...karena kamu...

*****

Entah mengapa sepasang mata ini tetap terus tertuju padanya.

Setiap saat, setiap menit. Dalam sepersekian detik saat berpapasan di tengah jalan, atau saat duduk berjauhan namun masih dalam jangkauan pandang. Pesona itu begitu merengkuh, begitu memabukkan. Persis seperti dulu.

Pesona yang sama, yang juga mampu menguapkan segenap keberanian yang sudah kusiapkan, ketika sore itu kulangkahkan kaki menuju tempatnya berdiri. Bersandar pada railing kaca, sebelah kaki ditopang keatas, dengan pandangan menerawang. Menyapu kerumunan manusia tak dikenal yang menggerombol ribut jauh di bawah. Terbingkai manis oleh corak keemasan cahaya mentari sore yang lembut menembus dinding-dinding kaca di sekitar, membias begitu sempurna.

Ada sesuatu dalam kesederhanaan dirinya yang masih buatku terpana. After all these years, kejamnya jari-jari cemburu waktu tetap tak mampu menggerus raut melankolis itu dari ukiran rapuh wajahnya.

“Hey…”

Ia menoleh. Mengangkat alis. Menyungginkan seulas senyum.
“Hey.”

“Udah lama nunggu?”

Oh, nggak kok. Baru aja nyampe. Kenapa lama?”

“Biasalah, teammates. Mereka ngerumunin adju yang tadi, jadi lama bubarannya.”

Ia tertawa kecil, sekejap mempertunjukkan deretan rapi gigi putihnya. “Well, teammates can be a real pain in the ass sometimes.”

“Seriously?” Giliranku tertawa. Matanya menangkap mataku, menguncinya sejenak. Masih sepasang sorot cokelat yang sama, yang sejak dulu mati-matian kupuji dan kupuja.

Ia mendesah. Tanpa menjawab. Kesunyian merajai beberapa puluh detik yang kian enggan mendesir lewat.

Dapat kurasakan ketakutan tak beralasan mulai merayapi sekujur badanku. Entah sejak kapan aku merasa seperti orang asing di hadapannya, yang sempat tidak tahu harus berkata apa saat derasnya aliran konversasi tiba-tiba buntu, tak bisa lagi terlanjutkan. Padahal, sudah sekian lama kuhabiskan waktu berusaha untuk mengenalnya. Dan ya, aku berhasil. Dari penghujung anak rambut pertama hingga jengkal terakhir ujung kakinya. Setidaknya dulu.

“...Udah makan?”

Lamunanku buyar seketika. Menyadari sebaris kalimat singkat yang barusan dilontarkannya ditujukkan padaku.

“Eh, belum, aku belum makan,” cepat-cepat aku berujar. “Kamu?”

“Belum. Teammates lagi pada mau pesen McD.” Kembali, sebuah senyum. “Mau ikut sekalian?”

Buru-buru aku menggeleng. “Oh, nggak ah, makasih. Aku nanti mau cari makan bareng yang lain juga kok.”

“Mau ngabur ke Plaza Senayan?” Mata itu mengerling nakal.

Aku tertawa. “Oh, nggak. LO-nya nggak berani, takut ketahuan gitu. Mungkin besok.”

“I see.” Jemarinya perlahan menelusuri rambut pendeknya yang dibiarkan berantakan. “Beneran nih nggak mau ikutan pesen?”

“Iya, beneran.” Aku mengangguk mantap. “But thanks for the offer.”

“Whatever,” Tatapan sejuk itu beralih, ditariknya kembali menerawang jauh ke atas. “Terserah kamu juga sih.”

Kuhela napas panjang, panik. “Aduh, kamu jangan begitu dong ngomongnya. Marah?”

Raut itu tak bergeming. “…Nggak.”

“Nggak? Nggak apa?”

“Nggak marah,” ucapnya datar. “Aku cuma bingung aja sejak kapan kamu ngomong sama aku kayak ngomong sama mas-mas pinggir jalan yang baru ngajak kamu kenalan.”

Diam. Aku tak mampu menjawab. Kaget mendengar ucapannya yang seakan mampu membaca isi hatiku.

“Aku…” Lidah ini terasa kelu, kepalaku tak mampu berpikir. Membenarkan fakta aneh yang barusan dinyatakan olehnya.

Ia hanya mengangkat bahu. “Never mind. Satu tahun beneran bisa merubah segalanya. Aku bisa ngerti kok.”

Beberapa anggota panitia berjas merah tua lewat, menawarkan sampel gratis minuman teh hijau botolan merk ternama dalam tiga macam pilihan rasa; pure green tea, honey, dan jasmine. Kuambil dua botol kecil yang berlabel jasmine green tea, dan salah satu kusodorkan padanya. Ia menerima dengan senyum kecil serta sebuah tatapan penuh arti.

“Kenapa?’ tanyaku, bingung.

Senyum itu kian melebar, menggetarkan. “Nggak. Aku heran aja kamu bisa tau aku suka yang jasmine. Seingatku kita belum pernah sekalipun minum green tea botolan bareng.”

“Oh ya?” Kuangkat alisku. “Aku cuma berasumsi aja kok. Selera kita kan hampir sama dalam berbagai hal, jadi tadi aku beranggapan pilihan rasa green tea botolan kita juga sama.”

“Jadi kamu juga suka yang jasmine?”

“Yeah, you can say that,” Mulai kubuka segel tutup botol dalam genggamanku. Kulihat dia pun melakukan hal yang sama, masih ditemani senyum manis yang seperti enggan pergi menghiasi raut indahnya.

“You read my mind, as always,” Dapat kudengar ia menggumam pelan sembari sibuk membuka tutup botolnya. “Even for the smallest things.”

“I know,” balasku, tulus. “Weird huh?”

“You bet.”

Kesunyian yang kembali datang menyapa begitu sabar kunikmati, hanya dengan berdiri di hadapannya. Yang terdengar hanya hiruk-pikuk sekitar, teriakan senang kerumunan orang yang tak henti berlalu-lalang, entah berseragam sekolah ataupun berjas merah tua dan berkalungkan nametag panitia. Sempat bertukar senyum dengan beberapa kenalan yang lewat, bahkan mengobrol sebentar dan saling menyapa. Ia hanya menunggu dengan sabar sambil bersandar di railing kaca, sesekali menenggak jasmine green tea-nya yang tidak lagi dingin. Ikut tertawa mendengar cerita-cerita lucu, balas memanggil bila ada yang memanggil namanya, sedikit melambai, sedikit obral senyum. Namun tidak lebih daripada itu. Sungguh berbeda dengan sejuta keceriaan serta celetukan-celetukan ramah yang selalu diumbarnya setiap hari jika tidak bersamaku. Entah mengapa.

Setelah segala keramaian berakhir, kembali kualihkan perhatian padanya, memandanginya dalam diam. Dibalasnya tatapanku dengan binar lembut jenaka.

“What?” tanyanya, bingung.

Aku tertawa kecil. “Kamu tumben banget nggak ikutan hore ngobrol sama anak-anak tadi.”

“Oh.” Ia mengangkat bahu. “Dunno. Lagi males aja. Not in the mood.”

“Not in the mood kenapa?”

“Ya, not in the mood aja. Lagi pengen menyingkir sebentar dari segala hubbub kompetisi.”

“Really?” Kuanggukkan kepalaku. “Emangnya harus menyingkir karena apa?”

“Karena kamu.”

Dahiku kontan berkerut. “Karena aku? Kenapa karena aku?”

“Karena kamu aja.”

“Ih, aneh banget sih.” Aku mencibir kearahnya. “Bawa-bawa orang lain jadi penyebab keanehan sendiri. Dasar nggak populis.”

“Eh, biarin. Suka-suka aku dong. Kamu emangnya punya hak apa buat protes?”

“Okay, fine, aku nggak punya hak.” tukasku, pura-pura terusik. “Terus, jadi in the mood-nya buat apa?”

Sekelebat senyum misterius sebelum wajahnya kembali menghilang jauh ditolehkan ke kanan. Botol yang digenggamnya sudah hampir kosong, sedang punyaku masih nyaris tak tersentuh. Terlupakan. Titik-titik pengembunan air membasahi jemariku yang gemetar, lalu mengalir jatuh satu-satu ke lantai. Dalam tiap detik yang berlalu sendu aku kembali pasrah terguncangkan hantaman sejuta gelombang pesona yang tak sanggup kutahan darinya.

Lirih, ia mendesah. “Buat kamu...”

…I wish you blue birds in the spring
To give your heart a song to sing
And then a kiss, but more than this,
I wish you love…

Hatiku bagai melompat kaget mendengar senandung lagu yang tiba-tiba mengalun perlahan dari arah daerah panggung di lantai bawah. How coincidental, disaat semua baris pertukaran kalimat antara aku dan dia berubah menjadi lontaran kata-kata manis puitis, lagu ini mulai dinyanyikan dengan begitu indahnya oleh seseorang di bawah sana. Spontan kulirik dia, yang kemudian kembali menghela napas panjang.

“Lagu kita,” gumamnya, pasrah.

“Selalu,” balasku.

“Dan kenapa harus dinyanyikan sekarang?”

“Beats the hell outta me, darling.”

Jelas kudengar getaran dalam suaranya. Goyahnya pertahanan, kembali menyerbunya rentetan kenangan. Kekuatan manusia bertahan dari ikatan badai emosi pasti ada batas akhirnya. Dan proses menelusuri kembali tidak pernah menjadi sebuah fase yang menyenangkan bagi semua orang, bukan?

“Kamu tahu semua ini terlalu indah sekaligus menyakitkan buat aku,” ucapnya. Dapat kuterka apa yang sedang membendung di matanya.

“Aku ngerasain hal yang sama, dear Soulmate.”

“Kamu sadar satu tahun ini aku nggak pernah berhenti mikirin kamu.”

“Dan kamu juga sadar aku pun nggak pernah berhenti kangen sama kamu.”

“Aku selalu pengen telepon kamu.”

“Aku juga.”

“Aku selalu pengen ketemu kamu.”

“Aku juga.”

“Aku selalu pengen peluk kamu.”

Cukup sudah. Benteng terakhirku sudah jatuh runtuh sedari tadi. “Aku juga. Aku juga.”

“Dan memang sepertinya aku masih kelebihan endorfin.”

“Aku juga masih.”

“Kamu tahu apa artinya?”

Kurasakan detak jantung ini kian memburu, saat pandangannya kembali mengunci dua mataku.

”…Aku tahu. More than you do.”

…I wish you shelter in the storm
A cozy fire to keep you warm
And most of all, when snowflakes fall
I wish you love…

“…Ferre! Hurry up, it’s time to go!”

LO-nya tiba-tiba muncul, melambai-lambaikan map kuning kearahnya sembari berteriak memanggil dari kejauhan.

“God, seriously.” Rautnya berubah murung saat kembali ditatapnya aku. Diraihnya tanganku, lalu digenggamnya erat. Sejenak. “I have to go now. Forgive me.”

Aku mengangguk. “Aku juga pasti lagi dicariin sama LO-ku.”

Tulus, ia tersenyum. “Thanks for making my day so beautifully unforgettable.”

“You too,” desahku.

“Oh ya, aku masih nggak ngerti,” ujarnya kembali. “Sebenarnya buat apa sih kamu minta ketemu sama aku di sini? Katanya mau ngomong sesuatu…”

Aku tersenyum. Dapat kurasakan wajahku memanas. “Oh, nggak… Aku sebenernya cuma pengen ngobrol aja sama kamu disini,” jawabku, memilih jujur. “Nggak tahu lagi gimana caranya misahin kamu sama gerombolan teman-teman kamu itu kalau caranya nggak begini.”

“Oh.” Ekspresinya berubah rumit, sulit diterka. Tapi kemudian ia kembali tersenyum, lembut.

“Dasar orang aneh,” gumamnya sinis, mengedipkan sebelah mata.

“Kamu juga aneh.” Aku tak mau kalah.

“Nggak seaneh kamu.”

“Kamu jauh lebih aneh, believe me.”

Sebuah tawa kembali terselip keluar dari bibirnya. “Tapi aneh-aneh kamu tetap suka, kan?”

“Right back at you.” Aku tergelak, lepas. Membuatnya mati gaya.

Diraihnya ransel yang sejak tadi teronggok lesu di samping tempatnya berdiri, dan perlahan ia mulai berjalan pergi. Dengan tiap ketukan langkahnya yang beradu dengan lantai, kurasakan kembali tergarisnya sebuah jarak semu yang kembali terbentang memisahkan.

Bolehkah dua orang asing untuk saling menginginkan satu sama lain? Walau segala yang pernah terukir bersama kini sudah berubah menjadi sejarah, tak adakah kesempatan kedua untuk mampu memulai kembali?

Sebab kehadirannya dalam hidupku hanya seperti jutaan bintang yang bertaburan di gelapnya langit malam. Hadir sekejap, menemani, dan sekilas terasa tak berarti. Namun tanpanya bentangan semesta langit bagai kehilangan maknanya yang hakiki.

Seperti diriku kini.

…My breaking heart, and I agree
That you and I, could never be
So with my best, my very best
I set you free…

Setengah jalan, tiba-tiba ia berbalik, menghadapku yang masih diam terpaku menyaksikan kepergiannya.

“Moga-moga lain kali kamu bisa notice sepatuku kalau kita ketemu lagi!” serunya setengah berteriak. Disusul sebuah senyuman lebar andalan sebelum kembali berbalik dan meneruskan perjalanan.

Spontan, kulihat ke bawah.

Astaga. Sepatu hijau itu. Norak. Aneh. Kampungan. Hasil menang lomba bersama dua tahun lalu.

Sepatu itu dibencinya setengah mati. Namun aku pernah bercanda untuk menyuruhnya memakai sepatu unik nan aneh itu di lomba tahun berikutnya. Tak disangka-sangka ia betul-betul menepati janji.

Dan kini masih perlukah bertanya untuk siapa sepatu itu khusus dikenakannya tahun ini?

*****

--balthazor66
jakarta, aug 31, 2006 – 11.46 p.m.
edited january 14, 2008 - 09.40 p.m.
..boleh dong, sedikit terinspirasi?

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer pelangijingga
pelangijingga at ...karena kamu... (13 years 42 weeks ago)
80

wah bagus semua muanya...

Writer dee_xfr
dee_xfr at ...karena kamu... (14 years 37 weeks ago)
90

so sweet dech..n_n

Writer kornelius.kevin.kristian
kornelius.kevin... at ...karena kamu... (14 years 38 weeks ago)
80

aaahh..
lagi2 sesuatu yang familiar. i can relate with the environment.
i'm just wondering, if, perhaps, i should free my imagination even more.
the best part, though, is still the beauty of the moment.
=)

Writer hendrosusanto
hendrosusanto at ...karena kamu... (14 years 38 weeks ago)
100

jalani aja.. jarang2 kita dapat pengalaman seperti ceritamu..

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at ...karena kamu... (14 years 38 weeks ago)
80

adju? team mate? LO? Remind me to English debate competition. Is the author a debater? Hehehehe, sweet story. I love the dialogue. Although combine language is not comfortable for me. But it is sweet.
Nice to meet you anyway....^_^

Writer novbrian
novbrian at ...karena kamu... (14 years 38 weeks ago)
90

Plotnya flowing, fluent, deskripsinya dalam, juga estetis.. =)