Rencana Pembunuhan II

II

“Pergi dari kamarku!” bentak seorang pemuda tatkala melihat seorang anak tengah asik bermain di sebuah kamar dengan boneka superhero kesayangannya. Dengan tampang ketakutan dan hampir menangis, anak laki-laki itu berlari pergi dari kamar tersebut.

“Dasar anak sialan!” seru pemuda itu.

“Berani-beraninya dia bermain di sini, membuat kamarku berantakan saja. Lihat saja nanti, akan aku marahi dia habis-habisan. Jangan mentang-mentang sudah menjadi adik tiriku, dia bisa masuk ke kamarku seenaknya saja,” gerutunya masih tampak kesal, kemudian membanting pintu kamarnya.

“Yah! Aku minta uang untuk membayar kuliahku,” ujar pemuda yang sedang menikmati makan malamnya itu.

Orang yang dipanggil Ayah menghentikan suapannya yang pertama, menaruh lagi sendok ke posisinya yang semula, kemudian bersuara.

“Bukannya seminggu yang lalu Ayah sudah berikan uang untuk membayar kuliahmu,” katanya memandang anaknya itu. Seorang wanita dan anak lelaki di sampingnya yang juga berada di tempat itu memperhatikan tingkah Ayah dan anak itu.

“Kali ini untuk membayar mata kuliah yang lain. Uang yang kemarin ituaku gunakan untuk membayar uang kuliah untuk semester ini. Sekarang aku ingin mengambil mata kuliah semester kemarin. Beberapa mata kuliahku pada semester kemarin nilainya ada yang jelek jadi aku mengambilnya kembali untuk memperbaiki nilai yang jelek itu. Maksudku, mengulang mata kuliah tersebut pada semester ini.”

Orang yang diajaknya bicara itu tampak sedang berfikir. Mencerna semua perkataan yang diucapkan anaknya.

“Ayah tidak percaya denganmu. Apalagi kelakuanmu akhir-akhir ini membuat Ayah semakin jengkel dan kecewa padamu, Alfa. Kamu ingat kelakuanmu seminggu yang lalu. Ayah harus menebusmu di kantor polisi karena kamu terlibat perkelahian dengan teman satu kampusmu. Perbuatanmu itu membuat keluarga kita menanggung malu,” jelas sang Ayah.

“Itu bukan salahku, Yah. Itu semua salah orang itu. Dia yang memulainya pertama kali. Dia mencoba merayu kekasihku. Walaupun sudah aku peringatkan, tetapi dia tetap saja masih menggoda dan mengganggu pacarku. Jadi ku hadiahkan saja dia tinjuku ini ke wajahnya,” katanya, seraya melayangkan kepalan tinjunya ke udara.

Wajah Ayahnya makin memerah, menahan amarah yang hampir meluap keluar dari ubun-ubun kepalanya.

“Apa katamu? Kamu meninjunya hanya karena masalah wanita. Hanya karena masalah itu hingga kamu hampir mendekam di penjara. Alfa, kamu memang anak yang selalu bikin susah oarng tua, susah diatur. Kamu mempermalukan nama keluarga kita,” kata Ayahnya naik pitam.

“Apa tidak salah, Ayah menyebutku seperti itu. Aku bikin malu keluarga? Bukankah dari dulu setelah Ibu meninggal, nama kelaurga kita memang sudah rusak. Apalagi setelah munculnya wanita itu.”

Diam sebentar, setelah menelan air ludahnya, ia bicara lagi, “Ayahlah yang sebenarnya mempermalukan nama keluarga. Apa Ayah sudah kehilangan akal sehat, mau-maunya Ayah menikah dengan pelacur ini,” hardik Alfa, sambil menunjuk wanita yang duduk di hadapannya. Laki-laki setengah baya itu makin naik pitam. Setelah memukul meja dengan salah satu tangannya, ia lalu berdiri.

Matanya merah menahan marah yang semakin memuncak. Urat-urat di kedua bola matanya terlihat jelas. Sembari melotot memandang anaknya itu, sambil berjalan ke arahnya, laki-laki yang dipanggil Ayah itu mengarahkan kepalan tinjunya ke wajah Alfa. Namun sebelum sempat mengenai wajah Alfa, tinju itu tiba-tiba terhenti oleh sepasang tangan yang menghalanginya. Wanita yang sejak tadi melihat pertengkaran Ayah dan anak itu mengambil tindakan cepat untuk melerai keduanya.

“Sudahlah Yah! Tenang dulu. Kita harus bicarakan masalah ini bersama-sama dengan kepala dingin, bukan dengan kekerasan seperti ini. Alfa juga pasti tida...” belum sempat ia menyelesaikan kalimat terakhirnya, suara Alfa yang dingin lalu membentaknya tiba-tiba.

“Diam...”

“Kamu tidak usah bicara. Jangan sok membela aku. Ini adalah urusan keluarga kami, sedangkan kamu tidak termasuk di dalamnya. Kamu, wanita biasa, dari rakyat miskin pula, tiba-tiba masuk dalam kehidupan keluarga kami seperti parasit," pekiknya, lalu kembali melanjutkan, "Aku sudah banyak mengenal wanita seperti dirimu. Wanita yang mempergunakan dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Kamu memanfaatkan rasa kasihan Ayahku untuk mendapatkan kekayaannya bukan? Kamu sebenarnya tidak mencintai Ayahku. Yang kamu cintai hanyalah hartanya. Dasar wanita murahan.”

“I... itu... itu semua tidak benar,” katanya sambil terisak kemudian membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya yang kecil.

“Alfa...” bentak Ayahnya.

What’s wrong Dad? Ayah ingin memukulku. Silahkan saja. Perlu Ayah tahu, Ayah itu sudah banyak berubah semenjak kematian Ibu, apalagi sejak masuknya wanita ini di rumah kita.”

Suasana diam beberapa saat, hanya terdengar isakan dari wanita tadi. Tanpa berkata apa-apa lagi, Alfa meninggalkan ruang makan itu. Saat Alfa berbalik akan pergi, sang Ayah sempat melihat beberapa tetes air mata jatuh dari kelopak mata anak laki-laki dewasanya itu.

Seorang anak yang dari tadi melihat tingkah kakak tirinya itu, mengiringi kepergiannya. Matanya aneh. Tatapannya mengandung sesuatu dibaliknya. Sesuatu yang bahkan mungkin dia sendiri tidak tahu apa itu. Tiba-tiba saja muncul dari dalam dirinya dan semakin lama, semakin menguasai dirinya.

III

Keesokan harinya udara terasa panas, begitu panas menyengat, hingga semua mahasiswa berkumpul di kantin kampus. Maklum, karena pergantian musim yang terasa begitu cepat ke musim panas di London. Botol-botol minuman berdiri tegak di tiap-tiap meja makan. Luapan rasa puas sesekali keluar dari setiap mulut mahasiswa yang kala itu telah menghabiskan minuman botolnya.

Tiap-tiap meja di tempat itu dipisahkan satu persatu dengan beberapa kursi besi yang sengaja diletakkan mengelilingi tiap meja.

“Bagaimana Al?” tanya seorang pemuda botak ketika seorang laki-laki datang menghampirinya.

Pemuda itu bingung lalu balik bertanya, “bagaimana apanya maksudmu?”

“Rencana kita nanti malam. Kamu kan sudah janji mengajak kami berdua ke diskotik dua hari yang lalu. Benar ‘kan Lan?” katanya meminta dukungan dari teman yang duduk di sampingnya.

Pemuda bernama Alan itu mengangguk sekali, membenarkan.
“Semuanya batal. Rencana kita untuk bersenang-senang nanti malam batal,” jelas Alfa kesal.

Belum sempat pemuda botak tadi berkomentar, Alfa berbicara lagi, namun kali ini dengan nada suara yang lebih dipertajam dan ditinggikan dari yang tadi.

“Ini semua gara-gara wanita sialan itu. Kalau saja dia tidak ikut campur masalahku, aku pasti dapat membujuk Ayahku agar memberiku uang. Lagipula pasti dia sudah memprofokasi Ayahku. Lihat saja nanti aku akan membalas perbuatan wanita sialan itu dan pada akhirnya dia beserta anaknya akan aku usir dari rumahku.”

“Memangnya bagaimana caramu membalas kelakuan Ibu tirimu itu?’ tanya Alan setelah menghisap sebatang rokok dan menyemburkan asapnya ke udara.

Alfa tampak berfikir. Memandang ke kiri-kanan, berharap mendapatkan ide yang cukup brilian untuk melaksanakan niatnya itu.

“Itu hal yang mudah...” kata pemuda botak yang ternyata belakangan bernama John Berkley.

“Serahkan saja padaku. Semua ide-ide brilian tertampung di otakku yang seperti super komputer ini.”

Alfa berkata seolah-olah tidak percaya kepada pemuda yang sudah satu tahun lebih menjadi teman sekampusnya itu.

“Yang benar? Sepertinya aku ragu. Di kelas saja kamu sering di tegur oleh dosen karena tidur saat beliau mengajar. Ditambah lagi nilai-nilai dari semua mata kuliah yang kamu ambil, semuanya dapat nilai error. Bagaimana aku bisa percaya padamu?”

Namun kemudian John seolah-olah menambahkan gairah baru, “masalah itu dengan masalah yang ini berbeda. Sangat jelas berbeda. Otakku ini sangat ahli dalam memberikan ide-ide yang cemerlang kepadamu. Percayakan semuanya kepadaku.”

Alfa mengangguk, wajahnya menunjukkan ekspresi puas yang amat sangat.

“Katakan apa ide brilianmu itu?”

“Sebentar... tenang dulu dong! Kita bicarakan dengan perlahan. Karena menurut survey, biasanya rencana atau tindakan yang terburu-buru itu tidak akan berhasil. Malah akan menjadi bumerang bagi kita sendiri,” ia berbicara dengan antusias.

“Survey?” ujar Alan heran.

“Bukankah itu survey yang kamu buat-buat sendiri. Hanya lelucon.”

Kedua temannya itu cekikikan.

“Oke... liat saja nanti, akan aku buktikan.”

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer rush-2-chisty
rush-2-chisty at Rencana Pembunuhan II (14 years 33 weeks ago)
50

Nice....
Novelnya bener2 bagus..
Settingnya di London, tapi btw, tempatnya hampir mirip ma novel yang laris di NYT ya? yang professor and the madman?
Tapi gpp,ceritanya pokoknya T.O.P!!!

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at Rencana Pembunuhan II (14 years 35 weeks ago)
100

Buat ABC sich, ditunggu aja novel cetakannya. Udah 3 hari tuh gak posting cerita.

Jadinya baca-baca cerita yang lama, excellent banget.

Writer abc
abc at Rencana Pembunuhan II (14 years 36 weeks ago)
90

terimakasih atas saran dan kritikannya. itu sangat berguna bagi saya....

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Rencana Pembunuhan II (14 years 37 weeks ago)
80

Ternyata settingnya di London ya? Nuansa Inggris (dalam hal ini Londonya) tidak terasa sama sekali. Aku kira tadinya setting cerita ada di indonesia aja.
Deskripsinya masih kurang luwes menurutku (bukan berarti aku bisa bikin deskripsi yang lebih luwes dari kamu lho). Aku tidak terlalu merasa sedang melihat sebuah cerita, tapi lebih ke merasa seperti sedang mendengarkan sebuah penggambaran si A begini, si B begitu.
Kalo ceritanya sendiri, kayaknya sih menarik. Sepertinya masalah utama baru akan dilemparkan. Jadi saya menunggu saja lanjutannya.. ^_^

Writer panah hujan
panah hujan at Rencana Pembunuhan II (14 years 37 weeks ago)
80

Karakter John Berkley kurang sepadan dengan keadaan.. karakternya kurang terasa pas (aku rasa begitu pas dia mengatakan tentang kehebatan otaknya yang bisa disamakan dengan komputer), percakapan antar teman tidak pernah sekaku itu, kalau menurutku sih.

Btw, aku rasa adik tiri itu ya yang merupakan anak brilliant yang kamu ceritakan sebelumnya? (menebak-nebak)

tapi nice job kakak, tetap asyik diikuti. menarik. dan lugas.

lanjut...