Cinta Platonik

Malam itu hujan turun dengan derasnya, dan dinginnya seakan menciptakan suasana yang memang sedang tidak bersahabat.
Dipojokan rumah makan yang bernuansa rumah joglo, diiringi alunan musik dari ‘Tangga-Terbaik Untukmu’ seakan-akan menjadi musik latar kejadian malam itu.

“Aku…gak tau lagi mau bilang apa…” sambil terus menetes air mata Andien berkata terbata-bata “Aku masih sangat mencintaimu, tapi kenapa beraat sekali menjalaninya denganmu.” sambil terus terisak

“… “
Eggo hanya terus terdiam sambil menatap dan menanti kalimat dari Andien berikutnya. Keputusan Andien untuk mengakhiri hubungan mereka benar-benar seperti sebilah pisau yang langsung ditancapkan tepat ke jantung Eggo, yang membuatnya berhenti sesaat dan seakan menyulitkannya untuk bernafas.

Sebelumnya Eggo sudah mencoba untuk membujuk Andien mengubah keputusannya, ‘kenapa begitu mendadak…’ hal itu terus berkecamuk di benak Eggo.
Disatu pihak dia berharap Andien memberinya kesempatan, toh… baru malam itu dia mengetahui semua keberatan-keberatan Andien terhadap dirinya

Andien sebagai mahasiswa program magister di jurusan Hukum sebenarnya bukan karakter yang tertutup, tetapi entah mengapa bersama Eggo, seakan-akan saat dia keberatan dengan kelakuan Eggo sulit sekali untuknya mengutarakan itu semua., sulit sekali baginya untuk marah dengan lepas yang ada hanya emosi dan harapan-harapan yang disimpan yang tanpa sepertinya menjadi bom waktu, dan malam inilah Andien sudah tidak lagi dapat menahannya melanjutkan hubungannya dengan Eggo seperti sebuah beban berat yang harus dilaluinya.

“Sudahlah Go, kalo aja ada sedikit perasaan, bukan hanya sekedar menjalani mungkin masih bisa terselamatkan hubungan ini.”
“…” Eggo masih saja terdiam tanpa ekspresi.
“Go, katakan sesuatu, katakan Kau mencintaiku dan gak mau putus dariku...jangan hanya diam tanpa ekspresi, apa yang ada di hatimu?dan apa yang kaupikirkan? apa benar Kau gak pernah mencintaiku?apa benar Kau hanya menjalani ini hanya karena terbiasa? kenapa Kau gak pernah mempertahankanku? Aku gak mau putus Go...”
Hal itu terus berkecamuk dipikiran Andien, hanya tersendat di ujung lidah saat mau diutarakan... terhalang harga diri, dan Gengsi, selama ini pikirannya terintimidasi oleh perasaan cukup sudah yang kulakukan untuk Eggo, Aku mau lihat upayanya mempertahankanku

“Aku mencintaimu dien, andai saja kamu tahu... betapa aku ingin mengatakan itu hanya aku gak tau bagaimana mengatakannya, gak tau bagaimana mengekspresikannya...jangan pergi Dien..” Hal itu yang ingin Eggo katakan tetapi dia tidak terbiasa dengan hal itu, sebesar apapun cintanya dia tidak mengerti bagaimana membuat Andien mengerti. Entah mengapa semua yang dianggapnya sebagai usaha terbaik untuk Andien, hanya membuat Andien marah...segala sesuatu yang sudah direncanakan dengan baik saat ditampilkan hanya berakibat salah paham, bagi Eggo sulit sekali mengerti maunya Andien.

Dari semua yang ada di hati dan dipikirannya akhirnya keluar juga kata-kata dari mulut Eggo
”Baiklah, kalau memang itu yang terbaik menurutmu...okay kita berteman saja”
”Baiklah...aku setuju!” Balas Andien...bukan sesuatu yang dia harapkan tetapi...mungkin ini yang terbaik toh pacaranpun sudah saling menyakiti pikirnya, setidaknya ada suatu langkah yang harus diambil.

Setelah malam itu kehidupan mereka tidak menjadi lebih baik, kenangan dan perasaan yang masih amat besar diantara mereka membuat mereka menjalani kehidupan masing-masing dengan berat, walaupun tidak seberat saat mereka masih bersama.
Tidak seorangpun dari mereka yakin bahwa ini keputusan terbaik tetapi tidak seorangpun berani memulai untuk mengutarakan perasaan mereka sejujurnya.

Enam bulan berlalu masing-masing menjalani hidup dengan perasaan masing-masing, hubungan merekapun mulai semakin renggang tidak lagi ada kontak intense diantara mereka
Eggo dan Andien semakin tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Bagi Andien masih sulit mendefinisikan perasaannya dengan Eggo, masih sangat besar keinginannya untuk kembali, tetapi harga diri masih saja menghalangi niatnya untuk memulai.
Untuk Eggo sendiri baginya, dirinya hanya sudah menjadi beban bagi Andien, sebesar apapun keinginannya untuk kembali pada Andien, tetapi baginya lebih baik menjaga perasaan Andien tidak terluka, membuat Andien terluka adalah hal yang paling dibenci dari dirinya, karena apapun yang dia lakukan hanya akan melukai Andien.

Hingga tiba saatnya Andien mendapat kesempatan untuk melanjutkan penelitiannya mengenai Hukum sosial masyarakat di Leiden University di Belanda. Salah satu tempat impiannya untuk menyelesaikan studinya..

”Inilah mungkin kesempatan terakhirku melihat Eggo, mengetahui kabarnya sebelum aku pergi keluar, dan mungkin ini juga salah satu kesempatanku melupakan semua kenangan tentang Eggo dan maju menatap ke depan”
Go aku mau ke Belanda besok malam pukul 19 pesawatku berangkat, baik-baik saja kan kamu? aku harap baik-baik saja. Lama tidak mendengar kabarmu. Rencana kepergianku dipercepat.

Andien mengirimkan SMS untuk Eggo, setelah Eggo menerimanya kacau balau perasaan Eggo, setidaknya dia tidak menyangka secepat itu Andien pergi.rencana Andien studi lanjut di negeri kincir angin itu memang sudah lama diketahui Eggo, tapi bukan dalam waktu dekat ini. Eggo berharap dia masih punya 6 bulan lagi untuk kemudian mengumpulkan keberanian kembali mengontak Andien.

Setelah terdiam beberapa saat, Eggo memutuskan untuk menelepon Andien
”Dien, apa kabarmu?” suara Eggo kali ini sedikit bergetar
”Hi Go! kabarku baik-baik, Go akhirnya aku ke Belanda juga.” Andien senang sebenarnya menerima telepon Eggo. ”Terus kamu sendiri gimana?masih akan terus melawan Go?”

Hal ini juga merupakan salah satu keberatan terbesar Andien, keras kepala Eggo dan idealismenya sebagai wartawan lepas yang seringkali membuat tulisan pedas mengkritisi pemeritah yang ada sekarang ini. Tidak ada satupun surat kabar yang mau menerima Eggo sebagai wartawan tetap karena dianggap membahayakan surat kabar mereka. Bahkan karena ini tidak jarang Eggo mendapat ancaman dari orang-orang tidak dikenal. Tetapi karena Idealismenya tidak sudi Eggo menyerah begitu saja, menurutnya pemerintah semakin semena-mena karena sikap kita sebagai warga negara yang sering tidak acuh. Jika bagi sebagian orang pemerintahan sekarang lebih demokratis tidak seperti zaman Orba tapi bagi Eggo sama saja, kebebasan berekpresi masih ditekan.
Eggo sebenarnya Sarjana ilmu fisika murni, tetapi kecintaannya menulis idealismenya dan keinginannya yang besar melakukan sesuatu yang merubah paradigma masyarakat agar tidak dibodohi pemerintah membuatnya menolak beasiswa untuk studi lanjut ke Finlandia yang ditawarkan fakultas. Lebih baik melakukan sesuatu walaupun sedilkit daripada tidak melakukan apa-apa, berdiam diri dan bertumpang tangan.

”...” Eggo terdiam ”Kamu tau aku, sampai kapanpun aku gak akan pernah menyerah”
”Masih sama kamu seperti yang dulu ya...” sahut Andien dengan nada ceria berusaha menutupi isi hati yang sebenarnya ”Go...aku mengkhawatirkanmu”
”Ya... jadi kamu tetap pergi besok?Kalau begitu hati-hati sampai ketemu lagi”
”okay Go!Trims ya...”
”baiklah, bye...”
”Klik..” Eggo menutup telepon.
”Andien jangan pergi aku membutuhkanmu...kenapa aku gak bisa mengatakannya, aku gak mau menghalangi masa depanmu tapi aku membutuhkanmu...”
Tanpa disadari air mata Eggo menetes, rasanya terakhir kali dia meneteskan air matanya waktu SD kelas 5 ketika ayahnya meninggal, karena penyakit tipus...memang bukan penyakit yang berbahaya tetapi sebagai pegawai negri dengan gaji kecil, yang tidak mau korupsi, Ayah Eggo diasingkan dari Departemen Penerangan, yang sekarang sudah ditiadakan pemerintah, standar hidupnya hanya menengah ke bawah tidak sanggup berobat secara adekuat. Bahkan dana tunjangan buat ayahnya ditahan di departemen untuk kepentingan orang-orang tertentu yang ingin menyingkirkan ayahnya.

Eggo memang masih terlalu kecil untuk mengerti, tetapi untuk ukuran anak seusianya pikiran Eggo jauh di atas orang-orang seusianya saat itu, kecintaanya mengikuti berita dunia politik, dan sesekali mencuri dengar pembicaraan orang tuanya, karena memang rumah mereka yang kecil membuat tidak terlalu sulit bagi Eggo yang kamar tidur tepat disebelah kamar tidur orang tuanya untuk mendengarkan pembicaraan mereka sebelum tidur. Semua itu membuat Eggo bertekad untuk membongkar kebusukan pemerintah, tentu melalui media. Setidaknya masyarakat tidak dibodohi pikrinya.

”Eggo...Eggo kamu memang gak pernah butuh aku, atau mencintaiku. Maafkan aku tidak bisa mendampingi perjuanganmu... sekali saja Go kamu katakan mencintaiku sudah lebih cukup untukku merasa, Aku bukan hanya sebagai penolong fungsional untukmu tetapi kamu memang mencintaiku bukan hanya karena kamu butuh pendapat atau masukan dariku tentang tulisanmu. Aku mencintaimu go...aku ingin melihatmu sekali saja untuk terakhir kali”
”nt...nit...nit...”
Dengan bunyi dari gagang telepon yang masih menempel ditelinga, Andien hanya bisa meneteskan air mata menerima mungkin inilah mungkin percakapan terakhir mereka.. Sebenarnya dia masih ingin banyak bicara untuk melepas rindu. Tetapi itulah Eggo kadang terlalu kaku, terlalu dingin, dan terlalu misterius...pada awalnya hal ini yang membuat Andien tertarik, tetapi setelah menjalani hubungan hampir 4 tahun dengan Eggo semua itu menjadi hal yang paling buruk bagi Andien, membuatnya seringkali merasa tidak dibutuhkan, tidak dicintai dan merasa ditolak.

Keesokan harinya di Airport pk 18.30

Setelah selesai check in keberangkatannya Andien sempat berharap sebenarnya Eggo akan datang, walaupun dia tahu kecil kemungkinannya kemudian tidak lama dia menoleh keluar, tampak olehnya Pria tinggi, kurus, dengan rambut yang tidak tersisir rapi, tetapi kulitnya putih bersih masuk dengan tersenyum... dan senyum itu senyum yang tidak asing bahkan Andien hafal betul 4 kerutan matanya saat dia tersenyum. Tidak salah lagi itu Eggo
”Terima kasih Tuhan, akhirnya Kau izinkan aku bertemu dia untuk terakhir kalinya”
”Kamu datang,, Go!” Sambut Andien, dengan mata berbinar besar sekali keinginannya untuk memeluk Eggo tetapi dia berusaha menahannya
Eggo hanya mengangguk dan tersenyum
”Wah... gak nyangka aku, kalau kamu akan datang. Makasih ya.”
”Iya Dien, setidaknya mungkin kali ini terakhir aku bisa bertemu denganmu.”

”Panggilan bagi para penumpang SQ-618 airlines tujuan Amsterdam, Belanda diharap segera menuju gate 34”

”Go..itu panggilan untuk pesawatku, aku harus berangkat sekarang...aku senang kamu bisa datang...”
”Dien...kamu benar-benar akan pergi?”
”Iya Go, ini mimpiku dari kecil, kamu tahu itu”
”Kapan kamu kembali?”
”Entahlah 1-2 tahun lagi mungkin”
”Banyak yang bisa terjadi dalam 1-2 tahun pikir Eggo, apakah aku harus mengutarakannya sekarang?semua perasaanku?aku takut...”
”Dien...aku...bisakah...” Kata Eggo terbata-bata

Baru kali ini Andien mendapati Eggo terbata-bata. “Mau bilang apa Kau Go? Katakan saja, masihkah kau mencintaiku?” Hati Andien masih terus berharap

”Panggilan terakhir bagi para penumpang SQ-618 airlines tujuan Amsterdam, Belanda diharap segera menuju gate 34 segera”
”Go kamu mau bilang apa? aku harus segera pergi...” kata Andien terus berharap
”Ah Baiklah cepat pergi sebelum kau terlambat...Aku Cuma mau bilang hati-hati dan ini aku ada sesuatu untukmu.” Kata Eggo sambil memberikan bungkusan kecil berwarna hijau terang, warna kesukaan Andien.
”Oh.. baiklah, terimakasih kamu sudah datang..” Andien menghela nafas
”Benarkah hanya ini Go yang mau kau katakan...”

”Iya hati-hati dien...” Ujar Eggo lemah, dan mengutuki kebodohan dan kepengecutannya kenapa dirinya begitu sulit mengucapkan perasaanya sejujurnya

Kemudian Andien segera berlari menuju gerbang, melalui pintu kaca, seketika Eggo memiliki keberanian dia berteriak

”Andiennnnnnnnn....”
Andien menoleh tapi sambil berjalan di tangga berjalan
”Aku mencintaimu,,,,,”Teriak Eggo
Andien berusaha mengangkap apa yang dikatakan Eggo tetapi dia tidak bisa mendengar suara Eggo terkalahkan oleh hiruk pikuk di Airport
”Apa?” Ujar Andien dengan berharap Eggo bisa membaca mulutnya
”Aku Mencintaimu...” Ujar Eggo memperjelas bentuk mulutnya
Andien mengagguk tersenyum... ”Bilang apa si?” katanya dalam hati dia tidak dapat membaca mulut Eggo.

Dengan perasaan kecewa Andien menaiki pesawat, dan ketika tiba di tempat duduk, dia menghela nafas lega, lega karena akhirnya dia memiliki kesampatan dan tekad untuk melupakan Eggo dan segala kengangan tetapi kecewa karena tidak pernha tahu perasaan Eggo sebenarnya sampai terakhir kalinya.
Air mata Andien kembali menetes...kemudian Andien merogoh saku jaketnya tempat dia meletakkan kenang-kenangan pemberian Eggo. Perlahan Andien membuka bungkusnya hijaunya.
Senyum Andien kembali terburai lebar, tetapi air matanya semakin deras menetes melihat pemberian Eggo, sebuah liontin yang sudah lama dia ingin Eggo berikan tetapi tidak pernah Eggo penuhi walaupun Eggo tahu, karena menurutnya liontin hanya membuang-buang uang dan tidak ada gunanya, dengan kartu kecil bertuliskan

”Aku selalu mencintaimu...selamanya, maafkan Aku...Aku akan menantimu jika kamu masih bersedia memaafkanku”
cin

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer sefry_chairil
sefry_chairil at Cinta Platonik (12 years 45 weeks ago)
70

met kenal..^^
semua yang aku ingin katakan sudah dituturkan teman2 yang lain, tapi gpp, aku hanya ingin memberi sedikit saran untuk perbaikan struktur kalimat, boleh ya? :)

-->Hujan turun dengan derasnya, dan dinginnya menciptakan suasana yang memang sedang tidak bersahabat...

Bagaimana kalau menjadi:
--> Hujan turun dengan deras, dingin menciptakan suasana tidak bersahabat..

Hanya saran lho ya..
hehe.. :)

---------------
----
Ikutan KUIS TAHUN BARU yuuk, hadiahnya oke lho!, klik aja:
KUIS TAHUN BARU

Writer Alfare
Alfare at Cinta Platonik (12 years 46 weeks ago)
60

Mmmmmmmmm... Gimana ya? Betul-betul masih biasa.

Tapi tenanglah, aku percaya bisa lebih baik. Ha ha ha ha. (bingung mo ngomong apa lagi)

Sebetulnya aku kira akan ada pemfokusan pada keadaan cinta platoniknya, tapi... ya gpp deh.

Writer duatiga
duatiga at Cinta Platonik (12 years 46 weeks ago)

Trims yah buat semua kritikan dan komennya, setelah di baca ulang, aku juga aga terkejut koq bisa mirip AADC yah, hehehe...padahal pas mengarangnya gak kepikiran ke sana, hanya terinspirasi dari kisah seseorang, memang diceritakan dg lebih di dramatisir, tapi sekali lagi maaf ya kalo penyajiannya masih belepotan banget...still KEEP on WRITING GUYS!!

Writer artificial_inferno
artificial_inferno at Cinta Platonik (12 years 46 weeks ago)
60

isi cerita sama judulnya kayak pernah gw baca dimana gitu...

Writer hamdi ruby
hamdi ruby at Cinta Platonik (12 years 46 weeks ago)
50

daku suka sama judul dikau.
Tapi ga tau kenapa, kalimat pembukanya bikin daku ga mao nerusin baca cerpennya dikau...
sory...

Writer _aR_
_aR_ at Cinta Platonik (12 years 46 weeks ago)
70

jadi inget AADC..

dan kayaknya memang harus dirapihin lagi =D
-cara penulisannya...
-ejaan2annya...
-letak huruf kapitalnya supaya enakeun bacanya...

dan jalan ceritanya masih agak biasa...
but, untuk idenya sih udah bagus koq ;)

komen cerpenku juga yaaah:
teman PALING baik saya
cerita cinta orang ketiga

Writer miss worm
miss worm at Cinta Platonik (12 years 46 weeks ago)
40

banyak-banyak membaca karya yang bagus (buku yak, bukan karya di k.com), miliki KBBI dan buku panduan EYD, lalu teruslah menulis untuk memperbanyak jam terbang.

Writer abc
abc at Cinta Platonik (12 years 46 weeks ago)
80

udh bagus terlepas dari masalah penulisan sana sini.
tapi klo menurut saya, cerita ini masih bisa diperpanjang... malah mungkin semakin menarik, sebab mungkin akan muncul konflik2 selanjutnya dl kehidupan mereka, yg menjadi bumbu buat cerita ini.
sama seperti AADC