Allow me To Confess

Aku menciumnya!

Aku pasti gila telah melakukan ini. Mungkin kesadaranku sudah hilang sepenuhnya dari diriku. Mungkin nalarku sudah menyerah kalah oleh perasaan ini.

Aku keterlaluan! Aku tidak termaafkan!

Tapi ternyata aku menyadarinya. Aku bisa merasakan dia selembut dan semanis yang kubayangkan. Aku bisa merasakan perasaan terdalam ini seolah melesat keluar. Aku bisa merasakan himpitan dalam dada ini seolah menghilang. Aku merasa ringan. Aku merasa melayang bagaikah sehelai bulu, mendarat dengan ringan dalam genggaman sang malaikat. Begitu damai, begitu tenang dan begitu indah. Waktu seolah berhenti berputar. Aku merasa begitu bahagia.

Aku sadar sepenuhnya, bahwa aku telah menciumnya.

Dia terkejut. Bibirnya gemetar mengatakan sesuatu yang tidak bisa kudengar. Apakah dia sekarang membenciku? Tapi apakah naluri ini patut disalahkan? Tidakkah kau mendengar seruan dalam hatiku? Seruan yang terus menggema berulang-ulang dan mengatakan bahwa,

“Aku mencintaimu, sangat mencintaimu!”

************************

Satu setengah tahun yang lalu.......

“Kau benar-benar serius mau mengambil beasiswa itu?” tanyaku sambil memandang Indra, sahabatku. Sudah sejak kecil kami berteman. Pun kami bertetangga dan selalu masuk di sekolah yang sama walaupun kami masuk jurusan yang berbeda di universitas. Dia adalah sahabat terbaikku.

Indra mengangguk.

“Ini kesempatan sekali seumur hidup,” kata Indra.

Aku kembali termangu. Kecerdasannya selalu membuatku iri. Dia lulus dengan nilai terbaik di angkatan kami. Sekarang kami sudah sama-sama bekerja. Dia direkrut menjadi dosen di universitas kami sementara aku cukup bangga berhasil menduduki salah satu posisi staff di perusahaan milik ayahku. Beberapa hari yang lalu dia memberitahu perihal kesempatan beasiswa itu padaku.

“Tapi Inggris sangat jauh,” gumamku. Indra tidak menyahut.

“Empat tahun juga bukan waktu yang sebentar,” kataku lagi. Aku menoleh, memandang sepasang mata yang selalu bersinar serius dibalik kacamata itu.

“Bagaimana dengan Andini? Bukankah kalian sudah berencana akan menikah?” tanyaku.

Andini, entah kenapa hatiku bergetar ketika menyebutkan nama itu. Perasaan halus itu kembali menyusup ke dalam relung hatiku. Selama ini aku selalu berusaha sesedikit mungkin menyebut nama itu. Aku bahkan berusaha untuk tidak memikirkanya dalam lamunanku.

Indra menghela nafas.

“Kami menundanya,” katanya.

“Kau sudah berbicara denganya?”

“Ya,” jawab Indra.

“Dia tidak apa-apa?” tanyaku ingin tahu.

“Tidak. Kami sepakat menundanya hingga studiku selesai. Dia sangat mengerti impianku,” kata Indra.

“Andini wanita yang luar biasa. Aku sangat beruntung memilikinya,” kata Indra lagi.

Ya, kau memang sangat beruntung, Indra!

Entah kenapa perasaan iri mendera hatiku lagi. Begitu sakit!

“Kau tidak memikirkan bagaimana perasaanya tanpa dirimu?” tanyaku lagi berusaha keras menghilangkan kegalauan dan bayang-bayang nama Andini dari pikiranku.

“Dia tidak akan apa-apa” ujar Indra. “Lagipula ada kau,” kata Indra membuatku terkejut.

“Aku??” ulangku tidak mengerti. Indra kini menatapku dengan serius.

“Kau sahabatku yang paling kupercaya, Dimas,” kata Indra. “Aku hanya bisa mempercayakan Andini padamu. Dia adalah yang paling berharga bagiku. Aku tidak bisa membiarkan dia lepas dari hidupku. Tapi aku juga tidak bisa melepaskan impian yang sudah kumiliki sejak kecil.”

Aku terdiam.

“Pilihan ini membuatku ragu. Aku percaya pada Andini, tapi tidak seorangpun yang bisa menebak bagaimana masa depan itu. Aku tidak ingin mengecewakannya. Aku ingin selalu ada untuknya. Aku hanya bisa meminta tolong padamu untuk membantuku mewujudkan itu,” kata Indra membuat hatiku mencelos.

Aku tidak tahu kenapa aku merasa ingin memukulnya saat itu. Tapi aku hanya terdiam, berusaha menahan kemarahan yang tiba-tiba muncul dalam hatiku.

“Kau keterlaluan memintaku menjadi penggantimu bagi Andini. Kau tidak memikirkan perasaan kami,” kataku datar. Bagaimana mungkin Indra berpikiran seperti itu?

“Kau tidak perlu menjadi penggantiku,” kata Indra lagi. “Setidaknya, kumohon jagalah Andini demi aku. Aku memintamu dengan sangat atas nama persahabatan kita,” Aku tertegun.

Tapi kau tidak tahu, Indra! Masalahnya tidak semudah itu.

Aku tidak mungkin melibatkan diriku lebih jauh lagi dengan Andini. Begitu lama aku menahah perasaan yang menyakitkan ini. Begitu keras aku berusaha melupakan perasaan ini. Perasaan yang begitu halus dan dalam. Perasaan yang begitu kuat mengikatku dan menghantui setiap mimpi dan anganku. Perasaan yang aku rasakan sejak pertama kali aku melihatnya, sejak pertama kali kau memperkenalkan Andini padaku sebagai kekasihmu.

Mengertikah kau? Akupun mencintai Andinimu!

“Kau bersedia, Dimas?” pertanyaan Indra menyadarkanku.

Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tahu aku seharusnya menolaknya atau aku akan terlibat dalam masalah yang lebih besar. Tapi bagaimana mungkin aku bisa menolak permintaan sahabatku? Alasan apa yang bisa kuberikan? Aku merasa makin gamang dan galau. Aku nyaris tidak bisa mendengar suaraku sendiri ketika akhirnya aku menjawab.

“Baiklah.”

****************************

Andini memandangku dengan tatapan tidak percaya ketika aku melepaskan ciumanku di bibirnya. Andini gemetar. Memandang matanya tiba-tiba aku tersadar. Apa yang telah kulakukan?

Tapi, tidakkah kau mengerti betapa aku sudah tidak bisa menahannya lagi? Beban ini terlalu berat kurasakan. Saat aku harus menahan diri dalam setiap kebersamaan kita, saat aku harus menghiburmu tanpa bisa membelaimu dengan sepenuh hati, saat aku harus tertawa bersamamu tanpa bisa membagi keintiman lainnya denganmu. Bagaimana aku bisa memandang segala keindahan dan kebaikan yang ada padamu tanpa pernah bisa menyentuhnya? Kalau aku boleh mengeluh, kalianlah yang telah menghancurkan aku!

“Dimas, kenapa kau,-“ Andini tidak meneruskan kata-katanya. Aku memandangnya.

“Aku mencintaimu, Andini. Sejak pertemuan pertama kita,” kataku jujur.

Andini tampak tercengang. Sesaat kemudian diapun terisak.

“Maafkan aku, Dimas,” katanya lirih. Aku mengangguk mengerti.

“Aku hanya ingin mengakuinya,” kataku seraya tersenyum. Kuraih tanganya.

“Aku tahu ini gila. Tapi aku tidak bisa terus berdiam diri dan membiarkanya. Aku tidak berharap kau akan membalas perasaan ini. Kau boleh memakiku atau mencelaku. Tapi aku ingin kau tahu bahwa akupun menyayangimu, seperti Indra yang menyayangimu sepenuh hatinya. Kau wanita yang hebat bagi kami berdua,” kataku lembut. Andini masih terisak ketika aku mencium punggung tanganya perlahan.

Semua itu benar, aku hanya ingin kau mengetahui kejujuran perasaan ini. Aku lelah memendamnya. Aku tidak pernah berharap kau akan membalasnya. Tapi membuatmu mengetahuinya, itu sudah membuatku merasa jauh lebih lega.

***********************************

I could never say I love you
Never made you understand
I could only dream we were together
Silently pretend
I could never show my feeling
Never hold you in my arm
Ihow I just wish I never fallin in love
With my best friend girl
(My Best friend's girl by Caught In the Act)

Read previous post:  
233
points
(2872 words) posted by yosi_hsn 14 years 2 weeks ago
83.2143
Tags: Cerita | cinta | hubungan-sesama-jenis | keluarga | yosi
Read next post:  
Writer Arii_ciuut
Arii_ciuut at Allow me To Confess (10 years 33 weeks ago)
80

mantabbbsss... :D

Writer ivey
ivey at Allow me To Confess (12 years 41 weeks ago)
70

gmn low knytaAn yach!!!
wedew binun pstiNa
hub jrk jauh emg susah...

Writer shadow
shadow at Allow me To Confess (13 years 6 weeks ago)
70

Wew.. Pas awal-awalnya gw kira Dimas cewe, wakaka..

Writer Rijon
Rijon at Allow me To Confess (13 years 34 weeks ago)
90

WOOOOOOOOOOOO!!

Sama aku juga sempet binun, aku ini cewe apa cowo.....

TAPI KEREN KOK!!!!!! cc YOSI ebat2....

komentarin cerita saya ya ^^

Writer Uung
Uung at Allow me To Confess (13 years 41 weeks ago)
90

tadi sempet binun loh aku itu cowok atao cewek.. hehehe... kreatif bgt deh.. Huahahah

Writer fifi_ann_wong
fifi_ann_wong at Allow me To Confess (13 years 46 weeks ago)
70

Hmm..., sweet... yummy yum! Tapi kok diawal aja ya, Yoss... Ending nya rodho crunchy huehuehuehue... Waktu di awal aku merasa Djenar Maesa Ayu dari Purwokerto tengah mengurai kata tapi di tengah sampe ending (sorry) anjlok coba dieksplore lebih dalem kali ya, bu... Basicly dari skill elu bagus cuman sense dan taste dari tema musti diperluas kali ya... Let say seperti eksplorasi masalah gender trus juga sosek, dengan ketajaman kata dan wawasan sosial, aku yakin Yosi bisa jauuuuuuuuh lebih bagus. Go..go... Be the next Djenar!!!

Writer novbrian
novbrian at Allow me To Confess (13 years 47 weeks ago)
70

lumayan sih.. kirain bakal panjang.. kirain apa.. hehehehe.. bagus.

Writer Qintha Djais
Qintha Djais at Allow me To Confess (13 years 49 weeks ago)
70

bagus nih! awal sampe tengah bikin mayan deg2an.. tapi tengah ke bawah agak hambar, (sok tau deh gw!! *toyor*)

dadun at Allow me To Confess (13 years 49 weeks ago)
90

mbaaak....
awalnya diriku binun sangadh...

yap, Dimas ini terlalu sensitif sebagai seorang laki-laki -haiiyyah, gue gak nyadar diri-

ibarat hidangan, di sini tersaji berbagai rassa... rassa dan rasaaaa.... tertumpah ruah,terutama getirnya. lah, bitter-sweet kali yah

duh, emang gak salah dah diriku ngefans kepadamu^^

*btw, emailnya ditunggu selalu^_^

Writer on3th1ng
on3th1ng at Allow me To Confess (13 years 49 weeks ago)
90

secara keseluruhan ok..
good work!

Writer moesafeer
moesafeer at Allow me To Confess (13 years 50 weeks ago)
100

Sama kayak yg laen, pertama baca, aku sempet ketifu. Kirain tokoh utamanya cewek, eh ternyata cowok. :D
But, ceritanya menarik, terasa mengalir dan enak dibaca. Konfliknya terasa. Mungkin klo tokoh utama ini lebih dikupas lagi, kayaknya akan lebih menarik. :D

Writer sefry_chairil
sefry_chairil at Allow me To Confess (13 years 51 weeks ago)
90

ini menarik bgt lho..
nice story...^^

Writer dhewy_re
dhewy_re at Allow me To Confess (13 years 51 weeks ago)
90

kasihan banget si Dimas ya!!!
dia cuma bisa menjaga tanpa bisa memiliki, kayak penggembala

Writer Villam
Villam at Allow me To Confess (13 years 51 weeks ago)
100

yosi, kau memang favoritku.
tapi sama kayak wehahaha, awalnya rada bingung juga sih, tokoh 'aku' ini cowok atau cewek. karena... hihihi... 'aku' ini kayaknya memang pria yang sensitif melebihi biasanya...

Writer Nanasa
Nanasa at Allow me To Confess (13 years 51 weeks ago)
100

sepuluh buat yang ini.
Konflik yg menarik, penyampaiannya enak, n ending yang bagus.

Nice, Sist :)

Writer siska soraya
siska soraya at Allow me To Confess (13 years 51 weeks ago)
80

sebuah pengakuan. hmmm. suka cara berceritanya...

Writer wehahaha
wehahaha at Allow me To Confess (13 years 51 weeks ago)
80

Di bagian awalnya agak ambigu. Gua pikir karakter utamanya itu cewe. Taunya.... Hehe. Tapi lumayan lah. Sayang bagian akhirnya ngegantung...

Writer Tedjo
Tedjo at Allow me To Confess (13 years 51 weeks ago)
80

genre kemudian dot com banget..kayak saya yang mulai sedikit ketularan pada cerpen saya terakhir, aduh-aduh...tapi jadinya romantic ya kaya K.com lah..*halah

Writer adrian.achyar
adrian.achyar at Allow me To Confess (13 years 51 weeks ago)
80

Moodnya terasa banget loh, mba! Bagus!

Guys, please read my poems & stories at K.com ^_^