Januari dan Lelaki dari Laut

Aku jatuh cinta pada laut. Entah...yang pasti aku betah berlama-lama di laut. Memandangi debur ombak tak berkesudahan. Biru terbentang luas seolah tak berbatas. Jejak kaki tertinggalkan di hamparan pasir namun tersaput ombak hingga tak berbekas. Tapi tak ada laut yang memikatku sedemikian rupa seperti laut Timor Leste. Atau bukan laut yang memikatku untuk kembali, melainkan kau, lelaki dari laut?

Menderu ombakmu menabuh pantai
Kala tatap matamu sapa jiwaku
Membiru lautmu memeluk pasir
Kala harum nafasmu sebut namaku*

***

”Kapan kamu pergi?” tanya Nela, sahabat baikku sejak kuliah. Malam ini adalah malam terakhirku di Bandung. Besok aku akan ke Jakarta dan lusa aku akan terbang ke kota Dili.

”Lusa aku pergi.” jawabku sambil lalu sementara aku masih sibuk mengedit foto pre wedding pesanan salah seorang klienku. Nela sendiri asyik menjajah tempat tidurku dan membaca entah hanya membolak-balik halaman majalah fotografi milikku.

”Apa sih yang paling kamu suka dari tempat itu?”

”Laut.”

”Lalu?”

”Laut.” jawabku sekali lagi.

”Bukankah tak ada apa-apa lagi di sana?”

”Justru itu. Yang kucinta darinya adalah laut.”

”Oh...” Nela masih berusaha memahamiku yang rela menempuh perjalanan nyaris satu hari dengan pesawat terbang untuk dapat mencapai Dili. Kota yang sungguh jauh berbeda dengan Jakarta. Terik matahari membakar kulit, fasilitas umum yang terbatas, akses tranportasi umum yang tak karuan, hotel dengan kamar mirip kos-kosan, belum lagi harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi. Untuk Nela yang anak kota, tentu akan sulit memahami mengapa aku rela meninggalkan Jakarta dan segala kemudahannya untuk pergi jauh ke kota nun jauh di sana.

”Tidak ada alasan lain?” tanyanya penasaran. Aku menghela nafas panjang dan berbalik menatapnya.

”Jika ada, apakah hal itu akan membuatmu tenang?”

”Mungkin.” sahutnya sambil tersenyum penuh harap. ”Siapa tahu kamu diam-diam punya pangeran impian di dunia antah berantah sana hehehe....”

”Pangeran impian? Yang kutemui hanya lelaki dari laut.”

****
Aku jatuh cinta pada lelaki yang datang dari laut. Aku merindu merah yang membalut tubuhnya ketika matahari terbenam. Menyusuri pantai bersamanya. Menyaksikan bulan purnama penuh menggantung di antara langit dan laut. Aku rindu hangat peluknya di bawah nyiur melambai. Aku ingin menghirup aroma laut dari desah nafasnya dan mengecap garam di bibir lembutnya.

Menguning bulanmu mengetuk malam
Dan mesra jemarimu belai sukmaku
Membias bintangmu menghias nyiur
Dan hangatnya bibirmu kecup kalbuku*

***
Saat pertama melihatnya adalah ketika sosoknya tertangkap fokus kameraku, dan aku tak bisa berhenti memotretnya. Senyum begitu renyah. Mata bersinar cemerlang. Tubuh hitam terbakar matahari. Tak ada yang berlebihan dari dirinya. Sederhana namun sedap dipandang. Kaos putih dan celana pendek membalut tubuhnya. Rambut ikal diterpa angin laut. Dia berjalan perlahan menyusuri tepi pantai sambil bercanda dengan segerombolan anak kecil yang mengikuti setiap langkahnya menjejak pasir.

”Siapa dia?” tanyaku pada Flora. Mata Flora menjelajahi jarak pandangku dan tertuju pada pemuda itu.

”Oh dia...”jawabnya singkat.

”Kau kenal?” tanyaku lagi, sementara tanganku masih belum berhenti mengabadikan senyum, binar mata, tawa, matahari, dan laut yang bersama-sama membentuk fragmen indah.

”Hanya sedikit orang asing di sini yang tak kenal satu sama lain. Tentu aku kenal dia.” logat Timor sudah sedikit merasuk ke dalam gaya bicara temanku ini. Tak heran karena sudah hampir satu tahun dia bertugas sebagai pasukan perdamaian PBB di Timor Leste. Atas undangan dan jaminannya pula aku bisa berkunjung pada saat negara baru ini masih belum stabil. Flora adalah salah satu sahabat penaku di dunia cyber. Aku tertarik pada pengalaman dan foto-foto yang ia pampang di blog dan aku pun berkenalan dengannya. Persahabatan kami ternyata terus belanjut, tidak hanya diwarnai oleh obrolan mengenai fotografi, tapi juga diselingi oleh cerita tugasnya dan juga keseharianku sebagai freelance fotografer dan web designer.

”Mau kukenalkan padamu?” tanya Flora dengan sedikit nada jahil.

”Dia menyatu dengan laut.” sahutku tak mempedulikan godaan Flora.

”Marilah kukenalkan. Dia juga cinta laut. Seperti kau.”

Lalu aku pun bertemu dengan lelaki yang juga mencinta laut.

****
”Kenapa sih kamu pergi pas tahun baru? Kenapa gak tahun baru-an di Bandung? Tahun baru lalu kan kamu sudah tahun baruan di Timor sana.” Nela sudah berulang kali membujukku untuk mengubah jadwal penerbanganku. Dia hendak mengajakku menghabiskan akhir tahun ini di Bandung kemudian melanjutkan liburan ke Jakarta. Tapi aku bersikeras tak mau mengubahnya. Sudah terlalu lama aku berada di sini. Begitu penat dan sesak. Aku rindu laut. Aku rindu lelaki dari lautku.

”Kamu kan tahu aku tak suka keramaian.”

”Kita bisa pergi ke kuburan kalau kamu mau.” selorohnya jahil.

”Ngaco. Aku malas berdesakan dengan orang hanya untuk bersenang-senang di akhir tahun.”

”Lalu di sana tidak akan ada keramaian?”

”Hanya laut. Dan lelaki dari laut.”

”Kenapa harus tahun baru?” tanya Nela bersikeras.

”Karena aku ingin memulai lembaran baru.”

***
Laut menyatu dengan dirinya, maka tak heran jika aku pun melebur ke dalam pesonanya. Valen, lelaki dari lautku. Semenjak lensa kameraku menangkap dirinya, maka sejak itu juga hatiku terjerat. Laut telah bawakan dia kepadaku.
Perkenalan di tepi laut itu pun menjadi awal dari pertemuan-pertemuan berikutnya. Tugasnya sebagai fasilitator pendidikan sebuah LSM internasional untuk perlindungan dan pendidikan anak membawanya datang ke Timor Leste. Pernah aku bertanya mengapa dia memilih bertugas di Timor, dan dia hanya berkata dia jatuh cinta pada laut Timor. Alasan yang sama yang membuatku datang ke Timor.

Entah, terasa ada sesuatu yang berbeda dengan laut Timor. Mungkin bentangan samudra yang masih perawan telah memikatku. Pantai Timor masihlah segar dan alami. Tanpa terlalu banyak campur tangan manusia. Hanya perahu tradisional tertambat di dermaga, bukan kapal pesiar mewah atau kapal hiburan laut. Tak sampai 3 meter menyelam, hamparan karang dan koral laut beraneka warna sudah menyambut. Pasir putih dan lembut, hangat oleh sinar matahari. Ombak menderu bersahutan namun arusnya cukup kuat sehingga agak menyesatkan bagi orang yang ingin berenang. Langit bersih dan begitu biru ketika siang. Merah matahari senja pun terasa begitu merah merasuk ke dalam kalbu, tak sekedar indah namun juga syahdu. Bulan tampak begitu dekat di sini. Seolah bisa kupetik dan kubawa pulang.

Setiap sore Valen datang ke desa di tepi pantai dan mengajar baca tulis ke anak-anak nelayan. Aku akan menunggu dia datang ke pantai bersama anak-anak asuhannya. Lalu setelah selesai mengajar, kami bercengkrama di tepi pantai menunggu matahari terbenam. Pengetahuannya yang luas, kebaikan hatinya, kecintaannya pada laut, bahkan sifat pelupanya menjadi semakin akrab bagiku. Kadang Flora dan teman-temannya ikut bergabung bersama kami. Tak terasa sudah hampir tiga bulan aku berada di sini. Jatuh cinta ternyata membuat waktu berlalu begitu cepat.

Tahun baru kali ini kulewatkan di Timor Leste, karena aku ingin melihat matahari pertama di tahun ini. Bukankah laut adalah asal mula kehidupan di bumi? Tentu tepat jika aku menyambut kehidupan baru di tepi laut. Walau tentu saja alasan utama mengapa aku menunda kepulanganku adalah dia, lelaki dari lautku.

“Aku mencintaimu.” ucapnya pelan ketika kami tengah duduk berdua di pasir, menanti matahari awal tahun. Aku terdiam. Tak tahu hendak berkata apa. Ketika tangannya perlahan menggenggam tanganku pun aku masih terdiam. Lalu lama kami terdiam, hening yang damai. Sementara perlahan matahari menduduki singasananya kembali. Menghias langit dengan semburat merah jingga. Pagi telah datang.

”Aku mencintaimu juga.” kataku perlahan. Valen hanya tersenyum dan menggenggam tanganku makin erat. Kami mencintai laut. Dan kami saling jatuh cinta.

Dua langit t’lah membaur
Di suatu cakrawala
Dua biduk t’lah berlabuh
Di satu dermaga cinta*

”Aku harus kembali akhir bulan ini.” aku berkata pelan sambil memandang lelaki yang kucintai. Valen terdiam menatapku dan kemudian dia tersenyum.

”Kembalilah kalau kau mau. Aku tetap di sini. Tugasku belum selesai.”

”Apakah kau akan menungguku?”

”Apakah kau akan kembali?”

”Ya.”

”Kalau begitu aku akan menunggu.”

Januari di kota dili
Kian hangat dalam ingatan
Nantikanlah aku kembali
Tuk menjemput cintamu*

***
”Lembaran baru untuk apa?” tanya Nela setelah mendengar kisah lelaki dari lautku.

”Untuk melanjutkan hidupku.”

”Apa si lelaki laut itu ada di dalamnya?”

***
Lusa aku akan kembali ke kota Dili. Menyambut tahun berganti di tepi laut. Pasang tentu akan menyapu sebagian besar pantai namun masih ada dataran agak tinggi tempat aku bisa duduk bersamanya merenungi tahun terlewati. Menunggu bulan sampai pada titik tertingginya. Terdiam menjelang matahari pertama di tahun baru. Matahari awal tahun kedua yang kulihat di laut Timor. Awal dari sebuah kehidupan baru. Memberikan dia kecupan pertama di tahun ini. Lalu setelah itu mungkin aku dapat menatap matanya dan mengucapkan selamat tinggal.

Januari di kota dili
Tak terkira cinta bersemi
Januari lekas berganti
Dan terhempas cintaku

***
”Tidak.”

”Kenapa? Bukannya kamu cinta dia?”

”Aku mencintainya.”

”Tapi?”

”Tapi ada yang lebih mencintainya.”

***
Biarlah layar terkembang
Ku ingin menyeberang
Melintas pulau dan lautan
Menjemput cintaku
Belahan jiwa yang tertinggal
Di Timor loro sae*

Aku mencintai laut. Aku mencintai dia.
Aku datang kembali pada laut yang membawanya.
Menapak tahun baru dalam pelukannya.
Untuk terakhir kali.

***
”Selama ini kamu tahu?”

”Ya. Tapi berusaha mengingkarinya. Sampai nuraniku berteriak.”

”Lalu sekarang?”

”Aku pergi. Mengawali hidupku sendiri.”

***
Maka biarkanlah aku kembali mencinta laut.
Tanpa mencintainya lagi.
Dan kumulai hidup baru.
Dengan belahan jiwa yang tertinggal.
Di Timor loro sae.*

______
* Januari di Kota Dili oleh Rita Effendi

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer senja_saujana
senja_saujana at Januari dan Lelaki dari Laut (13 years 16 weeks ago)
90

banget

Writer deal_or_no_deal
deal_or_no_deal at Januari dan Lelaki dari Laut (13 years 31 weeks ago)
70

mantab lah,,

hihiihihh...

males baca nya,,,

hahahahah :D

just kid

Writer cibo
cibo at Januari dan Lelaki dari Laut (13 years 36 weeks ago)
80

..Dia Lelaki Dari Laut, Saya Lelaki Dari Empang.. sama sama Itemnya dengan lelaki dari Loro Sae:P:))

Ending yang Bijaksana terpilih, tetap masih kekasih gelap.. heheheee

Writer codenameKEY
codenameKEY at Januari dan Lelaki dari Laut (13 years 37 weeks ago)
50

Wah!!!
kamu bakat yah bikin cerpen?
makasih nih jadi dapet inspirasi bwat nyatuin cerpen sama puisi dalam satu cerita, pasti keren!
makasih!!

Writer bluer
bluer at Januari dan Lelaki dari Laut (13 years 37 weeks ago)
80

noir ... tulisannya bagus dan lembut. masih noir yang romantis. hehehe

Writer my bro
my bro at Januari dan Lelaki dari Laut (13 years 37 weeks ago)
80

terbakar dan meleleh.. ^_^

Writer bl09on
bl09on at Januari dan Lelaki dari Laut (13 years 37 weeks ago)
90

aku suka bahasanya lembut tapi berkesan tegas...
cuman aku masih agak terganggu di bagian akhirnya kayaknya mulai berasa beda dari alur awal berasa di ulur ulur...
tapi ini sekedar penilaianku aja...

untuk puisinya keren banget...

Writer kevin.fernando85
kevin.fernando85 at Januari dan Lelaki dari Laut (13 years 37 weeks ago)
50

bagus, tapi panjang amatz ya -_-"

Writer sefry_chairil
sefry_chairil at Januari dan Lelaki dari Laut (13 years 37 weeks ago)
80

ada yang sedikit berubah, tapi tetep ciri khas noir.. heuheu..^^
yak, yak.. nice!
komen karyaku juga yaa..

Writer ya_deh
ya_deh at Januari dan Lelaki dari Laut (13 years 37 weeks ago)
80

bener bener bagus...semua alur mengalir begitu lancar hingga bacanya juga enak.aku pengen juga bisa nulis yang seperti ini.

Writer ranggamahesa
ranggamahesa at Januari dan Lelaki dari Laut (13 years 38 weeks ago)
80

Tiap kali baca tulisanmu..

Writer miss worm
miss worm at Januari dan Lelaki dari Laut (13 years 38 weeks ago)
60

prosa panjang ini lahir juga :D
eniwei, keknya masih perlu editing *bukan EYP* tapi bangunannya hehehe biar lebih menyatu, mengalir de el el *hayah, bisanya cuma komentar doang saya*

Writer sany_fren
sany_fren at Januari dan Lelaki dari Laut (13 years 38 weeks ago)
70

aku kira januari dan lelaki buaya laut...he he?judulnya keren koq walaupun aku gak abis bcny...lam kenal

Writer kukirasiapa
kukirasiapa at Januari dan Lelaki dari Laut (13 years 38 weeks ago)
80

saya suka gaya penyampaiannya yang tenang dan teratur..jadi terasa indah :)

Writer Tedjo
Tedjo at Januari dan Lelaki dari Laut (13 years 38 weeks ago)
80

Bagus..saya juga suka alurnya..meskipun konfliknya tidak cukup kuat dan tidak tergambar sejak awal..

Writer gheta
gheta at Januari dan Lelaki dari Laut (13 years 38 weeks ago)
80

akhirnya bikin cerpen utuh seutuh utuhnya..
bagus fan ngalir..
iya bener ak keganggu ama sapaan "gue-elo"
menuju ending cerita sepertinya kamu berusaha untuk memanjang manjangkan cerpen ini.
trus utk tema lautnya udah nyampe'

ayoo lagi lagi lagi..!!

*tpi aku lebih nikmati prosa2 pendekmu. hehehehe...

Writer vieajah
vieajah at Januari dan Lelaki dari Laut (13 years 38 weeks ago)
90

kaRna:
1. aku nikmatin banged setiap rinciannya..

2. peRubahan setting dan waktu'nya jelas. Jadi gag bikin aku pusing bacanya..

3. Puisinya.. haiiiyyaaaahh >.<

4. saLuT kaRna aKu bLom peRnah bisa namatin ceRpeN.. hohohoho...

wuiiihh.. mbak Fan La9i peRang sama dadun yeeehh..??
hohohohoho.. aYo smanGaaaaaTh... ^^

moJang-Bujang Bandung... ^^

Writer k4cruterz
k4cruterz at Januari dan Lelaki dari Laut (13 years 38 weeks ago)
80

cerita kali ini emang agak beda dari cerita2 elo yg udh pernah gue baca siy fan ... cukup lengkap dan deskripsinya sedikit lebih rinci .. bikin ceritanya bertutur dengan lebih alami

tapi penggunaan kata penunjuk "gue-elo" di bagian awal membuat kalimat percakapan dalam cerita ini berkesan kurang konsisten ... tapi mungkin gue salah

trus pembabakan dari cerita ini jg ada yg kurang pas (menurut gue) karena ada perpindahan latar yg agak kaget ... yg gue liat di bagian "Tahun baru ini ..." tapi mungkin juga gue salah

wokey deeeh daripada gue salah2 mulu mending kita sama2 lanjut ajah ... okay fay ...

-bukananakmarmutlagi-

Writer creativeway13th
creativeway13th at Januari dan Lelaki dari Laut (13 years 38 weeks ago)
90

panjang, indah, dan romantis.. tetep ciri khas noir banget^^

Writer vthree
vthree at Januari dan Lelaki dari Laut (13 years 38 weeks ago)
80

berat2 euy saingannya...jd agak ragu untuk menang voucher...hukz! Noir kereeeeen!!!

Writer kucing_betina
kucing_betina at Januari dan Lelaki dari Laut (13 years 38 weeks ago)
70

jeng noir..baru mau taun baruanye,*btw aku lebih suka tulisanmu yg ga panjang panjang..hehe

Writer cat
cat at Januari dan Lelaki dari Laut (13 years 38 weeks ago)
70

Putri Terompet

keren ...
tp g masih penasaran...
pengen tahu lebih dan lebih ..

Writer adrian.achyar
adrian.achyar at Januari dan Lelaki dari Laut (13 years 38 weeks ago)
80

baguuus baguuuus

But I like your original style better, though :D

Guys, please read my poems & stories at K.com ^_^

dadun at Januari dan Lelaki dari Laut (13 years 38 weeks ago)
80

...noir!!!! kau membuatku merasa ngedropppp... hahaha :D
*jengjengjeng.. genderang persaingan ditabuhkan
halah
hmmm, seperti biasa, ceritamu ini membuat saya melayang kemanamana, menikmati suguhan kata-kata, merasakan emosi gila, emosi rasa.... halah.
kerenkerenkeren.

Writer _aR_
_aR_ at Januari dan Lelaki dari Laut (13 years 38 weeks ago)
80

aR suka banget sama lagu ini...(meskipun waktu pertama kali mendengarnya aR gak ngerti karena masih SD :P)

dan ceritanya...
di bandung yg dingin ini, dapat terasa aroma laut begitu membaca cerpen ini (hadduh, berlebihan yah ?)

tapi, aR suka cerpen ini,,,
karena begitu mengalir dan terkesan banyak monolog ;)

dan satu lagi...
akhirnya yg menyedihkan...

baca cerpen2ku juga yah ;)
tolong komen cerita PALING baru saya

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Januari dan Lelaki dari Laut (13 years 38 weeks ago)
80

BTW ini setelah timor laste terpisah dari NKRI ya?