Menanti Maafmu

Malam ini rembulan tidak seterang malam-malam sebelumnya. Sinarnya yang putih tidak seputih kapur sirih. Bulatnya yang bundar tidak sebulat globe. Kini ia menjadi sabit. Sinarnya layu digeluti oleh gumpalan-gumpalan awan hitam. Bulatnya kian kikis dijilati tajamnya pedang-pedang malam.

Di pojok kamar yang gelap, Adit terpesona menyaksikan pijar bintang-gemintang yang berkilau di angkasa. Sinarnya teduh membawa kesejukan yang terdalam. Walau suasananya yang kelam, tapi pijar bintang itu mampu mewarnai kegelapan malam. Mengitari rembulan yang diselimuti awan.

Ketika lagi asik menikmati panorama langit, tiba-tiba pesawat telpon di ruang tamu berbunyi. Dia tersentak. Dalam benaknya, bunyi pesawat telpon itu terasa bising sekali. Mengganggu konsentrasinya menguraikan bahasa malam.

Lalu dengan spontan dia berucap.

“Ah, siapa sih malam-malam begini nelpon. Dasar...” Umpatnya.

Kemudian dia beranjak menuju ruangan depan. Sesampainya di sana, dia langsung mengangkat gagang telpon, dan suara dalam telpon itu langsung berucap salam.

“Assalamu ‘Alaikum...”

“Salam.” Jawab Adit dengan ketus.

“Aditnya ada ya mas?” Tanya orang itu.

Dia terkejut, ketika orang tersebut menanyakan dirinya. Karena suara itu tidak asing lagi baginya. Dia hafal betul siapa yang punya suara itu. Akhirnya, dia jadi salah tingkah telah menjawab salamnya dengan nada yang tidak bersahabat.

Awalnya Adit merasa terganggu dengan bunyi telpon itu, tetapi setelah dia tahu kalau yang nelpon adalah orang yang disayang. Maka rasa bersalah pun menetes membasahi relung hatinya. Mulutnya tertutup rapat. Nafasnya naik turun. Sekarang dia hanya terdiam menyesalahi sikapnya itu. Diam, dan bisu.

Namun, tiba-tiba orang itu bertanya lagi.

“Eh, kok diam. Jawab dong mas. Aditnya ada apa gak?” Orang tersebut bertanya sekali lagi.

Mendengar pertanyaan dari orang yang disayang. Adit langsung mengatakan, bahwa dirinya adalah orang yang kau butuhkan. Kemudian percakapan di antara keduanya berjalan begitu indahnya. Seindah bulan sabit diapit bintang-bintang kejora.

Di akhir perbincangannya dengan sang juwita, ternyata bukan kebahagian yang dia dapatkan, malah perbincangan itu membawa ketidaktenangan batinnya. Bagaimana tidak, gadis yang selama ini dia sayang ternyata masih belum bisa memaafkan atas kekhilafannya tempo hari.

Di waktu itu, dia pernah berjanji pada Lita untuk menghadiri acara OPABA yang diadakan oleh NU. Bahkan formulir telah dipesan jauh hari sebelum acara dilaksanakan. Tapi tidak tahunya ketika pas acara mau dimulai, takdir malah bersabda lain.

Hanya kata maaf itulah yang disampaikan pada Lita. Bahwa dirinya tidak bisa menghadiri acara tersebut. Namun Lita tetap tidak mau menerimanya begitu saja. Sejuta alasan pun dia coba utarakan kembali, agar Si Lita bisa mempercayai. Tetapi tetap saja hasilnya nihil.

Karena ketidakpuasan itulah, Lita menjadi marah. Ia enggan untuk percaya lagi pada Adit. Sebab janji-janji yang selalu diucapkan, tidak pernah ditepati. Adanya hanya alasan yang tak pasti.

Mungkin dari kejadian itulah yang membuat pikiran Adit tidak bisa tenang. Alur pikirannya jadi kacau balau. Kesehari-hariannya lebih banyak dilewati di dalam rumah. Bahkan keluar kamar pun dia enggan untuk beranjak. Sepanjang waktu dia terus mengurung diri di dalam kamar. Sampai sekarang batinnya masih terombang-ambing oleh kesalahan-kesalahan yang sering dilakukannya.

Untung saja di malam kedua, tepatnya malam minggu. Lita nelpon lagi, dan ia berjanji akan memberi kata maaf jikalau Adit tidak mengulang kembali tindakan-tindakannya yang tidak pernah dipertanggung jawabkan.

Kemudian, percakapan itu terdengar syahdu mengisi malam yang kian kelam.

“Jadi kamu mau menerima maafku Lit?” Tanyanya penuh harap.

“Aku akan menerima kata maafmu, jika di acara Sinematografi dan Sastra di Sekretariat NU kamu hadir. Dengan catatan: Kamu harus menghadiri kedua-duanya. Tapi kalau kamu hanya datang sebagian saja, maka maafku padamu hanya separuh bulan malam ini.” Jelasnya dengan panjang lebar.

“Kok bisa gitu Lit?” Keningnya pun ikut berkerut.

“Ya, iyalah. Ini sebagai jawaban atas ketidakhadiranmu waktu acara OPABA NU.”

“Lit, apakah tidak ada cara lain untuk kudapatkan kata maafmu. Begitu besarkah salahku padamu, hanya lantaran tidak menghadiri acara OPABA NU?” Kembali suara Adit bertanya.

“Jelas. Karena salahmu itu adalah janjimu sendiri yang tidak pernah kamu tepati. Dan kamu pun tahu, bahwa yang namanya janji itu harus ditepati. Jika mengingkarinya, maka dosa hukumnya.” Kali ini Lita bicaranya meledak-ledak. Sebelum-sebelumnya, ia tidak pernah berbicara setajam ini.

Adit jadi salah tingkah lagi karena telah bertanya sebodoh itu. Sekarang dia hanya bisa diam dan bisu seperti tadi.

Tapi sebentar kemudian, panggilan suara Lita menyentakkan kebisuannya. Dia pun mendengarkan dengan seksama.

“Dit, kok diam lagi sih. Kalau emang gak mau hadir bilang saja terus terang. Aku tahu, waktumu memang tidak akan pernah ada untuk diriku. Aku merasa itu!” Kini suara Lita kedengaran melemas.

Mendengar ungkapan itu, Adit langsung memberanikan diri berucap dengan mantap.

“Lit, aku akan menghadiri acara itu. Janjiku kali ini adalah pasti, bukan basa-basi.”

Setelah mendengar ungkapan itu Lita tersenyum. Dan ia pun berkata dengan manis.

“Kalau begitu makasih ya Dit, berarti sepenuhnya rembulan bakal menjadi milikmu.” Ucapnya dengan nada gembira. Adit pun senang mendengarkannya.

Dengan raut muka yang ceria, Adit bersabda: “Aku akan selalu menanti maafmu, duhai kekasihku...”

Setelah berkata seperti itu, Adit terpaku menunggu jawaban dari Lita.

Tapi kali ini, Lita yang terdiam dan membisu.

Hanya desah nafasnya yang diburu angin malam. Sepertinya malam ini ia tersipu malu mendengarkan ungkapan Adit yang mesra itu. Terbukti, ia tidak berkata apa-apa lagi selain menutup gagang telponnya tanpa pamitan.

Malam pun berlalu dengan riangnya...

Rabea El-Adawea, 21 Februari 2007

NB: Coretan kecil ini terlahir karena adanya perempuan bertudung senja. Di auranya, bias janjiku terpatri untuk mendapatkan rembulan seutuhnya. Bukan separoh sabitnya.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Susy Ayoe
Susy Ayoe at Menanti Maafmu (15 years 10 weeks ago)
80

NB: Coretan kecil ini terlahir karena adanya perempuan bertudung senja. Di auranya, bias janjiku terpatri untuk mendapatkan rembulan seutuhnya. Bukan separoh sabitnya.

(suka banget yang ini)

dadun at Menanti Maafmu (15 years 12 weeks ago)
60

duh, puitis sekali!!!

Untuk "pamer" kepuitisan, cerita ini memang T-O-P-B-G-T. jadi bisa "menutupi" ke-miniman ceritanya.

Writer imoets
imoets at Menanti Maafmu (15 years 13 weeks ago)
50

kok banyak kata2 yang menurut gue tidak cocok dan terlalu berlebihan yah.. salah satunya seperti kata anty, kata "sabda".kalo disesuaikan dengan bahasa lain, perumpamaan yang ada membuat kalimat terkadang menjadi timpang...

Writer anty
anty at Menanti Maafmu (15 years 13 weeks ago)
70

"Dengan raut muka yang ceria, Adit bersabda: “Aku akan selalu menanti maafmu, duhai kekasihku..." kata : sabda, setahu saya hanya digunakan untuk Nabi atau Rasul

Writer raie
raie at Menanti Maafmu (15 years 13 weeks ago)
50

n nggak mengigit. aku suka paragraf awal nya. dah masuk ke percakapan...byar buyar.

Writer julie
julie at Menanti Maafmu (15 years 14 weeks ago)
60

Wafie, aku ngerasa ada yang kurang dari cerita ini tapi aku nggak tau di sebelah mana. hehehhe sorry asal ya komennya. masalah kecil (cuma karena ngga bisa datang ke acara OPABA) si Lita bisa ngambek ngga berkesudahan, kesannya kok masalah yang sangat besar gitu.
btw, OPABA itu apa ya?

Writer Orin_Torayuki.com
Orin_Torayuki.com at Menanti Maafmu (15 years 14 weeks ago)
50

aku bukannya ngga setuju dengan gaya bahasa yang kamu pake. tapi, apa ngga boros namanya? aku edit penggalan 1 paragrafnya ya!
Bunyi telpon itu sangat mengganggu. namun rasa bersalah pun menghampiri relung hatinya. Bibirnya terkatup rapat. Nafasnya tercekat. Kini dia hanya terdiam menyesali sikapnya. Diam membisu tanpa suara. Yang terdengar hanya detak jantungnya yang kian melemah.
he he he. maaf ya kalau aku edit seenaknya. ya begitu d gaya bahasaku. to the point aja. blak-blakan. ngga perlu bertele-tele. makanya karyaku ditolak terus. :P

Writer Super x
Super x at Menanti Maafmu (15 years 15 weeks ago)
80

romantis ni ye

Writer Ayo_e
Ayo_e at Menanti Maafmu (15 years 15 weeks ago)
100

Ihhh ... gue suka banget sama semua gaya bahasa elo, keren.

Writer KD
KD at Menanti Maafmu (15 years 15 weeks ago)
100

siip

Writer june18
june18 at Menanti Maafmu (15 years 15 weeks ago)
50

kisah cinta ABG ya?
sepertinya kisah nyata juga ^^

=====

"pesawat telpon"
agak aneh bacanya...waktu baca kata pertama "pesawat", pikiran uda terlanjur membayangkan benda terbang...hehehe...

Writer FrenZy
FrenZy at Menanti Maafmu (15 years 15 weeks ago)
60

aku mau bilang bagus.. tp sebenernya bahasanya yang bagus. dari dialognya, menurutku terlalu gombal.. hehehe. dari settingnya yang ingin dibuat romantis dan berbahasa indah, namun dialognya tiba-tiba khas remaja yang cenderung menggombal. dan ngambeknya Lita aku agak sulit mengerti.. sepertinya belum terbentuk hubungan kekasih yang dekat antara kedua karakter. masalah yang diangkat simpel, namun dibuat berbelit. hehehe maaf ya komennya jadi banyak. but i think i like the beginning a whole lot better than the rest.. btw no offense :) ini cerita pribadi beneran yah?

Writer fortherose
fortherose at Menanti Maafmu (15 years 15 weeks ago)
50

bagus... romantis

Writer diye_wima
diye_wima at Menanti Maafmu (15 years 15 weeks ago)
70

wow!!!
keren romantis sekaleeeeeeeeeeeee
ala remaja!!
teruskan dan kembangkan ide cerita nya!

Writer eagle2401
eagle2401 at Menanti Maafmu (15 years 15 weeks ago)
70

Romantis ala remaja

Writer punk5
punk5 at Menanti Maafmu (15 years 15 weeks ago)
60

mas wafie..6 aja yaa...rata2 cerpennya pengalaman pribadi yaa...ok dee kk!

Writer wafie
wafie at Menanti Maafmu (15 years 15 weeks ago)
20

Buat teman2 yang udah pada ngasik komen, makasih banget... Karena dengan adanya komen kalianlah, maka cerpen ini sekarang dalam tahap penyempurnaan. Komen kalian adalah barang berharga bagiku.
Sekali lagi, makasih yach...
Eiiit, untuk yang masih lum memberikan seutas pesan dan kesannya, aku tunggu gitu loch!!!
Waiting 4-ever...
***
{Salam Pyramida}