Untuk Lina, Sahabat Setia

Langit biru berubah abu-abu. Rintik gerimis menuruni langit dengan saru. Di balik kaca mobil, saya menatap rintiknya dengan miris. Pikir saya berusaha menepis ingatan tentang tangis. Namun malah, hati saya yang kian teriris.

“Kenapa murung, Ty ?”Om Danu bertanya heran.

“Ah, gak kenapa-kenapa koq, Om…”saya memaksakan tersenyum. Tapi perih hati tak mau paham. Laci kenangan pun membuka. Mengurai satu-satu cerita.
Cerita saya, cerita dia, cerita kita.

* * *

Namanya Lina. Dia satu-satunya anak yang mau menyapa saya di sekolahnya. Satu-satunya orang yang mau mengajak saya bicara. Ketika yang lainnya hanya menatap nyinyir lewat mata mereka. Lina menjadikan saya sebagai temannya.

“Jadi kamu pindah ke sini bersama orang tuamu ?”tanya Lina sewaktu jam istirahat tiba.

“Bukan, tapi hanya sama mama saya.”

“Ya, mama. Mama itu kan orang tua kamu juga. Lalu ke mana ayah kamu ?”tanyanya lagi.

Saya bingung menjawabnya kali ini. Karena kata mama, papa sudah mati. Tapi kemarin, sebelum pindah ke sini, saya melihat papa pergi dari rumah kami. Membawa koper besar yang berisi. Dan seorang perempuan yang dia sebut istri.

“Papa pergi sama istrinya.”sahutku lirih.

“Hee ? Istri papamu kan mamamu. Maksud kamu, papamu pergi sama istri mudanya ?”tak habis Lina bertanya. Saya makin bingung menyahutinya. Jadi saya diam saja. Saya pikir, untuk anak kelas lima SD, Lina terlalu banyak tahu.

“Jangan sedih, kan masih ada mama kamu. Aku juga hanya tinggal dengan nenekku. Dan sekarang, kita berteman, kamu gak akan sendirian.”Lina berkata sambil tersenyum.

* * *

Itu hampir lima belas tahun yang lalu. Saat saya dan Lina sama-sama masih lugu. Keluguan anak SD yang saya rindu. Saya menyandarkan kepala di bahu Om Danu. Membayangkan kalau saja papa tidak pergi bersama perempuan muda itu. Tentu saya dan mama tak akan pindah ke desa, dulu. Dan saya tak akan bertemu Lina sehingga cerita saya, cerita dia, cerita kami tak perlu tertulis dalam catatan waktu.

“Ada apa dengan kamu, Disty ? Kelihatannya hari ini kamu kurang sehat.”lagi-lagi Om Danu bertanya khawatir.

Om Danu sudah saya anggap sebagai ayah saya. Meski ia tak akan pernah bisa menggantikan papa. Dan entah juga dia menganggap saya apa, mungkin bukan sebagai anak perempuannya.

“Disty gak kenapa-kenapa koq, Om. Yakin. Disty cuma teringat seorang teman lama.”sahutku. Lalu dia membelai rambut saya. Dan lagi-lagi, saya membayangkan papa. Lelaki yang meninggalkan saya dan mama lima belas tahun lalu.

“Pasti dia teman yang sangat spesial buat kamu. Sampai-sampai wajahmu sesedih ini.”

“Sangat teramat spesial, dia sahabat masa kecil saya. Dia orang yang selalu membela saya, dulu. Dia orang yang selalu ada buat saya. Hanya saja, ternyata semua bisa berubah karena waktu.”

“Kamu mencintainya, ya ?”Om Danu berkata hati-hati. Saya hanya terkekeh pelan.

“Ya, jika dia lelaki pasti saya mencintainya, Om…”

* * *

Sayangnya, kebersamaan dengan Lina hanya bisa saya nikmati selama dua tahun kurang. Saat kelulusan SD, saya dan mama harus pindah lagi ke Bandung. Mama dapat pekerjaan yang lebih baik di sana. Tak hentinya Lina menangis ketika hari perpisahan kami tiba. Saya juga, karena saya tak pernah punya teman sebaik Lina di sekolah saya.

“Disty, aku janji… aku akan belajar yang rajin supaya bisa lulus SMP dengan nilai yang bagus. Jadi, SMA nanti aku bisa nyusul kamu sekolah di Bandung.”

Janji terakhir Lina adalah hal yang paling saya sesali. Saya menyesal karena mengiyakannya, menyetujui. Seharusnya Lina tak usah ke Bandung, biar saja dia di desanya. Tokh, lama-lama pun kenangan saya dan dia selama dua tahun itu akan terlupa.

Tiga tahun berlalu…
Saya menunggu, kapan Lina akan tiba. Namun nyatanya, sampai saat kenaikan kelas, Lina tak juga muncul. Saya sempat kecewa, saya pikir Lina sudah melupakan saya.

Lima tahun berlalu…
Saya sudah mulai lelah menunggu Lina. Saya mulai berhenti mencarinya ke setiap sudut kota. Saya berpikir untuk melupakannya seperti dia melupakan saya.

Tapi lalu, ada hari itu. Ketika saya mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru, saya melihat dia… Saya melihat Lina ! Tiba-tiba hati saya merasa begitu gembira. Seperti menemukan kembali sebagian jiwa saya.

* * *

Akhirnya saya menemukan Lina, sahabat lama. Namun, ini bukan akhirnya, justru ini baru awal dari cerita saya, cerita dia… cerita saya dan Lina.

Kami tumbuh bersama. Berbagi suka dan duka. Mengumpulkan banyak tawa dan airmata. Menjalinnya dalam cinta remaja yang penuh dilema. Dan sampai di sana, kami berhenti sejenak. Terlalu penat untuk membuat jejak. Sudah terlalu letih untuk mengumpulkan kepingan hati yang berserak.

Kata dia cinta adalah bahagia. Bagi saya cinta itu airmata. Menurutnya cinta itu permainan. Untuk saya, cinta adalah pengorbanan. Tapi, dia tak pernah keberatan dengan filosofi kami yang saling berbedaan.

Dia bilang berbeda itu indah. Namun saya pikir berbeda itu masalah. Masalah karena berbeda membuat celah. Celah yang membuat kami terbelah dan serba salah. Kegamangan yang terlalu gerah. Gerah karena membuat kami bimbang untuk saling mengalah.

- - -
4d1e5 : Namanya Adit…

Lyn : Dia kuliah di mana ?

Lama saya mengetik balasannya. Persahabatan saya dan Lina tidak lagi seperti dulu. Bukan jalan-jalan atau bermain bersama. Persahabatan kami hanya ngobrol, atau bertukar cerita lewat dunia maya. Hanya sebatas itu.

4d1e5 : Adit kuliah S2 di Jakarta. S1-nya di Australia

Lyn : Oh…

* * *

Namanya Adit, lelaki yang akan menjadi suami saya nanti. Saya harap dia tak seperti papa. Yang pergi meninggalkan saya dan mama untuk istri mudanya. Saya harap, Adit menjadi cinta impian saya. Karena saya tak punya cinta selain padanya. Tidak setelah papa mencampakkan mama. Hanya Adit yang bisa membuat saya jatuh hati.

Lina begitu gembira ketika saya mengenalkan Adit padanya. Lina bilang, Adit serasi dengan saya. Dia juga bilang, kelak dengan Adit-lah saya akan bahagia. Adit dapat membuat saya melupakan sakit hati tentang papa, katanya. Seolah Lina tahu apa yang saya rasa. Tentu saja, karena kepadanya saya selalu bercerita.

Tapi, lagi-lagi waktu mengubah semua yang dilewatinya. Mungkin begitu juga dengan cinta. Sebentar lagi waktu pertunangan kami tiba. Namun sepertinya Adit memendam sesuatu. Rahasia yang membuat hatinya kelabu. Rasa yang membuatnya sendu. Tapi, bahkan saya tak tahu apa itu.

“Aku sayang sama kamu, Ty…”

“Sama aku juga.”

“Tapi, aku gak mencintai kamu. Aku gak bisa bertunangan denganmu. Apalagi menikah…”kalimat terakhir diucapkan Adit dengan lirih.

Saya seakan mati rasa mendengar kata-katanya. Hati saya hancur remuk tak berbentuk, lagi-lagi saya kehilangan cinta. Rasanya saya ingin marah, saya merasa begitu terhina. Untuk apa cinta ? Jika menemukan hanya untuk kehilangan. Jika bercita-cita hanya untuk patah harapan. Saya sungguh ingin marah. Tapi siapa yang harus dipersalahkan atas semua ? Salahkah Adit karena tidak mencintai saya ? Salahkah saya karena berharap terlalu jauh ?

“Cinta tidak pernah salah dan tidak boleh disalahkan…”begitu selalu nasehat Lina pada saya.

Namun, saya miris melihat kenyataannya. Saya membuat mama kecewa. Saya membuat hati saya terluka. Dan sekarang saya hidup dalam semu cita-cita. Harapan indah yang saya dan Adit susun bersama. Semuanya hanya bisa jadi harapan belaka, tanpa menjelma menjadi nyata.

* * *

Tiga bulan sudah berlalu. Harapan semu mulai terkubur waktu. Saya tak memikirkan Adit seperti dulu. Meski saya akui, saya masih mengharapnya. Tak dapat dipungkiri kalau saya masih mencintainya. Tapi tokh-katanya-, waktu menyembuhkan luka.

Berbalikkan dengan keadaan saya. Lina sedang sangat bahagia. Dia bercerita membagi tawanya. Katanya, ada seorang pria melamarnya. Saya tersenyum dalam kemirisan hati saya. Semoga kamu bahagia, begitu ucap saya. Lalu kami janjian bertemu. Lina bilang dia ingin mengenalkan calon suaminya lebih dulu. Saya penasaran, sebab namanya tak dia sebutkan. Katanya, biar menjadi kejutan.

Kejutan dari Lina adalah kejutan yang paling manis. Sekaligus paling miris dan membuat hati saya teriris. Manis, karena saya tahu lelaki itu pasti akan membuat Lina bahagia dari masa kecilnya yang tak punya keluarga (Lina hanya tinggal dengan neneknya). Miris, karena ternyata lelaki itu pernah saya miliki senyumnya, pernah saya miliki hatinya, pernah untuk saya cinta yang dia punya. Dan hati saya kian teriris ketika berjabat tangan dengan lelaki kesayangan Lina.

“Adit…” saya terperangah melihatnya di sini, bersama Lina. Namun, lalu saya menahan hati saya. Mencoba tersenyum setulus yang saya bisa. Dengan cinta yang porak poranda dalam hati saya, dengan harapan yang tergilas tanpa sisa. Oleh dia, oleh Lina.

Saya mengerti mengapa Lina berkata, cinta tak pernah salah dan tidak boleh disalahkan. Saya mengerti mengapa Adit memilih Lina, karena memang saya tak sesempurna Lina. Yang begitu tulus hati pada semua. Yang dalam masa kecilnya tak ada kisah ditinggalkan papa karena istri mudanya. Yang tak pernah menyalahkan cinta karena dulu Adit pernah bersama saya.

* * *

“Rokok ?”tawar Om Danu pada saya. Saya hanya menggelengkan kepala. Enggan dengan asapnya yang dapat membuat saya sedikit lega. Saya tidak ingin lega, saya ingin papa. Saya ingin memiliki papa, lima belas tahun yang lalu.

“Ke mana kita, Om ?”saya bertanya heran. Ini bukan rute jalan yang biasa kami lewati. Om Danu hanya menatap saya dengan senyuman yang penuh arti. Tapi, saya tak mengerti.

“Kita ke rumah Om, ya…”jelasnya. Saya diam saja, berusaha menuruti apa yang diingininya. Karena selama ini Om Danu telah banyak berbuat baik pada saya. Menghidupi saya dan mama yang tak punya apa-apa. Menyekolahkan saya sampai S2.

Kami sampai di depan rumah sangat megah. Yang terlihat sangat indah. Tapi, rasanya hampa. Mungkin tak ada cinta di sana. Dan saya berpikir, mungkin karena itu pula papa pergi, dulu. Karena tak ada lagi cinta yang dapat membuat papa dan mama satu. Dan itu mungkin hal itu juga yang membuat Adit berlalu.

* * *

Lina terkejut melihat kehadiran saya. Saya pun tak kalah kagetnya, tapi seperti yang saya lakukan saat Lina membawa Adit, saya hanya tersenyum dengan hati penuh tanya.

“Pa..pp..papa…?”Lina berkata dengan terbata. Dan saya mengerti akhirnya, saya ini siapa.

Om Danu tak menggubris Lina dengan berarti. Hanya sepatah-dua patah kata di antara sunyi. Lalu, Om Danu masuk ke kamarnya –saya rasa-. Berbicara dengan seseorang di sana. Keras dan dengan nada tinggi semua. Kemudian Om Danu keluar dengan membawa satu koper besar berisi. Menggandeng tangan saya dan menyebut saya istri.

* * *

Bandung, 27 Desember 2007 @ 7:06 AM
(catatan abu-abu)

#P.S... makasih buat saskia(tmn SMP, tmn FS) atas buletin boardnya yang banget2 menginspirasi ide cerita pendek ini(selain MELINA)

Read previous post:  
63
points
(1244 words) posted by _aR_ 12 years 48 weeks ago
70
Tags: Cerita | cinta | bandung | untuk mereka
Read next post:  
Writer ojie
ojie at Untuk Lina, Sahabat Setia (11 years 11 weeks ago)
50

bagus saya suka dgn kata2nya

Writer ipenk project
ipenk project at Untuk Lina, Sahabat Setia (11 years 37 weeks ago)
90

Kepandaianmu bertutur dengan -saya dan aku- bikin aku kagum.

Emosi yang kamu bawa juga menggelembung...

=9, cukup buatmu ! :)

Writer _aR_
_aR_ at Untuk Lina, Sahabat Setia (11 years 17 weeks ago)

ipenk project wrote:
Kepandaianmu bertutur dengan -saya dan aku- bikin aku kagum.

Emosi yang kamu bawa juga menggelembung...

=9, cukup buatmu ! :)

tunggu yah cerpen hadiahnya ;)

Writer _aR_
_aR_ at Untuk Lina, Sahabat Setia (11 years 37 weeks ago)
100

thanks buat semua yg udah komen.
dan Melina sebagai inspirasi utama :D

Writer mtop666
mtop666 at Untuk Lina, Sahabat Setia (12 years 29 weeks ago)
90

Saya suka ceritanya...

Terus melangkah...

Writer Villam
Villam at Untuk Lina, Sahabat Setia (12 years 29 weeks ago)
80

tiara, kuyakin sudah banyak komentar2 yang bagus dari teman2 lain sebelumnya.
ini pertama kali aku membaca ceritamu, walaupun ada beberapa hal yang perlu diperbaiki, tapi aku cukup berhasil dapet suasana ceritanya. sementara ini itu cukup.
kalo punya cerita baru, kasih tau aku ya... aku mau liat lagi... daaah...

Writer Armila_astofa
Armila_astofa at Untuk Lina, Sahabat Setia (12 years 31 weeks ago)
80

saya suka-suka ....coba dibuatin novel yang panjang . bagus banget kayaknya .

Kisah cinta Dysty dan Om Danu.Ngayal lg neeh.

Writer mBiL2AeCK
mBiL2AeCK at Untuk Lina, Sahabat Setia (12 years 31 weeks ago)
70

banyak rima nya :)

klo cerita nya hmmm not bad tp trlalu dipaksakan,..

ga dCeritakan jg knp LIna tiba2 punya pa2,...

Writer Rayaa
Rayaa at Untuk Lina, Sahabat Setia (12 years 31 weeks ago)
90

DAHSYAT !!!!!!

Writer birahilaut
birahilaut at Untuk Lina, Sahabat Setia (12 years 31 weeks ago)
70

di banding puisi, kau lebih piawai menulis panjang. cerpenmu lumayan berisi, lugas dan manis teruskan saja menulis cerpen

Writer ranggamahesa
ranggamahesa at Untuk Lina, Sahabat Setia (12 years 31 weeks ago)
90

keliatan bgt ya klo tyara tambah hebat dalam tulisannya..

terus berkarya sis !!

Writer takiyo_an-nabhani
takiyo_an-nabhani at Untuk Lina, Sahabat Setia (12 years 32 weeks ago)
80

Terukir senyum dalam sejuknya pelangi hati.
mengikis manja kelu akan diri.
Melintasi fajar tuk genapkan luruh.
Menyingkap samudera dengan lantunan radhi.

Writer fisk_82
at Untuk Lina, Sahabat Setia (12 years 32 weeks ago)
80

Singkat kata... bukan cerita biasa. Berjalan lambat tapi mengejutkan pada akhirnya.

Writer ijazah_sd
ijazah_sd at Untuk Lina, Sahabat Setia (12 years 32 weeks ago)
100

Komen-komen di cerpen kamu keren-keren. Pengen deh bisa komen kayak gitu.

Writer kucing_betina
kucing_betina at Untuk Lina, Sahabat Setia (12 years 32 weeks ago)
80

a_R bagus di baris pertama terbaca unsur bahasa kedaerahan, keseluruhan asik bacanya
*keep writing^^

dadun at Untuk Lina, Sahabat Setia (12 years 32 weeks ago)
80

...hm, berapa kali ya saya menemukan kata ini di sini??? *nginget2

hoho, Ar, adikku yang manis,,setelah membaca puisi2mu, kini beralih ke cerpen, rasanya.... wah, dirimu semakin berkembang^^ bagus bagus. dan mungkin karena dari awal memulai dengan berpuisi, jadi pas bikin cerpen begini, gaya puisinya masi kebawa. kayak penggunaan RIMA di hampir setiap paragraf. dan itu saya bener2 SUKA!!! hanya bedanya, kalau saya memang dari awal memulai menulis cerpen (yang kadang2 berbumbu rima).

untuk ceritanya sendiri, setuju dengan Noir. hanya sedikit menambahkan juga, alurnya membuat saya bingung. berasa loncat2 gak jelas hehe^^ trus trus, heem, endingnya berasa dipaksakan. sangat. hihi^^ menurut saya, ini bahkan bisa dibuat menjadi 2 atau malah 3 cerpen, maksudnya dikembangkan lagi. soalnya di sini (terlalu) banyak konflik, yang akhirnya malah bikin ceritanya gak fous. coba deh...

hehe... kepanjangan ya, Ar...
well, teluslah menulis seprti ini. saya suka model tulisan begini^^

ca'yo, AR!!!

Writer shafira
shafira at Untuk Lina, Sahabat Setia (12 years 32 weeks ago)
70

kalo boleh kritik ni..menurut saya emosi kurang dapet...
harusnya lebih banyak ungkapan emosi...
kamu keliatan pasrah aja...^_^
ceritanya dah baguus...
cuman kuran gitu aja kok...

SEMANGAAAAT!!!!!!!!!!!!

Writer cat
cat at Untuk Lina, Sahabat Setia (12 years 32 weeks ago)
70

Putri Terompet

keren bgt, g ndak tau harus sedih ato kecewa pd ty

Writer rawins
rawins at Untuk Lina, Sahabat Setia (12 years 32 weeks ago)
100

Waduh sampai ga bisa komen neh begitu baca endingnya. Menghanyutkan, beneeer...

Writer estehpanas
estehpanas at Untuk Lina, Sahabat Setia (12 years 32 weeks ago)
100

neh cerita...
gilee benerrr...
pertama...biasa2 ja...
setelah ngikutin...buset...gileee.....akhirnya..ya ampun mba,,,,aku ga nyangka..akhirnya..bener2 mengejutkan..bagus....keren...trus apalagi ya....pokoknya..aku suka...suka banget....kereeennn...

miris....sama2 miris...yang dimiliki..ke duanya....miris.....top deh...topppp..

aku suka neh crita

Writer noir
noir at Untuk Lina, Sahabat Setia (12 years 32 weeks ago)
70

Tema dan konfliknya bagus, cuma mengapa kurang menghentak ya? Mungkin penataan alur dan penceritaan terkesan agak datar. Kisah Lina dan Adit lalu Disty dan papa Lina sedikit 'maksa'. Bagaimana kalau lebih fokus ke eksplorasi emosi Disty yang kemudian perlahan menuju ke arah hidupnya?

-cuma saran hehehe-

Writer seruni
seruni at Untuk Lina, Sahabat Setia (12 years 32 weeks ago)
80

paling bisa buat hati kecil nangis ... so,nice ... girl!