Dinding Merah Marun

Pintu kayu itu lagi-lagi kuayunkan dengan kencang dan tepat menutup dengan suara kencang menghantam bingkai kayu yang menahannya. Mataku masih terpaku pada pintu itu. Warna coklat kayunya menutupi dan menghalangi pandanganku kearah seseorang, lelaki dibaliknya. Masih bisa kuingat kemeja yang dikenakannya berwarna hampir sama dengan pintu ini. Terus memandang pintu ini, bayangan pria itu tidak bisa lepas dari ingatanku. Semakin ingin aku membuka pintu yang membatasi kami, memanggilnya kembali dan menghambur kearahnya. Tapi apa aku harus melakukan itu? Apa aku terlihat selemah itu?

Berbalik dan memunggungi pintu yang terus menggoda agar kubuka. Berganti menatap wajah ruang tamu, semakin aku terus digelayuti rasa bersalah. Tangan ini begitu berdosa. Entah sudah untuk yang kesekian kalinya aku membanting pintu dihadapannya.

Meja di sudut ruangan, dengan lampu meja mungil bercahaya senja menyinari foto kami, aku yang tersenyum menatapnya dan dia membalasnya dengan tatapan yang hanya aku dan dia yang tahu apa arti tatapan kami masing-masing. Foto yang tidak disengaja justru memiliki arti.

“Sewa designer interior atau kita design sendiri?”, tiba-tiba dia menanyakan hal yang tidak kumengerti, satu minggu sebelum hari pernikahan kami,

“Apanya yang harus didesign?”, aku balik bertanya. Bukan menjawab, tapi dia justru membalas pertanyaanku dengan senyum meledek.

“Kamu nggak mau punya rumah sendiri? Masih betah tinggal sama ibu ya?”, dia bertanya lagi, “Atau jangan-jangan mau tinggal di rumah mertua?”,

“Ada yang mau ngasih kita rumah? Hadiah pernikahan?”, tanyaku bersemangat, menggodanya. Walaupun aku tahu kalau pertanyaan itu akan dibalas dengan pukulan lembut ke kepalaku dengan koran yang dipegangnya.

“Minggu lalu aku kirim undangan ke Donald Trump”, dia merespon candaanku, “Dia nggak bisa datang, makanya mau ngasih rumah buat permintaan maaf”

Aku dibuatnya tertawa kecil lalu mengusap lembut wajahnya. Aku sangat menyukai senyumnya.

“Kamu ini, diajak ngomong serius malah bercanda”, dia melakukan itu, memukul kepalaku dengan korannya.

Terus berada di ruang tamu ini, dengan sofa kecil beludru hitam yang baru saja diganti untuk merayakan hari ulang tahun pernikahan kami yang pertama, minggu lalu. Menyentuh sofa itu, hangatnya sama seperti dia. Bantal kecil dengan corak garis hitam putih, ketika kupeluk dan menciumnya, aroma tubuhnya masih menempel. Setengah jam yang lalu kami masih duduk di sofa ini dan dia mendekap bantal ini. Bantal yang kurebut lalu kulempar kearahnya, tepat hampir mengenai wajahnya. Urgh…wajah itu, wajah yang tidak pernah bisa kulepaskan dari ingatanku. Tapi ditepisnya karena dia yang berusaha menjelaskan hal yang menjadi alasan mengapa aku begitu marah dibuatnya.

“Kekecilan”, aku bersungut ketika mencoba cincin pernikahan pesanan kami, yang ternyata kekecilan di jari manisku, “Kenapa sih kamu baru pesan cincin di menit-menit terakhir? Aku sudah bilang sebulan atau dua bulan yang lalu, pesan cincinnya segera. Tahu gini aku nggak nyerahin masalah cincin ke kamu”. Dia hanya diam, menatap cincin yang kutaruh di atas etalase kaca.

“Masih bisa diperbaiki kan?”, dia balik bertanya,

“Bisa, tapi…”,

“Kita nikahnya besok, aku tahu”, dia menyambung perkataanku yang hanya kubalas dengan menghela nafas panjang,

“Ada ide buat ganti cincin ini?”, tanyaku sambil menunjuk ke arah cincin yang teronggok di atas etalase kaca. Dia lama berpikir, terus bergantian melihatku dan melihat kearah cincin. Aku bisa melihat wajah bersalahnya dari bagaimana dia menatap cincin itu. Dia akan selalu merasa menjadi orang paling bersalah sedunia apabila dia mengecewakanku, terlebih lagi di hari terakhir pernikahan kami, hari yang sudah kami tunggu-tunggu, tidak akan kami biarkan rusak hanya karena masalah ini.

“Kita beli cincin yang lain saja ya, cincin cadangan”, usulku, menyentuh wajahnya dan menghadapkannya kearahku, “Nanti kalau cincinnya sudah selesai diperbaiki, tinggal kita ganti”,

“Kamu marah?”,

“Sedikit…iya”,

“Sorry”,

“Cincin cuma barang, hanya simbol…”,belum selesai aku berkata,

“Yang bisa rusak kapan saja, tapi cintaku sama kamu nggak akan pernah menguap dan rusak termakan waktu”, dia meneruskan tepat seperti apa yang ingin kukatakan, “Itu kan kata-kataku waktu ngelamar dulu”.

Sesaat aku tersenyum sendiri mengingat kata-katanya itu, selalu kuingat. Kata-kata romantis pertama dan kupikir akan menjadi terakhir darinya, karena dia yang bukan seseorang yang puitis. Bahkan karena terlalu cintanya kami akan kata-kata itu, sengaja kami menulisnya, sebagai hiasan di kamar. Tulisan hitam di balik dinding merah marun. Sebuah dinding khusus.

Entah berapa banyak foto yang terpajang di rumah kami. Persamaan kami, suka berada di depan kamera. Menampilkan wajah – wajah konyol. Dari ruang tamu bisa kulihat foto yang menggantung di dinding ruang tengah. Kumpulan fotoku dengan warna sephia digabungkan dengan foto-foto dirinya diformat hitam putih yang sengaja kami edit sehingga membentuk foto yang seolah-olah terbentuk dari pecahan-pecahan kaca.

“Bagus kan?”, tanyanya ketika menunjukkan hasil editan foto itu di layar komputer,

“Bagus dilihat dari mana?”, aku balik bertanya setelah mengamati foto itu,

“Lihatnya pakai hati dong”, dia malah mengejekku, “Kita yang selalu ada cekcok. Dan warna kita yang nggak pernah bisa sama. Sesaat hati kita pecah layaknya kaca karena perbedaan, tapi selalu bisa jadi satu lagi”. Dan kejadian langka itu, kata-katanya kuingat dan tertulis di dinding kamar.

Jam dinding kuno di ruang tengah berdentang, pukul dua belas malam. Kulihat kearah pintu. Biasanya bila ada seseorang di balik pintu itu, bayangannya karena terkena cahaya terang lampu teras sedikit terlihat lewat bawah pintu. Kali ini, kulihat tidak ada bayangan disitu, tidak ada yang menghalangi cahaya lampu. Apa dia sudah pergi? Apa dia tidak menunggu di balik pintu?

Mengalahkan ego yang ada, melangkah sedikit kearah pintu. Menghela nafas panjang, kubuka pintu itu sedikit, berharap dia duduk bersandar dengan tangan melingkar pada lututnya dan wajah tertunduk. Dan ketika pintu itu terbuka, tidak ada siapapun di depan pintu.

Pergi kemana dia? Sekarang aku dibuat cemas olehnya. Tuhan, aku memaafkannya! Bawa dia kembali. Biar saja aku terlihat lemah, aku akan menghambur kerahnya!

Lima menit, kulihat tidak ada siapapun yang membuka pintu pagar itu. Sepuluh menit, aku belum mendengar suaranya. Atau suaranya tenggelam di balik suara ramai terompet dan kembang api? Aku duduk di tangga teras dengan kaki bergerak-gerak cemas. Tidak tahan aku duduk diam begini. Berjalan ke arah pagar dan membuka kuncinya. Pintu pagar itu sudah terbuka lebih dulu sebelum aku membukanya.

“Happy new year!”. Dia, tersenyum padaku. Topi kerucut di kepalanya dan tangan yang memegang terompet. Lalu ditiupkannya terompet itu keras-keras, mengikuti suara terompet lainnya.

Tidak perlu berlama-lama lagi, aku langsung memeluknya.

“Kamu kemana?!”, tanyaku histeris setelah melepaskan pelukanku,

“Cari hadiah tahun baru buat kamu”, jawabnya dengan santai, lalu memakaikan topinya ke kepalaku,

“Aku khawatir, kamu malah cari hadiah. Senang lihat aku panik?”,

“Buat kamu”, jawabnya, merogoh saku celananya lalu menunjukkan cincin di depan mataku, “Nggak marah lagi kan?”. Dia tersenyum bangga ketika menunjukkan cincin itu dan memakaikannya di jari manisnya yang tadi kosong.

“Ketemu dimana?”, tanyaku,

“Di kantor, officeboy yang lihat itu di wastafel kamar mandi”, jawabnya, “Selalu aku lepas kalau mau cuci tangan”,

“Tadi kamu ke kantor?”, tanyaku yang tidak bisa melepas nada panik, “Malam-malam?”,

“Tadi di kantor rame banget. Kamu juga dapat terompet. Ada di mobil, sama makanan juga”, jawabnya, “Aku dimaafin? Kan cincinnya sudah ketemu”,

“Lain kali jangan pergi lagi tanpa pamit!”. Dia hanya tersenyum lalu memelukku dan membisikkanku ucapan selamat tahun baru untuk kedua kalinya. Aku memang tidak bisa kehilangan dia. Semarah apapun aku padanya, aku tidak bisa terlihat kuat. Aku memang lemah.

“Kata orang, tahun baru berarti semangat baru, harapan baru. Buat aku, tidak harus menunggu sampai tahun baru. Setiap pagi, ketika bangun tidur dan melihat kamu, semangatku selalu baru. Setiap hari, aku tahu cintaku selalu baru buat kamu”, entah dari mana kata-kata itu bisa terucap dari bibirnya. Aku tidak mau perduli, akan kutuliskan kata-kata itu di dinding kamar yang sudah mulai penuh dengan kata-kata manis darinya. Mungkin tahun depan akan ada dinding merah marun kedua yang akan dijadikan kertas besar yang baru.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer naloo
naloo at Dinding Merah Marun (10 years 15 weeks ago)
100

aq suka bgt sama ceritanya, kisah perjalanan dari hubungan dua orang, sederhana, tapi ril tejadi di kehidupan nyata. seru!

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at Dinding Merah Marun (12 years 9 weeks ago)
90

Commentmu di ceritaku menggelitik aku untuk membaca ceritamu yang lain.

Aku suka dengan ceritamu, karena themanya keseharian yang sangat nyata.

Oya, aku suka beli majalah Femina eceran (gak langganan), kalo ada sayembara menulis cerpen tell me ya...

Trims udah comment di ceritaku...^_^

Writer jackassgurl
jackassgurl at Dinding Merah Marun (12 years 21 weeks ago)
50

Rinnn..
ceritanya seru..tapi sdikit sedihh
hmm..
ko br blg ke gw skr pny cerita2 keren??
gw ikutan join ahh..
hehee..

Writer kibar
kibar at Dinding Merah Marun (12 years 22 weeks ago)
50

kalau aja hal yang kita inginkan kita dapet...........gak perlu ngayal lagi......dech

Writer dhanang wibowo
dhanang wibowo at Dinding Merah Marun (12 years 23 weeks ago)
80

bagus.. aq juga lagi pengen nulis cerita tipe chiclit gini. mohon petunjuknya, yah.. :D

Writer bosa
bosa at Dinding Merah Marun (12 years 25 weeks ago)
50

hai Rina,
aku baru join di kemudian.com ini.
aku suka bagian ini, lebih dari bagian lain. asyik.
“Lihatnya pakai hati dong”, dia malah mengejekku, “Kita yang selalu ada cekcok. Dan warna kita yang nggak pernah bisa sama. Sesaat hati kita pecah layaknya kaca karena perbedaan, tapi selalu bisa jadi satu lagi”. Dan kejadian langka itu, kata-katanya kuingat dan tertulis di dinding kamar.

lho ini cerita tentang kamu sendiri to?
wah, menarik betul. kalo ini fiksi, akan lebih menggugah (saya), lebih membekas, mungkin bagi kebanyakan orang juga, kalau bagian akhirnya jangan happy ending. wah kok aku jadi ngajarin. sorry berat. bukan maksud begitu.
ini sekedar usulan. atau apalah ...
kalo nggak salah, sejak masa Yunani lampau, ada penelitian soal psikologi manusia mengenai cerita/kisah yg berakhir tragedi, dikatakan ini bentuk seni yg paling mengesankan daripada happy ending. inilah kenapa kisah romeo yuliet, kisah hamlet-ophelia, kisah sam pek engtay, magdalena-nya Manfaluthi, semua berakhir tragis, dan semua sangat mendunia, tak lekang dimakan zaman.

weleh aku ngelindur tekan Yunani kuno.
he he he padahal aku belum bisa juga menulis, kok beraninya ngoment gini.

ayo, kita sama-sama belajar nulis.
ajarin aku ya.

dari air. eh, namaku bosa ding.

Writer sefry_chairil
sefry_chairil at Dinding Merah Marun (12 years 26 weeks ago)
80

ceritamu mengharukan..
nice,
and happy new year!!
duh, kerasa bgt rasa sayangnya, dalem..

Writer Rayaa
Rayaa at Dinding Merah Marun (12 years 26 weeks ago)
70

Love story... selalu menyenangkan buat dibaca....
Cool..!!

Writer anime_131
anime_131 at Dinding Merah Marun (12 years 26 weeks ago)
60

LOL!!hoho...nice

Writer _aR_
_aR_ at Dinding Merah Marun (12 years 27 weeks ago)
80

inget sma full house...
marahan gara2 cincin kawin ilang...

nice! ;)

read this !andthis

Writer noir
noir at Dinding Merah Marun (12 years 27 weeks ago)
80

Ini cerita yang dinamis. Percakapannya juga keren dan daleeem..... Sayangnya konflik yang ada kurang tereksplor ^^

dadun at Dinding Merah Marun (12 years 27 weeks ago)
80

bacanya gak kerasa. dialognya berasa hidup. dan endingnya... wuiiiihhhh keren. hehe :) nulisnulis di dinding, kek anak kecil aja^^ haha :D

wah, seperti tulisan saya. suka yang panjangpanjang^^

Writer Qintha Djais
Qintha Djais at Dinding Merah Marun (12 years 27 weeks ago)
50

sep! bagos! aroma cintanya kerasa banget di udara! nice! nice! eh,iya, cerpen gw yg 'mama tidak apa2' itu udah ada endingnya.. but.. i dunno... gw kurang bagus dalam nentuin ending cerita.. mohon komennya yak! ^^