KISAH SANG CAMAR

----------=Untuk Tika-----------
--------------------------------

Pagi mengintip dari balik gunung Muria, menyembulkan noktah berpendar dari punggungnya. Seekor Jangkrik yang tersesat di tepi pantai berlari-lari menjauhi gulungan ombak yang menggapai-gapai.
***

“laut ini telah sekarat”, kata Jangkrik dan ia berlari ke atas batu dimana seekor kepiting berjemur menengadah capit. “Oh, malang sekali aku ini, sungguh tempat yang menjengkelkan”.

Dan seekor camar mengepakkan sayapnya menahan angin turun di dekatnya.
“kau seharusnya tidak berada disini”
“aku tersesat. Sebatang kayu yang hanyut membawaku dari gunung”, jawabnya.
“oh, malang sekali dirimu.” Katanya. Lalu menerawang langit jauh. Sambil tanpa menatap Jangkrik ia melanjutkan “lihatlah manusia disana ia tampak angkuh?”

Seorang lelaki muda memejamkan mata menikmati helaan angin dan membiarkan selusur ombak mengelus lembut kakinya.

“bukankah ia sedang bahagia?” jawab Jangkrik. “dia menikmati keindahan laut yang tersisa”

Camar menggeleng, “kau tidak mengerti apapun mengenai manusia ataupun laut” katanya. “maukah kau kuberi tahu sebuah cerita?” tanyanya.
“Tentu saja, aku sendirian dan tidak mengenal tempat ini. Aku bukan dari laut yang kotor dan menjengkelkan ini”.

Dan beginilah sang Camar bercerita,
“kau tahu, dahulu laut selalu bersikap mesra pada manusia, Laut yang tenang memainkan kerlingan-kerlingan kecil di riak airnya bermain-main bersama Mentari dan Bulan yang menjadi teman setianya. Mereka selalu bersama. Ya, bersama. Kau tahu mereka tumbuh bersama di rumah langit. Mentari yang gagah, Bulan yang cantik dan Laut yang lembut.

Mereka tumbuh bersama, hingga beranjak remaja. Kala jiwa muda tumbuh menyimpan gejolak rasa dan mulai menyadari adanya kasih dalam penciptaan diri mereka. Mereka pun jatuh cinta. Ya, Mentari jatuh cinta pada Bulan yang selalu anggun dan lembut.

“sungguh siapa yang tak akan tertarik akan cahayamu, kau adalah cahaya dan kelembutan. Engkau terang Bulan, namun tak pernah menyilaukan”.

Dan Bulan tersenyum lalu berlari kecil ke peraduannya. Dan di hati Bulan pun demikian. Hampir di setiap hamparan cahayanya akan terlukis sinar Mentari, setiap langkahnya akan terjejak ingatan akan Mentari.

Sedang Laut, siapakah yang mengerti kedalamannya. Lubuk Laut adalah kedalaman yang tak terjangkau bahkan oleh sinar Mentari, dan itulah yang membuat mereka tidak menyadari, Laut jatuh cinta. Laut menyimpan hasrat rasa yang sama di palung hatinya dan debardebar yang sama juga di riakriak ombaknya.

“oh aku sudah tahu kelanjutannya, selalu sama. Cerita cinta memang seperti itu, selalu seperti itu…” Jangkrik menyela.

“Tidak, cinta tidak selalu seperti yang kau bayangkan anak muda. Kau orang gunung selalu tidak sabaran. Akan kulanjutkan cerita ini kalau kau masih ingin mendengarkan…”

“baiklah, karena aku suka sekali kisah cinta. Cinta itu bagus, tapi sudahlah….”.

“maka sampai kapan Laut akan mampu menyimpan gejolak rasanya, meski Laut tak pernah mau menampakkan kembali apa yang tenggelam di lubuknya. Namun ahirnya kelembutan Bulan mampu membacanya juga.

Dan itu membuat Bulan sedih,

“kekecewaan apa yang telah kubuat, meski ia tak mengatakannya tapi aku adalah mahluk hawa yang dicipta dari rusuk pelindung hati karenanya sedalam apa hatimu Laut aku akan mampu melihatnya dari kecipak gelombangmu, dari kerlip riakriakmu,” ratap Bulan suatu malam.

***
kelembutan pula yang membuat Bulan ahirnya memutuskan untuk menjauh dan menyendiri.

“mungkin persahabatan akan tetap indah saat kita menjaga cinta tetap terjaga namun tetap tersembunyi di sarangnya…”.

“apa ini Bulan, bukankah kita telah di takdirkan berjalan beriring agar dunia selalu terang bersama kita. Apa yang kita rasakan adalah milik kita, itu adalah takdir kita…”.

“Mentari, janganlah sinarmu menyilaukan matamu sendiri sehingga engkau tak mampu melihat keindahan lain selain sinarmu”.
“Biarkan aku sendiri, agar bumi memiliki malam yang akan membuat mereka selalu ingat akan kesedihan yang mungkin datang. Dan biarlah bersama kegelapan itu aku menemani jiwajiwa yang membutuhkan cahaya”.

Suatu malam Bulan menulis surat kepada Mentari, menceritakan kembali kisah-kisah mereka bertiga di waktu lalu, indah persahabatan mereka bertiga dan kenangan indah masa kecil mereka bersama. “Demi semua kenangan itu, aku akan pergi agar kenangan indah tak pernah terlukai dan persahabatan tak usah ternoda”. Bulan pergi di suatu fajar yang dingin ke arah barat.

Mentari dapat mengerti dan menerimanya meski hatinya terbakar sedih, maka diserahkanlah cintanya kepada Bulan agar selalu menemani dimanapun ia berada. Cinta Mentari itu menjadi gemintang yang berkerlap-kerlip menghibur Bulan dan siapapun yang mengalami nasib cinta yang serupa.

Sedangkan laut ia mulai pendiam, tak lagi banyak bicara. Ia sedih. Namun ia tidak mengerti mengapa tiba-tiba keadaan berubah? Kini ia hanya bisa menatap mentari sahabatnya dari jauh, dan bulan pujaan hatinya dari jauh pula.

Namun laut tetap berharap suatu saat nanti bulan akan mampu melihat cinta di dasar hatinya. Ia terus menunggu. Hanya bisa menunggu karena kata-kata tak lagi mampu mengungkapkan perasaannya, kelu.
Bukankah setiap malam bulan yang cantik dan indah selalu terekam di mata laut yang jernih.
Hingga suatu hari manusia datang ke laut dan mencuri cinta di dasar kedalaman.

“oh alangkah indahnya, gerangan apakah ini” kata seorang
“kita ambil saja untuk kita”kata yang lain
“ya, bukankah laut menyimpan banyak keindahan di dasarnya.”
“mutiara yang indah, dengan apakah laut membuatnya” kata yang lain.

Mereka tidak mengerti, itulah cinta laut yang selalu dipendamnya. Sejak itu manusia mengambil dan mencuri mutiara. Sedang laut tak pernah menyadari, karena keterpukauannya pada bulan.

Semakin lama manusia semakin serakah dan mengambil lebih banyak lagi mutiara cinta laut.

Hingga suatu sore, bulan muncul dalam bentuk yang tidak penuh, pucat dan sedih. Laut melihatnya dari jauh ikut bersedih. Cinta bintang yang berkerlap-kerlip indah pun tak nampak.

Laut berpikir, mungkin inilah saat baginya untuk memberikan cintaya pada Bulan.

“akan kuberikan cinta yang selama ini kusimpan, agar kilaunya menemaninya. Semoga ia akan bercahaya lagi” kata laut. Namun cintanya kini telah dicuri manusia, cintanya tak lagi cukup untuk menemani bulan.

“DIMANA CINTAKU…” teriaknya di suatu malam, mengelegar hingga ke pantai. Bagaimanakah rasanya hati yang dalam dan lembut itu kehilangan cintanya.
Sejak itu laut selalu mencari cintanya yang tak pernah dapat ia persembahkan untuk bulan, selalu mengagapai-gapai pantai meminta cintanya kembali.
“KEMBALIKAN CINTAKU..” namun manusia terlalu angkuh, bahkan merasa bahagia menikmati ketidakberdayaan laut.

Semakin lama anak cucu manusia semakin beringas mengambil cinta laut. Laut sedih dan mulai kehilangan kejernihan dan kilau hatinya. Ia telah tak mampu lagi menangkap cahaya bulan,karena manusia telah mengambil cinta dari hatinya, sehingga mengeruhkannya.

Sejak saat itu tangan-tangan ombak pun selalu mencakar-cakar pantai. Dengan luka di lubuknya ia akan terus mengejar cintanya yang telah di perjual belikan di daratan. Mencari cintanya yang dipamerkan di daratan dengan kesombongan dan keserakahan.

“sekarang aku mengerti,” kata Jangkrik “Tangan-tangan ombak menderu mencakar pantai, laut yang tenang menyimpan kemarahannya di lubuk terdalam. Angin mendesah mengabarkannya pada siapa saja, namun siapakah yang memahaminya, manusia terlalu angkuh untuk mengerti” Jangkrik diam. “aku mengerti…aku mengerti” katanya lagi.

Jeparaku,januari08

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer senja_saujana
senja_saujana at KISAH SANG CAMAR (6 years 50 weeks ago)
90

lama buanget gak nengok akun ini. kirain K.com udah koit. syukur deh aku masih bisa nengok lagi. berkat Tika. makasih Tika

Writer senja_saujana
senja_saujana at KISAH SANG CAMAR (9 years 12 weeks ago)

oke deh, makasih buat semua pelajarannya. aku sangat memerlukannya :D

Writer Scar
Scar at KISAH SANG CAMAR (13 years 13 weeks ago)
100

some people dont really care about their environment

but....

you are the one who really care about it..

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at KISAH SANG CAMAR (13 years 30 weeks ago)
80

Filosofinya lumayan dalem.

Writer muhammadusysyawal
muhammadusysyawal at KISAH SANG CAMAR (13 years 35 weeks ago)
80

Aku suka sekali ama idenya...Kreatif banget...Tapi, kurasa ceritanya bisa diperbagus lagi...Entahlah, aku masih bingung, "mengapa bulan harus pergi?" Aku merasa ada yang agak aneh dengan hal itu. Lalu, "Mengapa bulan kembali dengan kondisi tidak penuh, pucat, dan sedih?" Atau, "Mengapa dia tiba-tiba kembali?" Mungkin kau memang memfokuskan ceritamu tentang laut...Tapi, bukankah matahari dan bulan juga tak kalah sedihnya di masa ini? Ceritanya bisa lebih dieksplor nih! Soal teknis, belajar sendiri aja ya! Salam kenal.Hehe...^_^

dadun at KISAH SANG CAMAR (13 years 36 weeks ago)
90

Terlepas dari masalah teknis, tulisanmu ini luar biasa. Ide, pesan dan segalanya disampaikan dengan penuh keindahan dan membuat pembaca terpukau, seperti Laut yang terpukau pada sang Bulan^^.
Saya sangat suka kalimat ini: “mungkin persahabatan akan tetap indah saat kita menjaga cinta tetap terjaga namun tetap tersembunyi di sarangnya…” sangat mengena.
Well, semoga manusia sadar dan bisa lebih bersikap bijak dalam menjaga cinta sang Laut. ;)

Writer naela_potter
naela_potter at KISAH SANG CAMAR (13 years 37 weeks ago)
80

suka sekali dengan idenya..
mengenai gaya bahasa dan alur, menurut saya sudah bagus.
hanya saja, teknis masih banyak yang kurang. perhatikan penulisan EYDnya aja,,
^^

kiip nulis,,

Writer my bro
my bro at KISAH SANG CAMAR (13 years 44 weeks ago)
90

keren banget nih!

Writer landy
landy at KISAH SANG CAMAR (14 years 1 week ago)
80

Alur yang bagus, cerita yang mudah di cerna

Writer Zedna Azetvica Zahra
Zedna Azetvica Zahra at KISAH SANG CAMAR (14 years 2 weeks ago)
90

wow
great!!

ide yang sangat keren dengan gaya pengungkapan yang begitu indah mengalir
success yak!!!

Writer tika_bintang
tika_bintang at KISAH SANG CAMAR (14 years 2 weeks ago)
80

ceritanya the best... ^_^

Writer Nanasa
Nanasa at KISAH SANG CAMAR (14 years 3 weeks ago)
80

Masih tetap senja..
Aq suka gayamu dalam bercerita. Indah :)

Tapi lagi2 EYD n penulisan :o
Hmm, yang paling kelihatan disini adl kapitalisasi. Simpelnya, untuk tiap awal kalimat, tolong dikasih huruf besar.
Dan untuk setiap mau masuk ke dialog, tolong dikasih enter juga ya :p

Heeee, itu dulu aja deh, kalo mau lebih lengkap, harap hubungi penjual nanas, nanas manis, nanas manis, sepuluh ribu dapet tiga.. Lho??

Masalah EYD, kayaknya dah sering dibahas ma senior2 kita disini.
Hayo2 belajar bareng yuuukkk..

Writer cat
cat at KISAH SANG CAMAR (14 years 3 weeks ago)
90

senja .. gile bener ..nih cerita mengalir dengan halus.

hanya saja perhatikan huruf kapitalnya ui ..

Writer senja_saujana
senja_saujana at KISAH SANG CAMAR (14 years 3 weeks ago)

kalo ada yang mau ngasi aku panduan EYD yang benar, tolong dong....

(masi belajar, he he he... belum sepinter temen2)

makasi n salam

Writer Samsurijal
Samsurijal at KISAH SANG CAMAR (14 years 3 weeks ago)
90

ini nyata, aku dapat merasakan setiap bagiannya.. tQ ats ceritanya...

Writer sefry_chairil
sefry_chairil at KISAH SANG CAMAR (14 years 3 weeks ago)
90

cerita yang menarik! sangat persuasif..^^
saya merasa tertarik untuk terus membaca hingga akhir. dan sudah saatnya kita sadar untuk mencintai alam..^^

satu hal yang ingin aku komentari
pada saat menggunakan kutipan langsung, bukankah harus memakai huruf kapital?
heuheu.. :)

hanya komen saja lho.. :D

---------------
----
Mampir ke website dan blogku ya, klik aja:
SEFRYANA KHAIRIL OFFICIAL WEBSITE
Tentang Kita

Writer OrangMalas
OrangMalas at KISAH SANG CAMAR (14 years 3 weeks ago)
90

Lumayan merinding. IMO, bagus banget ni bro. Gw ga ngerti masalah teknik penulisan, apalagi ttg prosa. Pokoknya isinya mantap :)

Writer k4cruterz
k4cruterz at KISAH SANG CAMAR (14 years 3 weeks ago)
90

... prolog - isi/inti cerita - epilog, semuanya mengalir dengan alur yang nyaman dan membuat pembaca merasa "ingin membaca" bukannya "harus membaca", karena cerita ini tidak "memaksa" tetapi "mengajak" ....

cerita ini akan menjadi bahan rujukan untuk saya dalam membuat cerita .. terima kasih senja_saujana ....

dinantikan cerita selanjutnya ...

-bukananakmarmutlagi-