Surat Cinta Untuk Bunda 3

Ibu, Senyummu surga Bagiku

siang itu, dalam ruangan kecil bersahaja yang biasa kau jadikan tempat untuk menghadapNya, air mata mengalir dari wajah indahmu. engkau terisak. engkau tersedu. engkau menangis, ibu. akupun menangis karenanya. meskipun aku tak tahu mengapa aku menangis. yang kutahu, adalah ketika membaca guratan wajahmu, ada jutaan luka yang telah sekian lama kau simpan. ada kecewa yang telah ratusan hari kau biarkan menganga.

aku, anakmu ibu. dalam darahku ada darahmu. dalam nadiku ada denyutku. dalam nafasku ada ruhmu. dalam hatiku ada cintamu. engkaulah yang menjadi perantara aku terlahir ke dunia, setelah rentetan peristiwa yang sungguh luar biasa. setelah sakit demi sakit yang kau derita berbulan-bulan. siang dan malam. maka, pada hari ini izinkan aku sekedar menyatakan rasa cinta yang begitu dalam, rasa takzim yang paling 'adhim untukmu ibu. aku ingin engkau tahu bahwa cinta anakmu ini, mengalahkan cinta mentari pada bumi. mengalahkan cinta ribuan bintang pada selendang malam. meski, saat ini, pun nanti aku tak akan pernah bisa membayar lautan pengorbanan yang engkau tuangkan dalam seluruh perjalan hidupku.

siang itu, engkau menangis. aku pun menangis. aku tahu, airmata itu meyiratkan banyak luka. aku tahu airmata itu adalah luapan rasa cinta yang tak bisa kau buat nyata. karena cinta yang kau punya terlalu sempurna, ibu. karena cinta itu terlalu raya untuk bisa kutafsirkan dengan anganku. Ibu. seandainya ada seseorang yang boleh aku sembah. maka, aku akan menyembahmu, ibu. seandainya sejak bayi dulu aku sadar dan tahu bahwa engkaulah ratu kehidupanku, maka, pasti aku akan memelukmu ibu. pasti aku akan menciummu. aku tidak akan pernah menyusahkanmu, ibu.

aku anakmu ibu. anak yang engkau pelihara dengan penuh kasih sayang sebagai buah cinta abadi antara engkau dan bapak. sebagai prasati abadi yang kau pahat berdua bersama sang pematung, bapak. sebagai penghias perjalanan yang setiap saat kau tuliskan dalam lembar demi lembar kisahmu. kisahmu tentang aku. sedetikpun kau tidak pernah melupakannya. selalu kau catat dengan airmata, darah, dan cintamu, ibu.

siang itu, kau tampak pucat. seluruh airmatamu terkuras habis. ketika engkau menceritakan luka yang begitu hebat kau rasa. ketika engkau meluapkan cinta yang selama ini terus meraya kepadaku, pun kepada adik-adiku. waktu itu engkau mengatakan bahwa kasih sayangmu tak akan berkurang sedikitpun padaku, juga pada adikku. engkau mengatakan bahwa aku tetap anakmu, sampai kapanpun. aku tak bisa mengurai bahasa kalbumu, ibu. aku terlalu lemah untuk mengerti dan membaca semua luka yang membuatmu harus merasa berdosa.

aku anakmu ibu. anakmu yang kini telah dewasa. anakmu yang kini hendak merampungkan sarjana di kota ini. anakmu yang hingga usianya yang ke 20 belum bisa membuatmu bahagia, ataus sekedar menciptakan simpul-simpul indah di bibirmu. maafkan aku ibu, yang hanya bisa membuatmu bersedih dan berduka. maafkan aku ibu, yang hanya bisa menyusahkanmu. maafkan aku ibu, yang telah ribuan hari tak peduli pada cinta yang kau bagi. untukku, untuk adik-adikku. maafkan aku ibu, aku terlalu lemah berpijak dan melangkah, tidak seperti engkau yang gagah dan tanpa keluh kesah dalam membimbingku. mengajariku melafalkan a, ba, tsa. mengeja kehidupan yang luar biasa.
maafkan aku ibu yang tak bisa menjadi kakak yang baik bagi adik-adikku, seperti yang engkau harapkan. meski hingga kini aku terus berusaha mewujudkan keinginanmu itu

siang itu, aku benar-benar merasakan cintamu. aku benar-benar merasakan ketulusanmu dalam mendidikku. hamparan indah sebuah cita sederhana yang selalu ingin kau nikmati dariku. hanya ingin melihatku bahagia!. tanpa peduli jika nanti kau harus terluka dalam mewujudkan bahagiaku. bukankah saat itu engkau berkata, bahwa bahagiaku adalah bahagiamu juga?

aku anakmu ibu. yang begitu terlahir ke dunia kau sambut dengan tawa dan senyum mesra. aku anakmu ibu, yang selalu dan selalu kau harapkan menjadi anak yang shalih. selalu kau harapkan menjadi manusia yang berguna. sukses dunia akhirat. setiap saat, setiap kesempatan munajat aku tahu engkau selalu mendoakanku dengan linangan air mata dan cita yang tak terhingga, kemudian kau kirimkan pada pemilik surga. engkau berharap Ia membacanya dan mewujudkan citamu itu.

Surat ini adalah persembahan cinta yang mungkin selama ini belum terasa nyata bagimu. sayangku padamu memang tak mampu kuungkapkan kecuali dengan bahasa kata-kata. cintaku kepadamu memang tak mampu kuungkapkan melalui lisan, meski lisanku begitu fasih melafalkan seribu tembang dan menyanyikan kehidupan. semoga dengan goresan kecil ini akan senantiasa mengekalkan jalinan cinta di antara kita, menumbuhkan kasih sayang yang lebih tak terhingga, dan akhirnya menjadi jalan bagi kita untuk bertemu kembali di surga.

Salam takzim dan cinta Ananda
"bagi bidadari yang wangi cintanya selembut kesturi"

Rafif Amir Ahnaf
"kutulis ini di Istana takwa dengan mata berkca dan gumpalan airmata, diiringi musik instrumen "Yanni-Adagio in C minnor"
-5 hari menjelang hari ibu-

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer sany_fren
sany_fren at Surat Cinta Untuk Bunda 3 (13 years 33 weeks ago)
70

sungguh sangat menyentuh kalbu,pasti dari hati yng terdalam??the best fren

Writer Raudhah Fajrin
Raudhah Fajrin at Surat Cinta Untuk Bunda 3 (13 years 33 weeks ago)
70

Kewajiban kita berbakti kepada ibu. Lebih baik dijadikan cerpen.

Writer shafira
shafira at Surat Cinta Untuk Bunda 3 (13 years 34 weeks ago)
80

cinta banget ya ama ibu..
tapi aku tak setuju kata2 ini nih..
"Ibu. seandainya ada seseorang yang boleh aku sembah. maka, aku akan menyembahmu, ibu."
hati-hati bisa jadi rancu..
cinta yg begitu dalam jangan sampai membuat kita seolah menyekutukan-Nya..

Setuju??
^_^