High School Never Ends

From The Start
Chapter I

Toilet rumah Bella,,,
“Cloe!” teriak Bella sambil ngaca, “lo ngapain? Lama amet sih!”
“Sabar,” jawab Cloe santai dari balik pintu WC, “Gue lagi ganti celana.”
“Buat apa?”
“Edward.”
“Hah?”
“Serius deh, Bel. Gue kapok pake celana pendek.”
“Kan bagus kalo lu pak-“
Cloe memotong, “Bagus sih bagus. Tapi gue jadi gak tau kalo Edward itu ngeliatin gue atau kaki gue!”
Bella ngangguk, “Owh.”
Cloe keluar dari toilet. Bella mengamati baju yang dipakai Cloe. Seperti biasa, dia pake kaos. Tapi itu kelewat extraordinary kalo ngeliat Cloe pake celana panjang. Pas ditanya kenapa Cloe ogah pake celana panjang, jawabannya selalu panas.
“Cloe, elu kalo mau ngetest si Edward pake jeans tuwh yang longgaran. Skinny jeans yang lo pake malah buat kaki lu lebih kecil, gimana gak mau diliatin Edward coba.,” komentar Bella.
Cloe ngotot, “Kan kaki gue gak keliatan!”
“Perasaan gue lo hari ini bakal balik sama Edward,” kata Bella.
“Kenapa?”
“Dia ngiler liat kaki lu!”
Cloe diam seribu bahasa.
“Ih, emang iy koq.”
Cloe masuk lagi ke WC dan mengganti skinny jeansnya dengan celana soccer yang dibuat khusus supaya seragam sama alumni kelasnya tahun lalu.

Sekolah,
Cloe&Bella tiba pas-pasan, wali kelas mereka, Ms. Riri baru memasuki ruangan kelas. Melihat dua sekawan itu datengnya pas-pasan terus, beliau ceramah panjang lebar, “Besok dan seterusnya kalian usahakan jangan terlambat, ya. Di Jakarta, ya, kalau alasan kalian terlambat itu macet, ya, pasti diketawain. Namanya di Jakarta, ya, pasti setiap hari macet.”
Cloe mengangguk2an kepalanya. Ia&Bella duduk di tempatnya masing-masing.
“Yaaaaaaaaaaaaa, tambah tua,” ledek Cloe ke Geoff, temen baeknya yang kebetulan hari itu ulangtahun.
“Lo ulangtaon?” Cameron nimbrung.
Cloe melayang ketika dia nyadar bahwa Cameron (her all-time crush) duduk tepat di sebelahnya, padahal tempat laen masih banyak yang kosong. Cameron emang udah punya cewek, Chanelle. Tapi tetep aja Cloe gak peduli. Kata Cloe, dia cuma suka ‘luarnya’ doank. Kalo Edward, baru ‘dalemnya’, udah lucu, bokep, bejad lagi. Tipe Cloe bgt.
Tiba-tiba Chanelle menghampiri mereka& bentak Cameron, “Lo ngapain duduk deket-deket cewek laen?”
Perhatian 1 kelas (beserta wali kelas mereka) tertuju pada Chanelle.
Cameron panik, “Gue sayang sama lo, tapi lo nya aja yang cemburuan.Gue gak ngapa-ngapain sama Cloe”
Cloe geleng-geleng, “Gue sama cowok lu gak ada apa-apa.”
“Gue tau lo gak ada apa-apa sama dia, tapi cowok gw yang ada apa-apa sama lu. Gue tau dari cara dia ngeliat lo.Gue yakin kalo dia ngejar-gejar lo!”
Cloe&Bella saling melemparkan pandangan khusus yang cuma mereka berdua yang tau artinya.
Cameron mulai naik darah, “Gue gak-“
Masih dengan nada tinggi, Chanelle memotong Cameron, “Gak mau tau! Pokoknya kita putus!”
“Ya udah!”
“Ya udah!”
Kelas masih hening, satu kelas seakan-akan mendengarkan setiap kata yang diucapkan mereka. Ms. Riri masih cengo ngeliat mereka. Seumur-umur –di hidupnya yang lumayan membosankan-beliau belom pernah liat peristiwa kayak gini.
“Sori,” bisik Cloe.
Cameron senyum ke Cloe, “Bukan salah lu.”
Chanelle yang duduk di samping Cameron langsung pindah di meja depan meja guru (satu-satunya meja yang kosong).
Cameron menatap Chanelle dengan tajam.
Ms. Riri memecah keheningan, “Siapkan alkitab kalian, kita berdoa dulu.”

Setelah renungan pagi, free time. Semuanya berhamburan keluar kelas, ketemu temen, ke kantin, ke WC, ke uks, ato ketemu pacar. (berhubung hari itu class meeting)
“Cloe!” panggil Sam, “si Chanelle putus ya.”
“Gila, cepet banget kesebarnya,” kata Cloe.
“Tadi si Chanelle nangis di WC. Btw, btw, kenapa putus?”
Here comes the weird part, “Gara-gara gue.”
“Lo yang bener aja? Lo masih naksir Cameron?”
“Oi! Gue gak ngerbut! Denger,” lalu Cloe menceritakan insiden sebelum renungan pagi itu.
“Kirain,” kata Sam, “Ya udah ya, gue mau jajan dulu.”
Geoff! “Sam, lo mau ditraktir gak?”
“Ya iya lah!”
“Tuh, Geoff ulangtaon! Palakin aja!”
“Yo i,” lalu Sam menghampiri Geoff. Cloe tau kalo Geoff punya feeling ke Sam.
Tak lama kemudian, Cloe dinterogasi lagi sama 2 genk cowo & 5 genk cewe tentang cara putusnya Chanelle. Saking populernya (Chanelle-Cameron), Cloe jadi kecipratan dikit. Hehe.
“Oi, lo dari tadi kemana aja?” Bella muncul gak jelas dateng dari mana).
“Gak kemana-mana,” jawab Cloe
“Cepetan ke lapangan!”
“Di sana ad apaan?”
“Ada soccer, nyonyaaaa...”

Lapangan soccer yang hijau,
Karena Cloe sama sekali belom pernah nyoba yang namanya soccer, dia memaksakan diri buat jadi cadangan.Malu-maluin banget. Banyak yang liatin and dia gak sudi jadi bahan taruhan cowo2 (mengingat insiden putus ‘tragis’nya Cameron, pasti banyak orang yang gosipin dia yang macem2).
Babak pertama= kalah 4-2 (maen sama senior, terang aja)
Babak kedua=mulai bangkit, 4-4. Si Amanda, yang merupakan playmaker di angkatan mereka, tiba-tiba keseleo. Cloe menawarkan dirinya buat nganter&nemenin Amanda di Uks. Tapi malah diomelin coach, ujung2nya disuru gantiin Amanda.

Kelas,
Cloe meneguk air mineral dingin yang baru saja dibelinya di kantin.
“Soccer gimana?”tanya Sam.
“Menang, 5-5,” jawab Cloe.
“Elu nge goal in gak?” tanya Geoff
“Mbah mu!”
Gerombolan Cameron&d’genk masuk kelas.
Sayup-sayup, Cloe denger Cameron ngomong, “Chloe mah gak ada gunanya.”
“” teriak Cloe kesel. Yep, yang disensor itu the ‘F-word’.
Cameron baru nyadar waktu dia jelek-jelekin Cloe, dia cuman berdiri gak lebih dari 3 meter sama dia.
“Biarin lah,” kata Geoff, “yang jelas lo tau kalo lu gak kayak yang dia omongin.”
“Lo banyak gunanya koq,” kata (teriak, tepatnya) Sam kesel.
Cloe gak bisa ngomong apa-apa.
“Mau maen capsa di kantin gak?” tanya Geoff.
“Daripada maen di sini, ada makhluk gak berperasaan yang sebelom ngomong gak ngaca dulu,” kata (teriak) Sam sambil menarik lengan Geoff&Cloe ke luar kelas.
“Lo berdua pergi duluan aja, nanti gw nyusul,” kata Cloe.
“Lo mau ke mana?”
“Toilet.”
“Mau gw temenin?” tawar Sam.
“Thx. Gak de,” Cloe tersenyum lemah.

WC,
Cloe ngedenger suara orang nangis histeris dari bilik terakhir. Di kepalanya terbayang film-film horror yang paling dia takuti.
“Ad-Ada orang gak?” Cloe memberanikan diri buat bicara, suaranya bergetar karena ketakutan.
Tiba-tiba pintu bilik terakir terbuka. Sosok yang Cloe cukup kenal memeluknya.
“Chanelle? Lu kenapa? Koq gak sama temen2 lu? Mau gw panggilin temen2 lu?”
Chanelle melepaskan pelukannya, “Jangan!”
Cloe bingung.
Chanelle menjelaskan, “Pas gue lagi gini gini, mereka gak nemenin gue. Jadinya percuma kalo lu manggil mereka. Bukannya gw sombong atau gimana, tapi kayaknya mereka cuman mau numpang-”
“populer?”
Chanelle mengangguk.
“Masih ada gua koq,” kata Cloe.
Chanelle memeluk Cloe (lagi), “Thx.”
“Mau ke kantin gak? Daripada lu sendirian di sini.“

Kantin,
Meja yang didudukin Geoff jadi makin rame. Ada Trixie, Kitty, Sam, Nadia, Mike, sama Theo. Mereka lagi asik2nya maen capsa..
Chanelle berdiri di belakang Chloe, “Kalo mereka gak suka gue gimana?”
“Udah. Be urself lah. Trust me, they won’t leave ur back.”
“Gw coba,” kata Chanelle ragu-ragu.
“Siap?”
Chanelle mengangguk ragu.
Mereka ber 2 menghampiri meja Geoff.
Cloe duduk, Chanelle duduk sampingnya.
“Hi,” kata Chanelle nervous.
“ello puppet,” sapa Kitty
Mendadak, nervousnya Chanelle ilang, “Oi, capsa ya,? Ikutan dunk!”
“Sabar,” kata Theo
“Tunggu game selanjutnya, ya” kata Trixie.
“Gue dah gak sabar buat menang!” kata Chanelle berapi2.
“Emang orang kaya bisa maen capsa?” tanya Mike
“Bisa! Justru orang kaya yang nyiptain capsa.”
“Gue suka gaya lo!” kata Trixie. Trixie & Chanelle tost.

Mobil Bella,
Pulangnya, Bella & Cloe ke sekolah lama mereka. Biasa deh, Cloe mau nyariin Edward, mantannya waktu SD. Anak Sd sekarang mah hebat, udah pada pacaran. Hehe.
“Bella, kita percuma dateng ke sini,” kata Cloe madesu.
“Emang lu udah ketemu dia?”
“Belom.”
“Terus lo takut sama dia?”
“Mbah mu?”
“Kenapa gak maju?”
“Ayo!” kata Cloe dengan semangat juang tahun 45.
Mereka berdua segera menyelinap ke kelas Edward di lantai atas. Mereka harus melewati beberapa satpam yang melarang mereka buat naik ke lantai atas berhubung mereka bukan murid sana. Tapi, karena tekad Cloe sudah bulat, mereka tetap maju.
Ketika mereka sampai di koridor yang menuju ke kelas Edward, Cloe langsung beku waktu dia melihat segerombolan genknya Edward nengok ke mereka.
“Edwaaaaarrrrrdddd, ada siapa?????????”
“Clooooeeeeee.... Ada Edward, Clooooeee....”
“Mampus,” gumam Cloe. Dia segera menaik Cloe lari ke emergency exit terdekat dan menuju ke lantai atas dasn keluar di lantai itu. To Cloe’s luck, lantainya gak ada orang.
“Kenapa lari?”
“Lo gak denger gua disorakin satu koridor?”
“Masa sih?”
“Bellaaaaa,,,lo dari tadi ke mana?”
“Cloe,” tiba-tiba seseorang yang sangat familiar menyapa dari belakang, “Bella.”
“Edward,” sapa Cloe.
“Gue ke toilet dulu y,” kata Bella, meninggalkan mereka berdua.
“lama-lamain!” kata Edward
Cloe nyengir.
“Yo i,” kata Bella, menghilang dari tikingan koridor.
“Lu SMA ke mana?” tanya Cloe, mencari topik.
“Tetep di sini,” kata Edward, “Lu pindah ke sini, yaaa.”
“Gue dah bayar di sekolah laen, sori,” kata Cloe pelan.
“Libur natal kapan?” tanya Edward
“Mulai dari kemaren, masuk-masuk tanggal 16 January.”
“Enak banget lu, gw libur minggu depan, masuknya tanggal 7. Curang amet.”
Hening 6 menit.
“Ada topik gak?” tanya Edward
“Gak.”
“Tapi gue masih mau ngobrol.”

Chanelle
Chapter II

Keesokannya,
Kelasnya Sam,
Di situ ada Geoff, Mike, &Theo. Di situ juga ada Sam, Trixie, Bella, Kitty, Chanelle, & Cloe. Mike & Theo terlalu sibuk maen wii (punya Geoff-dia bawa dari rumah-. Berhubung mereka sekolah di sekolahan yang uang tahunannya cukup buat ngidupin 7 orang selama 14 bulan, di kelas mereka ada TV) buat menyadari apa yang sedag terjadi saat itu.
Mata hitam Trixie bersinar penuh keingintahuan, “Cowok lu bakal ke sini?”
“Gue gak tau, Trix,” kata Cloe.
“Gue denger lo make out sama ‘cowok tak dikenal’ di bioskop,”kata Nadia. Ia merupakan salah satu orang lumayan famous gara-gara dia gak pernah kehabisan gosip. Anehnya, begitu ada gosip baru, siapa aja, dari kelas mana aja, langsung “konfirmasi” ke Nadia. Padahal Nadia gak tau apa-apa.
“Lo cipokan sama Edward?? LO bilang gagal total.” kata Bella, setengah berteriak. Sekumpulan orang tidak dikenal yang kebetulan lewat di koridor rupanya mencari sumber suara itu dengan melongo di balik kaca pintu kelas.
“Lo denger dari mana?” tanya Cloe, mengacuhkan Bella.
“Cameron.”
“Dia denger dari mana?”
“Dia liat pake mata kepalanya sendiri, lo duduk di depannya. Elu gak nyadar?”
Cloe gak bisa ngomong.
“Btw, dia cakep gak?” tanya Chanelle.
“FYI (For Your Information), he’s kinda hot, but he’s not really my type, with those naughty little filthy wondering hands,” kata Cloe, “Jelas-jelas Cameron gak liat pas gue dorong Edward, terus gue ninggalin dia di studio. Bella, lu bener banget, thanks buat ngingetin gue. Dia cuman mau badan gue.”
Bella senyum, “told you so.”
“Terus dia kejar lu gak?” tanya Kitty.
“Iya, tapi dia gak tau kalo gua ngumpet di wc cewek 1 setengah jam!”
Bella heran, Cloe bukan tipe orang yang bakal ngumpet-ngumpet kayak gitu. Cloe biasanya langsung ‘semprot’ tuwh orang.
“Dia gak telepon lu?” tanya Trixie.
“Gak tau dan gak mau tau. Lagian semalem gue langsung ganti nomor. Tapi Edward kog bisa tau nomor gue yang baru si?? Yang gua kasih tau tentang ganti nomor tuwh cuma lo semua.”
“Geoff, koq dari tadi lu diem?” tanya Sam.
“Not in the mood, no offence,” kata Geoff singkat.
“Bisa pinjem Cloe sebentar?” suara yang sangat familiar bagi Cloe tiba-tiba terdengar dari belakangnya.
“Cloenya gak mau dipinjemin,” kata Cloe ketus.
“Masuk dari mana?” tanya Bella. Sekolah mereka emang securitynya ketat banget. Harus ada kartu siswa buat masuk.
“Gue kenal orang sini,” kata Edward, “Cloe, gue bener-bener mau ngomong sama lu.”
Cloe diam.
“Please. 5 menit aja.”
Cloe tetep diam.
“Gue janji gue bakal pegi abis ini,” kata Edward.
“3 menit,” kata Cloe jutek, dia keluar ruangan, diikuti oleh Edward.

Emergency exit,
Cloe ngecek jam di hpnya, “3 menit.”
“Gue cuman mau minta maaf buat kemaren,” kata Edward enteng.
“Cuman gitu doang? Jangan minta maaf, lo aja gak tau salah lo apa. Bukti. Lo bingung pas gue ninggalin lu. Terus terang lo buang-buang waktu gue, ” Cloe meninggalkan ruangan itu.
Edward megenggam tangan Cloe, kencang.
“Lepasin gue.”
“Gue tau lo maih sayang sama gue,” kata Edward.
“Itu bullshit jenis apa?”
“Itu fakta. Lo bawa gua ke tempat sepi. Buat ngapain?”
“Buat ngomong,” jawab Cloe.
“Pasti lo mau lebih.”
Di luar dugaan, “Lo bener, gue mau lebih.” Cloe mencium bibir Edward. Dengan cepat, Cloe melepaskannya (genggaman Edward & bibirnya), menampar pipi Edward, dan menendang itu-nya Edward.
Cloe mengambil seribu langkah.
See? Cewek gak selemah itu.

Kelas Sam,
Cloe balik dengan seyuman puas di mukanya, “Gue tendang itu-nya.”
“Ouch,” kata Chanelle.
“Gue bangga sama lu,” kata Kitty yang dari pertama dah gak suka sama Edward.
Bella nanya, “Trus, dia gimana?”
“Gua gak liat. Gua gak peduli.”
“Pasti itu nya sakit,” kata Chanelle lagi, “Ouch.”
Bella, kitty, Sam, Trixie, Chanelle, & Cloe cekikikan.
“Dia pasti marah,” kata Geoff untuk pertama kalinya, “No offence.”
“Like I care,” kata Cloe, “I don’t want him.”
“I’ll take him,” kata Chanelle.
Semua mata (kecuali matanya Theo&Mike yang sedang sibuk menatap layar TV) di ruangan menatap Chanelle heran.
“Serius lu?” tanya Bella.
“Bisa jadi dia lebih ‘jelek’ dari kedengerannya,” kata Sam.
“Dia lebih jelek dari kedegerannya,” kata Geoff, “Ngapain punya relationship sama orang kayak gitu? Pointless.”
“Bener banget,” kata Trixie.
“Buat pelarian,” kata Chanelle, “Cameron pasti bakal jealous. Not that pointless.”
“LO mau dipegang-pegang? Gak worth it banget,” kata Trixie.
“Asal bisa bikin Cameron jealous. Gue tau tipe cowok kayak gitu. Murahan. Tunjukin dikit badan lu dia juga udah kegatelan. Thanks God, gue pake miniskirt hari ini,” kata Chanelle.
“Chanelle!!” seru Kitty.
“Bisa jadi Cameron ‘ketawa’ plus nganggep lu murahan,” kata Sam.
“Sam bener,” kata Geoff.
Pipi Sam ‘merah’. Diam-diam dia bersyukur gak ada yang menyadari itu, semuanya sibuk sama Chanelle. Sam malu sama dirinya sendiri. Dia sebenernya backstreet sama Theo. Tapi dia ada ‘feeling’ juga buat Geoff. Think that Sam is a slut? Well, not even close. Jangan munafik. Ngaku deh lo semua. Emang pas lu pacaran, lu gak pernah ngelirik dikiiiiit aja ke cowok laen??? Please.
“Thanks for the advices. I know what I’m doing,” kata Chanelle.
“Sekali lagi,” kata Kitty, “Dia pikir dia hot-“
“Dia emang hot,” kata Chanelle, memotong Kitty.
“Gue belom selesai,” lanjut Kitty, “Dia playboy, berotak mesum, punya tangan ‘sakti’”
“Gue bakal inget,” kata Chanelle, “Cloe, can I borrow your top?”
‘Top’ yang dimaksud Chanelle itu tank top yang lagi Cloe pake.
“Kapan?”
“Sekarang lah.”
“Terus gua pake apa?”
“Pake kaos gua.”
“Kaos Gucci lu? Yang bener aja? Lima menit dah kena minyak.”
“Buat lu aja. Gua masih punya warna laen di rumah.”

WC,
Cloe dan Chanelle baru saja selesai tukeran atasan. Chanelle menyisir rambutnya, “Lo pikir Edward dah pergi belom?”
“Gak tau deh,” kata Cloe.
“Kalo gue ketemu Edward pas keluar WC, berarti itu tandanya gue harus maju duluan,” tekad Chanelle.
“Lu punya kenalan cowok gak?” tanya Cloe, mengalihkan bahan pembicaraan.
“Banyak. Lu mau yang kayak gimana?”
“Hmmm... Yang gimana ya? Yang pasti bukan player, bisa jagain gue, nerima gue. Itu aja,” kata Cloe, “Kenal yang kayak gitu.”
“Maksud gue bukan dalemnya, Cinta. Dalemnya mah gue juga gak tau. Luarnya gimana?”
“Chanelle! Percuma kalo depannya kayak malaikat tapi dalemnya setan.”
“Hey, kodok itu mesti sering dicium kalo lo mau dapet pangeran. Luarnya gimana?”
“Chane-“
Chanelle memotong, “Luarnya gimana?”
“Lebih tinggi dari gue, rambut coklat tua-kira-kira sama warnanya kayak rambut gue-, matanya ijo.”
“Nice taste,” kata Chanelle, ia segera mencari foto-foto di daftar contacts di iTouchnya yang kategorinya paling mirip sama ‘pangerannya Cloe’.
“Thanks,” kata Cloe, ragu kalo Chanelle bakal ketemu cowok yang kayak gitu.
“Ethan. Dia sekarang umur 40, tinggal di Paris, dah kawin, punya anak 3. Kawin muda,” kata Chanelle.
“FYI, gue gak cari om-om,” kata Cloe.
“Gue juga gak setuju kalo lu jadi ‘sephia’-nya uncle gue.”
“Dia punya anak cowok yang seumuran kita gak?”
“O iya, gue baru inget. Owen, anak dia, bakal masuk kelas kita taon depan. Dia mirip banget sama bokapnya.”
“Taon depan gue pindah sekolah, Say.”
“Maksudnya bulan January. Terus, kita bakal jadi sodara.”
“Moga-moga aja.”
“Kalo bukan sepupu, gue dah samber dia,” Chanelle menunjukkan layar iTouchnya, di situ terpasang foto cowok berambut coklat tua, hampir hitam, mata hijaunya bersinar ramah. Di foto itu, dia tengah bermain soccer sama anak yang kelihatan seperti miniaturnya(menurut Chanelle, anak kecil itu adiknya Owen, namanya Derek).
“He’s kinda cute”
“He is. Lo mesti jadian sama dia.”
“!?”
“Dia cocok banget sama lu. Gue kirimin foto lu ke dia.”
“Jangan!!”
“Kenapa?”
“Kita liat January aja.”

Koridor,
“Cloe!”
Chanelle menoleh. Edward. Kesempatan gue.
“Sori, gue pikir lo Cloe. Baju lu mirip bajunya Cloe. Lo temennya ya? Gue Edward, cowoknya Cloe. Cloe pernah cerita gak? Lo liat cloe gak?”
Dia masih suka sama Cloe. I can change that. “Liat. Dia ke ruang theater.”
“Ruang theater di mana?”
“Turun tangga kelantai 2, lewatin library, taman, masuk geding elipse, belok kiri, lurus, sampe ketemu gang belok kiri lagi, naik ke lantai 4 di geding elipse, ter-“
Edward memotong, “Sori, bisa tolong anterin gue gak?”
Shoot! “Setengah jalan aja ya. Gue mau ke kantin. Iktutin gue aja.”
Mereka jalan, menuruni 2 lantai, belok ke depan library, taman. Anginnya kenceng banget. Tampaknya Edward sangat tertarik dengan rok mini Chanelle yang terbang-terbang. Mereka naik tangga yang menuju ke gedung elipse. Rok Chanelle makin terbang gak karuan. Akhirnya Edward ‘gak tahan’.
“Gue gak jadi ketemu Cloe, deh. Setelah gue pikir-pikir kayaknya dia gak bakal maafin gue. Thanks banget dah mo ngaterin gue. Gue traktir deh. Kan katanya lu juga mau ke kantin. Nama lu siapa?”
Chanelle tersenyum penuh kemenangan, “Chanelle. Jadinya lu putus sama Cloe?”
“Sebenernya dah putus,” kata Edward, “Kayaknya dia gak ada date buat pesta natal sekolah lu.”
“Omong-omong natal, lu mau pergi ke pesta itu bareng gak?”

Cameron
Chapter III

Sekolah,
X’mas party,
“Cloe!”
Cloe nengok, “Hi, Ron! Happy X’mas!”
“Merry X’mas. Bokap gue produser & sutradara & pencari bakat. Pas ngeliat foto kelas, dia nanyain lu bisa acting gak. Gue bilang bisa, terus dia nawarin lu ikut audisi filmnya. Mau gak?”
“Mau lah!”
“Lu koq gak sama Chanelle?”
“Lu masih-“
“Gak. Tumben aja lu sendirian. Gue gak ganggu kan?”
“Gak.”
“Kalo gitu gue dah telat belom kalo sekarang gue baru ngajak lu ke party?”
Chanelle sama Edward buat bikin Cameron jealous. Ini berarti gue boleh-boleh aja kalo jalan sama Cameron buat bikin Edward jealous. “Belom telat banget koq.”
Cameron menggaet tangan Cloe, “Gue denger lu putus sama cowok lu di emergency exit.”
“Denger dari siapa?”
“Gue sama Mike kebetulan abis cabut dari EX. Terus-lu tau lah- masuknya lewat emergency exit. Baru nyampe lantai 3, gue denger suara lu sama mantan lu.”
“Lu gak liat bagian akirnya ya?”
“Gak, tapi Mike bilang dia liat lu pake trik buat nabok & nendang mantan lu.”
Cloe senyum lebar, “Jadi orang harus kreatif.”
“Lu nendang apanya? Suaranya kenceng. Mike gak mau kasih tau gue bagian itu.”
“Itu-nya.”
“Itu?”
“Iya, itu!”
“Serius itu-nya?”
“Gak percaya?”
“Percaya,” mendingan gue gak maen-maen sama Cloe.
“Terus Mike liat tampangnya gak?”
“Liat. Katanya Mike pasti itunya perih. Kerja bagus, Cloe.”
“Makasih.”
“Hi,” Chanelle&Edward nimbrung.
Cameron nyengir.
“allo,” sapa Cloe, “Dah jadian?”
“Barusan,” kata Edward.
“Congrats,” kata Cloe.
“Cowok lu?” tanya Edward, menunjuk Cameron.
“Iya,” jawab Cameron, “Gue cabut dulu ya.”
Chanelle manyun. Cameron beneran ngebet sama Cloe.

Tangga lantai 2,
“Maksud lu apa?” Cloe meminta penjelasan.
“Pura-pura jadi cewek gue ya?” kata Cameron setengah memohon.
“Buat bikin Chanelle jealous?”
“Bukan.”
“Terus?” alis kiri Cloe naik setengah centi.
“Iya, buat bikin Chanelle jealous. Puas?”
“Sori, gue gak mau.”
“Plis lah!”
“Ini bakal abis seleasi pesta kan?”
“Iya. Terus kita bilang yang laen apa?”
“Maksudnya?”
“Bilang apa? Jadian kapan? Gimana? Putus dimana? Ceritanya gimana? Kan gak lucu kalo jawaban kita beda.”
“Jadian di rumah gue, sebelom nonton Spiderman, di kamar gue, abis class meeting. Putus sebelom selesai pesta, bilang aja gak gitu cocok. Kalo ditanya ngapain aja di kamar gue, jawab aja cuman nonton Spiderman doang,” jelas Cameron panjang lebar.
“Kalo ditanya udah ngapain aja, lo bilang belom sempet ngapa-gapain soalnya cuman jadian sehari,” lanjut Cloe.
“Yo i.”
“Why me?”
“Lu yang paling bisa acting, bisa jaga rahasia, gak kayak kebanyakan cewek yang gue kenal.”

Kantin,
Kantin sekolah itu yang lumayan luas, disulap jadi tempat party. Makanan yang disajikan lumayan bervariasi, mulai dari dim sum, sate, barberque, sushi, sampai pasta, fettucinni dan teman-temannya. Di bagian desert, ada rumah kue setinggi 2m (bisa dimasuki orang). Di dalem ditu, ginger breads dengan bermacam-macam bentuk (pohon natal, tongkat natal, ginger man) dibugkus dengan plastik. Selain ginger breads, juga ada cupcakes, icecream, marshmallow & buah-buahan(strawberry, melon,dll) yang dipotong kecil-kecil dan ditusuk sate, lengkap dengan chlocolate fountain yang lumayan besar.
Tapi, gak seperti kebanyakan party laennya, party ini entah kenapa sepi. Semua yang terdengar hanyalah bisikan-bisikan kecil. Semua orang berkumpul di tengah, seperti melihat sesuatu. Cloe menerobos kerumunan. Mau gak mau, Cameron mengikutinya. Ketika sampe di tengah kerumunan, Cloe tidak terkejut menemukan Chanelle & Edward dengan hot2nya berciuman di situ.
Cloe muak, tiba-tiba nafsu makannya hilang.
Cameron memandang Chanelle jijik. Murahan.
“Kalo gini Edward bisa diusir sama Freddy,” bisik Cloe di telinga Cameron. Mr. Freddy itu kepalah sekolah mereka yang suka melebih-lebihkan sesuatu, dalam kata lain, dia itu ‘drama king’.
Cameron mengiayakan.
Prediksi Cloe hampir benar. 5 detik kemudian, Mr. Freddy melemparkan spaghetti yang tengah dimakannya ke Chanelle & Edward. Edward nyengir. Chanelle menggerutu kesal karena rambutnya dan terusan guccinya tersiram saus bolognese, dihiasi beberapa lembar spaghetti.
Cameron dengan gilanya berteriak, “FOOD FIGHT!!!!”
Cloe merasakan sesuatu yang manis mendarat di mukanya. Cupcake. Lalu ia melihat Bella tertawa kearahnya. Cloe, Trixie, Geoff, Cameron, dan 7 orang tak dikenal lainnya berebutan mengambil coklat cair dengan menadahkan tangan mereka di chocolate fountain dan melemparkan itu ke orang yang mereka kenal.
4 detik kemudian, sate, siomai, udang bakar, fettucini, fanta merah, coklat cair, cupcakes, teh, sushi dan makanan&minuman lain-lain berterbangan di udara. Suara sebagian murid-murid dan guru-guru yang tertawa bahagia dan ada juga suara teriakan (semangat bagi orang-orang iseng jenis Sam; ketakutan bagi orang yang sangat mementingkan penampilan jenis Chanelle) membahana di kantin. Semua orang tampak menikmati foodfight ini (kecuali Mr. Freddy, petugas kebersihan, dan cewek-cewek jenis Chanelle, tentunya).
Semua orang tampaknya terlalu sibuk saling melemparkan makanan untuk mendengarkan omelan Mr. Freddy.
So much for his christmas.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Gitta-chan
Gitta-chan at High School Never Ends (9 years 49 weeks ago)
2550

seperti komentar-komentar yang lain. Terlalu banyak dialog dan minim deskripsi itu nggak bagus. Juga, jangan di singkat-sinkat dong, kak. Satu lagi, & di tulis langsung aja, jadinya 'dan'.
.
Maaf kalo menggurui, kak. Keep writing!

Writer InuNQM4
InuNQM4 at High School Never Ends (11 years 30 weeks ago)
60

aq suka ceritax,tp sperti komen2 yg lainx, tlg diperjelas deskripsinya, krna aku jg ikut bingung klo saat adegan gnti tempat ato saat dialog antar tokoh.

Writer devil_rhain
devil_rhain at High School Never Ends (13 years 22 weeks ago)
50

tenata crita anak es em peh....ku piki crita anak es em uh....aku lg kangen ma es em uh...akyu....tp ide kmu keren kok..... =D>

Writer Rijon
Rijon at High School Never Ends (13 years 42 weeks ago)
70

setuju sama cc sefry.....

sepintas memang keliatan kalo dsekripsi dan narasinya sedikti sekali, mungkin sekitar 70%-80% dialog ini.....

Pertama, tentang grammar:
Perhatikan penulisan angka

Contoh:
>> “Mulai dari kemaren, masuk-masuk tanggal 16 January.”
>> Tak lama kemudian, Cloe dinterogasi lagi sama 2 genk cowo & 5 genk cewe tentang cara putusnya Chanelle.
>> “Enak banget lu, gw libur minggu depan, masuknya tanggal 7. Curang amet.”
>> Hening 6 menit.

Sedikit masukan nih ^^,
kaidah penulisan angka, kalo lebih dari tiga huruf ditulis dengan angka, sedangkan kalo enggak (enggak lebih dari tiga huruf) ditulis dengan huruf. Dengan catatan di tengah-tengah kalimat, kalo di awal kalimat angka ditulis dengan huruf.

Untuk memperjelas, MISAL:
>> Aku membeli dua puluh lebar kertas.
>> Tercatat 189 orang yang meninggal dalam kecelakaan itu.
>> Seratus delapan puluh orang meninggal dalam kecelakaan itu

TEMA, menurut saya ini tema yang baik......KEEP UP!!

Terus berkarya yah ^^,
Comment cerita aku juga kalo sempet ^^,

Writer mark hellmeed julian
mark hellmeed julian at High School Never Ends (14 years 2 weeks ago)
90

seru..

:)

Writer Alfare
Alfare at High School Never Ends (14 years 3 weeks ago)
60

Euh... oke.
Waduh, kalo sebanyak ini, bingung ngomentarinnya...

Writer sefry_chairil
sefry_chairil at High School Never Ends (14 years 3 weeks ago)
50

aku melihat ide yang cukup menarik. tapi.. bisa tak ditambah deskripsinya? supaya kerasa aja berada di mana tokohnya, juga beberapa percakapan aku kira tidak perlu, cukup gambarkan dengan deskripsi.

ini hanya saran lho..
selebihnya bagus..^^
yup, yup
komen karya-karyaku juga yah..