AOM 10 : Nocturno part 1

***************************

Nocturno adalah sebuah melodi romantis yang menggambarkan keindahan malam bulan purnama. Chopin adalah komposer klasik yang terkenal dengan komposisi-komposisi Nocturno-nya

***************************

Taylor

Dia kembali terjaga dari tidurnya. Dia termangu sesaat. Pikirannya berusaha mencerna gambaran-gambaran mimpinya barusan. Lagi-lagi itu terjadi, entah sudah yang keberapa kali. Mimpi itu terus mengganggu tidurnya sejak kecelakaan yang memaksanya tinggal di rumah sakit ini selama hampir dua minggu. Bukan mimpi yang mengerikan sebetulnya. Tapi dua nama itu terus berputar-putar dalam mimpinya. Selalu tentang nama yang sama dan suara yang sama. Dia bahkan masih bisa merasakan jeritan memilukan itu di telinganya. Seorang ibu yang kehilangan bayinya, dialog cinta sepasang kekasih, Marion-Ernest.

Siapa mereka?

Taylor menghela nafas dan memperhatikan sekelilingnya sesaat. Kamar rawatnya tidak terlalu luas, tapi cukup nyaman. Kamar ini memiliki kamar mandi dan dapur kecil sendiri. Lemari es portable dan sebuah televisi kecil terdapat di sudut ruangan. Samantha, wanita yang menabraknya, telah memastikan dia mendapatkan yang terbaik dari rumah sakit ini.

Kamarnya terasa sunyi. Ayahnya yang biasanya menemaninya tidak menginap lagi sejak kemarin malam. Dia sendiri yang memintanya untuk tidak menemaninya lagi. Dia merasa kondisi sudah pulih. Dia bisa mengurus dirinya sendiri tanpa harus merepotkan ayahnya atau yang lainya.

Dokter sudah mengijinkannya pulang sore tadi tapi ayahnya baru akan menjemputnya besok pagi. Dia sudah tidak sabar menunggu esok. Dia sudah bosan di rumah sakit dan ingin segera pulang.

Sebetulnya Taylor menyukai orang-orang di sini. Perawat dan dokternya ramah. Beberapa pasien tetangga kamarnya juga menyenangkan. Tapi dia sudah merindukan rumahnya. Dia rindu bermain-main di hutan kecil dekat rumahnya bersama adik-adiknya. Dia juga ingin secepatnya bisa berjalan-jalan dan bermain bersama Abigail, seorang teman yang baru dikenalnya sejak kepindahannya ke kota ini. Dia rindu masakan Martha, pembantu rumah tangganya. Dia rindu bercanda dengan Zoe, adik bayinya.

Taylor beranjak mengambil segelas minuman. Dia memandang ke arah jam dinding dan menyadari malam sudah sangat larut. Dia mencoba kembali berbaring. Tapi entah kenapa rasa kantuknya sudah menghilang. Mungkin dia tidur terlalu cepat tadi sore. Atau mungkin juga dia sudah mulai bosan dengan tidur.

Taylor tersadar ketika melihat tirai jendela kamarnya masih terbuka. Dia beranjak mendekat dan termangu sesaat ketika memandang langit malam. Malam ini bulan tampak indah. Begitu bulat dengan sinarnya yang pucat keperakan. Bayang-bayang hitam kastil tua di kejauhan sana membuat bulan itu terlihat jauh lebih dramatis. Entah kenapa dia merasa hatinya berdesir aneh ketika memandang siluet bangunan tua itu. Dia menutup tirai.

Taylor kembali ke tempat tidurnya. Dia mencoba menyalakan televisi. Sebentar saja dia sudah merasa bosan dengan acaranya. Dia mencoba membolak-balik beberapa majalah dan buku cerita di dekatnya. Tapi dia sudah menamatkan semua buku itu tadi sore. Dia mengurungkan niatnya untuk membaca dan memutuskan untuk keluar, berharap masih ada perawat jaga yang bisa diajaknya mengobrol hingga dia mengantuk lagi.

Koridor ruang perawatan VIP tampak sepi. Letaknya tidak jauh dari lobi rumah sakit dan ruang tunggu. Dia bisa melihat ruangan itu masih terang benderang. Dia melangkah menuju ruang jaga dan kecewa tidak menemukan seorangpun perawat yang berjaga di sana.

Taylor memandang lobi rumah sakit itu. Hanya beberapa orang yang tampak berlalu lalang di sana. Dua orang suami-istri tampak duduk terkantuk-kantuk di kursi pengunjung. Seorang pria menonton televisi dengan suara rendah. Di sudut, seorang petugas keamanan asyik bermain catur dengan seorang petugas kebersihan. Sesekali perawat jaga atau petugas dari ruang gawat darurat di ujung lorong muncul. Suasananya begitu tenang. Dia memutuskan untuk bergabung dengan mereka.

Taylor duduk di tempat yang memungkinkan dia mengamati orang-orang yang berlalu-lalang di lobi ini. Melodi piano mengalun lembut dari pengeras suara. Tidak keras tapi cukup memenuhi lobi hingga ke koridor ruang perawatan. Mungkin ada speaker tambahan di sepanjang koridor ini.

Dia pernah membaca kalau musik klasik bisa menjadi terapi yang bagus untuk para pasien. Mungkin pihak rumah sakit sedang mencoba terapi itu. Dia tidak terganggu. Dia selalu menyukai suara dentingan piano. Rasanya begitu lembut dan indah, mengalun penuh perasaan, membangkitkan segala fantasi dan mimpi. Walaupun dia tidak paham lagu klasik, dia selalu menyukainya.

Dia mencoba memejamkan mata sesaat menikmati alunan nada itu. Kemudian, saat membuka matanya diapun termangu. Pemuda itu muncul dengan langkah lesu dari koridor emergency. Dia merasa sekelilingnya seolah berhenti dan membeku. Pandanganya kini hanya terpaku pada sosok pemuda itu. Pertemuan di hutan dan di cafe itu kembali tergambar jelas dalam pikiranya. Pemuda bermata sebiru langit itu, yang hingga saat inipun dia tidak tahu namanya, bagaimana dia bisa berada di sini?

Apa yang membawamu kemari? Apakah kita memang digariskan untuk bertemu lagi? Apakah ini karena pengaruh alunan lagu yang indah itu sehingga aku bermimpi?

Dia melihatnya lagi…..

Jordan

Jordan melangkah keluar dari ruang emergency dengan lesu. Keributan di klub tadi benar-benar menyebalkan. Sekali lagi dia memandang balutan di lengan kirinya dengan pandangan terhina.

Empat jahitan! Dasar pemabuk terkutuk!

Orang yang mengantarnya ke mari sudah pergi dari tadi. Dia sendiri menolak tawaran perawat jaga untuk menginap semalam di ruang gawat darurat. Lukanya hanya empat jahitan dan itu tidak membuatnya kepayahan. Dia kembali mengingat kejadian itu.

Dia bertengkar dengan Samantha lagi. Dia tidak mengerti kenapa kakaknya harus semarah itu ketika mendapatkan dirinya mengadakan pesta di rumahnya. Memangnya sesuci apa rumah itu sampai dia keberatan dengan alkohol, beberapa bocah teler di lantai, perabot pecah atau adegan panas di kamarnya? Jordan berpikir dengan kesal.

Dia tidak bisa membubarkan pestaku dan mengusir teman-temanku sambil berteriak-teriak seperti orang gila!

Marah dengan Samantha membuatnya memutuskan untuk menghabiskan sisa malam di luar. Dia mencoba melampiaskannya dalam hingar bingar rave party di klub kenalannya itu. Belum hilang semua kekesalannya, tiba-tiba keributan itu terjadi di dekatnya. Dia terlambat menghindar ketika pecahan botol itu nyasar ke lenganya. Konyol! Dia memaki dalam hati.

Malam ini benar-benar buruk!

Kata-kata Samantha kembali berputar dalam kepalanya

“Aku selalu berusaha bersabar dengan semua ulahmu. Aku selalu memberimu uang dan semua fasilitas yang kau butuhkan sementara Dad dan ibumu sudah tidak pernah mempedulikanmu! Tidak bisakah kau tunjukan sedikit saja sikap baikmu padaku?! Kau minta aku untuk tidak mencampuri urusanmu dan mengaturmu, tapi kau sendiri tidak pernah menunjukan padaku kalau kau bisa bertanggungjawab dan mengatur hidupmu sendiri dengan baik! Apa maumu?!”

Jordan menggerutu dalam hati.

Kenapa sih perempuan itu makin hari makin cerewet?!

Dua tahun lalu ketika kakak satu ayahnya itu menghubunginya dan mengajaknya untuk tinggal bersamanya, dia tidak tampak menyebalkan. Samantha mencukupi semua kebutuhannya dan tidak berusaha menekannya. Tadinya dia berpikir Samantha bisa menjadi kakak perempuan yang asyik. Semuanya berubah ketika Samantha mulai gemar menceramahinya dan mengaturnya. Dia mulai terlihat tidak jauh berbeda dengan orang tuanya. Pertengkaran demi pertengkaran terjadi dan tadi adalah puncaknya.

Jordan tersadar ketika mendengar alunan lembut suara piano itu. Dia menggumam terganggu.

Oh, please! Kenapa harus suara piano di saat seperti ini?!

Jordan mengumpat dalam hati. Suara-suara lainnya kembali muncul dari sudut pikirannya.

“Pertunjukan apa itu?! Berbulan-bulan aku melatihmu kau hanya menjadi runner-up?! Kau tahu apa yang kuinginkan! Kau harus jadi nomor SATU! Kau dengar?! Runner-up tidak ada gunanya! Kalau kau tidak bisa, lebih baik kau potong saja tanganmu!!”

Jordan benci tongkat rotan yang selalu digenggam ibunya. Panjangnya tidak lebih dari 75 senti dan diameternya tidak lebih besar dari ibu jarinya. Jordan pernah mencoba membuangnya beberapa kali. Tapi entah bagaimana tongkat itu selalu kembali ke dalam genggaman ibunya. Dia kerap mengayunkan tongkat itu padanya bila dia melakukan kesalahan sekecil apapun. Jordan heran. Ibunya selalu berkata bahwa sepasang tangan adalah harta seorang pianis. Tapi kenapa ibunya selalu mengayunkan tongkat rotan itu lengannya? Jordan menyalahkan keputusannya berkompromi dengan piano.

Sejak dia masih bayi, ibunya tidak pernah menyentuhnya. Nicholette Dubois,sang pianis itu ,lebih senang menyentuh pianonya daripada menimang putranya. Jordan cemburu dan memutuskan untuk membenci piano. Nicholette marah melihat reaksinya terhadap pianonya. Dia mencubitnya hingga bocah itu meraung kesakitan dan bercucuran air mata.

Selama beberapa hari perang ibu dan anak itu berlangsung. Suatu hari Jordan melihat permainan ibunya. Dia tidak menyangka piano bisa mengeluarkan suara seindah itu. Jordan memutuskan untuk mendekat dan berbaikan dengan piano. Di luar dugaan Nicholette tersenyum lembut padanya dan memangkunya. Untuk pertama kalinya Jordan benar-benar merasakan pelukan lembut ibunya. Saat itulah dia memutuskan untuk berkompromi dengan piano.

Ibunya mendidiknya dengan sungguh-sungguh sejak dia berumur 2 tahun. Ketika Jordan berumur 6 tahun, orang tuanya bercerai. Nicholette membawanya ke Perancis dan makin serius mempersiapkannya. Ambisi wanita itu hanya satu, menyiapkan putranya sebagai penerus dinasti pianis Dubois yang melegenda. Jordan tidak mengecewakan. Bocah itu berbakat.

Bertambah remaja, Jordan mulai menyadari tekanan ibunya. Nicholette menyuruhnya berlatih 12 jam sehari. Dia melarang Jordan bersosialisasi dengan teman-temanya. Dia mengatur semua jadwalnya dengan ketat dan semakin sering marah-marah. Jordan mulai berontak. Mereka mulai sering bertengkar.

Diam-diam Jordan menyelinap dari pengawasan ibunya untuk sekedar bermain ke rumah temannya. Dia mengancam pengasuh dan pelayanya untuk tidak melapor pada ibunya. Jordan mulai tidak serius berlatih. Nicholette mengamuk hebat ketika suatu hari Jordan batal konser karena asyik teler bersama temannya. Nicholette menghajarnya.

Jordan tidak tahan lagi. Dia kabur dari ibunya. Saat itu umurnya baru 14 tahun ketika dia memutuskan untuk terbang ke Amerika menemui ayahnya. Dia sudah tidak peduli lagi dengan ibunya dan segala urusanya di dunia klasik, termasuk piano.

Ayahnya tidak seperti apa yang dia bayangkan. William Mc. Pherson adalah orang yang sangat sibuk dengan status duda, wajah tampan dan kekayaan yang luar biasa. Dia berusaha menyambut kedatangannya dengan baik dan memperlakukanya seperti “anak malang”. Tapi itu hanya berlangsung beberapa hari. Beberapa hari berikutnya dia kembali disibukan dengan urusan pekerjaan dan pacar-pacarnya.

Jordan kesepian.

Ayahnya memasukannya ke sebuah sekolah bisnis terbaik di negara ini. Dia juga memberinya banyak guru ketika mengetahui Jordan tidak pernah mendalami pelajaran formal selama bersama ibunya. Ayahnya selalu membawanya ke berbagai pesta elit, acara amal dan upacara pembukaan lainya. Dia selalu berusaha menunjukan pada media bahwa mereka adalah ayah dan anak yang harmonis dan ibu Jordan telah menyia-nyiakan dirinya dan dia telah “menyelamatkanya”.

Jordan menyadari dia kembali terperangkap pada penjara lain yang dibuat oleh ayahnya. Dia juga tahu ayahnya telah mempergunakan dirinya untuk menjatuhkan nama ibunya. Dia marah. Dia kembali memberontak dan bertingkah seenaknya membalas perbuatan ayahnya. Mereka bertengkar hebat. Akhirnya ayahnya mengusirnya. Diapun pergi dengan senang hati.

Jordan menggeram dalam hati merasa diingatkan kembali dengan kemarahan-kemarahan itu.

Kalian semua sama saja! Bagi kalian aku hanya bocah liar tidak berguna penyebab masalah. Puaskah kalian menyudutkanku dan menekanku terus-menerus?!

Dentingan melodi itu kembali menyadarkannya. Jordan menghela nafas dan mengedarkan pandanganya ke lobi rumah sakit ini. Pandangannya kemudian terpaku pada seorang gadis yang sedang mengamatinya. Jordan merasa tidak asing dengannya. Lalu diapun tertegun.

Gadis itu tampak menarik dalam kesendiriannya. Matanya yang lembut memandang tepat ke arahnya. Dia tampak begitu polos sekaligus indah dalam kediamannya. Jordan menganggapnya seperti lukisan. Jordan tidak tahu kenapa tiba-tiba semua kemarahannya seolah menghilang dari kepalanya. Hanya ada satu kalimat yang kini memenuhi pikirannya.

Sedang apa dia di sini?

bersambung....

Read previous post:  
32
points
(3139 words) posted by yosi_hsn 14 years 7 weeks ago
64
Tags: Cerita | cinta | American pie | band | dewasa | Novel | teen-live | yosi
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer prince-adi
prince-adi at AOM 10 : Nocturno part 1 (13 years 49 weeks ago)
100

kok...deskripsinya...keren banget ya??
wuaaa...iri...
benar-benar kebayang deh

sip..

Writer Alfare
Alfare at AOM 10 : Nocturno part 1 (14 years 1 day ago)
100

Jadi... kastil di tepi kota itu ceritanya masih ada ya? Sudahlah. Toh itu cuma latar...

Untuk seterusnya...

*mencekik Mbak Yosi karena telah memotong ceritanya pada bagian yang seru*

Ini pendahuluan klimaks yang baik, jadi bab berikutnya masti bagus lho! Ayo berjuang, berjuang, berjuaaaaaang! Jangan malas bikin kelanjutannya mbak!

Writer erross
erross at AOM 10 : Nocturno part 1 (14 years 2 days ago)
100

Gw menyukainya sis...
Kalo menurutku malah sebaliknya.
Bagian ini tidaklah "lambat".
sangat pas dibaca karena jujur aja gw ngga terlalu suka membaca sekali lewat-seperti membaca koran saja.
Deskripsi/narasi bagus.
masalah dialog ?
Bukankah ada "dialog" juga dalam bagian ini.
Jika tidak ketemu bukankah ada di bagian lain ??

Nice yosi..
sebaiknya kamu segera menulis novel.
Biarkan pasar yang menilai.
huehuehue

Writer avian dewanto
avian dewanto at AOM 10 : Nocturno part 1 (14 years 3 days ago)
70

saya benar-benar bertanya terutama kepada diri sendiri. apa sih arti sebuah nama? dalam cerita ini sebenarnya lokasi dan latar belakang (setting) di mana? indonesia atau di mana? atau sekadar gagah-gagahan menggunakan nama pelaku berbau asing namun tanpa makna apa pun. tapi ini komentar dari seorang yang gak paham soal sastra lho. jadi maaf jikalau keliru. tapi untuk sekadar bacaan boleh-boleh aja.

Writer takiyo_an-nabhani
takiyo_an-nabhani at AOM 10 : Nocturno part 1 (14 years 3 days ago)
90

Ternyata judulnya membangunkan saya nih mbak akan masa skull dulu.
Untuk yang sekarang saya baca, monolog yang disampaikan masih ringan mbak. Memang akan memberikan kesan menarik, namun menjadi lambat klimaksnya. Dan menjadi berputar-putar saja. stagnan.
But untuk prolog eksperimen, masih bisa memberikan greget kok mbak.

Writer Villam
Villam at AOM 10 : Nocturno part 1 (14 years 3 days ago)
90

yosi, sesuai permintaanmu, kucoba memberikan pendapat2 bodohku...
aku coba mengorek2 dimana kelemahannya, dan sayangnya, sebenarnya tak banyak... hehehe...

tapi ada satu hal yang mungkin cukup penting, dan dikau mungkin masih ingat komentar panjang lebarku terhadap cerita cygnus-mu dulu.

begini, sebenarnya tak masalah jika kamu hendak mencoba narasi panjang tanpa dialog. sah-sah saja kok, justru eksperimen2 macam ini yang kusuka, untuk coba melihat efeknya thd pembaca.

karakter narasi panjang tanpa dialog adalah 'lambat', kadang memang kita butuhkan di suatu cerita panjang untuk menurunkan tempo, memberi nuansa baru pada pembaca supaya tak bosan dgn dialog2 cepat.

namun tentu ada resikonya, pembaca mudah lelah jika harus terus berkonsentrasi melihat paragraf2 penuh sampai berhalaman2. makanya dialog2 kecil biasanya disisipkan di antara tiga-empat paragraf buat menampar/mengembalikan konsentrasi pembaca.

kemudian, narasi panjang yang berkarakter lambat, akan menjadi lebih lambat lagi jika kita memasukkan 'flashback'. di scene taylor, hal ini tak bermasalah, karena tak banyak, dan narasinya berjalan maju. namun di scene jordan, 'flashback' yang sangat panjang membuat pembaca terpaku di satu titik, lupa pada adegan aslinya, dimana dan sedang apa jordan saat ini. cerita kehilangan momentum untuk maju.

dan untuk itu, barangkali dikau berminat untuk bereksperimen sekali lagi, coba kamu hilangkan sama sekali flashback mengenai ayah dan ibunya (mungkin dapat kamu letakkan di tempat lain, berupa dialog 'perang' antar mereka lebih bagus lagi). atau mungkin flashback selintas saja, cukup pada yang terkait dengan 'sense' jordan saat ini saat mendengar piano, dan juga pada amarah jordan saat ini. setelah itu, rasakan efek dari cerita baru ini terhadap pembaca.

haha... itu dulu ya... pendapat2 bodoh dari pemimpi tak tahu diri ini...
see you...
villam.

Writer k4cruterz
k4cruterz at AOM 10 : Nocturno part 1 (14 years 3 days ago)
90

sebenernya narasi di cerita ini gak trlalu penuh mbak ... masih ada beberapa monolog/penggalan dialog yang menurut aku justru menambah "nuansa" dari deskripsi/narasi cerita ini ...

menurut aku, eksperimen mbak Yosi sudah cukup berhasil memberikan sesuatu yang "segar"...

saya nantikan cerita selanjutnya ...

-marimenarikata-

Writer Iphrite
Iphrite at AOM 10 : Nocturno part 1 (14 years 3 days ago)
80

Tapi ternyata gw salah.. pas udah baca tengah2 baru nyadar kalo ternyata ini cerita bersambung kamu..

Maaf.. nanti aku baca dari chapter pertama..

Btw ini review aku setengah halaman.. Gaya ceritanya gloomy jarang ada orang yang ngambil nih.. Gw juga suka menulis dengan gaya tanpa dialog.. tapi hati2 banyak orang yang lebih suka tipe dialog cepat.. Saran aku mungkin disisipin dialog kecil aja di antara paragraf..

Tapi karena ini buat eksperimen jadi ga ada salahnya buat coba2 :)