mallory tidak keberatan untuk three some.”

Tawa Jordan dan gadis bernama Mallory membuat Ivy mendidih tidak terima. Dia jelas tidak bisa menerima penghinaan ini.

Awas kau, Mc. Pherson! KUBALAS PENGHINAAN INI!!

“BRENGSEK KAU!!” maki Ivy seraya berlalu.

Jordan tertawa menang.

Ivy tidak mau melihatnya lagi.

”Bodoh sekali kau mau menerima taruhanya, Ivy!”

Kata-kata Wayne terngiang di kepalanya. Ivy merasa ingin menangis ketika keluar dari rumah Jordan. Dia harus meninggalkan tempat ini! Ivy bergegas berlari keluar gerbang dan mencegat taksi pertama yang dilihatnya. Di dalam taksi dia menghubungi Annette dan terisak-isak menumpahkan kekesalanya.

“Akan kubalas dia, Annie! Sungguh!! AKAN KUBALAS!!”

**************************

bersambung.........

Read previous post:  
56
points
(2972 words) posted by yosi_hsn 14 years 1 week ago
80
Tags: Cerita | cinta | American pie | band | Novel | teen-live | yosi
Read next post:  
Writer yosi_hsn
yosi_hsn at AOM 8 : Taruhan (14 years 12 hours ago)

chapter ini memang beresiko banget. Duh, susah bilangnya. Soalnya saya membutuhkan chapter yang mengeluarkan semua pemainnya. Semoga ini adalah chapter dengan tokoh terbanyak.. hiks..

Writer Alfare
Alfare at AOM 8 : Taruhan (14 years 13 hours ago)
80

Yosi, saya enggak yakin dengan langkah ini. Jangan lupa penyelesaiannya nanti mesti bisa nyatuin semuanya lho! Ceritanya juga jadi ke mana-mana dan agak 'keluar' dari tema awalnya.

Terus lagi, kayaknya ada sesuatu yang kurang membuatku sreg dengan penyajian cerita ini. Tapi aku kurang yakin apa. Mungkin sesuatu yang ada hubungannya dengan alur adegan atau reaksi meledak-ledak Ivy...

Tapi gimanapun, ini kelanjutan yang cukup menarik.

Writer Villam
Villam at AOM 8 : Taruhan (14 years 1 day ago)
90

jadi sekarang pake pov ivy? hehe... menambah pov bisa bikin cerita tambah rumit lho... karena ivy sekarang menjadi tokoh sentral pula. tapi itu bagus, menantang.

dan... nyam... nyam...
i like your 'american pie', yosi.
delicious.
it's almost perfect.

Writer Nanasa
Nanasa at AOM 8 : Taruhan (14 years 2 days ago)
80

yup, tokohnya banyak sekalee.. padahal susah lho bikin seperti itu.
Btw, jangan kelamaan ninggalin Taylor (kalo dia tokoh utama ceweknya)coz aq masih belum jelas siapa yg jadi first lady disini.
Mmm, apalagi ya.. Inosen = innocent. Sengaja ya..

anyway, hebat Sist. Lanjuuuttt...

Writer cat
cat at AOM 8 : Taruhan (14 years 2 days ago)
70

tokohnya rame ya ..
tp lumayan membuat aku terserat dalam cerita itu